Search This Blog

Showing posts with label Exhibition. Show all posts
Showing posts with label Exhibition. Show all posts

Saturday, January 7, 2012

Pameran Ruang Terbuka Di Taman Ayodya

Yup, lama sudah tidak pernah jogging lagi di Taman Ayodya. Biasanya hari Sabtu atau Minggu pagi olahraga di Taman itu. Dari Kosan pergi sekitar jam 6, jalan kaki karena dekat.   Mudah-mudahan nanti bisa olahraga lagi soalnya perut saya sudah semakin maju perlu penanganan khusus wkwkwkw. Oh ya, kalau jogging hari Sabtu di Taman ini, pasti ramai. Banyak penjual makanan di seberang jalan. Karena khan di samping taman ini ada gereja dan pedagang itu sasarannya adalah para jemaah gereja. Saya biasanya beli sambal goreng teri di sana. 

Dan, ceritanya setiap hari khan kalau mau ke kantor lewat Taman Ayodaya dan kaget adanya lihat Taman Ayodya sudah beberapa hari ini disulap jadi semacam ruang pameran terbuka. Wah itu bagus lho, artinya memaksimalkan fungsi taman. Pada hari Rabu itu, saya nekat turun di Taman ini padahal ya, dalam perjalanan ke kantor. Saya pun ambil foto. Tapi, bukan karena ingin ambil foto lalu saya turun, tapi memang karena ada tujuan mau ke Bank dan kebetulan letak banknya itu satu garis lurus. Jadi, mengapa tidak turun dulu di Taman Ayodya pikir saya.

Inilah beberapa foto yang saya ambil.

Pameran Ruang Terbuka

dan
Apa ya yang putih itu?

Yup, kurang banyak tanya waktu ke Taman Ayodya itu. Jadi tidak tahu apa itu yang berwarna putih, tapi nampaknya seperti lampu ya atau mungkin juga ornamen pameran. Sayang malam hari tidak pernah pulang lewat jalan ini, karena jalur pergi dan pulang beda. Kalau malamnya pulang lewat sini pasti bisa memastikan apakah yang putih itu bersinar di malam hari atau tidak heheheehe...

Dan sepertinya gambar yang sedang dipamer kan itu ada beberapa orang seniman seperti Mbah Surip, selebihnya tidak kenal. Coba perhatikan lagi gambar-gambar ini:

HEy Hey siapa Dia?
dan

HEy Hey Siapa Dia?
Dan ..
Hey Hey Siapa Dia?

Ya, intinya meskipun kita tidak kenal dengan mereka, setidaknya mereka berhasil membuat kita ngeh tentang eksistensi mereka heheheeh ......

Dan tahukah teman-teman sekarang ini Taman Ayodya memiliki tampilan baru? Coba lihat gambar di bawah ini.


Tampilan Baru Ayodya


Benar sekali, di taman itu sekarang sudah di pasang layar pengumuman LCD. Maksudnya ya pengumuman yang didisplay pada layar datar. Bagus.

Berbicara Taman saya ingat waktu wawancara dengan Profesor Johan Silas dari Surabaya. Beliau mengatakan Taman itu bagian dari peningkatan kampung atau KIP (Kampung Improvement Program). Jadi, supaya masyarakat itu betah di kampung dan anak-anaknya bisa bermain ya buatlah taman selain berfungsi juga sebagai ruang terbuka hijau. Taman ini khan biasanya tidak mengenal kelas. Siapa saja boleh bermain di sini. Pada umumnya masyarakat yang bermain di taman adalah masyarakat menengah ke bawah. Bagaimana dengan orang kaya? Akh, mereka memiliki tempat lain untuk nongkrong :)



Monday, October 17, 2011

Seni dari Perangko Bekas

Teman-teman, kemarin siang  di Hotel Nikko ketika melihat Japan Education Fair saya menemukan sesuatu yang unik dan bisa dibilang ini adalah penemuan yang pertama kali bagiku. Coba perhatikan dahulu foto dibawah ini ya ...

Dua buah karya seni bertema tumbuhan
Perhatikanlah baik-baik gambar di atas dengan cara seksama. Lalu alihkan perhatian teman-teman pada gambar berikut ini:

Gambar Pohon menurut saya karena ada batangnya besar


Lalu perhatikan pula gambar yang di bawah ini juga.

Masih bertema tumbuhan nih gambarnya

Nah, sudahkah melihatnya dengan jelas. Kira-kira teman-teman bisa menebaknya tidak mereka digambar dari bahan apa?
Ya, seperti yang bisa teman-teman lihat pada gambar di bawah ini dengan jelas sekali mengatakan kepada kita bahwa semua gambar di atas dan di bawah ini terbuat dari PERANGKO BEKAS.

Sebuah karya yang amazing

Sayang sekali waktu saya memotretnya, sinar flashnya memantul dan ketika  flashnya di off gambarnya seperti pada bagian atas sekali (Tidak auto dan kalau gerak ngeblurr). Maklum harus belajar teknik memotret yang baik. Tapi pada gambar di atas minimal kita bisa melihat perangkonya agak jelas ya.

Pada gambar teratas atau pertama, kita bisa melihat ada bentuk gambar bulat dan bersinar ya. Itu adalah hologram dari perangko. Wah hebat sekali orang yang membuat karya seni ini dan sepertinya sudah memahami seluk beluk perangko dengan baik. Bahkan semua vas bunga itu juga dari perangko bekas yang disayat-sayat (potong-potong) kecil.

Saya jadi teringat seorang pengusaha yang membuat hiasan lampu, tatakan piring dsb dari bongol jagung, dia mengatakan kalau kita ingin berbisnis industri rumah tangga, lebih baik menggunakan bahan daur ulang. Hal ini dikarenakan, bahan bakunya murah, mudah didapat, selain itu, kita bisa mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda.

Nah, waktu saya lihat bandrol lukisan itu, harganya ada yang $ 500.000, $ 600.0000, dan ada yang $250.000,- Sungguh mencengangkan bukan teman? Kreativitas itu mahal dan butuh imajinasi yang luar biasa. Dari bahan daur ulang kita bisa jadi millioner.

NB: teman-teman bisa melihat versi videonya, tunggu saja di entry berikutnya :)

Monday, October 10, 2011

Dua Pameran di Museum Nasional ( 6-22 Oktober 2011)

Ada begitu banyak pilihan untuk menghabiskan liburan, bisa pergi ke mall, tempat hiburan atau mungkin ke pameran.
Nah, bagi teman-teman yang senang dengan pameran coba pergi ke Museum Nasional, di sana ada dua jenis Pameran yang sedang di gelar.

Pameran Pertama:

Pameran ini dari tanggal 6-22 Oktober ya

Nah, kalau Pameran Lambang dan Aksara Nusantara ini merupakan pameran kita sendiri. Di dalam Pameran ini kita bisa melihat :
  • Pameran tentang Lambang;
  • Aksara;
  • Stempel;
  • Kaligrafi;
  • Sistem Perlambangan;
  • Teknologi Grafis;
  • Tato.
Saya akan mencoba bahas satu - persatu item di  atas pada entry berikutnya ya. Jadi, tunggu saja edisi berikutnya :)

Pameran yang kedua:

7-21 Oktober 2011

 Untuk pameran yang kedua ini yang menyelenggarakan adalah kerja sama antara pemerintah Indonesia dengan Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok Untuk Republik Indonesia.
Ya, namanya Tiongkok itu sama saja dengan China kalau di dalam bahasa Inggris namanya : The People's Republic Of China.

Di dalam pameran ini sesuai dengan namanya, seni yang pamerkan yaitu: Pameran Seni Ukir Stempel dan juga Kaligrafi Karya LI LANQING.
Hm, jadi di China ada Seni Ukir Stempel ya...Untuk lebih jauhnya ini akan coba saya bahas di entry berikutnya ya ...

Yup, bagaimana teman-teman menarik bukan untuk datang berkunjung.
Selain itu, di pameran Yang Tiongkok kita bisa mendapatkan gratis CD dan juga POST CARD yang dibelakangnya sudah diberi materai. Seperti ini:

Free untuk pengunjung selama stock masih ada

Dan berikut ini adalah Post card yang diberikan gratis.

Di bagian Belakang sudah diberi Perangko ya
Khusus untuk Post Card ini, setiap pengunjung diberi jatah dua buah. Dan venuenya ada juga lo yang Indonesia. Saya gak bawa yang venuenya Indonesia karena saya sudah punya. Sebelumnya khan saya mengoleksi Post Card, tapi entah dimana sekarang ya, semenjak pindah ke Batavia ini ada beberapa barang yang lupa saya amankan :)

Oh ya Untuk masuk Museumnya sendiri dipungut biaya untuk dewasa sebesar Rp. 5000,-

Hanya 5000,-

Saya tidak mengerti mengapa ya ada tiketnya? sedangkan waktu pergi ke pameran di Galeri Nasional tidak ada tiket sama sekali.
Saya coba tanya salah seorang petugas Museum, tentang perbedaan antara Museum Nasional dan Galeri Nasional.
Petugas itu mengatakan kalau Galeri Nasional biasanya dipakai untuk pameran seni lukis, sedangkan kalau Museum Nasional itu erat kaitannya dengan Sejarah Kebudayaan Bangsa.

Cukup jelas, jadi kalau tidak ada pameran, Galeri Nasional pasti banyak ruang yang kosong (saya tidak melihat atau belum melihat karya seni yang tetap di sana). Tapi  di Museum Nasional meskipun tidak ada kegiatan pameran masih ada barang pameran tetap, bisa dilihat setiap saat. Misalnya Arca dsb.
Adapun pengunjung yang sempat saya lihat di pameran ini adalah, para rombongan pelajar, turis asing dan juga keluarga (Ayah, ibu dan anak) serta perorangan.

Seperti itu kiranya Info pameran dari saya ...

Saturday, August 6, 2011

Ipod dan Angklung "TRA-DIGI"

Masih ada besok ya

Begini ceritanya, saya tahu bahwa di JCC itu ada Pameran Kridaya  dari Koran. Berita di koran itu mengatakan Pameran yang dimaksud dibuka oleh Ibu Negara.
Intinya berita yang dimuat di koran itu tidak panjang lebar. Tapi satu point yang membuat saya fokus dan penasaran adalah tentang Angklung.

Disebutkan bahwa ada pameran angklung sunda yang dapat digerakkan dengan Ipod. Saya ulangi lagi ya, digerakkan dengan Ipod. Penasarankan?
Alhasil setelah les saya langsung menuju lokasi. Turun di Halte Busway Gelora Bung Karno menuju JCC, Jakarta Convention Center.

Dari pintu gerbang ke gedung JCC ada kurang lebih 1 KM.. hmmm tapi memang niatnya untuk ngabuburit jadi ya semangat juga jalan kakinya. Meskipun pada akhirnya pulang naik ojek hanya sampai pintu gerbang disambung dengan Busway dan Bajaj.

Lanjut ceritanya ya..
Setelah sampai di JCC, ternyata ya memang ada angklungnya.

Angklung Udjo yang disulap menjadi Tra-Digi Angklung

 Nah, setelah melihat langsung angklungnya saya lalu bertanya kepada petugas penjaganya.

Saya : Mbak katanya ada angklung yang bisa  digerakkan dengan IPod?

Petugas : Iya, ini angklungnya.

(Tak berapa lama petugas itu memutar Ipod dan Angklung pun bergerak sendiri oleh karena itu namanya menjadi Tra-Digi Angklung)

Saya : Hm ini tangga nadanya apa ya mbak? Pentatonis atau diatonis?

Petugas: Mbak rupanya tahu sekali angklung ya, saya tidak tahu kalau soal itu, Mbaknya bisa tanya ke petugas di sana ...

Saya: Enggak, saya dulu pernah dapat informasi bahwa angklung juga selain bisa dimainkan di Tangga Nada DA, MI, NA, TI, LA, DA, bisa juga dimainkan di DO, RE, MI, FA, SO, LA, SI, DO.

(Angklung itu membawakan lagu ciptaan SBY, lalu saya request Bengawan Solo dan petugas pun memutarnya, selain Itu diputar juga lagunya ABBA, I have a Dream)

Saya: Mbak ini angklungnya darimana?

Petugas : Oh ini angklungnya dari Saung Udjo

(mendengar Saung Udjo, pikiranku langsung mengenangkan masa lalu, waktu masih kuliah main di Saung Angklung Udjo, karena memang ada tugas bareng Anggit, Maya Icha dan teman-teman yang lain)

Saya : Oh jadi angklungnya dari Saung Udjo ya, berarti Angklung Sunda, lalu siapa yang memodifikasinya dengan IPod?

Petugas : Oh itu, Tim Yogya..

Sayab : Angklung ini dijual ya mbak?

Petugas : Iya, dijual,  harganya delapan puluh delapan juta Plus IPod..

Nah, teman-teman bagaimana? tertarik tidak untuk membelinya atau datang ke pamerannya. Besok hari terakhir. 

Saya Ulangi lagi ya, angklung yang dimainkan dengan Ipod ini namanya "TRA-DIGI" Angklung ya... semuanya ada 28 Angklung...

Oh ya, ngomong-ngomong soal Saung Angklung Udjo, dulu seperti yang saya katakan di awal, saya dan beberapa orang teman ke Saung Udjo, dan menikmati suguhan permainan angklung... memang Saung Udjo ini memiliki paket pertunjukkan yang dapat dinikmati oleh pengunjung. Dulu gratis ya.  Biasanya dilangsungkan sesuai dengan jadwal, ada sore hari atau siang... selain itu, kita pun bisa melihat cara pembuatan angklungnya.

Pihak Udjo, memang benar-benar melestarikan budaya. Mereka memberdayakan generasi muda yang ada di lingkungannya untuk belajar angklung bahkan  mereka telah tampil di luar negeri. Menikmati pertunjukkan di Saung Angklung Udjo, kita pun diakhir acara diajak untuk bermain Angklung. Setiap peserta diberikan angklung satu-satu lalu kita membawakan lagu salah satunya "Burung Kakak Tua" pakai tangga nada Diatonis ya.... dan setiap angklung itu memiliki nada yang berbeda-beda, Ada yang DO, RE, MI, FA, dst... jadi setiap orang tidak akan persis sama. Kita waktu itu dibedakan berdasarkan kelompok. Misalnya kelompok kanan memainkan angklung dengan nada DO dan RE ..... sedangkan kelompok yang sebelah kiri memainkan angklung dengan nada MI, FA dst.. seru pokoknya... setelah selesai angklung itu dibalikan lagi ya...

Itu sekilas cerita tentang Saung Udjo dan Angklungnya...

Kita balik lagi ke pameran.
Jadi, ya selain pameran angklung ada juga pameran batik, keris, perhiasan dari mutiara dan pernak-pernik pewayangan.
Yang membuat saya terkejut adalah bertemu dengan Ida Royani...

Ada Ida Royani
Tuh, lihat khan ada Ida Royani?
Saya pertama kali tidak ngeh dan asyik tawar menawar dengan petugasnya... maksudnya tanya-tanya saja sih.. saya suka brosnya... bahannya dari tembaga ya kalau tidak salah....tapi sayang mahal. ..... bros yang kecil saja harganya Rp. 175.000,-
Saya pikir lagi sayang kalau membeli bros seharga itu, sedangkan saya mesti nabung buat lebaran xixixixi... padahal sesungguhnya suka, gak bisa ditawar sih susah... bisa kalau dipaksakan beli tapi kita harus bisa mengerem..

Lihat Ida Royani, cantik sekali lho aslinya... benarlah apa yang dikatakan rekan saya, usia sudah lanjut tapi masih tetap cantik.. apakah memang dia bahagia dengan hidupnya?
Katanya sih, kalau bahagia dengan hidup kita sendiri, bisa bikin awet muda.. hehehehe ....

Jadi, teman-teman datanglah ke JCC sambil ngabuburit atau menunggu waktu berbuka.... coba cari  barang yang teman-teman butuhkan di sana tapi ya hati-hati saja ya dengan pengeluarannya, mau sekedar lihat-lihat saja juga asyik kok :)


Wednesday, July 27, 2011

Sebuah Closet dari Sebuah Pameran

Baiklah, teman-teman, beta malam ini hendak melunasi janji untuk mensharing sebuah karya dari Pameran Patung Kontemporer pada beberapa waktu yang lalu.
Tentu saja kalau teman-temanku semuanya masih ingat, pada entry sebelumnya ada sebuah foto closet. Saya katakan karya itu merupakan salah satu karya yang paling satir (menurutku lho) ...
Untuk lebih jelasnya boleh dilihat videonya berikut ini;



Ini adalah sebuah karya, sebuah kreativitas dan sebuah pemikiran dari seorang peseni......
Nah, setelah melihat video ini, bagaimana tanggapan teman-teman?

Sunday, July 24, 2011

Menyempatkan ke Pameran Patung Kontemporer

Ciah ... setelah bertahun-tahun akhirnya kembali lagi ke Galeri Nasional.
Lho, memangnya kapan pertama kali ke Galeri Nasional? 
Oh dulu, tahun 2009 ya. Kalau melihat perjalanan ke belakang itu  bisa  kukatakan sungguh perjuangan hidup yang amazing. 
Ceritanya ke Galeri Nasional mau ambil kartu tanda ujian CPNS di Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Cuacanya yang panas dan antriannya yang begitu panjang, hingga ruangan pun tak mampu menampung pelamar, jadinya sebagian menunggu di luar. Datang dari pagi, baru dipanggil namanya sehabis Zuhur. Sungguh suatu kesabaran!

Kemarin, setelah les saya  menyempatkan untuk mampir ke sana. Jadi, kalau dari Blok M itu, perjalanan bisa ditempuh dengan 2 kali busway. Pertama turun di harmoni, lalu naik yang ke arah pulau gadung dan turun di Halte busway Stasiun Gambir ya, dari sini tinggal jalan dan menyebrang pakai jembatan. Sampai deh di gedung Galeri Nasional. 

Ceritanya di Galeri nasional ini sedang di gelar Pameran Patung Kontemporer sampai tanggal 24 Juli 2011 ... 
Nah, saya pun lalu berkeliling-keliling melihat patung-patung ..... tapinya, setelah masuk, saya lihat pameran ini tidak bertemakan patung saja.

Saya tidak mengerti dengan Seni patung, tapi memang saya ingin melihatnya barangkali ada yang bisa ditanyai. Nampaknya saya adalah orang yang beruntung karena bertemu dengan salah seorang perupa. Tapi pertamanya Bapak yang bernama Agoes Jolly ini sempat memperingatkan saya untuk tidak memegang karya seni yang sedang di pajang.

"  Mbak jangan di pegang ya, kalau pameran di luar negeri, mbak bisa dikenai denda, saya juga perupa tapi saya tidak ikut pameran ini" .... 

"Mengapa tidak ikut pak?" 

" Karena saya tidak diundang"

Hmmm.. kira -kira seperti itulah perbincangan di awal-awal. Lalu, Sang perupa juga katakan dulu ketika Dia berada di sebuah pameran di Luar negeri terjadi sebuah accident.

"Dulu ketika saya menghadiri sebuah pameran di luar negeri terjadi sebuah tragedi, Istri saya khan rambutnya panjang,  rambutnya itu kena salah satu karya yang sedang dipamerankan, hingga alarmnya menyala" 

Seperti itulah kira-kira penjelasannya tapi memang saya tidak bertanya lagi kelanjutannya. Hanya saja Bapak Jolly ini mengakui bahwa pameran yang sedang di gelar ini seharusnya dijaga. Satpam sih ada saya lihat, tapi entah kemana ya.... pada Sang perupa saya katakan, kalau sebuah pameran itu enaknya ada guidenya yang bisa ditanya. Jadi, para pengunjung bisa mengerti bukan hanya sekedar melihat-lihat saja.

Masih penasaran dengan yang namanya pameran Kontemporer ini maka saya pun bertanya kepada Sang Perupa. 

"Pak boleh tanya tidak"

"Anda sebenarnya siapa?"

"Saya hanya pengunjung saja" 

Jadi, teorinya agar seseorang itu bisa menerima kita, maka harus bersikap lebih terbuka lagi. Saya pun menceritakan kalau saya itu habis les baru ke sini (pameran-red), saya juga seorang pegawai, kerja di anu. .. Lihatlah  Sang perupa lebih bisa menerimanya.

"Jadi Pak, Kontemporer itu apa artinya, khan kalau melihat dari artinya dalam kamus, kontemporer itu berarti saat ini, tapi kalau saya lihat, kontemporer itu identik dengan hal-hal yang klasik" 

"Bentuknya mungkin klasik, tapi kekiniannya itu bisa di lihat dari bahan atau materi yang dipergunakan dan juga idenya, karena biasanya karya itu mengandung satir atau sindiran " 

"Bapak Sendiri khan perupa, mengapa tidak sampai diundang ke pameran ini?"

"Saya adalah jagonya kalau dalam seni kontemporer dan orang sudah mengakui itu, dan saya adalah perupa yang bermain sendiri. Permainan itu dalam seni juga ada jadi bukan dalam dunia politik saja" 

Saya mengerti setelah  Agoes Jolly itu menceritakan panjang lembar. 

"Lalu, bagaimana pendapat Bapak tentang karya yang sedang dipamerkan ini?"

"Tidak sepenuhnya original, jiplakan, tidak Indonesia, apa saya yang ketinggalan Zaman" 

Jadi, ceritanya teman-teman Agoes Jolly itu pastinya selalu mencari kebenaran dari suatu karya ke perpustakan sebagai rujukan.. contohnya perhatikan karya berikut ini: 

Salah satu karya yang dipamerkan

Saya membahas sedikit gambar di atas dengan Pak Jolly. Saya katakan gambar diatas menyerupai candi. Lalu ditanggapi sang perupa.

"Candi itu bisa berbentuk circle, segi empat atau delapan. Kalau melihat bentuk ini khan tidak penuh lingkarannya"

"Lalu apa yang Bapak lihat dari karya ini?"

"kerapiannya ya" 

"Lalu bagaimana dengan karya-karyanya Bapak?" 

"Saya lebih kepada Instalasi, karya saya lebih meruang, membangun sebuah negeri, unsur-unsur tradisi masih dimasukan. Dan kalau saya sudah berkembang ke Multimedia, unsur seni tari, teater, musik dan Film"

Agoes Jolly juga mengatakan bahwa seni Kontemporer itu bahannya bukan saja dengan kayu, tapi dengan sampah pun jadi. 

"Lalu apa yang dimaksud dengan seniman instalasi?"

"Dia lebih mengedepankan pesan-pesan, sebagai seniman dia menceritakan realitas, tidak sekedar jualan keindahan tapi sosial kemasyarakatan"

Saya ditemani Bapak Agoes Jolly melihat-lihat pameran sampai akhir serta diberikan juga penjelasan. Beta beruntung sekali, terima kasih. Oh ya Sang perupa juga minta maaf karena diawal sempat memperingatkan dengan keras tidak boleh memegang karya pameran. Saya bilang itu tidak masalah...

Baiklah sekarang kita melihat jenis karya lain yang dipamerkan. 

Sang Jenderal, Karya Abdi Setiawan, bahannya dari Fiberglass, acrylic, paint, autoclear

Untuk Sang jenderal diatas, Agoes Jolly katakan sudah konsisten... salah satunya konsisten dengan bahannya kayu dan temanya... 

Saya sempat bertanya apakah memang setiap karya itu dipilih disesuaikan dengan filosofinya, atau misalnya, seorang perupa itu membuat sebuah patung manusia tapi tidak utuh dibuat manusia, melainkan ada bentuk babinya. Agoes Jolly memiliki jawaban untuk ini, dia katakan bahwa bisa saja disesuaikan dengan filosofi dari objek yang di buat atau pun tidak, atau bisa saja hanya sebuah simbolik saja. 

salah satu karya temannya Bapak Agoes Jolly, saya lupa tidak mencatat
Nah, karya ini tentu bukan patung dan agak beda ya dari yang lain. Maksudnya dilihat dari tempat dan materinya. Pameran ini letaknnya di luar gedung galeri, dibuatkan semacam ruangan dari seng dan di dalamnya kita bisa melihat foto-foto. Foto-fotonya sendiri merupakan aktivitas sang peseni itu sendiri. 

Agoes Jolly mengatakan bahwa karya temannya ini termasuk yang terkini, dan melibatkan lingkungan sosial. Temannya ini senang sekali dengan dua hal yaitu bola dan burung. Konon menurut ceritanya Agoes Jolly, Ayah temannya itu seorang penjual burung. Oleh karena itu, di dalam karyanya ini ada football dan sangkar burung.. coba perhatikan gambar ini:

Sangkar burung di langit-langit
Yup, teman-teman karya kita mencerminkan identitas kita sebenarnya atau identittas kita memberi warna pada karya kita hehehehe... Sangkar itu dipajang  di atas langit-langit ya...

Expanded Dreams, karya Entang Wiharso, bahan: Variabel dimension, Mixed media
Nah, patung yang terlihat di atas menurut Agoes Jolly sebagai salah satu aliran Surealis. Mengapa dikatakan Surealis? lihatlah pada kaki patung tersebut, ada yang aneh khan? bentuknya yang satu tidak seperti kaki lazimnya...

Lebih jauh lagi Agoes Jolly mengatakan bahwa di dalam karya seni itu ada tiga aliran yaitu, Surealis, Realis dan Naturalis. Kalau aliran Surealis pengertian simplenya memungkinkan untuk dilebih-lebihkan. Sementara untuk Realis dan Naturalis, bentuknya masih sama dengan yang aslinya, tapi untuk Realis, cokelat bisa menjadi biru sedangkan naturalis, cokelat tetap cokelat... kira-kira seperti itu penjelasan sederhananya..

Salah satu yang dipajang dan saya tidak suka

Karya di atas yang menggambarkan seorang perempuan memakai kebaya dan diteralis, saya tidak menyukainya. Boleh saja kita melihat masa lalu, tapi khan keadaan perempuan sekarang ini sudah maju walau tidak semuanya berpikiran maju. Tapi ada beberapa diantaranya yang berhasil bahkan kedudukannya bisa menyamai laki-laki.. lihat, pada tas merah di foto itu. Tertulis NOW...adeuh ya, tidak mencerminkan seutuhnya.. kalau pun mau ya ada pembanding. Jadi, ada masa lalu dan masa kini dimana perempuan sudah maju.. Kita melihatnya pada yang positif. 

Dan saya mengerti sekarang mengapa Karyanya Agoes Jolly, tidak bisa diikutkan ke dalam pameran, coba kita lihat karyanya yang saya foto dari kamera HP: 

salah satu karya Agoes Jolly
Another karyanya Agoes Jolly


Masih karyanya Agoes Jolly

Baru setelah melihat karyanya itu saya mengerti mengapa dari tadi Sang Perupa mengatakan bahwa tidak diundang  ikut pameran karena karyanya tidak bisa dijual. Tapi ya,  Ia juga melukis.... ada kemungkinan tidak semua masyarakat bisa menerima karyanya . 

Oh ya, hal lain yang dia katakan pada saya adalah di dalam sebuah pameran juga ada yang namanya "jualan". Orang bisa membeli langsung sebuah karya atau image. Image maksudnya lebih kepada perupanya itu sendiri. 

Note: fotonya Agoes Jolly saya ambil dengan kamera HP karena kamera digital saya habis baterainya.

Agoes Jolly (paling depan) bersama rekannya (Agoes Jolly yang memakai kemeja  ada  warna merah)

"Pak, apakah bapak ada keinginan untuk mencoba sesuatu yang baru?"

"Yah, kalau saya diundang pasti saya  menyesuaikan dengan acaranya" 

Jadi, memang Agoes Jolly ini total sekali dalam kerjanya. Bahkan dirinya sendiri sampai dijadikan objek karyanya....

Saya berterima kasih sekali sudah diberikan penjelasan mengenai pameran patung kontemporer. 

Mari kita nikmati karya yang lain: 
Komisi_jamban@yahoo.com, karya Hardiman Radjab
Diantara semua karya yang saya lihat, karyanya Hardiman Radjab yang paling satir.  Pada gambar di atas memang tidak terlalu jelas bagian dalamnya. Tapi nantikanlah Videonya... ya hehehe... saya upload nanti. Kalau menurut Agoes Jully yang sangat terkini. 

Listen To me, Karya Ahmad Syahbandi, bahan Mixed Media

Saya bingung pertama kali melihat karya di atas. Hm.. apa ya ini, closet bukan.. lalu ketika ditanyakan Agoes Jully, ternyata itu bentuk telinga... hm... sungguh tak terpikirkan oleh saya (memang bukan jiwa seni).. tapi memang benar itu bentuk telinga, tokh persis sama dengan judulnya....

Tidak tercatat identitasnya sama saya

Mereka mengatakan lurus bagiku, Jungkir balik bagimu, karya Ivan Sagita


Ulat bulu, karya Ali Umar
Lady of the wood and the golden cucumber, karya Andita purnama, bahan cassete tape

Honey Im Home, karya M Irfan, bahan Polyester, Resin
Lakmi's tapa (yoga), Karya  Laksmi Sitaresmi

Pada bagian awal sempat saya menyinggung bahwa karya yang dipamerkan tidak semuanya patung, dan tidak sesuai dengan judulnya. Untuk menjawab hal ini bacalah keterangan dari penyelenggara di foto berikut ini..


Seperti itulah pameran patung kontemporer yang saya datangi. Tidak semua foto saya upload ya ...satu hal lagi sebelum saya benar-benar menutup blog ini, menurut Agoes Jolly, terkait pameran itu, kita bisa membuat orderan. Maksudnya kita bisa menyuruh orang lain untuk membuat karya tapi konsepnya dari kita sendiri.
Note: meskipun tidak ikut serta dalam pameran ini, menurut saya Agoes Jolly, tetap menghormati karya para perupa. Buktinya dia memberikan peringatan kepada pengunjung yang gegabah, termasuk saya hehehehehe....




Monday, June 13, 2011

Iklan Enamel

Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.

Itu sebuah pepatah yang tepat untuk menggambarkan aktivitas hari Sabtu yang lalu. Ya, sebelumnya saya sudah posting mengenai sebuah Dance yang saya saksikan. Nah ceritanya sebelum pertunjukan Dance itu dimulai, saya terlebih dahulu menyaksikan sebuah pameran iklan enamel pada zaman dahulu tepatnya pada masa penjajahan Belanda.

Nah, pamerannya sendiri diadakan di ruangan bawah dari pertunjukan Dance, masih di Erasmus Huis ...
Sebenarnya saya sudah lama merencanakan ingin melihat pameran iklan enamel yang dimaksud. Info mengenai pameran enamel ini saya dapatkan dari sebuah brosur ketika saya menonton teater Visa di Salihara. Jadi ya,  publikasinya sudah sampai ditangan saya.

Akhirnya, pertunjukan tari bisa saya saksikan dan pameran pun bisa saya nikmati pada saat yang bersamaan.
Jadi, pameran Enamel ini bertajuk "Lapisan Sejarah Periklanan Modern di Indonesia"...
Pameran ini memungkinkan kita melihat teknik pemasaran di masa lalu, khususnya pada periode akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20...

Enamel advertising merupakan jenis medium periklanan yang dikenal luas di Eropa sudah  sejak akhir abad ke-19 dengan kata lain merupakan produk Eropa.  Enamel adalah papan iklan yang pembuatannya bukan dari logam yang kemudian dicat. Tapi logam yang dilapisi keramik dan pembakarannya seperti keramik. Atau bisa juga diartikan sejenis poster yang menggunakan bahan dasar metal (besi baja keras). Di atas bahan itu kemudian digambari atau dibubuhi tulisan dengan cat yang tahan cuaca.

Bagaimana cara pembuatan Enamel ini? 
Nah, setelah saya  googling, saya mendapatkan informasi seperti ini:

Pembuatan iklan enamel harus dilakukan secara khusus, diawali dengan pengaplikasian desain menjadi stensil (alat merekam) atau screen per-warna (disesuaikan oleh desain) kemudian disablon ke lempengan besi dengan penggunaan cat bakar atau cat khusus enamel (berbentuk butiran atau cairan) dan dipanaskan dengan temperatur tinggi antara 760°C – 850°C. Proses sablon dan pemanasan dilakukan berulang-ulang menurut desain (warna) yang ingin dihasilkan, diawali dari warna cerah / kuat karena paling banyak menerima pembakaran dan diakhiri dengan warna lembut untuk menghindari warna akan pudar atau hilang.
Iklan enamel memiliki ketebalan 2-3 milimeter, dengan karakteristik warna yang sangat kuat serta tahan lama. Pada banyak iklan enamel, warna pada desain ditandai dengan adanya tekstur yang menonjol dan jika dipegang atau diraba akan terasa pembedaan warnanya.

Berikut saya perlihatkan foto-foto dari Iklan Enamel yang saya ambil dari pameran di Erasmus Huis.

Beberapa enamel rokok, tembakau dan Cerutu



Tembakau Cap Boelan Binatang, tapi itu modelnya pakai kopiah mirip santri


Yup, jadi kita bisa melihat dari gambar di atas itu iklan enamel  rokok, tembakau dan cerutu.... ada yang bermerk, Priyayi, ada yang bermerk Boelan Bintang dan ada juga Van Nelles dan juga merek yang lainnya.
Saya tidak mengerti mengapa ya tembakau Merek Boelan Bintang itu gambarnya bisa diidentikan dengan seorang muslim (santri-red)...hmmmm padal sesuatu yang berhubungan dengan tembakau, rokok dsb.. itu sangat sensitif...bagaimana ya tanggapan dari para ulama mengenai itu.. sekarang khan kalau kita melihat kemasan rokok hampir tidak ada orangnya..kecuali iklan di TV atau billboard..... etc...tayangan iklan itu pun sekarang terikat dengan beberapa ketentuan dan kalau kita perhatikan lagi sebuah iklan rokok itu tidak lagi memperlihatkan wujud rokoknya... kecuali diakhir iklan itu disebutkan mereknya.....
Ya mungkin inilah perbedaan iklan yang dulu dengan sekarang.




Rokok Bermerk Prijaji...coba ada bagaimana tanggapan kaum priyayi mengenai hal ini?

Dan itu ada rokok yang bermerk Priyayi.. pertanyaan saya adalah bagaimana dulu ketika membuat konsep iklan ini apakah harus minta ijin dahulu misalnya karena akan memakai istilah priyayi dan juga  atribut keraton/kerajaan.... apakah golongan priyayi itu ada yang melakukan protes atau tidak....hmmmm... tapi menurut saya iklan enamel ini sebuah inovasi yang tidak bertahan lama.....tapi wujudnya awet.

Nah, selain itu ada juga iklan enamel Susu cap beruang....

Susu cap Beruang: model babynya lucu ya 

Hm, ingat susu cap beruang saya teringat nenek jadinya. Ya, nenek saya suka sekali minum susu cap beruang itu. Sekali, saya pernah mencoba dan rasanya pun tawar. Susu bukan minuman favorit saya, tapi saya tahu manfaatnya. Oleh karenanya, saya tidak bisa selamanya tidak minum susu heheehehehe..........dan ternyata susu beruang ini sudah exist ya dari dulu....

Odol ...
Saya selalu sangsi, setiap kali akan memakai istilah odol. Apakah orang akan mengerti dengan istilah odol. Karena perasaan saya mengatakan itu adalah orang "sunda". Tapi setelah melihat pameran ini, istilah odol ternyata sudah terpublish lama...bahkan menjadi istilah umum. Ya, karena istilah Odol itu  menunjuk pada semua jenis/merek pasta gigi hehehe.... apapun merknya, itu adalah odol/pasta gigi.

wow ada Mentega Blue Band
Ada Bayer, Listerine dan Brylcreem

Sudut Di Ruang Pameran

Enamel ban mobil nih

Enamel Obat nyamuk
Yup, sekarang obat nyamuk jenis ini sudah tidak praktis lagi....hmm saya sekarang jarang menemukannya.... apa masih ada? sekarang khan sudah ada obat nyamuk elektrik.

Iklan Bank
Papan Peringatan
Unik dan lucu kalau membaca  ejaan zaman dulu, OE dibaca U... dan Di  Larang, nulisnya dipisahkan.....entahlah saya kurang tahu bagaimana dengan tulisan atau ejaan bangsa lain. Apakah sama dengan kita, memiliki perubahan?

Dan menurut informasi yang saya dapatkan, enamel yang dipamerkan di Erasmus Huis ini koleksi dari
Hadi Sunyoto dan Hauw Ming. Bahkan sekarang sudah jaranag. Katanya sih enamel ini dulu ada orang yang memborong sampai bertruk-truk dan dibawa keluar....

 Enamel sebagai medium iklan, memang akhirnya punah. Kalah oleh kemeriahan, kemurahan dan kecepatan teknik cetak offset. Secara nyaris serentak di seluruh dunia, di saat perang dunia II, enamel iklan ikut musnah, karena segala jenis metal dan fasilitas industrinya harus dikerahkan untuk melayani perang.

Note: Jadi, melihat pameran enamel itu, ya kita bisa mengetahui mana produk yang memang telah ada sejak lama dan sampai sekarang masih eksis.  Bahkan untuk produk yang kualitasnya baik menjadi list pertama setiap kita mau belanja....melihat pameran enamel ini bukan hanya kita mengetahui teknik pemasaran tapi juga perubahan dalam segi tata bahasa.....dan memang memiliki hobi itu terkadang masuk kedalam klasifikasi tertentu, bahkan boleh dikatakan hobi itu "mahal" tapi kepuasanlah yang akan kita dapatkan...dan itu tidak bisa dinilai dengan uang. Barang yang dulu tidak begitu bernilai sekarang malah nilainya sangat tinggi....begitulah kelangkaan, kepunahan dan memiliki hobi itu sesungguhnya mengasyikkan.....hehehehe... terlebih hobinya yang masih affordable.....

Oh ya Info tentang iklan enamel bisa didapatkan di sini dan di sini
Pameran ini gratis dan masih ada sampai tanggal 17 Juni 2011