Search This Blog

Monday, March 3, 2014

Kurang Kenyang Dengan Singapore Air Show 2014

Yup, hari Sabtu yang lalu tepatnya tanggal 15 - 16 Februari 2014, saya bareng teman, Dani pergi ke Singapura. Tujuan ke sana untuk lihat Singapore Air Show 2014 (SAS). Info SAS didapatkan dari Majalah NGI Traveler.

Menuju Arena SAS

Awalnya saya ajak teman Backpackeran sewaktu ke acara Thaipusam Malaysia tahun lalu, waktu itu ada Akanta sama Rose. Satu per satu saya hubungi mereka tapi masing-masing sudah punya acara. Akanta tidak bisa ikut karena dia awal tahun ini mau pergi ke Australia lanjut sekolah. Sementara Rose jadwalnya padat, maklumlah sekarang Rose yang tinggal di Negeri Jiran sudah jadi Fotograper Profesional. Jadi, banyak kliennya. Tinggalah saya sama Dani berdua yang jadi lihat pertunjukan SAS.

Semua tiket dan penginapan yang booking Dani. Memang saya sengaja mengajak dan meminta bantuan sama dia, karena dia sudah beberapa kali ke Singapura, sudah tahulah rute jalan disana, nginep dimana, harus naik apa. Beres dia atur.

Sekarang saya mau cerita kronologis perjalanan ke Singapura.

Berangkat Pakai Damri jam 3 Pagi ke Soetta
Hahaha, ini khan acaranya backpackeran, jadi gak bisa seenak seperti Dinas Luar (DL) yang ada uang transport sendiri. Kalau mau pergi dan tidak mau ribet tinggal nunggu Taxi. Kalau Backpackeran khan pakai uang sendiri. Berhubung tahun ini lagi sepi dan memang uangnya dipakai investasi lain, maka sedari awal keberangkatan harus dihemat benar pengeluarannya. Jadi, saya putuskan hari Sabtu pagi itu naik Damri menuju Bandara Soekarno Hatta.

Hal yang dilakukan  sebelum pergi adalah tanya jam keberangkatan paling awal Bus Damri ke Bandara.  Hari Jumat malam setelah ke Money Changer di Blok M Plaza, saya ke pangkalan Bus Damri dan tanya langsung ke petugasnya. Petugas itu bilang Damri paling awal berangkatnya jam 3 pagi. 

Hari Sabtu jam setengah tiga pagi saya keluar dari kosan jalan kaki menuju Terminal Blok M. Karena sepagi itu belum ada Metromini. Sebelum sampai ke tempat tujuan saya sudah benar-benar jadi Backpaker sejati nih heheehee ....

Sewaktu sampai pangkalan Damri, belum ada penumpang yang lain, ini berarti saya yang pertama datang. Tapi setelah menunggu sampai jam tiga, dua orang penumpang lain datang juga. Akhirnya Bus berangkat ke Bandara, itu pun setelah Seorang petugas membangunkan sang supir yang sedang tidur lelap di dalam bus untuk segera berangkat mengingat sudah ada  penumpang.

Melihat kondisi sang supir yang terlihat masih ngantuk, saya jadi takut, tapi pas masuk jalan Sudirman, dia digantikan oleh temannya  nyetir.

Nah, pas di dalam bus itu khan saya sangat terang dan jelas bilang sama kondekturnya untuk menurunkan saya di gate penerbangan internasional, maskapai Air Asia dan tujuan Singapura.
Namun apa yang terjadi kemudian adalah, saya tidak diturunkan di terminal tiga. Jadinya saya naik taxi lagi ke Terminal Tiga. Huh, beruntung jaraknya dekat ya.

Okey itu tadi kejadian sebelum berangkat.

Tiba di Bandara Changi, Singapura
Sesuai dengan jadwal penerbangan Air Asia, kita berangkat jam 5:40 WIB dan sampai jam 8:30 AM. Setibanya di Bandara Changi kami menuju visa arrival untuk dicap paspor oleh imigrasi Singapura setelah itu pakai MRT dan Bus menuju arena Singpore Air Show 2014.  


Singapore Air Show 2014
Hm, boleh dikatakan ketika sampai arena Singapore Air Show itu kita tidak dapat posisi yang bagus. Dikarenakan arena sudah penuh dengan penonton malahan pertunjukan sudah dimulai. Jadi, tidak dapat memilih posisi yang enak.

Seperti inilah pertunjukan Singapore Air Show 2014.
Empat kapal beraksi

Seperti kita ketahui bersama, terkait dengan pertunjukan SAS ini ada sedikit masalah yang terjadi antara Indonesia dan Singapura terkait penamaan kapal perang (laut) Indonesia yaitu Usman Harun. Sempat dikabarkan karena adanya masalah ini, Team Indonesia TNI-AU  JAT (Jupiter Aerobatic Team) batal tampil di SAS. Apa yang terjadi kemudian adalah JAT jadi tampil.

Saya begitu bangga dan  terharu ketika JAT tampil di SAS. Bayangkan saja Bangsa sendiri tampil di negara orang dan saya ada di sana sungguh mengharukan. Terlebih ketika mereka tampil dibarengi dengan backsound dari penyanyi Indonesia seperti band Cokelat dsb. Jadi sepanjang lagu - lagu dari artis tanah air belum berakhir diputar itu tandanya masih JAT yang tampil.
Seperti inilah penampilan JAT.

JAT Indonesia Tampil
Team JAT Membentuk LOVE ... tapi sayang asapnya tidak cukup jadi yang terlihat seperti ini:
LOVE from JAT

Sebenarnya pertunjukan ini berlangsung sampai sore. Tapi kita hanya menyaksikan show bagian pertama saja. Ini dikarenakan ribet bawa tas backpack karena belum ke hostel dulu dan waktu itu cuacanya tidak menentu antara panas dan mendung.

Mengenai akrobatik yang dilakukan oleh Tim dari masing-masing negara, pada umumnya mereka menampilkan gaya yang sama. Seperti, terbang vertikal, lalu saling berpapasan, memencar dan kembali beregu lalu membentuk simbol hati. Bangga pokoknya saya kepada TNI-AU JAT (Jupiter Aerobatic Team).  Congrat  untuk mereka atas performancenya yang luar biasa.

Selepas memotret pertunjukan SAS, kita menuju arena Exhibition. Yang dilakukan di arena ini tentu memotret beberapa pesawat dan juga narsis.
Mencoba Pesawat
Narsis di depan Apache ..
Narsis di depan Apache
Dan ini Narsis di depan US AIR FORCE
Boleh Khan Narsis itu
Secara keseluruhan SAS 2014 itu menurut saya kurang mengenyangkan, saya masih ingin lebih menikmatinya .. mungkin karena waktu shownya dibagi dua pagi dan siang dan pesertanya pun sedikit hanya Singapura, Australia, Amerika,  Indonesia dan Korea Selatan. Tapi kalau exhibitionnya lumayan banyak pesertanya.

Saya juga merasa tidak puas dengan hasil jepretan sendiri mengingat lensanya bukan lensa tele hanya lensa kit dan settingannya pun tidak pas. Untuk penggunaan kamera, model M (Manual) lebih saya kuasai daripada model lainnya.

Menginap Di Hostel 5foot Way Inn

Balik dari arena  SAS, kita langsung ke Hostel. Saya pesan kamar/dorm yang khusus perempuan, sementara Dani, dia pilih kamar yang campur. Hostel ini menurut saya cukup bersih ya. Tapi halangannya yaitu ruangannya sempit, untungnya saya lagi tidak sholat jadi tidak terganggu harus mencari ruangan yang cukup luas untuk sholat. Hal yang tidak disukai adalah, terpisahnya toilet mandi dan toilet untuk BAB.  Untuk Toilet BAB merupakan tipe toilet kering.
Kalau untuk fasilitas sarapan sih, lumayan enak banyak pilihannya ya.

Hostel
Hostel ini letaknya di China Town. Persis di depan dan di pinggir hostel ini adalah toko-toko barang souvenir. Pokoknya ramai  di sini tapi tidak mengganggu sampai ke dalam penginapan. Jadi, kita bisa tenang untuk istirahat.  Peraturan yang diterapkan di Hostel ini adalah, kita boleh bawa minuman ke kamar tapi tidak boleh makan di dalam kamar. Kalau mau makan harus di ruang makan. Oh ya, satu hal lagi, akses masuk ke China Town itu dari stasiun MRT bawah tanah (subway) naik ke atas melalui lift dan sewaktu sampai atas kita disambut sebuah gerbang seperti ini:
Gate masuk ke China Town
 Inilah suasana di Chona Town.
Kiri dan Kanan Toko Souvenir
Di Hostel kita hanya singgah sebentar, selanjutnya kita cari makan di Food Court yang ada di sebuah Mall. Ternyata eh ternyata makan di Singapura itu mahal sekali. Satu kali makan dengan menu nasi Padang, saya habis SGD 5 (sekitar 50.000 kurang). Tapi lebih mahal minuman botol mineral. Satu botol Aqua yang diimpor oleh Singapura dari Indonesia harganya mencapai SGD 7. Makanya Dani sempat mengingatkan saya sebelum pergi untuk bawa botol minum supaya bisa diisi ulang. Tapi, saya tidak melakukannya. Di Singapura, saya beli satu botol Aqua dan bekasnya tidak dibuang melainkan dipakai isi ulang. Setiap mau ke luar Hostel saya isi botol Aqua itu dari air minum hostel. Jadi kalau makan tidak perlu beli air minum. Anehnya, minuman seperti Soft drink di sana murah.

Jadi, ini merupakan suatu catatan bagi saya, yaitu mengenal negara dimana harga mineral waternya mahal sekali.

Pakai EZ Link untuk Naik MRT
Habis makan kita langsung menuju ke Universal Studio tentu dengan pakai MRT (Mass Rapid Transit). Oh ya sebagai informasi, untuk menggunakan fasilitas MRT harus pakai kartu. Pilihannya bisa pakai kartu reguler atau EZ Link. Saya beli Ez Link.

Ez Link ini harganya SGD 12 dan berlaku selama 5 tahun. Tapi tentu kalau sudah habis harus diisi ulang. Harga SGD 12 itu terdiri dari dua komponen, SGD 5 untuk biaya kartunya dan SGD 7 untuk ongkos MRTnya. Intinya saya selama dua hari perjalanan ke Singapura menghabiskan sekitar SGD 22. Karena batas minimum untuk isi ulang kartu ini sebesar SGD 10. Saya kira cukup SGD 7 ternyata tidak cukup.

Keuntungan lain pakai kartu EZ Link tentu, kita tidak perlu mengantri kalau mau pakai MRT. Tinggal di Tap di pintu masuk/keluar.


EZ Link
Salah satu hal yang membuat saya terkesan dengan jalan-jalan ke luar negeri itu adalah alat transportasi umumnya. MRT di Singapura ini membuat penumpang tertib dan disiplin. Di dalam MRT maupun di area platformnya kita tidak boleh sama sekali makan dan minum. Selain itu, penumpang yang ke luar dan  masuk sangat rapi. Hal itu, setelah saya perhatikan memang ada garis yang membedakan untuk penumpang masuk dan keluar. Penumpang yang akan masuk MRT harus berdiri di garis merah yang terletak di sisi kiri dan kanan. Sementara garis hijau letaknya di tengah pintu dan digunakan sebagai jalan keluar bagi penumpang MRT.

Selain garis merah dan hijau itu, ternyata yang membuat  tertib dan disiplin adalah pintunya sendiri lebar. Jadi tidak berdesakan. Dengan kata lain memang diberikan space yang cukup untuk keluar masuk penumpang.

Line untuk antri masuk dan keluar


Universal Studio 
Kita mengunjungi Universal Studio itu sebenarnya hanya sebagai syarat saja. Di sini saya narsis di depan Ikon yang terkenal dan tentunya menonton satu pertunjukan saja yaitu "The Song Of The Sea".


I have been here finally
Setelah narsis di depan Universal Studio lanjutlah nonton The Song Of The Sea. Kata Dani pertunjukan ini sebenarnya permainan laser dan air. Tapi pas lihat latar pementasannya mereka buat seperti perkampungan suku Bajo Indonesia.


Latar Song of The Sea

Kalau untuk suku Bajo sendiri saya pernah mengunjungi sebuah kampung di Maumere, NTT, namanya Kampung Wuring.  Di kampung Wuring ini tinggal dua suku, yaitu bugis dan bajo. Perkampungannya sendiri seperti latar pertunjukan Song Of The Sea. Ya, mereka membangun rumah di atas laut. Jadi rumahnya tidak permanen, sewaktu-waktu bisa ditinggalkan. Cerita mengenai Kampung Wuring ini sudah saya publish di dalam postingan ke Flores. Intinya dari cerita ini adalah Indonesia memang kaya inspirasi, sampai tetangga kita pun mengakui hal itu.

Apa saja yang saya nikmati di Universal Studio selain Song Of The Sea?
Jawabannya tentu narsis lagi. Kali ini Narsis di depan Patung Merlion yang ada di Sentosa.

Merlion Sentosa

Selain itu baca ramalan yang ada di papan.
Shio Babi

Entah kenapa membaca ramalan atau shio ini menyenangkan ya. Meskipun kata orang jangan mempercayai hal yang seperti itu. Tapi bagi saya membacanya merupakan iseng belaka. Apa yang dikatakan oleh papan Shio Babi itu memang tidak jauh dari keadaan saya saat ini. Mengenai Love life katanya masih suram, kondisi keuangan yang tidak baik dan katanya saya harus mengurangi traveling dan kegiatan-kegiatan yang bersifat Volunteer.

Malamnya kita menikmati permainan lampu laser di Marina Bay.
Night View
Sayang gak bawa Tripod. Tadinya dari jauh hari sudah diniatkan untuk bawa, tapi biasa penyakit pelupa manusia.

Marlion di Marina Bay
Itu tadi kegiatan di malam hari, kita enjoy the view dan sesudah kenyang kita balik ke Hostel.

Hari kedua
Sebenarnya acara Singapore Air Show masih ada di hari Minggu. Tapi kita tidak balik lagi ke sana. Hari kedua ini kita balik lagi ke Marina Bay, lihat patung Marlion dan jelajah daerah di belakang China Town.

Foto bersama saudagar Alexander Johnson

 Foto-foto di Jembatan Cavenagh
Jembatan Cavenagh
 
 Memotret Bangunan 

Entah apa nama sungainya ini
 

Foto Patung First Generation
Patung itu bisa tahan dalam posisi seperti itu sampai kapan ya

Berfoto di Merlion Park
Kesilauan
Setelah kenyang berfoto-foto di Marlion Park, kita balik lagi ke Hostel untuk check out dan bawa barang. Setelah itu kita mencari makan di belakang China Town. Tapi sebelum sampai ke Maxwell Food centre yang dituju kita singgah dulu di Sri Mariamman Temple melihat orang keturunan India beribadat.

Masuk ke dalam Sri Mariamman Temple ini kita harus lepas sepatu dan kalau bawa kamera digital harus bayar. Makanya selama masuk kuil ini saya tidak mengeluarkan kamera lagipula ribet sama barang bawaan. Kalau Dani, dia diam-diam motret. Kalau ketahuan saya perhatikan yang Dani lakukan adalah pura-pura tidak lihat ke orangnya dan menjauhkan kamera digitalnya dari posisi membidik.

Sri Mariamman Temple


Foto Budha Temple
Budha Temple
Makan di Maxwell Food Centre
Pusat Makanan
Foto Di Ion
Di Ion
 Foto di Ion ini memang suatu keharusan. Dikarenakan kalau belum ke Ion atau Jl. Orchad ini berarti belum sepenuhnya kita ke Singapura. Foto di Ion merupakan aktivitas terakhir kami berkunjung ke Negeri Singa itu.

Seperti itulah cerita jalan - jalannya. Terima kasih untuk teman saya Dani yang sudah menjadi Guide sehingga kita tidak tersesat dan bisa kembali lagi ke Jakarta dengan selamat.

NB: Karena kita pakai MRT dan MRT satu ke MRT yang lainnya harus jalan begitu pula ke lokasi tujuan, maka harus dipersiapkan kondisi fisiknya.

Tuesday, February 11, 2014

Titik Nol Km Jl. Daendels

Siang ..... Kondisi saat ini sedang musim penghujan ... 
Tapi  kali ini saya tidak hendak membahas tentang hujan atau banjir melainkan tentang sejarah yaitu tentang Banten Lama. Lebih spesifiknya tentang Jelajah Jalan Daendels atau dikenal juga dengan Jalan Anyer - Panarukan atau Jalan Raya Pos.

Hari Minggu kemarin, tepatnya tanggal 26 Januari 2014, pertama kalinya di bulan pertama Tahun 2014 pergi bersama dengan Republika dalam rangka "Melancong Bersama Abah Alwi - Jelajah Jalan Daendels" .

Kunjungan pertama rombongan adalah ke Gedung Gubernuran Banten atau Pendopo Lama. Di sini kita diterima Wagub Provinsi Banten yang merupakan seorang artis yang beken di zamannya sampai sekarang pun masih, terkenal lewat perannya Si Doel. 

Beginilah ketika bertemu Si Doel dalam jabatannya.
Si Doel dan Abah Alwi

Dalam pertemuan itu, rombongan melakukan diskusi seputar Banten dengan Wakil Gubernur Banten. Si Doel mengatakan bahwa Budaya seni di Banten belum terinventarisir dengan baik. "Di Pulau Jawa hanya satu provinsi yang belum memiliki museum, dan itu adalah Banten", ujarnya. Lanjutnya Museum adalah sebuah peradaban manusia.

Keinginan Si Doel yang disampaikan kepada rombongan adalah ingin menjadikan Pendopo Lama sebagai Museum, karena kantor pemerintahan Banten selama ini tidak di Pendopo Lama tapi berada di lokasi yang baru. Makanya Pendopo lama ini kosong dan akan dijadikannya Museum ujar Si Doel.  Keinginannya yang lain adalah membuat Museum Krakatau di Mercusuar Anyer.

Sementara Abah Alwi, yang mewakili rombongan Republika mengatakan bahwa Semoga Rano bisa menjadi Gubernur dan menjadikan Banten ke arah yang lebih baik lagi.

Pertemuan terakhir dengan Si Doel diakhir dengan penyerahan Souvenir, Foto bersama dan makan siang.
  
Si Doel Menerima Souvenir dari Republika ...
Souvenir dari Republika
Abah Alwi Menerima Souvenir dari Republika.
Abah Alwi Menerima Souvenir dari Si Doel
Foto Bareng ...

Foto Bareng
Dari Gedung Residenan atau Pendopo Lama kita lanjut ke Mesjid Agung Banten. Tadinya kita mau ke Museum dulu, berhubung museumnya belum dibuka maka tidak jadilah masuknya. Rombongan pun langsung menuju Mesjid Agung Banten. Di sepanjang sisi kanan dan kiri jalan banyak sekali pedagang makanan dan souvenir. Salah satu makanan yang dijual adalah emping melinjo.

Penjual Emping Melinjo

Tapi sayang, saya tidak banyak motret mesjid Agungnya sendiri. Hal ini dikarenakan banyak orang yang mau sembahyang atau berziarah dan susah ambil angle yang enak. Masjid tertutup oleh para pedagang dan terlihat begitu kumuh. Sangat disayangkan tidak terawat padahal di serambi depan mesjid itu banyak terdapat makam. Sewaktu saya tanya, katanya itu makam sultan-sultan. Seperti ini suasana Mesjidnya.

Mesjid Agung Banten Lama
Dari sini kita lanjut ke Keraton Surosowan.

Tentang Surosowan

Apa itu Keraton Surosowan dapat dibaca dari gambar papan di atas. Ya, sesuai dengan informasi yang tertulis di atas, Keraton Surosowan memang sekarang ini hanya tinggal puing-puingnya saja karena dihancurkan Belanda. Menurut keterangan dari Guide kita, Mas Kartum, Keraton Surosowan dihancurkan Belanda karena ada hubungannya dengan sikap Kesultanan Banten yang keras atau tidak menerima kehadiran Belanda di Banten, berbeda dengan Kesultanan Cirebon yang masih ada sampai sekarang.

Seperti inilah keadaan Keraton Surosowan.
Benteng Surosowan
Nah, di dalam kompleks Keraton ini ada dua buah pemandian yang katanya dulu dipakai sebagai pemandian permaisuri sultan. Seperti ini kolam mandinya.
Konon katanya bekas pemandian permaisuri


Dan kalau yang bawah ini katanya pancuran emas.
Konon katanya ini Pancuran Emas
 Dari Keraton Surosowan kita bergerak maju menuju Titik Nol Km. Jl. Daendels atau terkenal juga dengan Jalan Anyer-Panarukan/Jalan Raya Pos.  Jalan Daendels membentang sepanjang 1000 km sampai Panarukan. Dibangun dengan cara kerja paksa (rodi).

Kalau saya baca dibukunya Pramoedya Ananta Toer, yang berjudul JALAN RAYA POS, JALAN DAENDELS.. disebutkan bahwa sebenarnya jalan ini sebelumnya sudah ada. Jadi, yang dilakukan pada masa Daendels ini adalah pelebaran dan pengerasan jalan. Setelah dilakukan pelebaran dan pengerasan maka Jalan Anyer - Batavia dapat ditempuh dalam sehari sebelumnya empat hari.

Menurut sumber informasi dari Inggris, seperti tertulis di Bukunya Pramoedya, diceritakan bahwa  Jl. Raya Daendels ini memakan korban sampai 12.000 orang. Sementara gagasan membikin Jalan Raya Pos muncul dalam benak Daendels sewaktu ia dalam perjalanan darat pada 29 April 1808 dari Buitenzorg alias Bogor ke Semarang dan Oosthoek alias Jawa Timur.

Adapun Daendels diangkat menjadi Gubernur Jenderal Hindia oleh Lodewijk Napoleon pada 1808 untuk menyelamatkan Jawa, satu-satunya pulau besar yang belum dikuasai Inggris.

Titik Nol Km Jl. Daendels

Nah, disekitar Titik Nol Km Jl. Daendels ada sebuah Menara atau Mercusuar Anyer. Nah sebelum hancur karena letusan gunung Krakatau letaknya Mercusuar ini ada disekitar titik Nol Km atau di bibir pantai (tapi ada yang bilang katanya Justru Nol km itu adalah Mercusuar Anyer yang runtuh). Setelah hancur mercusuar ini dibangun kembali tapi agak kebelakang dari posisi semula.

Mercusuar Anyer
Kalau dilihat secara fisik, bangunan ini mirip dengan Mercusuar Edam di Kepulauan Seribu. Saya masuk dan naik sampai atas. Setelah saya teliti bagian dalam dari Mercusuar ini pun tidak jauh berbeda dari Menara Edam. Seperti tangganya dan tiangnya. Untuk mencapai puncak kita harus melewati tangga yang berjumlah 17 buah dengan anak-anak tangganya.

Informasi pada Mercusuar Anyer
 Saya tidak mengerti Bahasa Belanda. Tapi dari tambahan informasi yang saya peroleh, Mercusuar ini dibangun pada zaman Raja WIllem III. Mercusuar pertama dibangun tahun 1883 dan setelah hancur oleh letusan Gunung Krakatau, maka dibangun Mercusuar kedua pada tahun 1885.

 Seperti inilah tangga dari Mercusuar ini.
Add caption

Inilah pemandangan dari atas Mercusuar Anyer:

Pemandangan dari Mercusuar Anyer
Daerah Banten ini masih hijau...

Jembatan Anyer
Seperti itulah kira-kira perjalanan menyusuri Jalan Daendels. Sebenarnya masih ada banyak tempat/lokasi yang dapat dilihat seperti Pelabuhan Karang hantu, Pemakaman Belanda yang terlihat tidak terawat dan kumuh serta masih banyak lokasi bersejarah lainnya tapi sayangnya bus yang kita tumpangi tidak berhenti dilokasi tersebut. Mungkin karena kita mengejar waktu dan bisa jadi juga disebabkan karena kondisi jalannya yang sempit. Sepertinya pelebaran jalan yang dilakukan Daendels masih sempit.

Selain itu, Banten memang terlihat kumuh sangat membutuhkan peremajaan dari Pemerintah Daerahnya. Teman saya yang berasal dari Serang juga mengatakan hal yang sama.  Apalagi sewaktu saya ke Toiletnya Pendopo Lama, heran saya, bangunan yang bersejarah itu kok tolietnya saja rusak. Padahal saya yakin pemasukan banyak. Semoga kelak kalau saya berkesempatan berkunjung ke sana semuanya sudah menuju ke kondisi yang lebih baik.

Friday, January 24, 2014

Memburu Koleksi Perangko di Gedung Filateli

Halooo ....
Sudah lama ya tidak update. Sebabnya memang tidak pernah traveling lagi. Okey, mengawali tahun baru 2014 ini saya ada sekelumit cerita sewaktu ikut acaranya KJB (Komunitas Jelajah Budaya) pada hari Minggu yang lalu, 19 Januari 2014.

Kepesertaan
 Agenda KJB pada kesempatan itu adalah Jelajah Pasar Baru. Meeting point di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Pas datang ke GKJ belum ada peserta yang datang begitupula dengan panitianya, pokoknya begitu bersemangatnya pergi dari kosan. Maklum sedang bosan dan lagi mencari-cari kegiatan yang bermanfaat terlebih saya juga belum kenal betul dengan daerah Pasar Baru. Meskipun kalau ke Gedung Kesenian Jakarta sudah sering untuk melihat pertunjukan.

Kunjungan pertama ke Gedung Kesenian Jakarta.
Gedung Kesenian Jakarta ketika Hujan

Sejarah Gedung Kesenian Jakarta bermula dari idenya Gubernur Sir Stamford Raffles yang menyadari bahwa tentara Inggris harus mempunyai tempat hiburan, maka  pada tanggal 27 Oktober 1814 sebuah gedung pertunjukan diresmikan. Gedung beratap alang-alang berdiri di atas tanah kosong di daerah Pasar Baru tidak jauh dari Pusat Pemerintahan Kota Batavia pada saat itu. Gedung ini diberi nama Gedung Teater Militer The Waltevreden akan tetapi orang Belanda memberi nama bambu teater.  Teater  Bambu inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya GKJ (Gedung Kesenian Jakarta).

 Bambu teater kemudian berada dibawah pemerintah Kolonial Belanda. Gedung tersebut tidak dihancurkan melainkan diubah menjadi Gedung Kesenian yang ideal dan permanen dengan gaya Yunani baru yang merupakan Evolusi dari Budaya Rococo yang populer pada masa itu. Gedung ini diresmikan pada tanggal 7 Desember 1821 dikenal dengan nama Gedung Kesenian Pasar Baru, Gedung Komedi, Schouwburg (Gedung Kesenian dalam bahasa Belanda).

Di masa pendudukan Jepang, Gedung ini digunakan sebagai markas Militer yang mengakibatkan banyak ornamen hiasan dan perlengkapan gedung yang rusak atau pun hilang, akan tetapi setelah dibentuknya Badan Urusan Kebudayaan Kemin Bunka Shidosho oleh pemerintahan pendudukan Jepang di bulan April, bangunan ini digunakan kembali sebagai tempat pertunjukan dengan nama Siritsu Gekizyoo. Menjelang Kemerdekaan Indonesia, Gedung Kesenian dijadikan lokasi oleh para seniman progresif untuk mempersiapkan Kemerdekaan.

Setelah Momentum Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Gedung Kesenian berubah fungsi dan nama sampai pada akhirnya mengalami periode terlantar yang cukup lama. Pada situasi ini ditambah dengan banyaknya keluhan dari para seniman mengenai kebutuhan tempat pertunjukan yang lebih memenuhi syarat selain Taman Ismail Marzuki yang sudah ada, maka Gubernur DKI Jakarta, R. Suprapto merenovasi gedung dan  mengembalikan ke fungsinya yang sesungguhnya. Arsitektur Gedung Kesenian tidak mengalami perubahan, hanya interior yang mengalami renovasi total yang disesuaikan dengan perkembangan zaman.


Eksterior Gedung Kesenian Jakarta

Mengunjungi semua tempat yang berada di Pasar Baru tentunya memiliki kesan-kesan tersendiri ya. Tapi yang sangat berkesan adalah sewaktu ke Gedung Filateli. Ceritanya saya khan mulai merintis hobby filateli, jadi ya berkunjung ke sana merupakan point plus.


KJB
Coba perhatikan gedung Filateli pada gambar di atas. Apa yang terlintas di benak teman-teman? Ketua rombongan KJB, Mas Kartum, memberitahu kami bahwa Gedung Filateli ini bangunannya sama dengan Stasiun Jakarta Kota.  Jaman dulu dikenal dengan PTT (Pos Telegraf dan Telepon) dibangun pada tahun 1913 dan memiliki Gaya Art Deco. Apa itu Art Deco? teman-teman bisa mendapatkan informasinya dengan googling. Tapi intinya gaya art deco itu muncul ketika zaman perang Dunia 1 (satu). 

Gedung Filateli ini menghadap ke Pasar Baru dan Kali Ciliwung. Lalu apa yang berada di dalam gedung Filateli?

Jawabannya adalah di dalam gedung disimpan koleksi seperti sepeda onthel lama, koleksi seri perangko baru, bekas dan perangko lama yang belum dipakai ada juga postcard dan sebagainya. Kita juga bisa beli perangko di sini. Mereka buka dari hari Senin sampai Sabtu. Tapi hari Minggu kemarin itu, spesial untuk rombongan KJB.

Mejeng dulu di Bis Surat lama

Tak melewatkan begitu saja ketika masuk ke Gedung Filateli. Saya pun hunting perangko.

Perangko Seri Pahlawan Nasional
Perangko Seri Pahlawan Nasional ini saya dapatkan setelah membuka-buka Album Perangko yang diberikan Bapak yang juga bekerja di Gedung Filateli itu. Dijual seharga Rp. 40.000,- itu pun setelah dipotong diskon. Perangko lama tapi belum dipakai.

Saya juga Perangko Bung Karno.


Bung Karno dalam Lembar Perangko
 Untuk Perangko Bung Karno, dijual Rp. 9.000,- Ada Perangko Pak Harto yang sangat ingin dibeli tapi harganya mahal dan karena tidak bawa uang, tidak jadi belinya. Perangko Pak Harto dijual Rp. 120.000,- Ini berarti sosok Pak Harto masih Favorit.
Perangko Pak Harto masih Favorit

Berharap semoga jika ada kesempatan ke Gedung Filateli lagi Perangko Pak Harto masih ada ya. 

Next,
Dari Gedung Filateli kita menyeberang melewati Kali Ciliwung ke Galeri Antara. Gedung ini dulu merupakan kantor ANETA (Algemen Niews en Telegraaf Agentschap) bergerak dalam bidang pemberitaan, periklanan dan penerbitan majalah. Pada masa pendudukan Jepang, Kantor Berita Aneta diambil alih dan diganti namanya menjadi Kantor Berita Jepang Yashima. Dalam perkembangan sejarah Bangsa Indonesia gedung Antara mempunyai peranan yang penting dalam menginformasikan dan menyebarluaskan berita proklamasi.

Setelah Proklamasi dibacakan oleh Soekarno, kemudian Adam Malik bersama Pangulu Lubis menyiarkan teks Proklamasi melalui radio Antara tanpa persetujuan terlebih dahulu dari Hondokan (lembaga sensor Jepang). Itulah sejarah gedung Aneta yang sekarang dipakai menjadi Galeri Antara.


Gedung Antara
 Sayang sekali tidak punya lensa wide, jadi tidak semua bagian dari gedung ini dapat dicapture lensa dan sayang itu kabel-kabel yang melintang mengurangi keindahan foto. Hehehehe... semoga nanti kita dapat melakukan teknik kabel yang ditanam ya agar tertib.

Mari kita tengok apa yang berada di dalam Gedung Antara ini.
Ya di dalam galeri ini dipajang foto-foto Zaman Kemerdekaan.

Bung Karno dalam bingkai Foto

Melangkah ke lantai dua, kita dapat melihat koleksi Mesin Tik,  Mesin Percetakan, Radio dan Sepeda Onthel.

Proklamasi Kemerdekaan Tersiar sampai Semarang
Mesin Cetak


Mesin Cetak

 Mesin Tik
Tik tok tik tok

Sepeda Onthel 

Terkesima dengan Sepeda Onthel
Foto Bersama
Rombongan KJB di Galeri Antara

Kunjungan yang terakhir yaitu ke Pasar Barunya dan mengunjungi Kelenteng Sin Tek Bio.
Kalau di Pasar Baru ada bangunan lama dari masa kolonial seperti Toko Kompak, Gedung Nyonya Meneer, Toko Shin Lee Seng dan Gang Kelinci.

Toko Kompak
Rombongan KJB waktu itu diperbolehkan masuk ke dalam Toko Kompak tapi tidak boleh memotret. Ternyata gedungnya luas ke belakang dan berlantai dua tapi sayangnya sudah rusak perlu direnovasi. Sang Pemilik rupanya memilih membiarkan bangunan lama terbengkalai. Konon katanya bangunan ini sudah ada sejak Zaman kolonial. Dulu banyak pejabat Belanda yang suka belanja ke sini dan katanya kalau lagi perayaan Imlek di lantai dua ini digunakan untuk melihat pertunjukan barongsai atau perayaan imlek. Orang-orang biasanya memberikan angpau dari lantai dua ini, sehingga barongsai harus meloncat setinggi-tingginya agar mendapatkan angpau.

Di depan Toko Kompak ini dipakai untuk berjualan. Tapi Toko Kompaknya sendiri saat ini tinggal nama tidak dipakai sebagai toko sebagaimana fungsi awalnya. Tapi memang pintunya dibuka. Jadi kita bisa masuk, itu pun kalau sudah mendapatkan ijin terlebih dahulu.

Sedikit informasi tentang sejarah Passer Baroe. Katanya pada masa lalu pasar ini dikenal sebagai pusat ekonomi yang banyak menjual barang-barang bermerk. Lantas kenapa namanya Passer Baroe? Awalnya Pasar baru didirikan oleh Daendels tahun 1821 untuk membedakan Pasar Senen dan Pasar Tanah Abang yang lebih dulu berdiri.

Gedung Nyonya Meneer
Pabrik Djamu Nyonya Meneer
Gedung atau Pabrik Jamu Nyonya Meneer yang berada di Pasar Baru ini katanya sudah ada sejak Zaman penjajahan Belanda. Sayang pabrik jamu Nyonya Meneernya sendiri tutup, tapi katanya biasanya buka. Kalau kita lebih mendekat lagi di besi pintunya ada tulisan "Perusahaan Djamu". Nah sewaktu berkunjung ke sini di depan perusahaan djamu ini seperti terlihat pada gambar di atas dipakai lapak berjualan pedagang.

Tertera "PERUSAHAAN DJAMU"


Seperti itulah cerita dari Jelajah bareng KJB.
Sayang waktu itu lagi hujan jadi ya tidak dapat langit yang biru.
Ok, nantikan cerita berikutnya ya .... tks

 





 

Friday, November 8, 2013

Sampai ke Perbatasan Indonesia - PNG

Tak dinyana ternyata saya kembali lagi ke Jayapura untuk kedua kalinya. Kepergian kedua kali ini dalam rangka Kunjungan Kerja (Kunker) bersama Komisi V DPR RI. Jadi, otomatis semua akomodasi ditanggung sama kantor. 

Kunker kali ini sebenarnya melengkapi cerita travellingku ke Papua, khususnya Jayapura. Bulan Agustus lalu tidak sempat ke Perbatasan Indonesia - Papua Nugini. Salah satu alasannya karena khawatir terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. Maklumlah karena waktu itu berdekatan dengan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945. Namun, sewaktu kunker kemarin, akhirnya bisa tembus juga ke perbatasan dan sebenarnya kunker ini bertepatan dengan Hari Ulang Tahunku, 28-31 Oktober 2013.

Kunjungan yang sangat berkesan tentunya adalah bisa meninjau Perbatasan Indonesia - Papua Nugini di Skow. Ternyata kata boss perbatasan Indonesia - Papua Nugini juga ada di Merauke. Nah kalau yang di Merauke kita bisa melihat Taman Nasional Wasur. Di sana terdapat banyak rumah rayap yang tinggi-tinggi dan juga Kangguru. Okey, next time ya, kalau berkesampatan ke Merauke, semoga tidak melewatkannya.

Sekarang saya akan menceritakan apa yang ada di Perbatasan Indonesia - Papua Nugini. Oh ya, kalau dari Jayapura ke Perbatasan bisa ditempuh dengan waktu sekitar satu jaman. Di sepanjang jalan memang sepi. Tapi waktu itu lagi ada event. Ada Menpora. Bahkan rombongan kita berpapasan dengan mobilnya ketika akan menuju Perbatasan. Selain itu, menjelang perbatasan kita dapati pos TNI. Terpikirkan jadinya, bagaimana ya para prajurit ini mencari hiburan. Sementara disekelilingnya tidak ada hiburan yang ada hutan atau kebun, rawa dan pantai.

Dan seperti inilah perbatasan Indonesia - Papua Nugini.

Di Perbatasan Indonesia - Papua Nugini bersama Para Mitra Kerja
Nah itu dia, tugu bertuliskan Welcome To Papua New Guinea menjadi primadona. Baik anggota dewan atau kita sebagai para mitra kerja antri foto dengan latar belakang tugu itu.
Saya juga tidak ketinggalan minta difoto dengan Orang Papua Nugininya sendiri. Mereka ada yang mengerti bahasa Inggris ada juga yang tidak. Seperti inilah kalau berfoto dengan Orang PNGnya sendiri.

Berfoto bersama Orang PNG

Ketika kita masuk ke batas pagar perbatasan ada sebuah Billloard seperti ini.

Saya tidak mengerti apa artinya
Tidak mengerti apa arti dari kata-kata yang tercetak di dalam Billboard tersebut tapi sepertinya mengingatkan tentang AIDS atau pemakaian Kondom.

Di dalam Perbatasan, kita juga bisa melihat adanya laut dan juga warung kecil yang menjual beberapa macam souvenir seperti kain.

Souvenir
Untuk Souvenir ini saya beli satu kain yang bertuliskan Papua New Guinea dan ada gambar petanya. Harga satu lembar kain ini dijual Rp. 150.000,- Saya tawar tapi sang penjual tidak mau melepaskannya dibawah harga yang sudah dipatok.

Tak lupa juga untuk berfoto dengan anak PNG.
Bersama anak PNG
Sebenarnya Rombongan berkunjung ke perbatasan itu hendak meninjau Mercusuar. Seperti inilah Mercusuar yang ada di perbatasan Indonesia - PNG.
Mercusuar Perbatasan Indonesia - PNG
Mercusuar ini kalau saya baca dari informasi di spanduk berfungsi membagi batas wilayah Negara RI - Papua Nugini. Konstruksinya beton bertulang.

Seperti itulah sedikit gambaran tentang Kunjungan ke Perbatasan Indonesia - PNG. Sayang sewaktu berkunjung ke sana langitnya tidak cerah.