Search This Blog

Showing posts with label Garuda Indonesia Airways (GIA). Show all posts
Showing posts with label Garuda Indonesia Airways (GIA). Show all posts

Monday, May 13, 2013

Mengoleksi Majalah dari Garuda

Memakai jasa layanan maskapai penerbangan tertentu pasti ada alasannya. Nah, kalau boleh tahu, apa alasan teman-teman memilih maskapai itu?

 Kalau saya sendiri mau apa pun maskapainya, pasti jalan. Tapi kalau disuruh milih tentu saya punya pilihan sendiri. Apalagi kalau Dinas Luar, itu standarnya kita pakai Garuda Indonesia. Meskipun tarifnya mahal, tapi kalau Dinas Luar menjadi tanggung jawab  kantor. 

Ada hal lain yang membuat saya senang dengan menggunakan jasa layanan Garuda Indonesia adalah mengoleksi Majalahnya. Lihat majalah di bawah ini. Namanya COLOURS.

Majalah Garuda Terbaru dengan Nama Colours
Majalah itu, baru saya dapatkan tadi di kantor dari teman, sebutlah nama gaulnya "Bung Rocky", heheheheheee..... Itu nama yang muncul di Profil BBMnya. Awal mula ceritanya seperti ini, teringat saya ini sudah pertengahan bulan Mei dan belum Dinas Luar. Memang kalau yang personil perempuan sekarang ini jarang Dinas Luar. Terlebih saya, kurang suka juga sama protokoler. Maksudnya kalau jadi protokoler, saya kurang menguasai. Kalau kebalikannya diprotokolerin? ya, itu hal lain. 

Kalau pun harus Dinas Luar, biasanya saya bertugas membuat realese, teman yang lain jadi protokoler. Berbagi tugaslah. Okey, lanjut lagi ceritanya. Karena merasa tidak akan Dinas Luar bulan ini, otomatis tidak akan naik pesawat (Baca Garuda-red). Kalau tidak naik pesawat berarti, lenyaplah kesempatan saya untuk mengoleksi majalah Colours setiap bulannya. Untuk itulah saya carilah teman yang Dinas Luar. Semua contact list BBM saya sisir satu persatu. Akhirnya ada dua orang teman yang sedang ke Luar Kota. 

Temanku, Rahma,  lagi berbulan Madu ke Belitung.  Katanya Garuda tidak melayani rute ke Belitung, jadi dia mau usahain cari Majalahnya di Lounge Garuda. Terus saya beralih ke teman yang lain, Bung Rocky, karena statusnya lagi di Labuan Bajo. Maklum, Big Boss waktu itu lagi ada kunjungan ke sana. Titiplah saya padanya untuk dibawakan majalah garuda (colours), tentu kalau dia pulang naik garuda dan saya yakinkan dia juga bahwa majalah itu bisa dibawa pulang kok. 

Terus, tadi pagi sewaktu lagi duduk menghadap komputer, dia tiba-tiba menyerahkan majalah itu sebelum kupinta. Duh, senang sekali, akhirnya dia ingat dan berniat sekali membawakan untukku. Terima Kasih ya Bung Rocky. Sebenarnya bukan dia saja yang pernah kuminta bantuannya, ada juga Mas Deni dan Lutfi. hehehehehe ......

Terima kasih pokoknya pada teman-teman yang sudah sudi dan berkorban untuk membawa pulang sebuah majalah untuk saya, semoga kebaikan teman-teman dibalas oleh Yang Maha Kuasa. Amien .... 

Oh ya, sebelum namanya berubah menjadi Colours, awalnya bernama GARUDA, tentu dengan huruf besar semua. 
Sebelum berubah nama
Ingin tahu mengapa perusahaan mengubah namanya menjadi Colours? 
Ini alasannya yang saya dapatkan pada sebuah kata sambutan dari President & CEO PT. Garuda Indonesia (Persero) Tb:

'Garuda' saat ini berubah nama menjadi 'Colours'. Suatu nama tentulah memiliki makna dan arti, terlebih lagi  bagi kami di Garuda, yang saat ini sedang terus melaksanakan berbagai program perbaikan dan pengembangan di seluruh aspek kegiatan perusahaan. 

'Colours' menggambarkan kekayaan dan keanekaragaman alam, seni, budaya dan masyarakat Indonesia, dan sesuai filosofi (brand) kami - diversity drives dynamism- berbagai perbedaan yang ada mendorong Garuda untuk terus bergerak dinamis ke depan.

Seperti itulah keterangan dari redaksi. 
Lantas apa perbedaan antara majalah Garuda dan Colours? 
  • Dari ukuran  Huruf : Setelah diperhatikan Majalah dengan nama yang lama, ukuran tulisannya lebih besar daripada yang sekarang. Kalau majalah yang sekarang 'Colours', ukuran hurufnya lebih kecil jadi terkesan padat. 
  • Bahasa:  Masih sama, menggunakan dua bahasa Indonesia dan Inggris. Setiap tulisan dalam bahasa inggris dibawahnya atau di sampingnya langsung ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Hal ini yang menjadikan tulisan padat.
  • Selain itu, pada Colours, disetiap foto diberi nomor. Nomor itu untuk memudahkan redaksi atau pembaca mendapatkan keterangan gambar. 
  • Ada pun jumlah halaman masih sama sekitar dua ratus lebih. 
  • Dililhat dari kualitas Gambarnya, bisa bersaing dengan National Geographic Traveler.
Kurang lebih seperti itulah pengamatan saya terhadap majalah itu. Jadinya kangen ingin nulis artikel lagi. Sayang majalah Inforum di  kantor lagi mati suri.

Majalah yang dikeluarkan Garuda ini ternyata saya koleksi dari tahun 2011. Tapi yang 2011 hanya ada satu edisi. Kalau Tahun 2013 ini, lengkap ada, mulai dari bulan Januari-Mei  2013. 

Colours dari bulan Maret - Mei
 Majalah dengan nama baru 'Colours' ini mulai diterbitkan pada bulan Maret ya. Saya beruntung banget pas keluar pertama kali dengan nama baru, itu pas dengan saya Dinas Luar. Jadi, saya sendiri yang ambil. Majalah ini memang Personal Copy sifatnya, jadi bisa dibawa pulang. Jangan khawatir ya. 

Selain majalah, apa lagi yang membuat kita tertarik dengan suatu maskapai penerbangan?
Menu Makan di dalam  Garuda 

Jawabannya tentu makanannya. Tapi soal makanan ini bisa dikesampingkan. Hal ini sebandinglah dengan tarifnya yang mahal. Mengapa maskapai lain lebih murah? ya, karena mereka tidak ada makan dan juga tidak ada fasilitas hiburan lainnya. Semacam movie atau musik. Seperti itulah. Jadi memang fasilitas sebanding dengan harganya. 

Well, di akhir kata, teman-teman kalau suatu hari pergi dengan garuda, ingat saya dan ingat majalahnya, lalu ingat saya lagi ya hehehehehee.... 

Terima kasih ya, sudah membantu menambah koleksi majalahnya ..... Untuk pihak Garuda dan juga maskapai penerbangan lainnya, semoga dapat terus meningkatkan kualitas pelayanannya, sehingga pelanggan puas.

Thursday, November 8, 2012

Apa Itu Kelas Yankee (Y) di Tiket?

Haloooo ....
Selamat Pagi Semuanya .... Semoga Pagi ini membawa keberkahan untuk kita semua.

Baiklah, pagi ini saya hendak bercerita tentang kejadian di hari Senin, sewaktu akan berangkat ke Makassar.  Ceritanya hari Senin, 5 November 2012,  jam 15:00 saya berangkat dengan Damri dari Blok M menuju bandara Soekarno Hatta - Cengkareng. Sedari awal saya memprediksikan bahwa jalanan akan lancar. Tapi, apa yang terjadi kemudian adalah jalanan padat merayap sampai Gerbang Tol Sedyatmo. Ternyata penyebabnya karena ada kecelakaan.

Alhasil, saya baru sampai bandara itu sekitar jam 17:10 menit. Padahal itu jadwal berangkatnya pesawat jam 17:14 WIB. Apa artinya ini? Ya, kita telat check in. Ini ditegaskan kembali oleh Petugas Chek in, katanya sudah diclosed tidak bisa.  Lalu, kami disuruh untuk daftar waiting list untuk penerbangan berikutnya jam 21an WIB.

Saya waktu itu hendak pergi bersama dengan Bu Tri yang juga Kasubbag di ruangan. Hanya berdua kami pergi. Ibu waktu itu bilang "Pasti enggak kita mendapatkan penerbangan yan jam sembilan, kalau tidak pasti saya pulang saja, capek", katanya.
Saya keukeuh atau yakin pasti dapat untuk waiting list. "Kita tunggu saja bu, soalnya kalau pulang juga capek, berapa jam di jalan, berapa jam bisa tidur, dan nanti kembali lagi ke Bandara, kita tunggu saja Bu", sela saya.

Petugas check in Waiting list menyuruh orang-orang yang ada di daftar waiting list melapor kembali pada pukul 20:15 untuk memastikan adanya seat kosong. Yang terjadi kemudian adalah ternyata ada seat kosong, lumayan banyak kalau gak salah ada sekitar 7 seat kosong. Satu persatu daftar yang waiting list itu dipanggil petugasnya. Menunggu nama saya dipanggil itu rasanya deg-degan sekali. Hingga sampai pada seat kosong terakhir, nama saya tidak terpanggil. Deuh, kesal yang ada tapi masih sabar.

Kemudian petugas chek in waiting list itu mengatakan bahwa masih bisa ikut waiting list yang jam 12:45 WIB. Saya pun ikut daftar lagi. Tapi memang belum jelas juga. Malahan si petugasnya bilang mengutamakan dulu yang disconnet dari luar kota yang menuju Makassark, sama dengan destinasi kami.

Nunggu sampai jam 12 itu lama sekali.

Situasi Terminal 2F, Yang Sudah Sepi

Setelah jam 12 itu, tiba-tiba petugas Check in Waiting List mengatakan dengan tanpa rasa simpati bahwa penerbangan yang 12 juga sudah penuh tidak ada seat kosong. Wah mendengar hal itu saya jadi kesal. Akhirnya saya pun meledak,  marah-marah sama petugas check in. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
Ibu Tri waktu itu menenangkanku. Dia bilang "Ini salah kamu Sri", katanya. Ya, maksudnya saya booking kembali jadwal yang pasti mendapatkan Seat.

Untungnya Bu Tri sudah booking penerbangan yang jam 6 pagi ketika kami menunggu waiting list itu. Karena sudah jam 12 malam, akhirnya tidur di Bandara. Awalnya kita mau tidur di Musholla karena  risih dengan suara ngorok, pindahlah kita ke kursi.

Nah, sebelum tidur itu kita sempat ngobrol-ngobrol dengan penumpang lain yang kebetulan memang telat chek in. Ini dikarenakan macet ya. Salah satu diantara mereka adalah pekerja dari Kementerian lain yang kebetulan juga akan dinas ke Makassar. Makasssar pada waktu itu memang menjadi favorit dan penerbangannya pun tidak banyak.

Ketika asyiknya ngobrol itu saya tanya, "Mas kelasnya apa",
"Kelas Y", katanya..
"Wah kita sama",

Dari situlah aku jadi mikir, memang awalnya juga sudah mikir kok. Dari kejadian yang saya lihat, penumpang waiting list yang dipanggil dan mendapatkan seat itu salah satunya ketika melakukan validasi tiket, dia membayar lagi. Saya menghubungkan kejadian ini dengan tiket kami yang kelas "Y". Jadi, kesempulan sementara saya bilang ke orang-orang itu. "Sepertinya yang dipanggil itu semua  yang kelasnya di bawah Y, atau mereka yang harus bayar kembali, karena kelas Y itu tidak bayar lagi jam berapa pun mereka pindah jam terbang".

Sudah itu, tidurlah kami.. Saya pokoknya mengalami yang namanya Bandara ketika ramai dan sepi dan ramai kembali.

Final Departure

Kemudian, Jam 5:30,  Penerbangan ke Makassar sudah bisa Chek in. Nah, ketika chek in saya tanya petugasnya. "Mas kalau ada tiket kelas Yankee dan dibawah kelas itu mana yang diutamakan", tanyaku.
"Kelas Yankee Mbak yang diutamakan",  katanya.

Sebelumnya pada malamnya saya tanya petugas angkasa pura, "Mas, apa sih keutamaan kelas Yankee kalau kalah bersaing dengan kelas dibawahnya".
"Yang diutamakan kelas Yangkee, itu pihak garudanya Mbak", jawabnya.

Nah, ketika pemeriksaan untuk masuk ketempat tunggu itu saya tanya lagi Mbaknya, "Mbak kalau ada kelas Yankee dan dibawahnya, ketika waiting list siapa yang harus diutamakan"
"Itu tergantung kalau kelasnya Yankee semua dilihat dulu, karena kelas Yankee itu banyak jenisnya, tapi kalau Yankee bersaing dengan kelas dibawahnya ya itu Yankee yang diutamakan".

 Dan jawaban terakhir yang merupakan kepastian itu saya dapat ketika pulang dari Makassar. Waktu itu saya habis ngeprint ulang boarding pass dibagian chek in transit. Saya tanya Bapaknya seperti ini,
"Pak Kemarin malam saya ikut waiting list untuk penerbangan yang jam 21, tetapi ketika ada seat kosong tidak dipanggil, kelas saya Yankee, terus apa yang menyebabkan tidak dipanggil, padahal kelas saya yankee, dan yang dipanggi itu kelasnya dibawah yankee, saya tahu karena ketika mereka melakukan validasi tiket mereka bayar lagi".

"Kalau itu tergantung dari yang standby duluan, makanya ketika validasi kelasnya diupgrade, makanya mereka membayar lagi".

Mendengarkan pernyataan dari Bapaknya saya akhirnya tertawa dalam hati dan benar apa yang saya pikirkan. Ini namanya sistem marketing saudara-saudara. Kalau misalnya dikarenakan ketika saya daftar waiting list itu urutan akhir dan karenan itu saya tidak dapat seat, saya rasa itu bukan alasan yang sempurna.

 Kesimpulannya adalah:
  1.  Tiket Yankee (Y) tidak mendapatkan keutamaan lebih, kecuali dia bisa fleksible ganti jadwal penerbangan dan tidak dikenakan tarif lagi jam berapapun dia pindah jadwal penerbangan.
  2. Tiket Yankee (Y) ketika waiting list kemungkinan besar kalah bersaing dengan tiket dibawahnya. Hal ini dikarenakan strategi marketing. Tidak ada yang mau rugi semuanya ingin untung. 
  3. Ketika waiting list kenapa tiket dibawah Yankee (Y) kemungkinan mendapat seat besar, karena mereka tiketnya diupgrade yang artinya, ada sejumlah penambahan uang yang dibayarkan. 
  4. Pihak Maskapai menyamakan kelas dibawah Yankee (Y) menjadi sama dengan Yankee, ibaratnya seperti itu. 
  5. Solusinya hanya ada satu, terbanghlah sesuai dengan jadwal penerbangan jangan sampai terlambat, dan perkirakan waktu tempuh menuju Bandara. Harus diperhitungkan juga kemungkinan lain apabila terjadi macet.
  6. Masih untung kalau jadwal penerbangan ke daerah destinasi kita banyak. Jadi, berubah jam berapapun masih banyak kesempatan.
Seperti itulah kira-kira cerita saya mengawali hari ini...  Blog ini saya tulis semata-mata ingin sharing dan untuk mendapatkan kejelasan. Daripada saya bingung terus-terusan bertanya-tanya dalam hati. Bagaimana dengan teman-teman, pernahkah memiliki pengalaman yang serupa?



NB: Tetap kok, GIA itu still the best ....