Search This Blog

Showing posts with label Beasiswa. Show all posts
Showing posts with label Beasiswa. Show all posts

Sunday, March 15, 2020

Cerita Bagaimana Mendapatkan Beasiswa JICA

Okey, selamat siang teman-teman,

Aku mau share bagaimana mendapatkan beasiswa dari JICA. Tapi ceritanya dalam bentuk pertanyaan dan jawaban ya.

Darimana saya mendapatkan informasi beasiswa dari JICA ?
Answer:
Saya mendapatkan informasinya dari teman kantor yaitu Ronald. Dia bekerja di BPSDM, Kementerian PUPR dan kebetulan kami aktif di paduan suara Gema Sapta Taruna, Kementerian PUPR. Setelah mendapatkan informasi dari dia, saya langsung cek ke websitenya pusbindiklatren milik Bappenas.

Diperuntukan siapa beasiswa JICA?
Answer:
Setahu saya ada dua jenis target dari beasiswa JICA. Pertama, JICA GPLP yang saya ikuti ini dikhususkan untuk Pegawai Negeri Sipil (PNS). Lalu, ada juga beasiswa JICA untuk Non-PNS. Nah untuk yang Non PNS saya kurang tahu banyak informasinya.

Apa persyaratan Beasiswa JICA khususnya bagi PNS? 
Answer:
Nah, Beasiswa JICA yang aku ikuti ini khan lewat Bapenas, jadi persyaratannya ada dari Bappenas dan JICA. Jadi ada dua kategori.

Persyaratan atau dokumen pendukung yang diminta dari Bappenasnya sendiri adalah sebagai berikut:
  1. Surat usulan dari pejabat kepegawaian minimal tingkat Eselon II, yang menyebutkan nama peserta yang diusulkan dan telah memenuhi semua kriteria yang dipersyaratkan;  
  2. Hasil cetak formulir registrasi yang telah diisi lengkap, bermeterai, bertanda tangan asli dan cap basah; 
  3. Salinan ijazah dan transkrip nilai yang telah dilegalisasi dan cap basah; 
  4. Salinan SK kepangkatan III/a dan SK terakhir yang telah dilegalisasi; 
  5. Salinan nilai TPA dan TOEFL yang telah memenuhi persyaratan dan masih berlaku per Agustus 2018. 

Persyaratan dari JICA-nya sendiri:

  1.  Nationality: Indonesia 
  2.  Current Duties: Young or middle Government official (at least 1 year working experience since being appointed as permanent civil servant) and prospective academics.
  3. Age: less than forty (40) years old in principle for Doctoral applicant and less than thirty seven (37) years old for Master applicant at the time closing date of this application.
  4. Educational Background: have a Bachelor Degree for Master Applicants and Master Degree for Doctoral Applicants.
  5. Language: Adequate English skills both in written and oral communication to complete the master’s and Ph.D. courses such as;  TOEFL PBT: 550 or higher; TOEFL iBT: 79 or higher; IELTS (Academic Modules): 6.0 or higher 
  6. Show academic capability that proved by Academic Potential Test (Tes Potensi Akademik - TPA) score is 565 or higher (that still valid until August 2018) 
  7. Proposed by his/her institution through formal letter from at least Echelon II that in charge in human development affairs.
  8. Show good physical condition proven by recommendation letter from government hospital. 

Bagaimana dengan Sertifikat Toefl dan TPA Score yang saya miliki ?
Answer:
Saya untuk sertifikat toefl pakai yang PBT (paper based test). Waktu itu nilainya 547, jadi kurang 3 points. Tapi saya tetap untuk mengajukan beasiswa. Nah, untuk TPA scorenya sendiri khan mereka minta 565, dan alhamdulilah untungnya TPA score saya melebihi dari target. Waktu itu TPA score saya adalah 569.

Universitas apa saja yang ditawarkan oleh JICA ?
Answer:
Sebenarnya kita bisa milih universitas apa saja yang kita mau.  Ada tiga pilihan yang ditawarkan. Ini adalah beberapa pilihannya :

  1. GRIPS;
  2. Waseda University;
  3. Sophia University;
  4. International University of Japan;
  5. Kyoto University;
  6. Hitotsubashi University ;
  7. University of Tsukuba (Tentative);

Nah, sebenarnya aku waktu itu daftaranya ke GRIPS, Kyoto University dan Hitotsubashi. Tapi sayangnya saya tidak lulus. Tapi saya lulus dari JICA-nya. Lalu JICA Indonesia mengubungi aku katanya mau gak kalau di IUJ? Serentak saya jawab, mau banget. Tidak ada berpikir dua kali. Dikarenakan, pertimbangannya adalah usia. Aku tidak bisa menolak-nolak lagi. Lagipula saya berpikirnya di Jepang pasti akan bagus juga. Bisa jadi suatu batu loncatan juga bagi kita untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Akhirnya, ketika saya menulis blog ini, statusnya adalah melanjutkan master degree (S2) di International University of Japan (IUJ).

Seperti itulah kira-kira persyaratannya. Untuk jelasnya dan detailnya teman-teman bisa update terus melalui webiste www.pusbindiklatren.bappenas.go.id


Tapi saya mau kasih tips nieh:

  1. Teman-teman harus sudah punya Toefl score dan TPA score sebelum penawaran beasiswa itu dibuka. 
  2. Kalau score Toefl dan juga TPA belum cukup, ulangi terus testnya sampai mencapai nilai score yang diinginkan. 
  3. Persiapkan CV dalam bahasa Inggris. 
  4. Persiapkan juga riwayat pekerjaan kita dalam bahasa Inggris (career record). Biasanya diminta oleh beasiswa.  
Ini saya cantumkan informasi tempat untuk ambil test Toefl dan TPA:


  1. https://lbifib.ui.ac.id/archives/24.
  2. https://itc-indonesia.com/test-location/?lang=en
  3. http://koperasi.bappenas.go.id/uuopt/
  4. etc.




Conclusion: 
Teman-teman tetap harus berani mencoba untuk melamar beasiswa. Meskipun ada beberapa kekurangan di score toefl atau TPA tetaplah mencoba daftar. Dikarenakan tidak ada ruginya juga kalau menurut saya. Rezeki kita, Tuhan Yang Maha Esalah yang mengatur.

Good luck dan selamat mencoba. 

Monday, March 25, 2013

Meminta Referensi Dari Dosen Pembimbing Skripsi



Bersama Pak Roro


Yup, ceritanya hari Minggu kemarin, 24 Maret 2013, saya pergi ke Bandung. Ada dua tujuan utama pergi ke Bandung itu. Pertama ingin lihat Bandung Lautan Onthel, kedua, mau minta referensi untuk persyaratan beasiswa ke dosen pembimbing skripsi. Sudah janjian hari senin mau ketemu Pak Roro, Dosen Pembimbing Skripsi saya dulu. 

Keinginan pertama, ingin melihat Bandung Lautan Onthel kesampaian sih meskipun tidak ke Gasibu langsung. Saya lihat beberapa Onthel yang melintasi warung nasi bakar yang terletak di belakang Gedung Sate. Karena waktu itu saya dan adik mau makan nasi bakar tersebut. 

Dikarenakan diantar adik jadi saya malas kalau harus ke Gasibu. Sudah keenakan diantar pakai motor. Apalagi cuaca Bandung waktu itu yang tidak mendukung. Jadinya ya, diam di kosan adik saja. 

Tujuan yang kedua, sudah dilaksanakan tadi pagi. Saya pergi ke Kampus FIKOM Jatinangor untuk dua hal. Pertama minta legalisir Ijazah. Kedua, tentu bertemu Pak Rosnandar Romli atau yang biasa dipanggil Pak Roro. Saya datangi ruang bagian Humas tapi tidak ada Bapaknya. Saya pun menuju rooster atau tempat pengumuman jadwal perkuliahan dosen. 

Akhirnya ketemulah di sana dengan Pak Roro. Bapak ternyata sedang membimbing skripsi beberapa orang mahasiswa. Saya menyalami Bapak dan mengatakan bahwa saya senang melihat Bapaknya sehat. 
"Apa Bapak masih ingat saya, yang skripsinya tentang Kartini?", tanya saya. 
"Oh ya, ingat skripsi dengan 700 lembar", jawabnya. 
"Kalau menemukan skripsi yang tebal tentang Kartini ini punya dia", tambah Pak Roro ke mahasiswa yang lagi bimbingan. 

Ternyata nyambung obrolannya. Seorang mahasiswi mengaku bahwa dia sudah pernah mellihat skripsiku. "Ternyata ini mbaknya, saya sampai tahu lho tentang kelahirannya", menurut pengakuann mahasiswi yang saya lupa namanya. 

Setelah ngobrol dulu sebentar, kemudian, saya menyerahkan Form isian untuk Referensi dari Dosen pembimbing. Ada tiga halaman semuanya. Halaman pertama memang hanya dichecklist saja. Pas mau checklist tentang motivasi, Pak Roro bertanya mengapa baru mengajukan beasiswa sekarang. Saya jawab, yang namanya beasiswa khan ada persyaratannya, biasanya masalahnya ada di Toeflnya. Kalau nilainya kurang, kita harus belajar lagi dan ikutan test lagi.

Saya juga bilang bahwa pernah mengikuti beberapa pengajuan beasiswa tapi gagal. Contohnya di Bappenas hanya sampai TPA (Test Potensi Akademik). Di Kemenkominfo juga pernah, tapi administrasinya pun gak lolos di sana mah,

Pas mau mengisi lembar kedua, Pak Roro kurang bersedia untuk menulis uraian. Lalu, Pak Roro mengatakan pada saya, bahwa untuk menulis jawaban uraian, saya harus cari tahu dulu, jawaban seperti apa yang diinginkan oleh si pemberi beasiswa. Karena banyak orang gagal dari hal tersebut. Wah, saya benar-benar tidak berpikir ke arah sana. Merasa mendapatkan hal yang baru dari pernyataan itu. Lalu saya jawab. "Lebih baik Pak kita tidak perlu tahu banyak, biarkan saja semuanya natural, apa adanya", jawab saya. 

Dirasa untuk menjawab uraian akan memakan waktu yang cukup lama, maka Pak Roro lanjut lagi dengan bimbingan skripsinya. Menunggulah saya jadinya. Setelah selesai lalu saya berikan lagi formnya. Tapi tetap saja intinya Bapak tidak mau menulis sendiri. Okey karena saya membaca tata cara pengisian Form itu, maka saya berikan solusi, ditulis saja dalam bahasa Indonesia, jawaban dari Bapak saya catat untuk kemudian diketik. Terakhir tentu saja Bapak menandatangani form itu. 

Setelah selesai dengan urusan referensi kita masih ngobrol banyak hal terutama tentang pekerjaan. Bapak tanya apa yang saya lakukan? Saya jawab, saya bekerja di Bagian Humas dan Protokol. Pekerjaannya seputar Protokoler, dokumentasi, membuat press release,  membuat artikel di Majalah Kantor dan administrasi yang lain. Kemudian Bapak mengatakan sayang pekerjaanku seperti itu. Maksudnya apa yang saya lakukan itu tidak menggali maksimal potensi yang ada di dalam diri saya. 

Apa yang dibilang Bapak itu benar adanya. Saya tidak suka dengan protokoler tapi saya suka membuat press release. Kalau artikel khan tergantung ada tidaknya terbitan. Tahun kemarin saja tidak  terbit padahal sudah wawancara dengan Pak Cosmas. Mungkin dipending dan mudah-mudahan bisa keluar di tahun ini. 

Suka berpikir jadinya. Apa mau di sini selamanya atau mau ke mana gitu. Satu hal yang pasti, ingin lanjut sekolah S2 ke Luar Negeri. Sekarang ini saya lagi menghubungkan atau melihat prospektif pekerjaan nanti dengan jurusan yang akan diambil. Saya harus mengetahui banyak hal sebagai referensi. 

Di dalam obrolan akhir itu, Pak Roro mengingatkan bahwa bekerja itu jangan orientasinya uang. Dikarenakan kalau sudah uang akan menjadi beban. Benar sekali apa yang dibilang Bapak. Kita itu sebagai manusia memliki sifat untuk dapat berkompromi. Sekali okey, tapi kalau situasi yang kita hadapi tidak menampakan kemajuan ke arah yang lebih baik, akan jengah jadinya. Kemudian kalau dalam pekerjaan tentu harus mengikuti SOP yang ada. Tidak bisa seperti Pak Roro yang bisa keluar dari SOP. Tapi saya katakan saya orangnya memang bukan "Pengiya". Malah suka adu "argumen". 

Ingin tahu alasan kenapa saya memilih Pak Roro untuk dimintai Referensi? 
Alasannya karena Pak Roro itu dosen saya sekaligus dosen pembimbing skripsi. Sebenarnya untuk dosen pembimbing skripsi itu ada dua orang. Pembimbing Pertama tentu Pak Roro, kedua Ibu Nuryah Asri Sjafirah alias Ibu Nonon. Di dalam pelaksanaan bimbingan skripsi, saya selalu dibimbing dengan Ibu Nonon. Ibunya dulu belum menikah, lagi sekolah S3, cantik dan pintar.

Setelah selesai bimbingan skripsi tentu saya harus menghadap Pak Roro. Untuk dievaluasi tentunya. Dari Pak Rorolah saya tahu kalau Bu Nonon selama membimbing skripsi saya ada keluhan, yaitu soal kalau diberitahu saya tidak mau mendengar intinya. Lalu Pak Roro waktu itu bilang "Biarkan saya mengembangkan idenya meskipun Bapak tahu sejauh mana hal itu mungkin atau menjadi tidak mungkin". Saya jadi terharu mendengarnya. Saya berpikir, ternyata  Pak Roro lah yang mengontrol atau  mengawasi pelaksanaan bimbingan saya dengan Ibu Nonon. Saya berkesimpulan dan memang saya rasakan selama dibimbing Pak Roro itu, tidak pernah Bapak mematahkan semangat. Saya masih ingat waktu itu bilang saya ingin buat buku. heheheheheh .....

Mau tahu tidak komentarnya Pak Roro tentang saya? 
Dia katakan saya itu orangnya terlalu mandiri. "Kamu itu terlalu mandiri jadi perlu orang untuk mengarahkan. Skripsi yang bisa 200 halaman malah dibuat menjadi 700 halaman. Kamu itu SI, tidak perlu seperti itu.  Kalau Satu dapat nilai 3 kenapa harus buat tiga untuk nilai yang sama. Hal itu mubazir.  Kamu perlu seseorang untuk mengerem", katanya 

Bapak, ini juga lagi menunggu, kira-kira ada enggak orang yang bisa mengerem saya ?

Nah, pas mau pulang dari Kampus ke DU, saya sempat nelepon pihak panitia pemberi beasiswa menanyakan tentang surat referensi. Saya katakan pada Ibu diseberang telepon, kalau surat referensi dari dosen pembimbing skripsi diketik oleh saya tapi jawabannya dari Dosen pembimbing yang  bersangkutan tidak ditulis tangan itu bagaimana?

Ibu itu bertanya, enggak ada dosen yang lain? 
Saya jawab tidak, karena memang saya maunya Pak Roro, karena dia yang lebih tahu dan memahami saya sekaligus pembimbing pertama meskipun ada Ibu Nonon. 

Ibu itu lalu mengatakan coba saja dikirim dulu nanti akan kita lihat jawabannya seperti apa. 

Terkadang pesimis itu datang, tapi harus tetap positive thinking. dan menyelesaikan apa yang sedang dikerjakan. Mudah-mudahan bisa mengkuti jejaknya Jinan, Suaminya sepupu yang sudah mendapatkan beasiswa ADS. Amien. 

Ya Allah, Engkaulah yang dapat menjadikan sesuatu yang Tidak Mungkin menjadi Mungkin. Tunjukanlah kebesaranmu  kepada Hambamu ini, seperti empat tahun yang lalu. Ketika itu hamba ingin menjadi seorang PNS, dan Engkau pun mengabulkannya disaat  dalam ketiadaan harapan dan putus asa serta lelah. Amien... 

NB: Ibu Nonon, maaf belum menghubungi Ibu. Pak Roro, maaf saya datang hanya dengan tangan kosong, semoga dapat bertemu kembali dengan Bapak serta Ibu, Terima Kasih Semuanya :)