Search This Blog

Wednesday, May 27, 2015

Menikmati Ritual Pelantikan Sikerei di Mentawai On My Trip Magazine


Helooo ...
Apa kabar pembaca setia blog saya. Sudah lama tidak posting. Kali ini mau sharing cerita tentang kisah perjalanan saya ... sebenarnya ceritanya sudah hampir satu tahun yang lalu. Jadi, sudah  terlalu lama tapi masih layak untuk dishare.

Kisah perjalanan ini sudah dipublished sebenarnya di Majalah MyTrip dengan rubrik "Culture Speak", Volume 21 Tahun 2015.

Sudah beli belum majalahnya? sepertinya sekarang sudah keluar edisi terbaru ... okey ini dia rupa dari publikasinya.
My Trip Edisi 21 Tahun 2015



My name written here:
the contributors


The Article:




Menyaksikan Ritual Pelantikan Sikerei Di Melawai 

and ...

Last Page 
Baiklah, karena baca artikel di atas tidak bergitu jelas, saya akan uraikan sedikit kisah perjalanan ke Mentawai ini ya. Tapi, sebelummya saya infokan dulu kalau Ritual Pelantikan Sikerei baru ini, konon katanya baru perdana dipublikasikan untuk umum.

Let's start our story ....
Saya berangkat sendiri dari Jakarta ke Padang pada tanggal 23 Mei siang naik garuda. Awalnya ragu untuk pergi karena tidak ada budget untuk tiket. Tapi keadaan menguntungkan saya karena ikut keanggotaan GFF (Garuda Frequent Flyer). Dimana kalau kita terbang dengan Garuda akan mendapatkan tambahan point. Kalau pointnya sudah banyak kita bisa meredeem atau menukarnya dengan beberapa pilihan yang diberikan GFF. Nah, saya sendiri menukarnya dengan tiket keberangkatan - Jakarta - Padang. Tidak bisa PP (pulang pergi) karena pointnya tidak cukup. Satu tiket Jakarta - Padang dapat ditukar dengan Point GFF sebanyak 14000 point (kelas ekonomi). Untuk tiket pulangnya saya beli sendiri.

23  Mei 2014 
Berangkat dari Jakarta pada jam 11: 25 WIB menuju Bandara Minangkabau (Padang) yang merupakan meeting pointnya. Tiba jam 13:10 WIB. Sesampainya di Bandara langsung menuju Mushola untuk Zuhur dan menunggu teman - teman yang lainnya di sini. Sekitar dua jam kemudian, baru ketemu Mbak Evi (Eonya dari Indonesia Trip Advisor). Kemudian satu per satu anggota trip Mentawai pun berdatangan. Bagi saya Travelling kali ini kedua kalinya ikut Mbak Evi.

Untuk lebih mendekatkan cerita ini, Saya perkenalkan satu per satu peserta trip Mentawai yak ...
Mbak Evi, Sang EO

 Next,
Pak German Kartasasmita
Next,
Takeo Shindo

Next,
Howardi Godjali
Next,
Pak Kim
Next,


Herman Morisson
Next,

Agung Parameswara
Next,
Sayuri
Next,
Catthy
Next,
It's me dengan Sikerei
Itulah ke sepuluh anggota trip Mentawai. Setelah semua personil kumpul, kita meninggkalkan bandara menuju pelabuhan Bungur - Padang menyebrang ke Siberut. Tapi sebelumnya kita makan dulu di rumah makan Padang dekat pelabuhan tersebut. Sekitar Jam delapan malam kita sudah berada di dalam kapal menuju Siberut - Mentawai. Perjalanan padang - Siberut ada kurang lebih sepuluh jam. Di dalam kapal kita tidur di ruangan ber AC, yang tidak terasa sejuknya. Menurut saya sih volumenya kecil dan orangnya banyak. Jadi panas. Kita tidur di kasur yang bertingkat dua, saya pilih kasur bagian atas.

24 Mei 2014
Jam enam pagi kapal pun sampai di pelabuhan Siberut. Dari pelabuhan, rombongan diangkut sama kendaraan seperti angkutan kota tapi ini belakangnya terbuka. Rombongan dibawa menuju basecamp sementara sebelum melanjutkan perjalanan ke kampung. Di basecamp ini kita istirahat, mandi dan makan.

Jam sepuluh setelah semuanya siap, perjalanan dilanjutkan ke kampung Sikerei naik pong - pong selama kurang lebih tujuh jam perjalanan. Ada empat pong - pong untuk angkut sepuluh orang plus barang - barang. Di setengah perjalanan yang ditempuh melalui sungai ini ada breaknya untuk makan siang.

Sore harinya baru kita sampai kampung yang dituju itu pun masih harus jalan kaki sekitar sepuluh menit. Setibanya di kampung kita menuju rumah Aman Lau. Di sinilah tempatnya untuk rombongan trip menginap  dan tinggal selama enam hari. 

Kita beramah - tamah, istirahat, mandi dan makan. Lalu malam itu juga menuju Rumahnya Sikerei Aman Lau - Lau untuk menyaksikan rangkaian ritual pelantikan Sikerei baru.

Ada beberapa ritual pada malam itu yang disuguhkan kepada kami yaitu: tarian, potong babi, masak, makan bersama dan tarian lagi. Keesokan harinya, tanggal 25 Mei 2014, sorenya kita pergi ke hutan mencari daun untuk obat - obatan dan malamnya ada tarian.

Tanggal 26 Mei 2014, hari ini  merupakan hari closing atau penutupan dari acara ritual pelantikan sikerei baru. Acaranya dimulai dari memotong babi dan masak.

Tanggal 27 Mei 2014,  kita melihat proses pembuatan racun.
Tanggal 28 Mei 2014, kita jalan - jalan ke Kampung Matotonan. Tentunya dengan memakai kendaraan Pong - Pong. Karena jalan yang menghubungkan satu kampung dengan kampung yang lain masih melalui sungai.

Untuk lengkapnya bisa beli majalahnya my trip ya  Volume 21, tahun 2015. Biasanya penerbit suka menyimpan sisa terbitan.

Dan ini ada beberapa kosa kata dari bahasa Mentawai yang kita pelajari di sana.
Matsurabagata = Terima kasih
Simasegei = Selamat pagi 
Sitago = Selamat Siang 
Sisoibo = Selamat Malam 
Naikemei = Good bye
Aluita - Selamat Datang
Mukop = Makanan 
Mulok = Minuman 
Sapo = Rumah kecil atau rumah biasa

Nama - Nama hari :
Senin = Sagoi 
Selasa = Duagoi
Rabu = Telungagoi
Kamis = Empatgoi 
Jumat = Limangagoi 
Sabtu = Enengagoi
Minggu = Pitungagoi 


Sebelum blog ini ditutup, saya ingin tegaskan lagi bahwa daerah Mentawai yang dikunjungi ini terletak di Pulau Siberut, Wilayah Sarereiket, Desa Madobak, Dusun Butui. Di Butui sendiri diperkirakan terdapat sebanyak 30 (tiga puluh) Sikerei. Sementara di Pulau Siberut ini ada banyak Sikerei yang tersebar di beberapa wilayah, diantaranya: Saliuhuma, Saibi, Sempungan, Sirilogui, Sikabaluan, Malacan, Telekan, Bose, Labuan Bajo, Policoman, Sikapona, Tiniti, Simalegi, Betaet, Bojo (Siberut Barat), Simatalu, Paipajet (Barat daya), Kailela, Sagulube, Sakurei, Taileleo, Saumanu, Katurei, dll.



 




Tuesday, December 16, 2014

Solo Traveling Perdana Ke Malaysia Dalam Rangka Stamp Exhibition

Helo ...
What's New?
Yup, i've got something to tell you  ... sebuah cerita tentang Solo Traveling Perdana saya ke Malaysia.

Bukan ini bukan kali pertama saya pergi ke negeri Jiran. Kemarin itu sebenarnya kali kedua saya pergi ke Negeri tetangga. Tapi yang berbeda adalah kalau dulu perginya bareng teman. Yang kedua, atau kemarin perginya sendiri untuk pertama kali ke Luar Negeri. Jadi saya menyebutnya Solo Traveling Perdana. Heheheehee .... akhirnya saya bisa juga pergi sendirian.  Yess.

Saya begitu menikmatinya. Meskipun cuti tiga hari kemarin itu sebenarnya dalam rangka melihat pameran stem atau perangko. Tema pamerannya sendiri adalah WORLD YOUTH STAMP EXHIBITION & 29 TH ASIAN INTERNATIONAL STAMP EXHIBITION.

 Sebelum pergi itu saya melakukan beberapa persiapan atau survei dahulu mengenai keadaan di sana.
Seperti inilah kira - kira persiapan saya:

  1. Mencari tahu info sebanyak mungkin tentang Event Pameran Perangko. Bisa dari facebook atau webnya langsung. 
  2. Ketika sudah tahu lokasinya, seperti lokasi untuk pameran perangko kemarin dilaksanakan di Kuala Lumpur Convention Center (KLCC), maka saya cari tahu bagaimana rute ke sana. 
  3. Tapi sebelum kita mencari tahu dulu rute ke KLCC maka kita harus dapat memastikan akan berangkat menggunakan maskapai penerbangan seperti apa. Saya kemarin dapat promo pakai pesawat Garuda. Nah, kalau pakai Garuda berarti stopnya di KLIA (Kuala Lumpur International Airport). 
  4. Maka saya cari info direction dari KLIA ke KLCC. Informasi itu didapat dari web (video) di sini.
  5. Saya sangat puas sekali dengan Video direction itu dan beberapa hari mendekati keberangkatan saya putar terus dan saya pun mencatatnya di note book.
  6. Setelah tahu direction ke KLCC maka saya cari penginapan di daerah sekitar KLCC. Maka saya putuskan untuk menginap di Le Apple Boutiqe Hotel. Alasannya karena harganya masuk dalam jangkauan saya dan jaraknya dekat ke KLCC bisa jalan kaki. 
  7. Saya mempelajari peta lokasi dan juga print peta lokasi seperti dibawah ini. 
Area Pameran (Diambil dari official webnya)

Nah, dari Video saya dapatkan informasi kalau dari KLIA bisa langsung ke KLCC (Kuala Lumpur Convention Center) lewat West Entrance. Pada map di atas kita bisa lihat letak west entrance disebelah mana. Tapi kalau tidak mengerti, informasi itu bisa disimpan untuk gambaran saja. Agar tidak terlalu membingungkan.

Rail Map

Dari Rail Map (peta kereta) saya bisa mengetahui akan melewati berapa perhentian dan harus berhenti di mana. Nah, kalau saya baca dari rail map di atas, maka di dapat rute seperti ini; Dari KL International Airport menuju ke KL Sentral lalu dari sini dilanjutkan ke KLCC Stasiun sebagai pemberhentian terakhir dengan melewati (dari KL Sentral) -- Pasar Seni -- Masjid Jamek -- Dang Wangi -- Kampung Baru -- KLCC Statsiun (pemberhentian).

Intinya dari pengalaman saya kemarin di Malaysia, dengan adanya KL Express yang terintegrasi dengan beberapa Shoping Mall langsung menuju ke lokasi sangat memudahkan. Cocok untuk tipe solo traveling.

Setelah mendapatkan gambaran mengenai Rail Map dan juga Denah Lokasi, selanjutnya adalah mencari tahu tentang lokasi hotel. 

Le Apple Boutique Hotel

Dari peta di atas saya bisa tahu kalau Le Apple Boutique Hotel letaknya bersebarangan dengan KLCC bahkan bersebelahan dengan Hotel Corus. Tadinya saya mau nginap di Corus, tapi waktu mau booking harganya naik, gak jadilah bookingnya. 

Lanjut ceritanya ya.

Ticket
Pada hari H-nya saya terbang langsung bersama Garuda dari Jakarta ke KLIA. 
Pas sampai di KLIA, bayangan yang ada dibenak saya dengan video tidaklah persis sama. Tapi Video itu membantu saya bertanya secara To The Point. Maksudnya saya tahu next destination yang akan ditanyakan.

Dari KLIA menuju KL Sentral menggunakan KLIA Express harganya 35 RM (Ringgit Malaysia) atau sekitar  Rp. 128.000,- Dari KL Sentral ke KLCC Stasiun pakai Rapid KL, harga Coinnya sekitar 1,50 RM.

Sampai di KLCC Stasiun yang terintegrasi dengan KLCC Suria (Itu lho shopping mall yang terkenal di Malaysia), saya tanya satpam arah ke Kuala Lumpur Convention Center.  Di dalam mal ini saya tinggal jalan lurus belok kanan ke arah Foodcourt lalu naik ke atas dan sampailah di venue Convention Center.

Standing Banner pameran perangko telah menyambut saya waktu itu dan sebagai petunjuk jalan juga sih.

Standing Banner
Nampak pula spanduk yang digantung di luar ruangan pameran.
Spanduk di luar Hall
Tapi sewaktu masuk ke dalam hall pameran, sayang banget sepi ya. Maksudnya tidak banyak negara yang berpartisipasi. Ketika ditanyakan kepada salah satu pengunjung katanya memang tidak terlalu ramai karena pameran ini temanya "Youth" bukan pameran "Dunia". Kalau tahun 2013 kemarin yang di Thailand rame, tambahnya lagi.

Seperti inilah situasi pameran di dalam hall.
Salah satu booth pameran

 Peserta Pameran yang melayani pengunjung.

Mencap perangko


Dan ini dia Philatelic Passport Book, sesuatu point yang khas dan diuber dalam setiap pameran perangko.

Buku untuk Hunting Perangko


Philatelic Passport Book ini diberikan secara free dari panitia untuk setiap pengunjung. Nah, pengunjung yang datang nantinya hunting perangko dari setiap booth peserta pameran. Rata - rata satu perangko ada yang dijual 1 RM. Sewaktu tahu satu perangko dijual 1RM, senangnya luar biasa. Tapi ketika beralih ke booth yang lain, harganya berbeda. Ini dikarenakan tidak semua negara datang ke Pameran Perangko. Jadi kalau ada salah satu negara bagian yang datang dan yang lainnya tidak datang, misalnya ada satu negara bagian dari United States datang dan dia punya perangko dari negara bagian lain yang tidak datang maka dia akan menjualnya dengan harga yang lumayan tinggi. Kemarin saja ada satu booth  yang menjual 11 (sebelas) perangko dari negara bagian lain yang berbeda, dia jual cukup tinggi sekitar 60 RM.   

 Lantas bagaimana konsep sebuah pameran perangko itu?
  1. Pameran perangko itu disesuaikan dengan temanya. 
  2. Pesertanya bisa dari organisasi perwakilan dari setiap negara kalau itu sifatnya internasional.
  3. Masing - masing perwakilan dari negara peserta pameran biasanya akan membuat perangko spesial edisi pameran yang dimaksud. 
  4. Tuan rumah biasanya akan mengeluarkan edisi perangko khusus untuk setiap harinya dengan design yang berbeda. Misalnya hari pertama designnya anu, hari kedua designnya anu.
  5. Cap yang dikeluarkan pun akan berbeda untuk setiap harinya karena pada capnya akan disesuaikan dengan tanggal pelaksanaan.
  6. Kenapa Cap? karena cap bagian penting dari pameran ini. Biasanya para pengunjung akan membeli postcard untuk dikirimkan sesuai dengan alamat yang tertera. Otomatis selain dibutuhkan perangko, dibutuhkan juga capnya. 
  7.  Pameran perangko biasanya dipadukan juga dengan unsur hiburan yang lain, seperti musik atau mungkin kalau ada booth perangko prisma dan juga games. Selain itu suka ada miniatur produk post yang sudah lama.
  8. Souvenir, tuan rumah biasanya menyediakan souvenir;  kaos, mug atau yang lainnya.
  9. Selain pameran perangko, ada juga pameran display produk post yang lama. Seperti perangko kuno, postcard kuno (lama) sesuai eranya.
 Berikut ini beberapa perangko hasil hunting saya.
Perangko Hasil Hunting
Dan ini dia legal perangko yang didesign khusus untuk hari pertama oleh tuan rumah.
Perangko Hari Pertama

Waktu hari pertama pelaksanaan pameran perangko, saya belilah itu perangko khusus untuk hari pertama. Untuk perangko hari kedua hanya dijual pada hari kedua saja tegas petugasnya. Katanya sih sengaja dibuat seperti itu agar pengunjungnya datang lagi. Tapi ketika hari kedua saya ke sana lagi ternyata semua perangko yang seyogianya dijual pada hari-hari berikutnya ternyata dijual semuanya. Kalau menurut saya sih itu karena gak terlalu ramai. 
Seri Perangko Khusus Pameran Perangko

Diantara para peserta pameran perangko ini, ada negara seperti Taiwan yang memanfaatkannya sebagai ajang untuk promosi untuk Next 30 Asian Stamp Exhibition pada tahun 2015.
Perangko Taiwan, Promo untuk Next 30 Asian Stamp Exhibition

Display Postcard dan Perangko Lama
Nah, selain ada booth - booth perangko ada juga display postcard dan perangko lama. Seperti ini:

Display Surat Lama
Jadi, pada surat lama di atas itu yang didisplay sebenarnya adalah pemakaian perangkonya. Dari gambar di atas bisa kita ketahui surat itu memakai perangko jenis Dai Nippon "Buffalo" Large Type.
Ada juga perangkonya yang bergambar rumah adat Minangkabau. Seperti ini.
Surat yang didisplay
 
Peserta yang mengikuti pameran untuk sesi display ini banyak. Salah satunya dari Indonesia. Sebagaimana dapat di lihat pada gambar di atas tersebut.


Next, kita alihkan pembicaraan ke tempat saya stay selama satu malam. Hari Senin, setelah mengelilingi pameran saya keluar dari Convention Center menuju KLCC Park yang ada di luar. Lalu saya tanya penjaga jalan ke luar dari Convention Center. Si penjaga meminta saya untuk jalan lurus menelurusi taman. Nah setelah beberapa meter jalan ketemulah sebuah air mancur yang terletak di bagian belakang pintu dari KLCC Suria.


Air Mancur Di Bagian Belakang KLCC Suria 
Dari sini saya terus jalan mencari jalan ke luar. Ketika lagi jalan saya sempat tidak sengaja melemparkan pandangan ke seberang. Dan that's it ... Le Apple Boutique Hotel berdiri tepat di seberang KLCC Suria.

Le Apple Boutique Hotel
Ketika Penginapan sudah terlihat saya terus berjalan mencari jalan ke luar.  Nah kalau sudah keluar dari kompleks KLCC Suria dan memasuki jalan raya, akan terlihat sign jalan menuju Jalan Ampang, seperti ini.

Silahkan dilihat signnya

Dan inilah bedroomnya.
Bedroom
Kamar yang saya pesan ini memiliki view yang bagus menghadap ke Twins Tower. Kalau direview, hotel ini memiliki fasilitas: LCD TV, Wifi, Bedroom, Kamar Mandi, Hairdresser, Setrika (ya beneran lho ada setrikaan).

Nah, sekarang kita bicarakan dimana saya dapat makan. Saya makan di Restauran Ampang.
Restauran Ampang
Restauran ini letaknya tepat di seberang hotel Le Apple Boutique dan hadir selama 24 jam. Makanannya enak ya bumbu khas India gitu. Sayurannya segar, begitu pula dengan ikannya.  Total sekali makan sekitar 8 RM. 

Secara keseluruhan Solo Traveling saya sangat menyenangkan. Apa yang dibutuhkan ada disekitar. 

Hari Kedua 
Untuk hari kedua saya kembali lagi ke Kuala Lumpur Convention Center (KLCC) untuk melihat pameran perangko. Tetapi sebelumnya mampir dulu di Aquaria Suria KLCC. Saya pun baru tahu Aquaria Suria KLCC itu sewaktu lihat sign di seputar Convention Center.  Letaknnya Aquaria ini dibawah dari Kuala Lumpur Convention Center.

Masuk ke sini tentu harus beli tiket dulu. Tiket masuk dijual 50 RM. Nah pas sebelum beli tiket saya diminta untuk difoto dulu sama petugas di sana. Katanya fotonya bisa diambil pas ke luar. Inilah Fotonya ketika sudah jadi. Meskipun fotonya ditempel tapi tidak masalah soalnya ciri khasnya masih ada.               

Hasilnya
Pas saya mau ambil foto itu duh ya kukira harganya paling dibawah 50 RM, ternyata lebih mahal dari tiket masuknya. Satu foto dijual 60 RM.

Album Foto
 
Saya pikir kenapa harganya mahal ini mungkin karena albumnya ya bagus. Tuh seperti dapat dilihat di atas.

Dan inilah fasilitas di Aquaria yang dapat kita nikmati.

Bergaya di Depan Ikan Piranha

ke Aquaria itu saya jadi ingat Sea World di Ancol tapi masalahnya adalah saya belum pernah ke sana. Jadi tidak bisa membandingkan antara ke dua Aquarium besar yang ada di Malaysia dan Tanah Air. Tapi, marilah kita nikmati saja beberapa foto - foto yang saya ambil.

Ikan

Beberapa Video yang berhasil saya abadikan.


Lucu benar itu. Kura - Kura menggendong ikan. Saya berkunjung ke tempat yang seperti ini jadi ingat keponakan. Harusnya kalau wisata seperti ini bawa anak kecil jadi akan lebih  menyenangkan.

Tabung Ikan
Sangat kreataif sekali, ada tabung besar diisi ikan.
Ada Ikan Hiu


Ya seperti itulah kira - kira pameran perangko di awal bulan Desember yang saya ikuti. Bagaimana menurut teman - teman?

NB: Jangan lupa untuk tahun 2015, World Stamp Exhibition akan diselenggarakan di Singapura. Don't Miss it ya ....

Friday, November 14, 2014

Juara Pertama Pada Pra Kongres Pranata Humas

Dalam dua bulan berturut - turut alhamdulilah saya mendapatkan keberuntungan. Saya percaya dalam hidup ini semua aspek kehidupan seperti yin dan yang, ada hitam ada putih, ada sedih ada bahagia. Semua itu untuk  membuat hidup kita lebih berwarna, lebih kuat dan sebagai insan untuk lebih banyak merenung.

Keberuntungan apa sih yang saya dapatkan di bulan November ini?
Ya, saya menjuarai Kompetisi Penulisan Ilmiah Humas yang diselenggarakan dalam acara Pra Kongres Pranata Humas di Yogyakarta 11 - 12 November 2014.


Juara Satu
Nama kejuaraannya memang Penulisan Ilmiah Humas, tapi saya merasa istilah itu terlalu berlebihan dan saya merasa kurang percaya diri. Soalnya ada istilah ilmiahnya. Padahal jenis lomba yang saya ikuti adalah lomba blog. Saya memang berkompetisi dengan peserta lainnya, tapi dengan jenis kompetisi yang berbeda. Lihat saja juara tiganya adalah Peserta (seorang Bapak) yang membuat video, sementara juara keduanya saya kurang tahu. Dikarenakan sewaktu pengumuman pikirannya tidak fokus. Tahu - tahu saya dipanggil juara satu.

Sertifikat dan trophy

Selain saya ada juga teman yang lainnya yaitu, Mas Ristyan, dia keluar sebagai juara ketiga untuk kompetisi Foto Kehumasan. Ya, objeknya memang seputar kegiatan Pra Kongres Pranata Humas.

Saya dan Mas Ristyan
Awalnya saya mau ikutan kompetisi Foto, tapi ketika sore hari panitia mengumumkan akan ada perlombaan blog saya jadi beralih ikutan kompetisi blog saja. Ada pun persyaratannya kita harus membuat blog melalui format wordppress.com dengan mengupload sebanyak - banyaknya Karya Kreatif Kehumasan berkaitan dengan rangkaian kegiatan Pra Kongres yang saya ikuti. Karya yang diupload bisa berupa Artikel, Photo Stories, Video Stories dan lain - lain.

Dikarenakan saya tidak punya blog dalam format wordpress, maka saya menginstall dahulu programnya lewat HP. Itu pun saya lakukan di pagi hari pada hari kedua kegiatan setelah sholat subuh. Saya begitu asyik mengetik lewat HP, beberapa foto saya insert, begitupula dengan videonya. Setelah rampung saya berusaha mempublishednya tapi error. Sepertinya memang kapasitas HP dan juga internternya tidak memenuhi persyaratan. Saya pun akhirnya  menunda untuk mempublished-nya, tokh masih punya waktu sebelum batas pengumpulan terakhir.

Jam 8.00 pagi saya turun ke Ballroom mengikuti acara kongres selanjutnya. Saya pun mencatat beberapa point penting dari narasumber. Setelah narasumber kedua selesai berbicara saya ke lobby untuk mendapatkan sinyal internet yang lebih kuat dalam rangka mempublished blog dengan tambahan catatan dari narasumber tadi. Setelah beberapa kali mempublished ternyata tidak berhasil juga. Waktu itu menunjukan satu jam lagi sebelum batas akhir pengumpulan. Parahnya lagi naskahnya terhapus (karena saya utak - atik).

Tidak berpikir panjang saya pun langsung buka komputer  hotel yang berada di Lobby. Mengetik secepat mungkin dan saya published dahulu tanpa foto. Kemudian setelah berhasil dipublished saya edit lewat Hp dengan menambahkan beberapa foto. Akhirnya berhasil juga dengan kondisi internet yang lemah. Terus saya kirim linknya ke panitia lomba. Dikirim satu menit sebelum penutupan.

Saya memang tidak puas, karena tidak lengkap fotonya. Oleh karenanya saya komplain melulu. Itu direspon sama teman saya, Nurul yang memang merasa terganggu dengan komplain saya. Dia bilang kalau menang ya menang saja. Lagi pula katanya tidak ada yang ikutan lomba Blog, yang ikut lomba blog hanya saya saja.

Ada benarnya juga pernyataannya. Tapi saya akan merasa rugi kalau tidak ikutan sama sekali. Tokh kalau benar yang kirim lomba blog hanya saya seorang, panitia pun pastinya akan cerdas. Buktinya saya jadinya dikompetisikan dengan Karya Kreatif Kehumasan lainnya. Kalau menurut panitia ada 45 karya Kehumasan yang masuk. Jadi, saya tidak perlu berkecil hati. Meskipun iya, saya tergolong muda diantara para peserta yang ada. Tapi saya akan lebih rugi lagi kalau tidak memiliki passion seperti yang dimiliki orang tua yang memang dalam kompetisi itu banyak yang keluar sebagai juara.

Untuk juara karya kreatif kehumasan ini, saya memperoleh sertifikat dan trophy. Padahal dari awal saya berpikirnya akan mendapatkan uang pembinaan juga (heheheehehee) ... Saya tanya ke Panitia lokal. Katanya di posternya memang disebutkan ada hadiah uang dan setelah dia konfirmasi ke panitia lainnya bilangnya hadiahnya disiapkan EO. Sampai ketika saya menulis blog ini pun belum ada konfirmasi dari EOnya lebih lanjut. Ya sudahlah ya ....

Oh ya ini dia Trophy yang saya peroleh.

Trophy

Trophynya unik. Setelah saya perhatikan memang itu bentuk dari lambang Jabatan Fungsional Pranata Humas.

Seperti itulah cerita yang ingin saya share hari ini, Jumat, 14 November 2014 dari Jakarta. 











Thursday, October 30, 2014

Piala Pertama Lomba Fotografi

Hm ... sudah lama tidak ngeblog. Sebenarnya beberapa bulan yang lalu ada cerita yang menarik. Biasalah cerita traveling, tapi saya tahan untuk tidak dipublikasikan terlebih dahulu.

Hari ini mau share kabar gembira lain saja.
Ceritanya minggu kemarin, atau tepatnya hari Sabtu - Minggu, 25 - 26 Oktober 2014 saya mengikuti acara di Pulau Onrust. Acaranya sendiri diadakan oleh UPT. Taman Arkeologi Onrust, berupa Lomba Fotografi.

Informasinya saya dapatkan dari Mas Kartum. Itu lho yang pernah saya sebut di blog ini yang punya Komunitas Jelajah Budaya (KJB). Mas Kartum kirim invitation lewat BBM. Bunyinya seperti ini:

"Penjelajah Kota Toea, mau ikut lomba fotografi di Pulau Onrust gal 25 - 26 Oktober 2014, gratis, lumayan loh hadianya, liburan sejarah sambil foto2 dapat hadiah asik kan...buruan daftar ke Kartum Setiawan."

Saya waktu itu ikut daftar bahkan mendaftarkan teman - teman yang lain. Tapi pada hari -H-nya hanya saya seorang yang ikutan. Yang lain ada acara dan karena missunderstanding. Ternyata acaranya sendiri bukan hanya lomba fotografi saja tapi ada juga pengenalan Pulau Onrust. Saya sejak pertama bilang ke teman - teman bahwa ini adalah acara lomba Fotografi. Maaf... Saya baru tahu ketika besok mau berangkat bahwa ada dua tema acara di Pulau Onrust. Itu pun karena baca informasi di Facebook.

Dari Panitia
 Kegiatannya benar - benar difasilitasi sama UPT. Taman Arkeologi Onrust. Peserta diberikan kaos, uang transport dan makan. Senang ... senang ....

Okey, selanjutnya pada hari H, yaitu hari Sabtu, 25 Oktober 2014, saya berangkat dari kosan naik Busway menuju stasiun Kota lalu dilanjut dengan Busway jurusan Ancol. Nah dari Halte Busway Ancol kalau mau keluar kita harus bayar Rp. 25.000 lalu bisa dilanjutkan dengan naik ojek ke Dermaga 17 Marina, Ancol sebagai meeting point. Sebenarnya jalan kaki pun bisa, tapi berhubung saya belum tahu dimana itu Dermaga 17, maka diputuskan untuk naik ojek.

Dermaga 17 Marina Ancol

Pose ketika akan berangkat ke Pulau Onrust.
Pergi Dengan Senang Hati

Saya sangat senang sekali ikut acara Onrust ini. Utamanya sih karena gratis  hahahahahaha, gratisan banget ......selain itu juga karena belum ada acara lain. Eh pas mau berangkat Saya ketemu banyak teman KJB. Diantaranya ada Dani, Dennise, Thesy, Peny dan lain - lain.

Nah, yang ikutan lomba fotografi menginap di Onrust, kalau yang hanya Pengenalan Onrust sorenya langsung pulang (setelah melihat Pulau Bidadari). Bedanya yang lain sama peserta lomba fotografi yaitu, para peserta lomba fotografi mengunjungi 4 (empat) pulau, yaitu: Pulau Onrust, Pulau Kelor, Pulau Bidadari, Pulau Cipir.

Peserta yang menginap di Pulau Onrus, tidurnya di mess. Ada kok mess, bisalah nampung 50 (lima puluhan orang). Tumplak - tumplakan tapi masih bisa tidur sih. Masalahnya hanya air saja. Airnya payau atau asin terus jam tertentu mati. Tapi paginya airnya sudah mengalir lagi.

Pas malam minggu, saya sangat menikmati Keindahan Pulau Onrust. Indah, karena dari Onrust saya bisa menikmati cahaya yang berasal dari Kota Jakarta. Ternyata sampai juga lho ke Onrust.  Menikmati debur ombak dan bau laut. Melihat beberapa pesawat yang take off. Apalagi Pak Hardi sampai mengabadikannya dengan pakai tripodnya begitu juga dengan teman yang lainnya. Menyaksikan orang yang memancing ikan di malam hari.  Dimana lagi hal itu dapat dinikmati sambil duduk di tepi pantai kalau bukan di Onrust.

Setelah selesai menikmati laut, saya dan beberapa orang teman melakukan jalan malam layaknya ospek. Kita jalan - jalan mengelilingi Pulau Onrust di malam hari dengan narasumber Pak Candrian selaku arkeolog. Jalan - jalan pun sambil sesekali berhenti di objek, lalu Pak Can menerangkan tentang objek yang dilihat (ada bekas penampungan air bawah tanah yang mencapai dua meter ada juga kuburan dan bekas tempat cuci, dll). Sebenarnya jalan malam ini untuk melatih rasa takut kita. Karena berkali - kali Pak Can mengatakan bahwa kalau ada orang yang mengatakan bertemu hantu itu rasionya kecil. Pak Can juga menantang beberapa peserta untuk jalan sendiri atau tinggal sendiri misalnya di makam belanda.

Ya, di pulau Onrust memang ada komplek pemakaman Belanda. Saya pun kena diusilin. Nah, ceritanya pas malam itu kita melihat beberapa kuburan orang Belanda salah satunya Maria Van De Velde. Konon katanya dia meninggal sambil menunggu kekasihnya yang tak kunjung datang. Padahal kekasihnya itu telah meninggal di Belanda. Ada yang bilang Maria ini selingkuh ada yang bilang dia sama sekali belum menikah. Konon katanya Hantu Maria ini selalu berkeliaran di Onrust. Lagi asyik - asyiknya saya memperhatikan nisannya Maria, tiba - tiba kaki saya ada yang megang kuat sekali. Otomatis saya berteriak.  Ketika saya tengok ke bawah ternyata kaki saya dipegang Pak Can. Untungnya saya tidak pingsan. Hanya kaget saja saya.

Sesudah kejadian itu, Saya balik kembali ke Mess. Mengelap badan lalu tidur.

Pagi harinya peserta Lomba fotografi diantar perahu menuju ke Pulau Kelor mengejar sunrise atau ambil foto - fotolah. Saya senang sekali karena di Pulau Kelor ini ide saya muncul untuk ambil foto yang sebagus mungkin. Selain itu, karena memang objeknya ada yang menarik.

Inilah beberapa foto yang saya ambil dari HP dari Pulau Onrust.
Kompleks Pemakanan Belanda
Sewaktu pertama kali saya ke P. Onrust bareng Republika, kompleks pemakaman Belanda ini belum dipagar. Sekarang dipagari dan terlihat lebih rapih. Begitu pula dengan kompleks penjara.
Bekas penjara yang dipagari
Setelah dipagar, siapa pun pengunjung tidak bisa sembarangan masuk kalau pintunya dikunci.

Ini dia penahan abrasi di Pulau Onrust.
Penahan Abrasi

Ini  Pulau Kelor
Pulau Kelor
Dulu di Pulau Kelor ini hanya ada benteng Martelo, tapi kemarin sewaktu ke sini ada mess atau entahlah apa itu namanya.

Benteng Martelo, Pulau Kelor
Nah, di sekitar benteng Martelo ini ada yang camping. Sepertinya para tukanglah yang sedang merenovasi kelor.

Pulau Bidadari

Benteng Martelo, Pulau Bidadari


Ini di Pulau Cipir

Pepohonan diantara bangunan lama
Ada juga bekas Rumah Sakit.
Bekas Rumah Sakit

Ada persamaan antara pulau Onrust dan Pulau Cipir. Keduanya merupaka bekas karantina Haji. Jadi, dahulu sebelum pergi ke Mekkah dan sesudah menunaikan ibadah haji, jemaah pasti akan singgah dulu di Pulau ini untuk dicek kesehatannya.

Kembali ke Basecamp di Pulau Onrust. Semua peserta menyerahkan hasil hunting fotonya untuk dinilai. Saya menyerahkan sebanyak 13 (tiga belas) buah foto. Semuanya terserah juri yang akan menilainya yang mana yang terbaik. Jurinya ada tiga orang yaitu: Dennise Devito (Freelancer), Candrian Attahiyat (Arkeolog) dan Feri Latief (Fotografer).

Saya sebenarnya sudah punya feeling bakal memenangkan salah satu trophy. Dan pas diumumkan, yess... akhirnya Alhamdulilah kesampaian juga. Saya dapat juara Harapan Satu untuk Lomba Fotografi Koleksi dan Lingkungan Bersejarah Taman Arkeologi Onrust.
For The First Time

Menerima Piala dan Sertifikat yang diserahkan oleh Pak Candrian Attahiyat.
Pak Candrian menyerahkan Piala
 Foto - foto kebahagiaan yang lain:
We are the champion
 Sang juara selain menerima piala, mendapatkan juga sertifikat dan sejumlah uang dipotong pajak. Ya, lumayanlah ya. Pokoknya memuaskan.
Pak Can dalam seremonial penyerahan Piala
The Lucky Number.
My Lucky Number

Nomor 19 merupakan nomor keberuntungan saya. Jadi, ketika juri menilai kita, mereka hanya tahu nomor peserta saja. Ada pun namanya bisa dilihat dari absensi panitia. Selain saya, Dani yang suhu fotografi saya, juga memenangkan juara harapan tiga. Satu lagi temannya Dani, Anggi malahan dia dapat juara dua.  Satu orang lagi masuk dalam sepuluh nominasi.

Saya mencatat beberapa point penting yang disampaikan Juri, yaitu Mas Feri Latief, katanya foto yang terbaik itu hidup atau bercerita, beda dengan yang lain. Biasanya kata Mas Feri pemenangnya adalah orang yang bukan fotografer atau peserta masyarakat umum biasa. Hal ini dikarenakan ketika mengambil foto mereka masih polos. Maksudnya ya apa yang mereka ambil murni apa yang mereka lihat atau apa adanya. Mereka tidak tahu bahwa foto yang diambil itu adalah yang sempurna. Lihat saja juara pertama dari perlombaan ini malahan fotonya diambl dari HP, kata mas Feri ini momentnya dapat, angle bagus (ambil foto gerbang masuk benteng Martelo lalu dia terpotret juga bagian dalam dari benteng itu). Juara kedua, dia ambil foto di benteng Martelo dengan objek benteng dan orang yang lagi selfie. Juara Ketiga ini baru saja pegang kamera. Jadi, ceritanya dia, pinjem kameranya salah satu peserta dan itu pun diajari cara mengambilnya. Setelah dikumpulkan eh malah dapat juara ketiga.

Untuk Foto saya yang menang, kata Mas Feri adalah foto orang yang sedang memancing diantara reruntuhan benteng Martelo, saya buat fotonya hitam putih. .... Maaf ya saya tidak menguploadnya. Belum diedit.

Sekarang ini, pulau Onrust ramai dikunjungi orang. Hari menjelang siang pasti ada saja kapal yang membawa pendatang ke Onrust. Kalau kata Pak Chan, semakin banyak orang datang ke Onrust maka debit sampah yang dihasilkan pun semakin banyak. Maka saya menghimbau semua orang untuk 
menjaga keberhasilan. Apalagi di tepi pantai maupun lautnya banyak sampah yang berserakan dimana - mana.

Pada akhirnya saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak: Mas Kartum yang sudah mengajak saya untuk berpartisipasi, UPT. Taman Arkeologi Onrust, Para Juri (Pak Candrian, Mas Feri Latief dan Dennis Devito), Para Panitia dan Dani yang sudah mengajari saya banyak fotografi.

NB: Teman - teman bisa juga ikutan acara yang sama. Coba saja gabung bersama Komunitas Jelajah Budaya. Biasanya perlombaan ini diadakan dua tahun sekali. Seruuu pokoknya, kita bisa bertemu dan berkenalan dengan banyak orang.