Search This Blog

Showing posts with label Keraton Kasepuhan. Show all posts
Showing posts with label Keraton Kasepuhan. Show all posts

Wednesday, January 18, 2012

Keramik Peninggalan Pada Dinding Keraton

Yup, menepati janji sebelumnya untuk menceritakan sisa kisah dari Melancong Bersama Abah Alwi dan Republika, kali ini saya akan berkisah tentang Keramik. Penasaran khan keramik seperti apa yang dimaksudkan?

Ya, keramik ini bukan sembarang keramik tapi keramik yang berada pada dinding di Keraton Kasepuhan Cirebon. Waktu itu ceritanya ketika sedang berfoto-foto dan mendengarkan sambutan dari Sultan ke XIV yang bernama Pangeran Arif Natadiningrat di belakang sambil berdiri, tiba-tiba salah seorang guide rombongan,  Pak Kartum berbisik pada saya bahwa ada keramik di dinding. "Keramik-keramik yang di dinding ini peninggalan zaman dulu", ujarnya sambil menunjuk dinding.

Dan betulah apa yang dikatakannya, coba lihat keramik berikut ini:

Rangkaian Keramik

Lihatlah teman-teman rangkain keramik yang ditata sedemikian rupa, manis memang kelihatannya. Sebelum saya berkomentar jauh, coba perhatikan lagi keramik-keramik berikut ini;

Keramik Di Dinding Bergambar Kuda

Terlihat ada gambar Biksu
Ada Kincir Angin
Bergambar Jembatan
Gambar Rumah 
Begitulah keramik-keramik itu dipajang pada dinding. Tapi saya heran saja mengapa ya mereka tidak menyimpannya di museum saja. Kalau di tempel menyatu sama tembok itu apabila nanti ada renovasi atau bangunannya runtuh khan bisa hancur semuanya. Bisa saja sih diselamatkan tapi ribet  pastinya. Sayang khan. Apa karena yang lainnya kurang menarik untuk dipajang atau tidak  ada yang bisa di pajang lagi kecuali keramik-keramik itu ya.....  

Terus kalau melihat keramiknya, sepertinya sih tidak terlalu antik sekali, ataukah saya tidak memahami nilai sebuah keramik?   Kalau dilihat dari kaca mata saya, keramik-keramik itu  masih produk yang yang terbilang "baru".  Tapi Entahlah .....

Dan berikut ini adalah situasi ketika Rombongan Abah Alwi dan Republika disambut oleh Pihak Keraton Kasepuhan Cirebon.







Rombongan Abah Alwi Disambut Gusti Sultan ke XIV
Rombongan semuanya excited ketika pihak Keraton Kasepuhan menyambut dengan tangan terbuka.
Pangeran Arif Nata Diningrat waktu itu mengatakan bahwa pihaknya sangat senang akan kedatangan rombongan Abah Alwi karena memberikan semangat tersendiri. "Saya menyambut baik kedatangan Rombongan Abah Alwi karena hal ini berarti menambah semangat kepada kami untuk melestarikan peninggalan budaya," ujar Pangeran Nata Diningrat. 

Lebih jauh lagi menurutnya, keraton Kasepuhan sekarang berbeda dari dahulu ketika masih dalam bentuk kerajaan seutuhnya yang menjalankan pemerintahan, sekarang hanya warisan peninggalan bangsa saja dan tidak menjalankan urusan pemerintahan dan politik. Kerajaan Cirebon kemudian terbelah menjadi dua karena politik Devide Et Impera Belanda, yaitu Keratoan Kasepuhan dan Keraton Kanoman.

Monday, January 9, 2012

Nasi Jamblang di Keraton Kasepuhan

Wow, coba yak, sekarang ini tanggal berapa? bulan apa ? dan tahun berapa?
Tentu saja tanggal 9, bulan Januari, tahun 2012. Padahal  melancong bersama Abah Alwi itu tanggal 10  bulan yang lalu. Jadi ada satu bulan sudah berlalu. Bahkan mereka sudah punya agenda terbaru untuk bulan ini.
Dan karena alasan inilah saya harus posting sisa cerita kemarin, sebenarnya masih banyak cerita yang semestinya  sudah saya share.  Tapi karena sesuatu hal jadi telat postingnya. Tapi tenang saja nanti semua sisa cerita akan saya share ...

Nah, pergi ke Cirebon itu harapannya bisa mencicipi nasi Jamblang yang terkenal itu tukh. Bagaimana gitu rasanya. Bahkan sebelum berangkat ke Cirebon pun,  atau waktu konfirmasi keikutsertaan, saya sempat pertanyakan nasi jamblang.

"Jadi Pak, nanti kita bisa makan nasi jamblang di sana?", tanyaku. Dan Bapak yang diujung telepon itu tidak mengiyakan, hanya bilang intinya kita mau berkunjung ke Keraton.

Duh, ya tak disangka-sangka waktu kita mengunjungi Keraton Kasepuhan itu dijamu nasi Jamblang. Awalnya sih heran dan masih bertanya-tanya mana nasi Jamblang itu. Lalu, bertanyalah saya pada abdi dalem, atau orang yang bekerja di Keraton itu.

"Pak nasi Jamblangnya mana ya?"
"Itu nasi Jamblang, yang lagi dimakan", kata Kerabat Keraton itu yang saya lupa namanya.
"Masa ini  sih Pak, Ini khan nasi yang dibungkus daun jati", tegas saya
"Iya, itu namanya Nasi Jamblang, nasi yang dibungkus dengan daun jati dan dinamakan nasi Jamblang karena dulu itu yang buatnya adalah orang Jamblang, makanya disebut dengan nasi Jamblang", Ujarnya.

Owalah , terkejut saya rupanya seperti itu tokh ceritanya. Kukira nasi Jamblang itu kayak gimana gitu. Kalau sekedar nasi yang dibungkus dengan daun jati itu khan bukan hal yang aneh bagi saya. Maksudnya saya pernah makan nasi yang dibungkus daun jati apa bedanya dengan yang ini pikirku.
Lalu, aku tanya lagi Bapaknya.

"Pak, saya pernah lihat di TV, ada tayangan  membuat nasi jamblang. Waktu itu saya lihat nasinya pakai sambal cabe merah itu pak", tanya saya.
Tiba-tiba Bapaknya mengajak saya ke meja makan dan menunjuk sambal cabe merah.
"Nah, Nasi Jamblang ini khasnya dimakan dengan sambal goreng cabe" sahut bapaknya sambil menunjuk sambal itu.
"Oh begitu ya pak, dikira saya, makannya pakai apalah gitu, ternyata hanya nasi dengan sambal goreng cabe merah ya pak",  tersenyumlah aku ....

Dan Inilah Nasi Jamblang:


Nasi Jamblang dibungkus daun jati

Nasi Jamblang yang sudah dicampur dengan menu lain
Dan inilah dia sambal khasnya. Sambal Goreng Cabe heheheeh ....

Sambal Goreng Cabe
Bagaimana rasanya sambal goreng cabai itu? Ya pokokya pedas, asin seperti itulah, standar baku sambal.
Dan kita juga selain disuguhi Nasi Jamblang disuguhi pula makanan lainnya, seperti:

Soto
Makanan Tradisional

Begini ya kalau sudah menyangkut makanan tradisional itu pasti saya cicipi. Tapi masalahnya  adalah saya tidak suka makanan yang mencolok alias warna-warni itu. Iya kalau warnanya pakai bahan alami seperti misalnya daun pandan untuk pewarna hijau. Itu khan aman. Karena ada warna yang merah-merah itu, jadinya saya tidak mencicipi  semua makanan tradisional itu.

Nah, kita waktu itu dijamu makan siang di tempat yang bernama Gedung pagelaran Keraton Kasepuhan.

Tempat  dijamu makan siang
Bukan hanya dijamu makan siang saja, kita juga dihibur dengan tarian dan musik tradisional ada tari topeng, tari persahabatan dan tari keraton. Pokoknya seru. Seperti inilah suasananya.

Nari bareng yuk pak :p


Jaipong-Jaipong :)
Seru deh pokoknya... setiap moment atau kunjungan pasti ada kesan-kesan tapi tetap saja,  yang paling berkesan bagiku adalah sewaktu pergi ke kepulauan Seribu: P Onrust dan P. Bidadari :)

Jadi, bagaimana menurut teman-teman  tentang nasi Jamblang ini?
Akh karena saya orang kampung, Nasi Jamblang ini bukan sesuatu yang bagaimana gitu, alias bukan hal yang luar biasa, itu mah sudah biasa :)