Search This Blog

Saturday, January 5, 2013

Bali dalam Tiga Kali Kunjungan

Pagi teman-teman ...
Sharing kali ini adalah tentang cerita Kunjungan ke Bali. Bulan Desember 2012 sih kunjungannya tapi blognya baru sekarang. Mulai saja yuk ceritanya.

Kunjungan Pertama
Bulan Desember yang lalu itu, saya ke Bali sebanyak tiga kali kunjungan.Kunjungan Pertama itu pada tangggal 11-13 Desember 2012 dalam rangka Dinas dari kantor ikut Bimtek bersama Komisi Informasi Pusat.  Nah, acaranya ternyata dipadatkan pada hari pertama dan kedua. Review dan Penutupan dilakukan pada hari kedua sampai malam hari. Hari ketiga bebas. Jadi saya berkeliling-keliling Balilah dengan charter Taxi. Disitulah gunanya ada Taxi, pergi sendiri tak jadi masalah karena didukung akomodasi yang mudah.

Sebelum cerita acara keliling Bali pada hari ketiga, saya ada cerita lain. Nah, bulan di Desember lalu itu khan ada tanggal yang special yakni, 12-12-2012. Ingin tahu apa hal spesifik yang saya lakukan tentunya selain ikut Bimtek?

Ya, jawabannya adalah pada tanggal 12-12-2012 itu memang saya ada di Bali ikut Bimtek dan hal yang spesifik atau khusus dilakukan di sana adalah menikmati tari kecak untuk pertama kalinya di daerah asalnya. Tempat pertunjukkannya sendiri di Stage Uma Dewi, Denpasar. Saya menikmati tari kecak itu bersama teman sekamar Mbak Irma, dari Kemenkeu. Kebetulan waktu pertunjukkannya itu sewaktu break acara dari sore sampai malam. Tadinya mau ke Pantai Kuta, tapi Mbak Irma bilang pantai dimana-mana ada dan tetap bentuknya seperti itu. Jadilah kita nonton Kecak.

Bersama Mbak Irma
Dan inilah pertunjukkannya:
Tari Kecak
Nah, tari kecak ini tidak diiringi dengan alat musik atau gamelan apapun. Tetapi diiringi paduan suara pria. Berapa jumlahnya? kemarin tidak sempat menghitung tapi kalau dilihat dari foto di atas tidak mencapai 100 orang ya. Mungkin karena indoor ya.

Pada tahun 1930-an mulai disisipkan cerita  Epos Ramayana ke dalam Tari kecak. Secara singkat ceritanya seperti ini:

Karena akal Jahat Dewi Kekayi (ibu tiri) Sri Rama, Putra mahkota yang syah dari kerajaan Ayodya, diasingkan dari istana ayahandanya Sang Prabu Dasarata. Sri Rama pun pergi ke hutan Dandaka ditemani oleh adik laki-lakinya dan isrinya yang setia. Pada saat mereka berada di hutan, keberadaannya diketahui oleh Prabu Dasamuka (Rahwana) seorang raja yang lalim. Rahwana pun terpikat oleh kecantikan Dewi Sita (istri Sri Rama). Ia lalu membuat upaya untuk menculik Sita, dan ia dibantu patihnya, Marica. Dengan kesaktiannya, raksasa Marica menjelma menjadi seekor kijang emas yang cantik dan lincah. Padan akhirnya Sita dapat dipisahkan dari Rama dan Laksamana. Rahwana lalu menggunakan kesempatan ini untuk menculik Dewi Sita dan membawanya kabur dari Alengka Pura. Dengan tipuan ini maka Rama dan Laksamana berusaha menolong Sita dari cengkraman raja yang kejam itu. Atas bantuan bala tentara kera dibawah panglima Sugriwa maka mereka berhasil mengalahkan bala raksasa Rahwana yang dipimpin  oleh Meganada, putranya sendiri. Akhirnya Rama berhasil merebut kembali istrinya dengan selamat.

Seperti itu cerita singkatnya. Pertunjukkannya sendiri terbagi ke dalam beberapa adegan ya. Lalu ada tarian Sanghyang Dedari dan juga Tarian Sanghyang Jaran di akhir.

Nah, Tari Sanghyang Dedari ini dibawakan oleh dua orang gadis mungil di bawah umur, karena keperawanan berarti kesucian. Sanghyang sendiri artinya "Suci" sementara Dedari artinya Malaikat. Tari Sanghyang Dedari ini dipertunjukkan untuk mengusir roh-roh jahat yang mengganggu penduduk desa dalam wujud wabah atau kematian.
Dua orang gadis kecil menarikan Tari Sanghyang Dedari
 Lucu banget deh, lihat dua orang gadis yang mungil itu... saya pun berfoto bersama ..

Bersama Penari Kecak
Sementara Tari Sanghyang Jaran itu, ditarikan oleh seorang laki-laki kesurupan, yang berjingkrak-jingkrak seperti tingkah laku seekor kuda. Ia menari di atas bara api terbuat dari sabut kelapa.

Itu tadi kegiatan di tanggal 12 Desember 2013. Lanjut sekarang ke tanggal 13 Desember 2012. Hari itu saya pulangnya jam 7 malam. Jadi berkesempatan keliling Bali dulu seharian. Seharian itu charter  taxi habis Rp. 350.000,-  itu rutenya dari Jogger sampai Uluwatu. Pokoknya kalau ke Bali diusahakan untuk ke Jogger.
Habis dari Jogger saya lanjut ke GWK, Garuda Wastu Kencana. Masuk ke GWK bayar Rp. 30.000, ya ...

Patung  Dewa Wisnu

Dewa Wisnu ini katanya merupakan ilustrasi tentang manifestasi kemahaagungan Tuhan ketika memelihara dan merawat ciptaannya. Dewa Wisnu adalah pemilik Amerta yang berwujud air sebagai sumber kesuburan yang terkait erat dengan kemakmurandan kehidupan jagat raya dengan segala isinya.

Pas sampai di GWK tidak terlalu ramai, mungkin karena bukan bulan liburan. Jadi ya agak sepi.

Patung Burung Garuda
Arah ke belakang dari Plaza Wisnu ini kita  dapat melihat Paza Garuda. Di sini terdapat patung burung Garuda. Figur burung Garuda sebagai kendaraan Wisnu ditafsirkan sebagai simbol kesetiaan dan pengabdian yang disertai pengorbanan tulus kepada sang penguasa. Juga sebagai kebebasan dan kemerdekaan berimprovisasi, berkreasi dan apresiasi dalam berbudaya khususnya dalam aktivitas berkesenian serta simbol pembebasan dari bentuk-bentuk pembelengguan dan perampasan hak-hak azasi. Seperti itu ceritanya.

Dan, di GWK ini ada sebuah Teater dan ada dipertunjukkan salah satunya tarian Barong. Seperti ini Jadwalnya.
Jadwal Barong Dance 

Kalau kita ingin nonton Tari Barong, tinggal masuk saja ke dalam teater di sesuaikan dengan jadwal. Free kok, gak bayar lagi.
Tarian Barong
Dan setiap pertunjukan tarian itu ada dancenya yang lain..
Penari Bali
Sayang teman-teman, saya tidak bisa menjelaskan tentang Barong Dance ini karena tidak diberi brosur. Saya sih cari-cari, tapi tidak ada. Jadi lewat blog ini saya menghimbau pengurus daripada Garuda Wisnu Kencana (GWK) untuk membuat brosur yang menjelaskan tentang pertunjukkan yang ada. Sehingga para penonton bukan saja enjoy menonton dan mengambil foto, tapi juga mengerti apa cerita dibalik tarian tersebut. Terima kasih.

Dari GWK, saya lanjut ke Uluwatu. Nah satu hal yang perlu diingat teman-teman, kalau kita ingin berkeliling, agar bisa mengunjungi banyak tempat maka harus searah lokasinya. Saya khan arahnya menuju Bandara. Jadi memang dari Jogger - GWK - Uluwatu - Bandara, itu sudah searah.

Nah, masuk ke Ulluwatu itu kita bayar retribusi lagi sebesar Rp. 15.000,-

Uluwatu

Apa sih yang dapat kita nikmat di Uluwatu?
Di Uluwatu itu kita dapat menikmati Indahnya biru air laut, tebing dan melihat Pura. Ya, Uluwatu itu sebenarnya ada sebuah Pura yang letaknya di pinggir. Bagus deh pemandangannya. Hebat yang pilih lokasi. Oh ya, banyak juga monyet di sana.

Dari Uluwatu lanjut deh ke Bandara, tapi sebelum sampai bandara kita bisa melihat pantai Padang-Padang. Meski tidak turun, kita dapat melihatnya dari atas jalan.

Pantai Padang-Padang

Demikian tadi kunjungan saya ke beberapa lokasi pada term atau kunjungan pertama.

Kunjungan Kedua
Kunjungan kedua ini sebenarnya transit saja dalam rangka jelajah ke Flores. Dari Jakarta berangkat tanggal 21 Desember 2012, malam. Sementara pesawat dari Bali ke Labuan Bajo itu jam satu siang, tanggal 22 Desember. Otomatis harus transit dan nginap dulu di Bali.

Saya nginep di hotel yang bergaya Surfing.
Sebuah hotel di Bali
Tanggal 22 Desember  Pagi itu, sehabis sarapan di Hotel, saya langsung menuju lokasi Monumen Tragedi Kemanusiaan alias Monumen Peringatan Bom Bali, 12 Oktober 2002.
Monumen Tragedi Kemanusiaan
Monumen ini letaknya di Legian. Dekat kok dari hotel tempat saya nginap. Sayang nampak tidak terawat, Kusam kelihatannya. Pas ke sana ada petugasnya yang lagi bersih-bersih.

Lanjut, dari Monumen saya lanjut ke Tanah Lot. Masuk Tanah Lot harus bayar retribusi lagi sebesar Rp. 10.000, dan parkir mobil Rp. 5000,-
Tanah Lot
 Masih pagi waktu sampai di Tanah Lot. Namanya juga sedang bersemangat bangun pagi. Di sini saya coba mencicipi air suci. Di bawah Pura itu, ada sumber mata air tawar ya. Entah lah bagaimana cerita jelasnya itu.

Coba Air Tawar di bawah Pura Tanah Lot
Kukira gratis ya, ternyata eh ternyata, tidak. Maksudnya kita diminta suka relanya untuk menyumbang. Jadi, sehabis kita mencoba air itu, orang Balinya lalu menyelipkan bungan dan mendoakan kita gitu. Lalu kita diminta kerelaannya untuk menyumbang.

Didoakan

Ini nih nama sumber mata airnya ...
Sumber Mata Air Tawar
Setelah mencicipi air tawar yang ada di bawah Pura tanah Lot itu, lalu saya lihat ular. tapi tidak bergerak ularnya.

Holy Snake

Di Tanah Lot itu, selain kita dapat menikmati pantainya, melihat pura, air suci dan ular, kita juga bisa ambil foto atau melihat orang Bali bersembahyang di pura itu. Waktu yang lalu itu tidak banyak sih saya lihat yang bersembahyang. Mungkin karena tidak ada acara juga ya. Nih, hanya beberapa orang saja terlihat mau sembahyang.
Mau sembahyang atau Ibadah
Demikianlah kunjungan kedua saya ke Bali.

Kunjungan Ketiga

 Kunjungan ketiga ke Bali terjadi pada tanggal 28 Desember 2012. Itu pun karena transit dari Maumere ke Jakarta. Dari Maumere ke Denpasar, tiba pagi hari, sementara penerbangan dari Denpasar ke Jakarta malam. Jadinya punya seharian  waktu senggang. Kesempatan ini saya pergunakan untuk melihat Air Terjun GitGit di Buleleng. Seperti biasanya, kalau jalan-jalan sendiri mengandalkan taxi. Ke Buleleng dari Denpasar Pulang Pergi menghabiskan waktu sekitar tiga jam. Itu belum kalau kita berhenti di suatu tempat.
Ongkos taxinya bisa argo atau borongan. Kalau Argo Mahal, kalau borongan bisa Rp. 500.000 per delapan jam.

Waktu itu hujan, tapi alhamdulilah pas sampai sudah reda, maksudnya rintik-rintik. Jadi bisalah jalan.
Air terjun Gitgit ini ternyata ada tiga buah. Yang twin, single dan satu lagi single paling bawah.

Air Terjun GitGit ke bawah
 Dan ini air terjun twinnya ..
Air Terjun Twin Gitgit
Dan ini dia Air terjun singlenya.
Air terjun Gitgit Single
Sayangnya masuk ke area air terjun ini bayarnya mahal sekali. Masa ditagih Rp. 150.000,- waktu itu sih karena sewa payung dan ditemenin guidenya. Petugasnya bilang uang itu akan digunakan untuk perbaikan jalan. Ya, muda-mudahan saja, nanti pas saya balik lagi jalannya sudah lebih bagus dari yang sekarang.

Demikian seluruh cerita kunjungan saya ke Bali di bulan Desember 2012.

No comments:

Post a Comment