Search This Blog

Showing posts with label Story. Show all posts
Showing posts with label Story. Show all posts

Saturday, July 23, 2011

Pastikan Barang Teman-Teman Aman

Jagalah Dompet dan barang  berharga anda
Okey, ceritanya malam ini saya baru saja dapat pesan di BBM Group. Pengirimnya ternyata My Boss. Isi pesannya seperti ini:

My Boss : "Hati2 naruh tas di atas meja Roti Bakar bla bla bla atau pun warung kaki 5 di tepi jalan. Baru saja tgl (22 Juli jam 19.15) ada cewek makan dan naruh tas di atas meja, tiba2 ada motor berhenti dan pembonceng motor langsung merampas tas yg di atas meja. Semua pembeli di roti bakar bla bla bla hanya bisa bengong menyaksikan kenekatan penjambret  kabuur dengan menggeber motornya. Nekat ya ... padahal di belakang Mabes Polri"

Me : " Wah, beberapa hari yang lalu makan di bla bla bla bareng Nurul... Harus tetap waspada"

My Boss: "Betul, jangan ngeletakin tas, hp. Benar2 di depan mata sy kejadiannya"

Baru membacanya saja hanya bisa bilang "sungguh orang yang tidak memiliki hati nurani".. dan benar-benar nekat, sungguh...

Sebenarnya baru-baru ini, teman satu kosan saya bilang bahwa dirinya jadi korban penjambretan di Jl, Pasar Baru.  Wah kaget mendengarnya. Pikiranku lalu connect ke Halte Busway Pasar Baru yang selalu  dilewati kalau mau les bahkan Halte Busway Pasar Baru itu letaknya persis di depan Gedung Kesenian Jakarta, yang pernah saya kunjungi.

Teman kosanku itu ceritanya curhat ketika kami akan berangkat ke kantor lagi nunggu Metromini. Lalu saya sarankan dia untuk lapor pihak berwajib mengingat dirinya telah kehilangan kartu ATM, KTP, HP, dsb.. 

Dia pun memang ingin melaporkannya. Karena tidak tahu kantor Polres yang terdekat, alhasil saya sarankan untuk lapor ke Mabes karena letaknya dekat dengan kantor, jadi bisa kuantar sampai depan Pintu Gerbang.

Lho Kok  Lapor Ke Mabes?
Pikiranku waktu itu bilang, kalau pun salah atau kurang tepat melaporkan penjambretan di Mabes, toh nanti juga akan diarahkan. Saya sarankan dalam pembuatan laporannya supaya tidak berbohong.

"Kalau mau buat laporan, laporkanlah sebagaiamana adanya. Jangan berbohong. Katakanlah kejadinya di Jl. Pasar baru, supaya tempatnya jadi perhatian pihak berwajib. Kalau berbohong mengatakan kejadiannya di blok M maka itu akan menjadi bumerang bagimu".

Teman kosanku mengiyakan itu.
Oh ya, ternyata kasus penjambretan  yang menimpa teman kosanku, terjadi di Bajaj. Ceritanya, dia akan pergi ke rumah temannya, ketika naik Bajaj itu  tasnya ia letakkan dipangkuannya. Jadi tidak di lingkarkan di tangan atau disimpaikan dibahu. Otomatis ketika terjadi penjambretan dia tidak bisa melakukan perlawanan. Menurut saya sungguh sengsara melihat barang sendiri raib di depan mata tanpa kita bisa berbuat apa-apa ....

Keesokan harinya saya tanya Ia kelanjutan perkaranya. Ia pun menjawab bahwa dari Mabes diarahkan untuk melapor ke Polres yang terdekat..
Heheheheh... ..

Nah, saya belum dan mudah-mudahan tidak akan tertimpa penjambretan itu.  
Kalau dicopet HP pernah, sekali-kalinya.... itulah resiko naik kendaraan umum heheheh...
Tapi setelah kejadian itu saya lebih mawas diri. Tapi negatifnya adalah selalu berburuk sangka terhadap siapa saja yang mendekat, bertanya atau pun memperhatikan padaku.... hehehe 

Dulu , setelah kejadian pencopetan itu, paman saya bilang  jangan sekali-kali menyimpan HP di saku celana, karena itu bisa dirogoh. Simpan saja dalam tas katanya. Dan paman  katakan juga bahwa saya sebaiknya mengingat atau memperhatikan No plat mobil yang ditumpangi. Kalau kendaran umum, cukup mengingat 2 (dua) angka di belakangnya... Karena, misalnya, kalau kendaraan umum  di bandung itu, pasti berplat D, dan  kedua huruf awalnya adalah 19... dan itu seragam untuk semua angkot... jadi, yang perlu kita lakukan adalah mengingat 2 huruf akhirnya...

Selain itu, paman katakan kalau menyimpan uang itu jangan semua disimpan di dompet, tapi simpanlah sebagian di tempat lain... karena kalau sewaktu-waktu dompet kita hilang kita masih punya cadangan untuk ongkos...

 Nah, bagaimana dengan teman-teman, apakah punya kiat khusus dalam menghadapi kejahatan ini?

Kalau saya sudah mempraktekkan, tidak membawa semua kartu ATM, bahkan kartu NPWP juga di simpan saja di rumah begitu pula dengan kartu lainnya kalau memang tidak dibutuhkan..... ribet khan kalau hilang...harus memblokir, mengurus yang baru, registrasi lagi  dsb....



 


Saturday, July 16, 2011

Jeli Melihat Kesempatan

Tempatnya Adem
Ceritanya saya ada mengadakan kunjungan lapangan ke suatu tempat. Kebetulan ada dua agenda acara. Pertama kunjungan lapangan melihat hasil penelitian dan pengembangan yang dilakukan oleh sebuah instansi dan agenda kedua adalah lebih kepada pembahasan substansi. Tempat kedua acara tentu saja berbeda.

Kebetulan acaranya dimulai pada hari Jumat. Hari Jumat kemarin, sesampainya kita di tempat kunjungan lapangan kita langsung disambut, panitia yang punya acara memaparkan apa yang menjadi tupoksinya dan apa yang menjadi produknya. Kegiatan pun dihentikan karena bagi laki-laki ada sholat Jumat, nah bagi yang perempuan bisa makan siang.

Setelah makan siang itu yang perempuan sholat zuhur yang laki-laki setelah selesai sholat Jumat langsung makan siang. Sholat itu tentu tidak lama khan? sesudah sholat itu kita masih punya waktu sebelum acara dilanjutkan kembali.

Saya lihat, dibagian terbuka itu mereka memajang beberapa produk hasil penelitian mereka. Semua orang tentu bisa melihat. Lalu saya ambil foto, meskipun tidak semuanya saya ambil, tapi minimal saya punya dokumentasi. Tadinya saya berpikir, nanti khan akan ada sesi "melihat-lihat" venue....jadi, nanti saja ambil gambarnya sekalian. Kemudian saya berpikir lagi, saya khan melewatinya mengapa tidak sekarang saja saya ambil foto sebagian. Dan saya pun akhirnya mendapatkan beberapa foto.

Acara dilanjutkan kembali. Setelah pemaparan selesai, tiba-tiba panitia  mengatakan seperti ini :

"Peserta yang akan melanjutkan acara  kedua boleh langsung menuju Bis satu, sementara bagi perserta yang tidak melanjutkan acara berikutnya kita akan meninnjau lapangan" 

Saya terkejut dan  sangat bersyukur sekali, bahwa saya tadi bisa memanfaatkan kesempatan dengan baik. Tidak perlu menyesal...............

Di dalam sebuah event, atau apa pun itu bentuknya, melihat dengan jeli dan menggunakan kesempatan sebaik-baiknya itu penting...........

Thursday, July 7, 2011

Candanya Orang Sunda

Sewaktu ANJAB di Puncak

 Ya, ceritanya saya sedari kemarin sampai hari ini ikut  kegiatan yang namanya ANJAB. Tidak  perlu ya dibahas panjang lebar tentang ANJABnya. Sekarang ingin intermezzo ya.

Nah, pagi ini ceritanya sebelum memulai ANJAB.. kita semua berintermezzo. Lupa lagi bagaimana awalnya tiba-tiba saja  topik pembicaraan beralih kepada saya. Ini sih gara-gara mas RIDHO yang tanya asal-usul saya... mulanya dia tanya tanah kelahiran dimana aku dilahirkan sampai  Mas Ridho tanya seperti ini:

RIDHO: "Si Sri mah sunda palsu"

Saya: " Benar  kok sunda asli" 

RIDHO: " Naon bahasa sunda lemes seuri? " (apa bahasa sunda halus untuk tertawa)? 

Saya: " Gumujeng, tahu atuh"

RIDHO:  Diam sebentar tidak berkutik, lalu bilang "bahasa sunda mah bahasa anu mudah pisan, semuanya berawalan dari A"

Mbak Natta:  " iya kata orang sunda mudah" 

Saya:  "Coba praktekkan"

RIDHO:  "Anjing Sia kamana" 

Mbak Natta: " Ya ampun Ustadz muda kita" 

Saya:  terhenyak sebentar tak percaya dengan apa yang baru diucapkannya lalu ketawa.. 

Ya, teman-temanku sekalian... maaf sebelumnya kata-katanya tidak saya sensor.. ini hanya guyonan saja. Jangan dianggap serius... Kita semua tahu laki-laki yang bernama lengkap RIDHO FAUDZI ini memang seorang ikhwan, baik  ya dan dia memang berasal dari satu kampung halaman dengan saya. Kita Sama-sama dari Tasik, yang berarti sama-sama bersuku Sunda. 

Pertama kali saya tahu mas Ridho dari tasik waktu orientasi CPNS dan baru tahu kalau dia alumnus SMAN 1 Tasikmalaya angkatan 2000.  Itu pun ketika kami bertiga, saya,  mas Erwin dan mas Ridho ngobrol-ngobrol... waktu itu mas Ridho yang bilang kalau mas Erwin juga dari Tasik.. usut diusut, eh ternyata  saya dan mas Erwin satu almamater. Kita berasal dari SMAN 2 Tasikmalaya.. alias MARTA 261... ya, kalau tidak salah itulah alamat Sekolah kami..

Tapi sayang ya, mengapa dulu terjadi perubahan nama sekolah dari SMAN 2 Tasikmalaya menjadi SMUN1 INDIHIANG... tapi alhamdulilah sekarang sudah kembali lagi ke awal SMAN 2 Tasikmalaya... tapi tetap ya di ijazah dan buku rapor kami tertera SMUN1 INDIHIANG...itu tidak bisa diubah... mudah-mudahan ke depannya tidak akan terjadi lagi yang namanya perubahan nama ..... jangan... nama itu adalah trademark .. dalam hal tertentu, perubahan nama sangat merugikan ......mungkin kami tidak banyak mengharumkan nama sekolah. Tidak ada prestasi yang diukir. Tapi saya bangga akan sekolah saya. Bangga karena bisa diterima di sana meskipun dengan nilai yang juga pas-pasan.  Dipundakku sekarang ada nama sekolah itu dan juga instansi dimana aku bekerja...

" Saya lulusan SMAN 2 Tasikamlaya yang bekerja sebagai PNS" mudah-mudahan bisa mengabdi dengan baik ..... jadi jangan ada perubahan nama lagi ya..

Balik lagi yuk ceritanya ke Mas Ridho.. Jadi, mas Ridho itu ya dia itu tidak pernah mau yang namanya salaman langsung dengan yang bukan muhrimnya. Bahkan di pegang atau disentuh pun tidak mau. Makanya, waktu orientasi dulu teman-teman suka bercandain dia.... ada yang sengaja pegang tangannya lah ... nah saya juga tergelitik untuk menoel alias menyentuhnya... lucu jadinya....  dia selalu berusaha untuk menghindar.

Makanya kalau Ridho Fauzi berkata-kata seperti di atas itu artinya dia menunjukkan sisi lain dari dirinya. Artinya dia  merasa dekat dengan kita. Ada keleluasan untuk bicara. Orang  bilang untuk membuat orang terbuka dengan dirinya sendiri, maka kita juga harus bersikap terbuka lagi.
Aku percaya dengan itu, bagaimana denganmu???

Oh ya, Mas Ridho ini pengetahuan agamanya luas. Paham yang dianutnya adalah Muhammadiyah. Saya juga pernah mendengar ceramahnya di kantor. Waktu itu menggantikan seseorang. Topik yang dia bahas ketika itu adalah tentang Tajwid atau bagaimana cara membaca Alquran dengan baik dan benar sesuai dengan ilmu tajwid.  Isi ceramahnya yang masih kuingat adalah kalau Mad itu dibaca 2 harkat.

"Masih banyak terjadi kesalahan dalam membaca Mad ini. Seharusnya dibaca 2 harkat dan salah satu cara untuk menghindari kesalahan adalah dengan cara membacanya diayun", terangnya.

Mas Ridho juga berbicara soal Gunnah.  Menurutnya Gunnah itu dibaca 3 harkat..
Setelah ceramah itu saya dan juga rekan-rekan ada keinginan untuk memintanya mengajari kami cara mengaji yang benar. Barangkali bisa dilakukan sehabis sholat zuhur seperti itu, tapi belum kami tindak lanjuti lagi tuh...

Mengetahui di kantor ini ada orang Sunda, saya merasa ada batur salembur.. artinya teman sekampung... bangga dengan orang Sunda, ternyata mereka juga ada dimana-mana...ayo lah siapapun teman-teman, suku bangsa teman-teman, lebarkan sayap kalian.......

Saya juga baru tahu kalau Suami dari Mbak Ari yang notabene masih satu kantor, dan juga ayah dari 2 orang putri ini pernah menjadi DEBT COLLECTOR.

"Saya tahu jalanan di Bandung, itu pun dulu waktu jadi Debt Collector", ujarnya..

Saya tidak bertanya tentang itu hanya mendengarkan saja.... Tuh khan kalau seseroang diajak bicara maka dia pun akan berbicara mengenai dirinya sendiri..... ada waktu ketika seseorang itu membuka dirinya sendiri tanpa diminta. 

Oh ya satu lagi, waktu prajab tahun kemarin mas Ridho menceritakan kepada kami semua, kalau dia pernah bernadzar. Nadzar nya adalah kalau dia keterima kerja akan segera menikah. Dan itu kesampaian. Jadi, menurut ceritanya teman-teman kami, Mas Ridho ini perkenalnya sangat singkat dengan Mbak Ari. Ibaratnya gayung bersambut atau pucuk dicinta ulam tiba. Nah, cerita seorang teman mengatakan kalau waktu itu perkenalannya Mas RIDHO kerumahnya Mbak ari, dan Mbak Ari pun diperkenalkan ke keluarganya, dan mereka langsung setuju untuk menikah...

Hidup seperti itu ya.. Tuhan punya jalannya sendiri...

NB: Mas Ridho ke dua dari kanan dalam gambar di atas....

Saturday, June 25, 2011

Becak Kreatif Ala Jogyakarta

Becak Kreatif nih ala Jogyakarta

Beringin Kembar yang banyak ceritanya :)

Yuk, ceritanya sehabis menggelar acara inti yang diadakan oleh Kantor, seluruh panitia dan peserta, kecuali yang ada urusan, main ke alun-alun Keraton Yogyakarta.

Sesampainya di alun-alun kita makan Bakmie Pak Pele, yang konon beken di sana. Bakmienya sendiri ada dua macam, ada bakmi godok dan Bakmie Goreng. Saya pesan yang Bakmie godok.

Bagaimana rasa Bakmienya? Bakmienya sendiri pokoknya pakai ayam kampung, telur, kol dsb. Intinya silahkan mencicipinya sendiri.

Seusai makan Bakmie, kita Lanjut mampir di toko Batik. 2 rombongan mobil yang masuk kedalam Toko batik itu, tidak ada seorang pun yang belanja. Bisik-bisik terdengar harga yang ditawarkan di toko itu terlalu mahal. Selain itu, ketika saya check rok batik, harganya sekitar Rp. 300 ribuan. Duh bagi saya itu harganya mahal. Seseorang berbisik terlalu mahal harganya.

"Harga batik di sini mahal, kalau mau beli yang murah itu di pasar beringharjo ", sahut seorang teman.

Alhasil kita pun tidak ada yang beli. Nah, sesudah itu kita main di alun-alun Keraton lagi. Kali ini, kalau menurut saya sih lucu-lucuan. Kita berjalan dengan mata tertutup dan mencoba melawati pohon beringin kembar. Katanya, kalau berhasil keinginan kita akan terkabul. Saya sudah dua kali mencoba tapi gagal terus.

Ya, kalau menurut saya sih, terkabulnya keinginan kita itu memang hasil dari kerja keras kita sendiri dan tentu saja doa kepa Tuhan Yang Esa.

Setelah lucu-lucuan dengan pohon beringin itu, kita naik becak kreatif. Ya, seperti yang nampak pada gambar.

Salah satu hal yang menarik dari becak/sepeda kreatif itu adalah dandanannya. Pemasangan lampu unik yang berwarna-warni menggungah para pengunjung untuk mencobanya.

Harganya sendiri Rp. 25 rebu untuk tiga kali putaran. Kapasitasnya sendiri ada yang muat 4 orang, 6 orang bahkan ada yang sampai membuat tempat duduk di atas. Dan itu biasanya untuk anak kecil. Selain becak kreatif ada juga sepeda kreatif ya...
Bagi saya yang memiliki kaki yang pendek, susah untuk mengayuhnya ya. Jadi, lebih baik yang mengayuh pedalnya adalah laki-laki . Tentu dengan kaki yang panjang.

Pemiliknya bilang itu adalah becak kreatif, sedangkan menurut pandangan yang lain, namanya adalah Odong-odong.

Nah, berbicara mengenai kota Jogyakarta, tentu tidak seramai Ibu Kota dan Bandung. Tapi saya salut, bahwa di alun-alun itu ada keramaian dan tidak sepi. Bayangkan saja kalau di alun-alunnya kampung halaman saya, tentu tidak seperti itu. Tidak ramai. Cenderung sepi.

Dan tentu saja alun-alun ini telah menjadi sumber mata pencaharian bagi masyarakat sekitar.

Balik lagi ke becak kreatif.
Jadi ya, bagi saya naik becak kratif itu, membuat saya dan juga teman-teman bahagia dan tentu saja bisa tertawa lepas...

Itulah malam pertama di Jogyakarta setelah acara selesai :)
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Friday, June 17, 2011

Kantor Pos Harus Ada Di Perkantoran

Kantor pos yang saya jumpai


Yup, ceritanya pagi ini saya hendak kirim paket untuk orang tua. Paketnya sendiri sih isinya hanya oleh-oleh waktu saya tugas ke Padang... makanan memang yang dikirim, walaupun kita bisa mencari hal yang serupa dengan keripik singkong balado, tetapi rasanya kurang maknyus kalau kita tidak membawa langsung oleh-olehnya dari tempat asalnya langsung.

Ya, oleh-olehnya sendiri adalah keripik Balado Christine Hakim.. Saya belinya sih, di Bandara Minangkabau. Itu pun memang karena hanya punya waktu ketika pulang.

Oleh-oleh khas Padang :)


Di Bandara itu, ada dijual satu kardus yang isinya tujuh bungkus keripik balado. Seharga Rp. 130.000 ya kurang lebih seharga itu. Tapi, seseorang menyarankan saya untuk tidak membeli keripik yang sudah dimasukin ke dalam kardus. Melainkan beli yang baru saja. Artinya kita sendiri yang pilih keripiknya sebelum dibungkus atau dimasukan kedalam kardus.

Ternyata kalau kita membeli satuan itu harganya mahal, satuannya seharga Rp. 30.000,- belum lagi mereka menghargakan kardus itu Rp. 15.000,- hmmm..tapi kalau beli yang sudah jadi, kita tidak tahu kondisinya.

Lanjut ceritanya, saya tidak beli banyak, hanya beli 5 bungkus plus 2 bungkus makanan yang lain dari bahan serupa, singkong. Kalau menurut saya seperti lanting sih...

Nah, hari ini saya baru bisa mengirim oleh-oleh itu untuk orang tua yang memang telah dibagi dua. Karena akan mengirim paket, maka pagi ini pun saya pergi ke salah satu kantor pemerintah di jalan Prapanca. Saya pergi dari Blok M ke sana jalan kaki. Karena saya tidak sabaran untuk menunggu kopaja. Itung-itung olahraga pagi lah ...

Akhirnya saya pun sampai di kantor pemerintah itu. Tapi sayang posnya belum buka. Yup, jadi ceritanya pos itu pindahan dari pos dekat kantorku. Dia pindah ke kantor yang lebih besar. Satu jam  menunggu petugasnya.. Tapi sayang, setelah petugasnya itu datang, dia katakan tidak bisa melayani, karena memang ada yang rusak dengan fasilitas layanannya.

"Oleh karena itu mbak saya datangnya siang, karena memang tidak ada kerjaan", ujar salah seorang petugas...

Saya kecewa sekali berarti satu jam ini saya sia-siakan... Petugas itu tanya alamat kantor aku. Karena memang aku minta petunjuk kantor pos yang dekat dengan kantor.
Ketika  dikatakan kalau kantor saya di Jalan Raden Patah, dia bilang kantor pos atau perwakilan pos juga ada di salah satu instansi pemerintah yang dekat dengan kantorku.

"Ya di sana ada juga posnya, tepatnya dibagian setumnya" ujar dia.

Saya pun pergi dengan ojeg menuju kantor yang memang letaknya dekat dengan kantor. Ketika sudah sampai, saya langsung menuju Setum. Tapi salah seorang pegawai di sana mengatakan bahwa pegawainya belum datang dan baru buka jam sepuluh. Saya kembali kecewa. Diputuskanlah untuk kembali saja agak siangan sebelum pukul dua siang.

Jam satuan saya kembali ke setum untuk kirim paket. Petugasnya ada. Tapi setelah melihat paket yang akan saya kirim dia menolak. Alasannya ya karena paketnya besar.
Saya benar-benar tidak mengerti dengan alasan penolakan mereka. Apakah mereka tidak punya layanannya untuk pengiriman paket? Jelas saya tidak tahu. Tapi sebenarnya khan kalau menurutku, paket itu tidak dikirim langsung oleh mereka, namun pastinya ada yang mengambilnya dari pusat untuk kemudian dikirim ke alamat yang dituju.

Hal yang paling bisa saya terima adalah nasihat dari petugas itu, bahwa paket tidak boleh dibungkus pakai koran. Bisa dibungkus oleh kertas apa saja asal jangan koran. Saya waktu itu membungkusnya pakai kertas koran karena terinspirasi oleh teman :)

Nah, saya pun lalu membeli kertas kado di Koperasi mereka. Lalu memutuskan untuk mencari kantor pos yang lain. Dan diantar lah saya dengan bajaj itu. Supir bajajnya menyarankan untuk ke Kantor Pos Santa saja. Saya pun mengiyakan.

Beberapa menit kemudian saya tiba di kantor pos. Dan karena kantor pos utamanya sedang direnovasi, maka seperti terlihat digambarlah keadaan kantor pos temporarinya.
Tiba di depan pos itu, saya katakan pada petugas pos itu kalau saya hendak mengirim paket. Dan syukurlah, lega hati ini bahwa mereka welcome ... Artinya menyambutnya dengan baik...
Hal kemudian yang saya tanyakan adalah mengenai bungkus kado. Dan petugas itu rupanya memiliki jawaban yang sama dengan petugas sebelumnya. "Boleh menggunakan kertas apa saja, selain koran", ujar petugas pos itu.

Paketnya kemudian ditimbang. Dan saya pilih yang paket murah saja, dan kena charge sekitar Rp. 16.000,- karena belum sempat mengganti bungkus paket itu dengan kertas kado yang telah dibeli tadi, maka saya pun harus menggantinya. Tapi berhubung petugas itu mau membantu untuk membungkuskannya jadi saya tidak perlu kerja dua kali..

Duh, senang sekali rasanya ada yang mau membantu saya tanpa pamrih heheh . Sewaktu saya mau pergi, petugas itu katakan untuk sering-sering kirim paket melalui posnya. Hmm, hal ini berbeda sekali ya dengan yang sebelumnya heheee...

Nah dari kejadian ini ada beberapa hal yang ingin saya tegaskan kembali :
  1. Kantor Pos itu penting.
  2. Layanan pos itu harus ada disetiap instansi atau kantor. Dan jangan khawatir bahwa tidak akan ada orang yang kirim paket.. Atau apapun itu. Saya rasa dengan aktivitas perkantoran yang rutin, pasti akan ada jasa yang menggunakan pos. Walaupun tidak ada yang kirim paket tapi toh, mungkin saja ada orang yang hanya mau membeli perangko. Pastinya ini ada. 
  3. Berdasarkan pengalaman saya beberapa waktu yang lalu, dapat saya katakan kembali bahwa tidak diprebolehkan untuk mengirim makanan cair bahkan jeli pun tidak diperbolehkan. 
  4. Jangan menggunakan kertas koran untuk membungkus paket, tapi gunakanlah kertas yang lebih lazim.
  5. Tentukan jenis paket pengiriman mau yang cepat atau lama, yang mahal atau murah. Sesuaikan dengan urgensinya.
  6. Simpan slip bukti pembayaran paket. Apabila sewaktu-waktu diperlukan ya ...
Dan akhirnya saya katakan selamat menggunakan jasa layanan pos ya :)


Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Thursday, June 9, 2011

Stop Makan!

Yup, seperti biasanya sehabis pulang les saya melewati jembatan Busway. Malam itu pulang les dibarengi dengan hujan.
Saya perhatikan malam itu tidak biasanya ada penjual kue bandros di Jembatan itu. Saya pun langsung beli seharga Rp. 3000,- Kue Bandros merupakan jajanan kampung terbuat dari tepung beras dan santan. Saya perhatikan ada yang berbeda cara penyajiannya dengan
Kue Bandros yang dijual di kampung halaman.
Kue Bandros yang dijual di Jakarta ini disajikan dengan gula pasir sedangkan di kampung halaman saya biasanya disajikan dengan saus. Heheheh... Tapi tetap ya karena merasa aneh saya gulanya tidak dimakan habisnya aneh.

Nah, otomatis si Kue Bandros ini saya bawa ke busway. Karena malam itu hujan dan saya ingin makan makanya dilahaplah Bandros itu di dalam Busway. Kebetulan juga saya dapat tempat duduk.
Sedang menikmati itu kue tib-tiba petugas Busway meminta saya untuk berhenti makan.

"Mabak jangan makan", seru si Petugas Busway itu
"Hm, kenapa ya gak boleh makan, minum juga kalau di bus gak apa-apa. Sejak kapan ya gak boleh makan" gerutu saya.
"Takut buang sampah sembarangan mbaknya", kata seorang penumpang di sebelah saya.
"Ya enggaklah, masa buang sampah di sini"

Karena saya masih penasaran dengan larangan si petugas busway itu, lalu saya pun tanya lagi dia.
"Mas, memang dilarang ya untuk makan di busway".
"Mbak memangnya gak tau ya?"
"Iya, saya tidak tahu"
"Iya kalau mbak makan yang lain harus diberi juga"

Sontak saya tertawa dalam hati...
"Ya, petugasnya belum makan tuh mbak, mbak sih tidak ngasih dia", ujar yang duduk disampingku...

Hmmmm.... Saya tidak tahu peraturan yang sebenarnya. Entahlah apakah dia hanya bercanda atau memang benar adanya.
Dan ketika busway sudah sampai blok M, tiba-tiba saya mendengar selintas ada yang memanggil mbak. Tetapi saya berlalu saja seiring dengan hujan yang deras.

Tuesday, June 7, 2011

Satu Juta untuk 15 Orang Ke Pulau Tidung

Perahu Nelayan di Pantai Indah Ancol
Yup, ceritanya pagi ini  ada sebuah acara yang digelar kantor kami di sebuah hotel yang di belakangnya terdapat view langsung menuju Pantai Indah Ancol.... Acara  kantornya sendiri berlangsung sejak kemarin. Tidak menginap saya di sana karena tidak bawa ganti. Alhasil pagi ini saya ke sana pakai Taxi..

Agar tidak kesiangan saya pun berangkatnya pagi sekitar jam 6.00 AM. Memang, Ibu Kota Lengang pada jam-jam itu. Saya pun hanya butuh setengah jam untuk sampai di lokasi acara.
Akh Ibu kota ini memang, pagi terlalu pagi, siang sedikit macet di jalan heheheh.....
Nah, dikarenakan waktu masih pagi dan acara masih lama saya jadinya menepi ke pantai hehehe...niatnya sih ingin melihat Sunrise.. Tapi apa dikata ....Mataharinya tertutup Awan.

Sun Rise Yang Tertutup 

Jadi, ketika tidak bisa menyaksikan Sun rise yang kemudian saya lakukan adalah menikmati pantai. Apa saja yang ada dihadapan. Sampai saya perhatikan itu perahu nelayan. Jadinya, saya pun mengobrol dengan salah seorang nelayan itu dan juga seorang pengunjung.

"Pak, apa nelayan di sini bisa berenang", tanya saya untuk mendapatkan kepastian.
"Oh tentu saja, nelayan di sini mereka bisa berenang", jawab salah seorang nelayan.

"Tentu saja kalau tidak bisa berenang mana berani mereka melaut", jawab salah seorang pengunjung...

"Ya, siapa tahu mereka berlayar tapi tidak bisa berenang", jawab saya....

"Pak, kalau perahu nelayan di sini bisa tidak ya dipakai untuk menyebrang ke P. Tidung", jawab saya.
(saya tanyakan P.Tidung karena P. Onrust dan Bidadari sudah pernah ke sana)

"Tentu saja bisa", jawabnya.
"Berapa harganya pak?", tanya saya lagi.
"Satu juta rupiah", nelayan itu menjawab.
"Itu untuk perorang atau kelompok?"
"Itu untuk lima belas orang", katanya lagi.
"Oh jadi, satu juta dibagi 15 orang ya pak rinciannya", saya minta konfirmasi.
"Iya seperti itu", jawab sang nelayan.

"Muat berapa orang pak kapalnya" kembali saya bertanya.
"oh kapalnya muat untuk 15 orang, tapi quotanya untuk 27 orang", ujar Nelayan itu.
"Lalu kalau nanti pengunjung ingin pulang bagaimana, apakah dijemput atau bagaimana?, tanya saya lagi.
"Oh ditungguin, jadi yang satu juta itu untuk pulang pergi", tutur nelayan ..
"Oh saya kira pengunjungnya di tinggal dan kalau mau pulang dijemput kembali", saya sampaikan perkiraan saya.
"Tentu kami tunggu, karena kalau ditinggal malah lama di jalan", kata nelayan yang saya lupa untuk menanyakan namanya itu.

Nah, teman-teman tertarik tidak untuk pergi ke P. Tidung dengan menggunakan kapal nelayan???
Saya agak was-was.. tapi akan menjadi seru kalau berangkatnya ramai-ramai dan tentu saja dilengkapi dengan pelampung (saya tdak bisa berenang-red).. Selain itu, ada hal yang perlu teman-teman ketahui bahwa P. Tidung lebih jauh daripada P. Onrust/Bidadari..... tapi tidak jadi persoalan kalau kita ingin berpetualang dan menyukai tantangan. Ingat harganya Rp. 1000.000,- untuk 15 Orang ...

Tapi seorang pengunjung tadi mengatakan bahwa bisa pakai speedboat yang kelas ekonomi yang suka dipakai karyawan P. Seribu dan akan lebih murah apabila kita mempunyain kenalan dengan para karyawan itu. Nah, bagaimana menurut teman-teman???

Selain cerita di atas, saya perhatikan pula ada orang yang telah menjaring Udang Rebon.

Bapak yang Menjaring Udan

Udang Rebon

Ya, kalau ingat udang ingat Cirebon saya... heehehe... ternyata teman-teman, di P. Indah Ancol juga ada Udang Rebon heheh.. kecil sekali ukurannya dan warnanya bening menurut saya... Bapaknya katakan pada saya bahwa udang ini dijual. Kebetulan ada yang memesan waktu itu.  Dan biasanya dihargai Rp. 100.000,-...Udang ini bisa dibuat rempeyek/gorengan dan makanan lainnya.

Seorang Bapak yang lain mengatakan bahwa udang ini banyak pada musim hujan.... hm..seru ya menjaring udang itu pastinya...apalagi kalau berhasil dan hasil tangkapannya itu bisa dijual lagi. Ini berarti untung.. Menjaringnya gratis tapi kita pulang bawa rupiah.......hehehehee

Saya ingin pada kesempatan yang lain untuk main ke sini. pagi-pagi dan menikmati saja suasana pantai.....

Saturday, May 28, 2011

Wayang Orang "Trigantalpati"

Suasana Di dalam Gedung Kesenian Jakarta

Yup, ceritanya Rabu malam, saya menonton pagelaran Wayang Orang di Gedung Kesenian Jakarta. Rasa penasaranlah  yang mendorong saya untuk menontonnya.
Seusai Solat Magrib saya pergi ke Gedung Kesenian Jakarta dengan naik ojeg yang mangkal di depan kantor. Pertimbangannya adalah naik Ojeg akan lebih cepat daripada Taxi  yang memang pada jam-jam itu waktunya pulang kantor. Benar dugaan saya. Jalanan malam itu padat dan ramai.

Saya akhirnya tiba di Gedung Kesenian Jakarta sekitar jam 7 pm kurang. Ternyata waktu tiba di sana  loketnya belum buka dan gedungnya pun masih tutup. Tapi sudah ada beberapa orang yang datang.
Lalu, saya tanya  salah seorang satpam yang sudah bekerja 8 tahun di sana. Ia katakan kepada saya bahwa pertunjukkan dibuka sekitar jam 8 pm.

Sekitar Jam 7.30 pm. penjulan tiket pun dibuka. Yang menjualnya adalah panitia acara bukan dari pihak Gedung Kesenian Jakarta. Harga tiket pun bervariasi, mulai dari 700 ribu, 300 ribu dan yang balkon dijual 200 ribu. Nah, saya beli yang termurah saja alias yang di Balkon.

"Mau pesan berapa tiket,"tanya petugasnya
"satu saja"., jawab saya
"oh anda cinta budaya ya", kata panitia yang lain (Bapak-bapak).

Lalu saya pun keluar membawa tiket. Tapi tak berapa lama kemudian Bapak itu memanggil saya.
"Mbak, kemari sebentar, saya tukar tiketnya ya dengan yang VIP", ujar Bapak itu.
"Kenapa Pak harus ditukar", tanya saya heran.
"Kasihan duduknya jauh, tidak terlihat dan karena mbak Sendiri, jadi saya kasih  spesial", jelasnya.
"o terima kasih", kata saya.

Tiket VIP Kursi P No. 16

Ketika acara dimulai saya perhatikan balkon atas. Ternyata memang kosong, maksudnya tidak kosong sama kali bisalah penontonnya itu dihitung dengan jari tangan. Saya kira, Bapak itu ketakutan kalau tidak ada lagi penonton yang beli tiket di Balkon. Tapi nyatanya ada.  Atas tempat duduk VIP yang diberikan kepada saya, dihaturkan terima kasih ya Pak. Sepertinya saya adalah pribadi yang selalu dilingkupi keberuntungan... Dan saya masih tersanjung dengan sikapnya Bapak itu. Mengapa? karena ternyata Bapak Itu berpikir ke arah yang namanya "kasihan",  "rasa kemanusiaan" apapun itu istilanya. Kalau cuek khan ya, tidak perlulah memberikan kursi duduk di VIP kepada saya hehehehe...

Adegan Wayang Orang tersebut diawali dengan tarian.

Salah satu adegan dalam Wayang orang


Oh ya, saya berikan inti ceritanya saja ya. Tapi  Sebelumnya saya hendak memberitahu Arti dari "Trigantalpati" yang merupakan judul wayang orang tersebut. Trigantalpati itu artinya Sangkuni Kembar Tiga.

Inti Cerita:

TRIGANTALPATI, HARYA SUMAN, atau SANGKUNI adalah kesatria Plasajenar yang terkenal sangat licik, culas atau julig. 

Dilatarbelakangi oleh kekecewaan atas kegagalannya mempersunting Dewi Kunthi, karena kalah dalam sayembara pilih dengan Pandhu. Di lain pihak, ia harus merelakan kakak perempuannya yang bernama Dewi Gendari diperistri oleh Dhestharastra, kakak Pandhu yang buta sejak lahir. Dendam membara SANGKUNI senantiasa terus bergetar di dalam hati, kepada siapa pun yang menikmati hidup tentram penuh kedamaian.


SANGKUNI yang identik dengan manusia berbisa, telah berhasil memadukan kelicikan dan kebohongan untuk mengadu domba siappa pun. Tidak Kurang dari enam tokoh yang berhasil diadu domba; Prabu Baladewa Raja Madura dengan Wrekudara, Salyapati Raja Mandaraka dengan Setyajid penguasa Lesanpura, serta Burisrawa dan Setyaki. Keenam tokoh tersebut masih ada ikatan persaudararaan. 


Juga dengan kejuligannya, ia peralat Prabu Kridhakawaca Raja Himamintaka guna memenuhi keinginannya; melecehkan Dewi Kunthi yang berbudi luhur, untuk meladeni nafsu bejatnya yang telah tiga puluh tahun terendam dalam lumpur asmara SANGKUNI. 


Pendek kata, semua tatanan ia jungkir balikkan kerukunan ia cerai-beraikan, ketentraman ia porak-porandakan, demi kepuasan pribadi dan golongan. 
"Hidup tanpa kelicikan adalah semu." itulah semboyan SANGKUNI. 

Satu Sangkuni saja dapat memporak-porandakan berbagai tatanan kehidupan, baik sosial, budaya maupun politik, apalagi jika sebuah negara terdapat tiga Sangkuni.

Sebenarnya  pementasan wayang orang ini ada terbagi menjadi beberapa adegan. Dan disetiap adegan itu ada ceritanya. Tapi sayang, saya tidak mendokumentasikan setiap adegan. Wayang orang ini meskipun kita bisa membaca dibuku Acara tapi memang tidak ada dialog atau narasi yang detail.  Kalau di dalam opera yang saya pernah ikuti itu, setiap lakon atau narasi bisa diikuti  dan ada naskahnya. Jadi, ini membantu jalan pikiran kita sinkron dengan adegan.

Yang saya sayangkan Dominannya  dalam adegan tersebut penggunaan bahasa Jawa. Saya sudah tahu mengenai hal ini. Tapi saya tidak menyangka tidak akan ada dialog yang lumayan panjang dalam bahasa Indonesia di adegan itu. Alhasil saya mengantuk diengah-tengah adegan sampai menjelang akhir, Monoton.  Rasa kantuk itu disebabkan selain karena monoton, juga karena pikiran saya itu diam. Karena bingung, apa yang harus diketawakan seperti penonton yang lain.  Saya tertawa ketika ada adegan Punakawan.

Oh ya, saya rasakan Wayang orang itu syarat dengan ritualnya. Coba perhatikan gambar berikut ini:

Taburan Bunga Melati


Entahlah saya tidak mengerti dengan maksud taburan bunga melati ini. Hehehehe..
Dari Wayang orang yang saya tontonan tersebut., musik gamelanlah yang menurut saya begitu universal. Walaupun tidak mengerti tapi kita semua bisa menikmati.
Dan menonton Wayang orang ini saya diingatkan lagi dengan tokoh seperti ini:

Punakawan

 Saya masih ingat ya, pertama kali lihat tokoh di atas diacara "RIA JENAKA" TVRI... tapi sayang sekarang tinggal kenangan. Teman-teman bisa mengidentifikasi tidak, dari ketiga tokoh diatas?
Hm...ya, yang ditengah itu adalah Petruk, yang sebelah kanan, Bagong dan sebelah kiri yang kurus dan kecil itu adalah gareng. Nah, Punakawan itu khan ada 4 satu lagi Semar. Semar ada di foto berikut ini:

Salah satu adegan Wayang Orang
Nah, tokoh Semar bisa kita lihat dalam foto diatas. Semar cirinya dibagian botomnya yang menggelembung heheh atau bongkok ya...

Lalu, apa artinya dari PUNAKWAN???
Setelah saya googling, saya dapatkan arti sebagai berikut:

Konon Sunan Kalijaga telah menciptakan wayang kulit tersebut untuk sarana dakwah, agar manusia senantiasa Eling marang GUSTI ALLAH.

Sekarang mari kita simak, apakah arti dari punakawan itu dan arti dari nama-nama tokoh dalam punawakan itu.

Punakawan itu berasal dari kata-kata Puna dan Kawan. Puna berarti susah; sedangkan kawan berarti kanca, teman atau saudara. Jadi arti Punakawan itu juga bisa diterjemahkan teman/saudara di kala susah.

Ada penafsiran lain dari kata-kata Punakawan. Puna bisa juga disebut Pana yang berarti terang, sedangkan kawan berarti teman atau saudara. Jadi penafsiran lain dari arti kata Punakawan adalah teman atau saudara yang mengajak ke jalan yang terang.

Penafsiran lainnya, Puna atau Pana itu berarti fana. Jadi Punakawan juga bisa ditafsirkan teman/saudara yang mengajak ke jalan kefanaan.

Tokoh-tokoh Punakawan itupun namanya memiliki arti. Semar berasal dari kata Samara (bergegas), Nala Gareng berasal dari kata nala khairan (memperoleh kebaikan). Sedangkan Petruk berasal dari kata fat ruk (tinggalkanlah), sementara Bagong berasal dari kata al ba gho ya (perkara buruk).

Jadi jika digabungkan maka arti dari tokoh Semar, Nala Gareng, Petruk, Bagong itu memiliki arti 'bergegaslah memperoleh kebaikan, tinggalkanlah perkara buruk'.

Seperti itulah kira-kira Wayang Orang yang saya tonton, saya pun sedikit tahu tentang tokoh pewayangan.  Dan juga tokoh dalam Mahabharata yang dimasukkan dalam wayang ini (Mahabharata dulu pernah lihat serialnya tapi tidak sampai akhir hanya sepotong itu pun sudah lama seklai)  ....

Berikut adalah tim dari Pagelaran wayang Orang:

Semua Kru Wayang Orang


Adapun Hikmah yang dapat kita ambil dari Wayang tersebut, banyak. Tapi yang pasti tokoh Sangkuni ini  bukan untuk ditiru oleh kita. Kita harus tetap waspada dalam hidup ini. Setiap orang memiliki karekteristik yang berbeda. Dan mengakui kekalahan dengan lapang dada adalah merupakan sikap  kesatria. Tidak mendendam, menjunjung nilai-nilai kehidupan yang luhur, dll...........

NB: Mohon ya, kalau ada pagelaran lagi, Dialog bahasa Indonesianya dibanyakin, Terima Kasih atas atensinya :)

Monday, May 23, 2011

Ekspedisi Pulau Onrust Bersama Abah Alwi dan Republika

Hari Minggu 22 Mei 2011, sungguh merupakan pengalaman yang tidak akan terlupakan. Saya mengikuti Ekspedisi Pulau Onrust bersama Abah Alwi yang diselenggarakan oleh harian Nasional Republika.
Darimana saya tahu akan ada ekspedisi ini?
Ya, saya mendapatkan informasinya pertama kali dari Iklan yang tentu saja terdapat di Harian Republika Itu sendiri. Begitu mendapatkan no Contact Personnya  saya langsung menghubungi orang yang bersangkutan. Di telepon orang itu mengatakan cara pembayarannya dengan transfer ke salah satu bank dan setelah transfer kemudian mengirim buktinya lewat fax...


Iklan Pertama yang saya lihat di harian republika

Saya pun mengikuti prosedur pembayarannya. Yaitu dengan mentransfer uang sejumlah Rp. 400.000,-  Dan cara penukaran bukti transfer dengan souvenir pun dilakukan pada hari H menjelang keberangkatan.

Menjelang hari H, saya menyiapkan bekal yang akan saya bawa. Salah satu benda wajib yang harus saya bawa adalah kamera. Oleh sebab itu sebelum keberangkatan saya merecharge dulu baterainya sampai penuh. Kamera ini sangat penting untuk mengabadikan kenangan. Saya tidak mau melewatkan begitu saja.
Setelah kamera dipastikan siap saya lalu menyiapkan mukena dan bekal seadanya. Karena untuk makan siang sudah disediakan oleh panitia. Bahkan panitia memberikan snack.

Hari Minggu, 22 Mei, merupakan hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Begitu semangatnya saya pada hari Minggu itu. Saya bangun jam 4 pagi.. Tapi sebenarnya saya dari jam 12 Malam sudah bangun, lalu tidur kemudian bangun kembali seperti itulah. Sampai pukul 4 pagi barulah saya bangun.   Hal yang pertama saya lakukan adalah mencuci dahulu. Saya lupa bahwa saya ada PR yang belum terselesaikan. Setelah rapih dengan urusan cuci mencuci baru saya masak. Saya masak nasi dan juga menggoreng nuget untuk sarapan. oh ya saya juga menumis kangkung sedikit tapinya. Ceritanya ingin dimasak malam sebelumnya tapi saya malas dan malah tidur malam itu. Jadi baru paginya saya sempat memasak.
Setelah sarapan siap saya lalu mandi, solat subuh, ganti baju dan tentu saja sarapan.

Rapih dengan ritual pagi, sekitar pukul 0.6.00 WIB saya lalu menunggu Kopaja 614 menuju ke arah kantor Republika karena start keberangkatan dari sini.   Saya Cukup menunggu 614 dari depan kosan. Lumayan lama menunggu 614. Setelah ada saya langsung naik 614, tapi baru saja duduk mungkin ada  kurang lebih 3 menit, saya turun lagi. Rupa-rupanya salah jurusan teman. Harusnya saya naik 614 yang arah pasar minggu bukan Cipulir. Ya, bersyukur belum jauh. Lalu saya putuskan untuk naik taksi saja. Taksi putih pun lewat , saya menyetopnya. Lalu saya naik. Saya bilang ke supirnya untuk diantar menuju Jl, Buncit Kantor Republika. Tapi sayang teman, supirnya tidak tahu alamat tersebut. Sepertinya baru.  Pada supir itu saya bilang, kalau tidak tahu saya turun lagi. Dan memang akhirnya saya turun lagi. Saya putuskan untuk mencoba 614 lagi. Tapi kali ini dengan arah yang benar.

Saya katakan pada kondektur 614 itu hendak ke Kantor Republika, Jl. Buncit atau dekat dengan Pejaten Mall. Sesuai dengan pengharapan saya, akhirnya kondekurnya langsung connect alias ia tahu destinasi yang saya maksud. Hoh Syukurlah lega rasanya. Tepat di depan Pejaten Village, Kondektur memberitahu saya untuk berhenti. Saya turun dari 614, lihat kiri kanan tapi tidak nampak sama  Kantor Republiknya. Lalu saya tanya orang disekitar. Disuruhnya saya untuk jalan ke gedung sebelah kiri. Akhirnya saya lihat Tulisan Republika. Dari luar dapat saya lihat panitia telah menyiapkan kursi bagi peserta. Telah hadir beberapa orang di sana.

Setelah masuk kantor Republika, saya langsung registrasi dan diberinya saya kaos dan tas jalan. Lalu, saya pun ganti baju...dan jadinya seperti ini:

Kaos Seragam Melancong Bareng Abah Alwi ke -4 

Setelah ganti pakaian saya duduk di kursi tunggu menantikan tiba waktunya berangkat dan terkumpulnya para peserta yang lain. Peserta yang ikut Ekspedisi Onrust ini totalnya 143 orang. Terbagi ke dalam 3 bus. Saya ada di Bus 3 bersama dengan teman saya Awe. Tak berapa lama teman saya Awe pun datang.  Dan sebelum menuju Pulau tujuan ekspedisi kita berfoto dulu....lumayan selagi wajahnya masih segar dan belum bermandikan peluh hehehhe....

Saya dan Awe dan tas putih yang dipegang awe itu dari panitia

Semakin siang peserta semakin banyak dan Abah Alwi pun datang. Ternyata ketika saya melihat sosok Abah Alwi langsung orangnya sudah sepuh tapi yang saya takjub adalah beliau masih segar,  Ia memakai bawahan celana Jeans... Saya perhatikan wajahnya Abah Alwi ini ternyata ada darah arabnya dan dari biodata yang saya dapatkan Abah Alwi itu  lahir di Jakarta, 31 Agustus 1936, telah menjalani profesi sebagai wartawan selama lebih dari 40 tahun. Karirnya dimulai tahun 1960 sebagai wartawan, kantor Berita Arabian Press Broad di Jakarta.

Sejak Agustus 1963 ia bekerja di Kantor Berita Antara. Berbagai jenis liputan digelutinya saat di Antara, mulai dari reporter kota, kepolisian parlemen, sampai bidang ekonomi. Selama Sembilan tahun  (1969 - 1978), anak betawi kelahiran kwitang, Jakpus ini menjadi wartawan Istana. Pensiun dari Antara tahun 1993, ia bergabung dengan HU Republika. Demkian selintas mengenai Abah Alwi.

Setelah para peserta terkumpul semua, kita bersiap-siap menuju pantai Marina Ancol untuk menyeberang ke Kepulauan Seribu. Sebelum berangkat panitia memberikan pengarahan dahulu kepada peserta. Panitia penanggung jawab meminta peserta untuk tidak membuang sampah sembarangan di tempat tujuan melainkan sampah-sampah kita dimasukkan kedalam tas kain yang diberikan oleh panita, tidak membawa benda apapun dari tempat wisata sekaligus dilarang memindahkan barang-barang yang ada di sana. Panitia pun meminta peserta untuk care terhadap sesama anggota rombongannya. Tak lupa Abah Alwi pun memberikan gambaran mengenai Sejarah Pulau Onrust....

Setelah pengarahan dan doa bersama para peserta lalu masuk menuju bis sesuai dengan kelompoknya yang telah diberikan oleh panitia. Saya dan teman saya Menuju Bus ketiga. Selama perjalanan menuju dermaga Pantai Marina itu, ketua yang ada di bus kami meminta peserta untuk memperkenalkan diri.  Perkenalan dimulai dari jok depan bis.  Di depan kami duduk sepasang lansia. Sang suami mengatakan sebelum menikahi istrinya dia telah berpacaran selama kurang lebih 7 tahun. Lalu tiba giliran saya. Saya perkenalkan nama saya, tempat tinggal dan keseharian saya sebagai Pegawai Negeri Sipil. Lalu, tiba teman saya  awe memperkenalkan diri.

"Sri, ketika Sri ajak Awe pergi ke Kepulauan Seribu posisi awe itu antara sangat ingin pergi dan tidak, takutnya awe ada tugas, tapi alhamdulillah tidak ada tugas ", tukas awe...

Sebenarnya, selain Awe, saya juga mengajak rekan kantor. Saya daftarkan 5 orang. Tapi dari ke5 orang itu, yang merespon positif Hanya Awe. Yang lain ada kesibukan sendiri atau memang karena sudah pernah pegi ke Pulau Bidadari.

Perkenalan di dalam bus itu juga dilanjutkan kembali. Ada peserta yang memiliki usaha keluarga sebagai EO wedding  dan ada juga yang bekerja dipercetakan, di perusahaan konsultan, Bank dan juga wartawan. Ketua rombongn kami lalu katakan kalau kelompok kami lebih kepada "wedding tour" karena semuanya lengkap ada.
"Siapa yang mau menikah boleh menghubungi saya nanti ada diskon", guyonnya ketua rombongan yang juga karyawan dari Republika.
Ada yang membuat saya takjub dan terharu lagi teman-teman. Ini diawali dari perkenalan seorang bapak pensiunan. "Saya ke sini dengan mantan pacar saya, kami telah berpacaran sejak SMP", ujar Bapak yang saya lupa namanya.

Sungguh indah ya hidup ini teman-teman...terrnyata  pada kehidupan yang lain ada orang yang dapat bertahan sejauh itu.  Sedangkan di sisi lain seperti saya dan teman-teman saya yang lain masih menunggu.

Setelah kurang lebih 30 menit akhirnya kita sampai di Pantai Marina Ancol untuk selanjutnya menyebarang dengan menggunakan speedboat ke Pulau Onrust.
Kami Masuk melalui Dermaga 17.
Seperti inilah gambaran Dermaga 17 Marina.

Dermaga 17 Pantai Marina Ancol


Saya dan teman masuk di Speedboat tiga sesuai dengan kelompok rombongannya.  Speedboat yang kami tumpangi terdiri dari 2 baris, kiri dan kanan dan setiap barisnya ada 3 kursi duduk. Oh ya ekspedisi kami juga selain didampingi oleh guide ada juga petugas keamanan dari kopasus.

Di tengah perjalanan menuju ke Pulau Onrust tiba-tiba saja Speedboat yang kami tumpangi berhenti.. Saya kaget dengan kejadian ini. Tiba-tiba saja salah seorang peserta mengatakan baling-baling speadboatnya kena sampah makanya tidak jalan. Ada mungkin sekitar  3 menit speedboat kami berhenti. Alhamdulilah akhirnya tidak terjadi masalah yang kronis. Kami pun dapat melanjutkan perjalanan.
Nah menjelang sampai di Pulau Onrust saya lihat ada semacam budidaya kerang seperti ini:

Ada Budidaya kerang tuh yang kayu putih-putih

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit dari Dermaga 17 Pantai Marina Ancol akhirnya kami pun sampai di Pulau Onrust. 

Selamat datang di Pulau Onrust ...


Menginjakkan kaki di Pulau Onrust saya lihat suasananya sepi tidak begitu ramai. Tapi bukan berati tidak ada orang ya.. Saya perhatikan sekelilling ada warung dan ada juga satu-dua orang yang sedang memancing.
"Kalau Jumat malam suka ramai, Penduduk Jakarta suka memancing ke sini", ujar Guide kami yang bernama Bapak Kartum Dari Komunitas Jelajah Budaya yang memang diminta oleh Panitia untuk mengguide kami.

Sebelum berkeliling-keliling, kami pun diberikan penjelasan oleh Abah Alwi.

Abah Alwi yang ditengah berkacamata tidak pakai topi ya (peserta diberikan penjelasan mengenai pulau Onrust)
Abah Alwi menjelaskan kepada kami bahwa Belanda menyerang Batavia dulu dari Pulau Onrust. Selain itu,  sebagai tempat membuang penjahat kelas kakap. Pulau Onrust juga digunakan sebagai tempat karantina jemaah haji.

"Dulu ceritanya ada sekitar 3000 jemaah haji yang dikarantina sebelum pulang kampung, karena ditakuti mereka menularkan penyakit pes. Berama lama tinggal di barak itu tergantung dari jenis penyakitnya. Kalau yang tidak sakit mereka harus menunggu yang sakit untuk kemudian dapat pulang kampung. Jemaah yang sakit dibawa ke Pulau Cipir atau pulau kayangan. Dan sayangnya jemaah yang meninggal tidak dikuburkan menghadap kiblat", tutur Abah Alwi.

Kemudian, abah Alwi juga mengtakan bahwa penyakit yang diderita oleh jemaah haji itu  berasal dari Beras Myanmar...

Menurut keterangan dari Bu Nellyta, dari UPT Pengelola Taman Arkeologi Onrust,  Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, DKI  yang juga mengguide kami, mengatakan bahwa luas Pulau Onrust ini sekarang bekurang salah satunya diakibatkan oleh adanya abrasi.

"Luas pulau Onrust awalnya 12 Ha, tapi sekarang luasnya menjadi 7,5 ha", ujar Bu Nellyta. 

Selanjutnya berdasarkan keterangan dari Abah Alwi, di Pulau Onrust ini., tepatnya tokoh DI/TII Kartosuwiryo di hukum mati.

"Kartosuwiryo ditangkap di Garut dan dibuang ke Pulau Onrust. Letjend. S. Parman meminta Presiden Soekarno untuk menandatangani keputusan hukuman mati bagi Kartosuwiryo tapi Soekarno tidak segera menandatangani. Baru setelah solat maghrib,Presiden Soekarno menandatangani dan Kartosuwiryo dihukum mati", ujar Abah Alwi.

Dan ini makam yang diyakini sebagai makam Kartosuwiryo:

Makam yang diyakini sebagai Makam Kartosuwiryo

 Yup, seperti bisa kita lihat makam itu ada dua buah. Menurut keterangan Abah Alwi itu sengaja dibuat seperti itu. Kalau menurut bahasanya saya adalah untuk menyamarkan.

"Pihak UPT tidak berani memastikan makam ini adalah makamnya Kartosuwiryo", jelas Abah Alwi...

Lebih lanjut, Bu Nellyta mengatakan yang membangun makam Kattosuwiryo adalah berasal dari sumbangan masyarakat. "Masyarakat banyak yang menyumbang", tukasnya.

Ditanyakan perihal perawatan Pulau Onrust ini Bu Nellyta menjawab seperti ini:

"Sebenarnya retribusi yang diperoleh masuk ke Pemda, tahun ini retribusi yang diperoleh dari Pulau Onrust sebesar Rp. 25 juta melebihi target 20 juta", kata Bu Nellyta..

Bu Nellyta juga mengatakan akan ada masterplan untuk merekonstruksi hal -hal yang terkait dengan Pulau Onrust....tapi kapan waktunya, yang jelas tidak dalam waktu dekat ini,, oh ya Bu Nellyta juga mengatakan kepada saya bahwa salah satu cara untuk mempromosikan Pulau Onrust  ke masyarakat adalah  dengan cara penyuluhan dan edukasi ke sekolah. "kami juga mengadakan perlombaan tulisan atau karya tulis tentang Onrust", ujar Bu Nellyta....

Saya perhatikan mengenai kebersihan di pulau Onrust, ternyata  masih ada sampah ,  katanya sampah kiriman dari Jakarta.
Hm..........Ini adalah tugas kita semua, khususnya pemda untuk menjaga dan merawat pulau Onrust beserta lingkungannya. Selain itu masalah abrasi. Ya, luas pulau onrust menciut karena salah satunya disebabkan oleh abrasi dan untuk mengantisipasi abrasi ini maka dibangun pemecah ombak atau tanggul seperti ini:

Pemecah Ombak atau Tanggul

Memang disayangkan sekali sekitar pesisir pantai ini tidak ada tumbuhan, seperti pohon bakau untuk menahan abrasi.

Dan sekarang saya akan memperlihatkan kepada teman-teman peninggalan Zaman penjajahan dan juga peninggalan masa karantina haji masih di Pulau Onrust.

Dermaga Onrust

Dermaga di Pulau Onrust 

Dermaga Pulau Onrust dibangun VOC pada abad 17 sebagai tempat bersandarnya kapal, ataupun sebagai tempat perbaikan kapal.

MENARA KEKER 


Menara Keker letaknya dekat dengan dermaga ya..

Menara Keker atau pos jaga  untuk mengawal kapal yang datang dibangun pada awal abad ke-20.

Museum Plaza Eks Rumah Dokter

Bekas Rumah Dokter yang dijadikan Museum
Dibangun pada awal abad ke-20 (1939). Ketika itu di Pulau  Onrust difungsikan sebagai tempat barak orang sakit. Sebelum menjadi museum, bangunan ini pernah digunakan untuk rumah tinggal dokter yang memeriksa jemaah haji karantina Pulau Onrust (1911 - 1933).

Rumah Sakit


Bekas rumah sakit ketika masa karantina haji

Toilet


Toilet waktu masa karantina haji

Toilet dibangun pada masa karantina Haji, 1911 - 1933.....

Struktur Bangunan yang dijadikan tempat tidur atau balai 

yup struktur ini bekas balai alias tempat tidur ;p

Keterangan dari papan di atas adalah : tonggak - tonggak ini adalah sisa dari bale (tempat tidur) dalam sebuah barak haji yang dibangun pemerintah Belanda 1911 - 1933. 

Komplek Makam Pribumi


Maka pribumi

Keterangan Papan: Di komplek makam pribumi ini terdapat beberapa korban dari pemberontakan kapal Zeven Povincien pada 1933.

Barak Haji

Bekas barak haji
Kerterangan di papan : sisa reruntuhan ini merupakan barak karantina haji yang dibangun tahun 1911. Jumlah barak 35 unit. Tiap barak menampung 100 jemaah haji. Pada tahun 1933, kegiatan karantina haji dipindahkan ke Pelabuhan Tanjung Priuk.

Makam Belanda 


Makam belanda, di kuburan pertama dari kanan yang ada papan merah merupakan kuburan penguasa P. Onrust namanya Corneliss W. vogel meninggal pada tahun 1738
Menara Martello

Menara Martello  P. Onrust
Pondasi di atas  adalah sisa reruntuhan benteng Martello (Benteng bundar) dibangun 1850 guna memperkuat pertahanan P. Onrust. Tahun 1883 porakporanda setelah diterjang gelombang tydal dari letusan gunung Krakatau. 

Menurut keterangan guide kami, Benteng Martello ini ada 4. Masing-masing dibangun di P. Onrust, P kelor, P Cipir, dan P. Bidadari....

Penjara

Penjara
Penjara ini pernah dimanfaatkan oleh tentara Jepang 1942 sebagai tempat mengadu kekuatan para tahanan. 

Bastion Utama


Bastion
Keterangan Gambar tersebut mengatakan : sisa reruntuhan Bastion utama (Bagian menjorok pada sudut benteng)  dibangun pada 1672. Berfungsi sebagai pos pengintai dan tempat penyimpanan mesiu. Bastion ini hancur lebur setelah 3 kali digempur Inggris pada  tahun 1800, 1806, dan 1810. 


Batu Prasasti 


Batu Prasasti yang memuat informasi tentang P. Onrust
Berikut saya salin kembali apa yang terukir dibatu tersebut...
  1. Pada tahun 1615 Belanda membangun Dermaga dan galangan kapal untuk memperbanyak kapal-kapal VOC. 
  2. Pada tahun 1658 dibangun sebuah benteng kecil yang kemudian tahun 1671 diperluas menjadi benteng segilima selanjutnya tahun 1671 dibangun gudang, dok dan kincir angin.
  3. Antara tahun 1800 - 1810 diserang dan dihancurkan armada Inggris namun Belanda membangunnya kembali.
  4. Pada tahun 1911 peranannya beralih menjadi karantina haji.
  5. Pada tahun 1972 berdasarkan Sk KDKI Jakarta No. CB 11/2/16/72 ditetapkan sebagai suaka purbakala.
Setelah mengelilingi, P. Onrust, peserta pun beristirahat sejenak untuk kemudian melanjutkan ekspedisi ke P. Bidadari. Oh ya  kami pun sejenak berfoto bersama sebelum meninggalkan P. Onrust.

Foto Bersama sebelum meninggalkan P. Onrust ;))

Wah, terharu saya melihat foto bersama ini. Dalam kebersamaan ini kita pastinya bahagia. Hanya untuk hari itu saja kita dapat bersama-sama. Sedangkan untuk hari esok kita tidak tahu apa yang terjadi....terima kasih untuk Republika, saya senang ....

Setelah foto bersama ini, kita melanjutkan ekspedisi ke Pulau Bidadari..
Jarak dari P. Onrust ke Bidadari ada sekitar 10-15 menit ...
Menuju P. Bidadari kita melewati Pulalu Kelor. Sayangnya kita tidak bisa singgah disana karena tidak ada dermaga dan airnya dangkal kalau pakai kapal kayu nelayan yang biasa itu memungkinkan.
Tapi dari speedboat yang kami tumpangi bisa terlihat Benteng Martello (seperti yang telah dikatakan sebelumnya ada 4 benteng Martello salah satunya di P. Kelor) 

Seperti inilah benteng Martello yang terdapat di P. Kelor


Benteng Martello di P. Kelor
Yup, gambar Benteng Martello diatas kurang jelas karena diambil dari Speedboat. Sayangnya posisi duduk saya tidak dekat jendela. Saya duduk di sebelah kiri, sedangkan benteng Martello ada di sebelah Kanan.  Katanya P. Kelor ini sangat landai. Mungkin tidak berapa lama akan tenggelam. Ohya, berdasarkan keterangan pemandu kami, Pak Kartum, mengatakan bahwa diantara ke 4 Benteng Martello yang pernah dibuat, Martello yang berada di P. Kelorlah yang masih "utuh". 

Setelah 10-15 menit kita tiba di P. Bidadari

Dermaga dan tanda P. Bidadari

Ketika sampai di P. Bidadari ternyata lebih ramai daripada P. Onrust. Karena dikelola oleh Swasta dan saya menjumpai wisatawan dari luar, sepertinya dari Korea dari "timur tengah" juga ada.
Coba perhatikan  fasilitas yang ditawarkan pengelola P. Bidadari

Maaf seperti ini gambarnya, Blogspotnya tidak mau  ikuti apa yang saya mau hehehe.....

Nah, didepan dermaga P. Bidadari saya melihat ada patung rusa/kijang beserta puisi :

Gmbar ini juga seperti ini maaf ya,  tapi tidak apa-apa lah ya...

Puisinya berbunyi seperti ini:
Singa Meraung di Hutan - hutan
Hiu Berteriak
Aku Raja Di Lautan
Dan Rajawali bebas
Tebang Tinggi di awan

Di sini sang tanduk tujuh belas
Akrab berbisik
kepada para wistawan
Saya hanyalah penjaga kepulauan

Cinta persahabatan
Cinta perdamaian ketenangan
dan Cinta Keindahan

Jakarta, 28 Oktober 1991 ..............

Yang membuat saya tertarik dengan puisi itu adalah semata-mata karena tanggal dan bulannya hehehe..tidak tahu siapa penulisnya.... tidak disebutkan.. tapi itu puisi tahun 1991.

Nah, setelah solat barulah saya dan awe mendapatkan makan siang.. Seperti inilah suasana santap siang.

suasana santap siang
Nah, menu makan siangnya ada ayam, soup ikan, dan tumis kangkung. Hm,...tumis kangkung, padahal saya sarapan sudah dengan hal serupa..jadi saya eliminir kangkungnya..takut semakin ngantuk jadinya...Oh ya kita waktu santap siang kehabisan kursi duduk, jadinya kita makan di panggung.

Sehabis makan kita melanjutkan ekspedisi  melihat benteng Martello yang berada di P. Bidadari.
 
Benteng Martello di P. Bidadari

Nah, untuk benteng Martello yang ada di P. Bidadari ini dibangun pada abad ke 18 atau tepatnya tahun 1850.  Hancur akibat terjangan Gelombang Tidal letusan gunung krakatau 1883.
Dan kita  biisa melihat ke dalam bangunan ini, karena ada tangga turun kebawah. Salah satu bagian bawah digunakan sebagai tempat untuk menyimpan mesiu.

Setelah selesai melihat - lihat sekeliling benteng, peserta memiliki waktu bebas sebelum berkumpul dan kembali pulang. Dan berikut yang saya dapati di Pulau Bidadari :

Pantai di P. Bidadari...terlihat seorang anak dan Ayahnya yang tengah asyik bermain pasir

Yup, terlihat khan cucanya cerah. Tidak hujan.. menurut teman saya yang lain, katanya ketika saya sedang berada di kepulauan seribu ini turun hujan yang cukup besar. Tapi alhamdulilah di Tempat tujuan ekspedisi saya malah panas tidak turun hujan.

cottage

Ada juga cottage di atas laut

toko cenderamata

sedang foto Preweding...
Terrnyata di P. Bidadari ini saya mendapati beberapa orang pasangan sedang melakukan foto preweding. Seorang rekan saya mengatakan kepada saya seperti ini:

"banyak yang sedang foto preweding khan di Bidadari, terus untuk apa ke Onrust di sana khan tidak ada apa-apa", katanya. 

"Justru di P. Onrust itulah yang ada apa-apanya, kalau di Bidadari iya ada yang sedang foto prewedding", jawab saya....

Nah, Rangkaian ekspedisi ke P. Onrust dan Bidadari hampir selesai... setelah solat ashar kita pulang. Dan kembali lagi ketika akan pulang itu, speedboat yang kami tumpangi mendadak berhenti karena tersangkut sampah.....tapi semuanya dapat diatasi...
Sangat disayangkan kalau keadaan ini dibiarkan saja. mudah-mudahan kedepan tidak akan ada lagi yang membuang sampah ke Laut akan sangat berbahaya jadinya .........

Seiring dengan hari yang semakin gelap kami pun tiba di Kantor Republika dan semua peserta pulang ke rumahnya masing-masing dengan membawa pengalaman baru. Malam itu pun hujan turun dengan lumayan deras.. Alhamdulillah kami sudah sampai dengan selamat saya pun sudah tiba kembali di kosan .... Terima kasih untuk semua Team Ekspedisi Pulau Onrust.