Search This Blog

Friday, August 10, 2012

Ngabuburit Ke Kampung Arab Pekojan

Selama bulan puasa ini, terbilang hanya satu kali Ngabuburit. Itu pun ikut bersama dengan Komunitas Jelajah Budaya (KJB) dengan leadernya siapa lagi kalau bukan Mas Kartum.  Ngabuburitnya sendiri diadakan hari Minggu yang lalu,5 Agustus 2012.

Alasan ikut ngabuburit berangkat dari rasa penasaran dengan Kampung Arab Pekojan itu seperti apa keadaannya. Apakah benar sesuai dengan namanya banyak ditinggali orang arab.  Selain itu, salah satu tujuan ngabuburit ke Kampung Arab Pekojan adalah untuk melihat beberapa Mesjid bersejarah yang ada di sana.

Sebelum lanjut ceritanya saya mau informasikan tentang arti dari nama Kampung Arab Pekojan.
Nama Pekojan berasal dari kata Khoja atau Kaja yang berasal dari suatu nama daerah di India yang sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai pedagang atau saudagar dan beragama Islam.  Selain berdagang, Para Saudagar juga menyebarkan agama islam di daerah ini.

Menurut Prof.  van de Berg dalam bukunya "Hadramaut dan Koloni Arab di Nusantara" menyebutkan Pekojan sebelum dihuni oleh etnis Arab dari Hadramaut terlebih dahulu menjadi kediaman orang-orang Bengali/Koja dari India.

Seperti yang kita ketahui, pada masa VOC ada kebijakan terhadap etnis yang ada di Batavia yaitu dengan menempatkan orang di suatu daerah tertentu berdasarkan etnisnya.
 
Start dari Musuem Bank Mandiri  kita menuju Kampung Arab Pekojan ya lewat belakang Museum. Kukira tadinya kita pergi naik Angkot, ternyata jalan kaki dan itu melewati Pasar Pagi.

Orang China yang Tinggal di Kampung Arab Pekojan
Disepanjang jalan menuju Kampung Arab Pekojan itu telihat bangunan tua. Gayanya sih China dan ternyata kata Mas Kartum, sekarang ini yang tinggal di Kampung Arab Pekojan bukan orang Arab tapi sudah digantikan oleh mayoritas etnis Tionghoa Tapi ya, kita masih bisa berjumpa dengan satu atau dua orang arab di sana. Ya, masih ada lah orang Arab di sana tapi tidak banyak.

Orang yang tinggal di Kampung Arab Pekojan

Bagaimana menurut teman-teman tentang mereka? Mirip  keturunan Tionghoa atau tidak?
Intinya sih di Kampung Arab pekojan, kalau saya lihat selain  ada keturunan etnis Tionghoa, Arab,  suku lain juga ada yang tinggal di sana .

Bangunan Tua

Bangunan tua dengan Huruf China

Pada bangunan tua yang kita lihat di atas ada huruf China. Ini salah satu bukti bahwa memang Orang China sudah tinggal di daerah ini ...

Bangunan Tua Lainnya
 


Pasar Pagi
Pasar Pagi
 Ya, ini dia Pasar Pagi, Kita melewati pasar ini. Dilihat dari gaya bangunannya dan warnanya, itu adalah ciri Khas China.


Masjid Al-Anshor

Masjid Al-Anshor

Masjid Al-Anshor merupakan masjid pertama yang kita jumpai. Letaknya diantara perumahan penduduk. Masuk gang sempit. Masjid Al-Anshor ini berdasar keterangan dari catatannya mas Kartum mulanya merupakan sebuah Surau, dibangun tahun 1648 M.

Tukh dilindungi oleh Pemerintah

Dan ini bagian dalam dari Masjid Al-Anshor:

Bagian dalam Masjid Al-Anshor

Masjid Ar-Raudah

Bagian Dalam Mesjid Ar-Raudah
Bagian dalamnya khususnya mimbarnya tidak terlihat lurus ya.. lihat saja sajadah-sajadah itu.
Ciri khasnya mesjid ini jendelanya Besar-besar dan ada kolam kecil, bekas tempat wudhu zaman dulu, seperti ini:

Kolam kecil tempat wudhu dulu
Kalau lihat kolam kecil itu jadi teringat masjid di kampung halaman. Di Masjid Cijeruk dulu ada kolam yang seperti ini ya ...

Sejarah Masjid Ar-Raudah seperti ini, pada awal abad ke-20 di Pekojan berdiri sebuah madrasah Jamiatul Khair (Perkumpulan kebaikan) yang didirikan pada tahun 1901. Organisasi ini dibentuk oleh Ali dan Idrus, keduanya dari keluarga Shahab. Perkumpulan ini menimbulkan simpati dari tokoh-tokoh islam seperti, KH Ahmad Dahlan yang kita kenal sebagai pendiri Muhammadiyah, HOS Cokroaminoto (pendiri Syarikat Islam) dan H. Agus Salim.

Pada tahun 1903, Jamiatul Khair mengajukan permohonan untuk diakui sebagai organisasi, namun baru tahun 1905 permohonannya dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Dari tempat inilah diperkirakan timbul ide para pemuda Islam kala itu untuk membentuk organisasi lainnya seperti organisasi Budi Utomo yang berdiri tahun 1908.

Jamiatul Khair banyak mendatangkan guru agama dari negara Islam dan juga menyebarkan surat kabar Al-Mu'yat dan majalah Al-Liwa berbahasa Arab yang menyebarkan paham Pan Islamisme di Batavia dan Nusantara. Nah tempat bedirinya Jamiatul Khair sekarang ini, yang biasa disebut Masjid Ar-Raudah.

Masjid An-Nawier

 Dari  masjid Ar-Raudah kita menuju Masjid An-Nawier ...

Lihat tahun didirikanya mesjid ini di atas

Yup, sesuai dengan keterangan di papan nama yang dapat kita baca, Masjid An-Nawier ini dibangun pada tahun 1760 M.

Bagian Mihrab
 Yup, di bagian Mihrab itu ada sebuah mimbar yang dapat dilihat jelas oleh kita. Nah katanya mimbar yang berukir itu hadiah dari Sultan Pontianak yang diberikan pada abad ke-18. Selain itu, di Masjid ini terdapat tiang yang berjumlah 33 buah, seperti berikut ini:

Rangkaian Tiang Masjid
Masjidnya lumayan besar dan memang fokusnya  Masjid ini ada pada bagian depannya (kalau dilihat dari gambar di atas), dengan kata lain bentuk lantainya persegi enam. "Bentuk persegi enam sudah ada ketika zaman Majapahit", kata mas Kartum.

Selain itu, peninggalan yang lain dari  masjid ini berupa Menara setinggi 17 Meter. Menara ini memiliki peranan dalam perang kemerdekaan untuk "Persembunyian" para pejuang dan juga sebagai pengeras suara.
Nah,  saya juga sempat naik ke menara Masjid ini dan melihat sunset dari jendela menara yang terbuka. Seperti inilah pemandangan yang cantik itu.

Sunset dari Menara
Beautiful bukan teman pemandangannya? Sunset memang dapat dinikmati bukan dari tepi pantai. Di dalam kota juga kita bisa menemukan Sunset :)

Oh ya, ternyata di masjid ini ada peninggalan sebuah Makam Syarifah Fatmah binti Husein Alaydrus yang mendapat julukan 'Jide' (nenek kecil), tapi sayang saya gak dapat fotonya ya. Satu hal lagi, masjid An-Nawier ini pada tahun 1850 mengalami rehabilitasi oleh seorang Komandan bernama Dahlan yang berasal dari Banten.

Jembatan Kambing 

Jembatan Kambing

Nah, tepat keluar dari Masjid An-Nawier kita bisa langsung melihat Jembatan Kambing.
Kok namanya Jembatan Kambing ya?
bedasarkan keterangan Mas Kartum bilang memang dulu dipakai untuk mengangkut kambing dari arah Selatan. Kalau kita berjalan dari mengikuti arah motor seperti nampak pada gambar di atas lalu belok kanan, di sana tepat ada kandang kambing ya heheheee... Yup itu benar. tercium bau kambingnya tapi saya tidak jelas melihat kambingnya itu ya :)

Masjid Langgar Tinggi
Ini dia masjid yang terakhir kita kunjungi, namanya Masjid Langgar Tinggi. DIbangun pada tahun 1829 M oleh seorang kapiten Arab yang bernama Syekh Said Naum. Gaya bangunannya mendapat pengaruh dari Eropa dan Tionghoa.

Lihat Masjid ini dengan jelas
Gambar di atas merupakan salah satu sudut pengambilan Masjid Langgar Tinggi ya... dan coba perhatikan sudut pengambilan yang lain berikut ini:

Perhatikan bagian bawahnya

Yup, masjid Langgar Tinggi ini memang unik, khususnya bagian bawahnya. Jadi, bagian bawah Masjid ini dipakai untuk jualan atau berdagang ya. Sementara bagian atasnya merupakan masjid. Oleh karena itulah disebut dengan Masjid Langgar Tinggi karena dua lantai. Untuk langgar sendiri merupakan istilah lain dari Musholla kecil.

So, teman-teman, ngabuburitlah selagi masih puasa atau kalau ada waktu sewaktu waktu jalanlah ke Kampung Arab Pekojan ya, banyak bangunan tua yang dapat kita lihat di sini.

Friday, August 3, 2012

Ikut Rubrik Postcard Hasilnya untuk Portofolio

Hehehee, judulnya ya seperti yang dapat dibaca oleh teman-teman. Awalnya sih aku suka nulis blog, jepret-jepret meskipun tekniknya NOL. Tapi sudah gaya dengan kamera SLR, meski gak terlatih pakainya. Belajarnya pun otodidak awalnya. Ke sininya banyak diajari teman. Sebut saja Dani..yang ketemu pas waktu acara seren taun di Kasepuhan Sinar Resmi  banyak diberi masukan sama Dia. Bahkan kita pernah hunting foto bersama waktu ada acara Little Tokyo di Blok M. Itulah banyak sedikitnya aku tahu cara mengoperasikan si EOS 60 D ku meskipun masih pusing. Oh ya selain Dani ada juga Mbak Tri yang pernah memberi masukan soal teknik memotret.

Kalau untuk seminar pernah ikut, itu free seminar ya. Liputannya pernah aku tulis di sini. Tapi memang memotret itu harus banyak praktek ya..  Teori saja kalau tidak dipraktekan apalah guna maksudnya akan kurang maksimal pencapaiannya. Nah, bicara soal fotografi itu memang untuk sebagian orang ada yang merupakan profesi. Jadi banyak yang suka hunting foto dan dari hasil foto itu ada yang suka menjualnya menjadi pendapatan tersendiri. Dani pernah cerita soal itu padaku. Bahkan fotonya dia pernah dihargai lumayan besar lho nilainya. Dari ceritanya Dani itu aku terinspirasi. Mengapa tidak aku coba untuk kirim fotoku ke majalah. Jadi tidak hanya ngeblog saja tapi  aku pun dapat pengalaman lainnya.

Itu ceritanya.. Lanjut. Berhubung aku, suka pergi keluar kota dengan pesawat, maka  dari sinilah awal mula aku tertarik dengan isi majalah penerbangan itu. Sebut saja ada majalah Garuda. Aku senang sekali membaca misalnya cerita para traveler atau melihat fotonya yang bagus-bagus. Kalau untuk majalah Garuda ini suka aku bawa pulang ya. Soalnya memang diperbolehkan.

Nah, suatu ketika aku pergi tugas ke provinsi Bengkulu, kebetulan maskapai yang melayani rute Jakarta-Bengkulu adalah LION AIR. Mau tidak mau kita pakai itu pesawat. Nah, di dalam pesawat ini saya temukan sebuah majalah namanya LIONMAG. Aku buka-buka dan langsung tertarik dengan rubrik Postcard.  Pada rubrik ini isinya foto dan juga cerita tentang foto itu yang tidak terlalu panjang ada sekitar satu paragraf. Kebetulan di halaman atasnya itu dicantumkan penawaran. Penawaran itu berupa alamat email untuk siapa saja yang ingin mengirimkan foto. Wah aku tertarik untuk kirim foto ke alamat email tersebut, makanya pas pulang dari Bengkulu itu saya bawa majalahnya. Maaf ya saya ambil Majalahnya hehehee..

Aku cari foto yang bagus untuk dikirim ke Majalah LIONMAG. Putusan pun dijatuhkan pada sebuah foto Gunung Gamalama yang kuambil sewaktu tugas ke Ternate. Viewnya sudah bagus ya, jadi tidak usah banyak merekayasa hanya tinggal didukung kamera dan klik kontras maka hasilnya luar biasa. Setelah kukirim lewat email, tanggal 27 Juli 2012 aku mendapat telepon dari  LIONMAG. Katanya Fotoku mau dimuat untuk Malajah LIONMAG edisi Agustus. Perempuan yang diseberang telepon itu minta alamatku untuk dikirimi majalahnya, tapi dia katakan tidak ada fee. Ohhhhh... hehehehe...

Harapanku sih awalnya ada fee, buat nambah-nambah liburan akhir tahunku heheheh.. nyata tidak ada. Tapi itu tidak masalah, temanku Dani, bilang bagus dijadikan portofolio.. ya ya ya aku mengerti sekarang. Benar apa yang dikatakannya... Bayangkan saja di rute maskapai penerbangan itu ada fotoku hehehehehe... Baguslah untuk menambah semangat dan inspirasi.

Lalu, Hari ini, Jumat, aku mendapat kiriman yang isinya Majalah LIONMAG. Oh rupanya sudah terbit. Ini dia majalahnya edisi Agustus 2012 ...

LIONMAG edisi Agustus

Itu dia Cover depannya, saya dikirimi dua buah ya.. dan Ini dia Fotoku  di rubrik Postard.


Ini dia Gunung Gamalama

Dari foto di atas terlihat khan ada profile pictureku? Nah itu difoto sama temanku Nurul di halaman kantor hehehehe.. jadi fotonya temanku juga ikut  tampil, Thanks ya  :)

Dan kalau dinas ke luar kota itu sebisa mungkin dimanfaatkan secara optimal. Sudah jauh-jauh pergi kalau ada waktu luang berefreshinglah hehehee.... Hunting apalah itu...

Akhirnya dari semua yang aku lakukan ini hanya ingin bilang "My Life Has Just Begun"... yup... sepertinya aku baru mulai saja  bersenang-senang dengan hidupku...
Dulu juga menikmati, tapi maksudnya sekarang ingin lebih mengoptimalkan dari apa yang sudah dicapai dulu... yuk, mari kita mulai. Sekecil apapun karya kita, itu adalah bagian dari Portofolio kita :)



Friday, July 27, 2012

Menikmati Ternate

Yup, ada yang pernah berkunjung ke Maluku Utara?
Bagi yang belum, saya mau share cerita dari perjalanan dinas bulan kemarin ke sana. Telat ya, tapi tak mengapalah daripada tidak saya share sama sekali, sayang khan kita punya cerita yang bagusn untuk mengenalkan Maluku Utara ke dunia hehehehe...

Baiklah, apa yang dapat kita nikmati di Maluku Utara?

Gunung Gamalama

Gunung Gamalama
Yup, kalau mendengar kata Gamalama pasti kita akan teringat akan aktris Ibu Kota Dorce Gamalama, apa hubungannya ya? heheheee...  By the way, Gunung gamalama  memang masih aktif sampai saat ini dan bisa dinikmati dari berbagai arah kota Ternate ya.. mulai dari kita  turun dari pesawat di Bandara Babullah, di Kota Ternatenya bahkan dari Pelabuhan pun kita masih dapat melihatnya dengan jelas. Gambar di atas diambil dari Pelabuhan Residen sewaktu kita akan menyebrang ke Pulau Sofifi.

Menurut salah seorang yang saya dijumpai di Pelabuhan Residen, Gunung Gamalama ini akan terlihat lebih indah sewaktu pagi hari, sebelum terhalang awan.

Pulau Maitara dan Pulau Tidore 

Pulau Maitara dan Tidore
Pemandangan lain yang dapat kita nikmati adalah Pulau Maitara dan Pulau Tidore.  Teman-teman masih menyimpan uang lembar seribu rupiah?  Nah, pada uang selembar itu ada gambar dua pulau, yaitu Pulau Maitara dan Tidore, di Ternate saya dapat menikmati keindahannya dari depan Lobby hotel. Kebetulan hotel kita waktu itu merupakan hotel terbaik saat ini yang ada di Kota Ternate. Namanya hotel Bella atau Hotel Amara :)

Kalau teman-teman lupa dengan gambar yang ada di dalam uang seribu lembar, nih saya perlihatkan.

Pulau Maitara dan Pulau Tidore

Silahkan teman-teman ambil uang seribu rupiah lembar dan samakan hehehee... gambar itu saya potret dari lobby Hotel.


Benteng Oranye 

Benteng Oranye

Yup, keadaannya sih seperti terlihat digambar. Ada lapangan lalu Benteng oranye di salah satu sisinya. Di sekitar lokasi benteng Oranye yang merupakan peninggalan Belanda ada perumahan TNI/Polri. Jadi tidak Pure lokasi wisata melainkan bercampur dengan perumahan warga.

Buah Pala
Teman-teman, tahu Buah pala? 
Yup, salah satu rempah-rempah yang menjadi incaran penjajah. Dikarenakan buah pala ini kita dijajah selama beratus-ratus tahun.
Ketika memantau persiapan lokasi acara Grondbreaking itu, saya melihat di sekeliling ada banyak buah pala. Kudekati pohon itu dan mengabadikannya. 

Buah Pala
Buah pula itu ada yang sudah berwara kuning dan juga ada yang masih hijau. Ketika sedang asyiknya mengamati buah pala, tibat-tiba Pak Jhon, mendekat padaku dan sebuah Pala pun dipetikkannya untukku. Ia pun menyuruhku untuk memakannya. Hm,  memakan buah pala sama seperti memakan Mangga mengkal, maksudnya menikmati buah pala itu setengah matang. Aroma palanya khas dan ada getahnya rasanya, kecut atau kalau dalam bahasa Sunda istlahnya "Kesed'  (tidak enak karena mengandung getah). Tapi enak kok kalau dirujak atau dimakan pakai sambalm petis.

Buah Pala, enak dirujak juga


Buah Pala ini ternyata dari  Kulit sampai bijinya semuanya bermanfaat. Fulinya yang berwarna merah  dapat digunakan untuk campuran bahan makanan dan Parfum, kata Pak Bambang yang masih juga rekan kami di Ternate. Sementara harga perkilonya dapat mencapai Rp. 200.000,- an lebih.
Ini dia yang dinamakan Fuli.

FULI
Fuli
 Fuli ini, nantinya dijemur ya ...

Next, apa lagi yang dapat kita nikmati dari Ternate?

Guraka

Ini dia minuman khas Ternate, Guraka. Minuman ini terbuat dari campuran gula merah dan jahe. Kita Menikmati Guraka ini di sebuah tempat di pinggir pantai yang bernama Tapak Place Satu tanpa ada lampu jadinya gelap. Cahanya kita dapatkan dari Handphone. Seperti itulah kebiasaan orang Ternate. Minuman Guraka menjadi spesial karena diatasnya diberi potongan kacang kenari. Dan dimakan dengan goreng kacang tanah. Seperti ini...

Goreng Kacang Tanah
Goreng Kacang Tanah
 
 Pisang Mulut Bebek

Pisang Mulut Bebek
Menarik bukan namanya? "Pisang Mulut Bebek" ... waktu pertama kita diberi tahu oleh Pak Jhon, tentang pisang  mulut bebek ini kukira kita akan makan buah pisang yang belum diproses. Ternyata waktu disajikan dalam bentuk Keripik pisang dimakan dengan sambal.  Keripik pisang khan bukan hal yang aneh untuk kita heeee..  Kalau kita lihat bentuknya, gak mengherankan ya, kalau mereka menamainya dengan Pisang Mulut Bebek, bentuknya panjang dan melengkung atau setengah bulat menyerupai bentuk bibir.


Kolak Singkong dan Pisang

Kolak Singkong dan Pisang

Saya tidak tahu apa nama yang tepat karena tidak tanya. Tapi bentuknya seperti kolak singkong dan pisang.


Es Kelapa
Es Kelapa


Selintas bentuknya mirip dengan Es Kapucino ya, tapi bukan lho. Itu adalah es Kelapa dengan gula merah ... Enak lho.. Cobain deh kalau di rumah atau ke Resaturan minta dibuatkan Es Kelapa dengan Gula Merah.

Batu Bacan dan Besi Putih

Batu Bacan
Yup, oleh-oleh yang satu ini jangan sampai terlupakan ya. Batu Bacan dan Besi Putih... Oh ya batu bacan ini merupakan batuan khas Maluku Utara. Kalau belinya di penjual eceran bisa dinego. Kata Teman kita, Pak Iwan  yang mengantar kami berburu batuan itu, batu Bacan yang paling bagus itu warnanya memang Biru. Bintik-bintik yang berwarna hitam itu lama-lama bisa menghilang dan bisa berubah warnanya.  "Tapi itu tergantung dari seberapa seringnya kita memakai batu bacan itu", tutur Pak Iwan.

Nah, karena tugas ke Maluku Utara itu atas undangan Pemrov Maluku Utara sehingga kami (Saya dan Nurul) banyak dijamu oleh Pemrov dan Pemkot. So, Orang yang membantu kita pun banyak. Jadi diblog ini muncul lebih dari astu nama dan saya pun tidak bisa menyebutkan keseluruhan harga :)

Monday, July 16, 2012

Jelajah Situs Candi Batu Jaya

Beberapa hari ini tidak update blog, maklumlah mood menulis naik turun, tapi ya, intinya sih karena memang menulis itu setidaknya memakai konsep. Sudah lama sebenarnya ingin sharing hasil perjalanan ke Karawang, melihat Situs Candi Batujaya. Tapi karena ada yang harus ditranslet dulu, makanya lama postingnya. Kalau sekarang posting berarti transletnya sudah selesai. Ini yang saya maksud bahwa menulis itu ada konsepnya.

Baiklah, saat ini topik yang hendak saya share adalah tentang Candi yang penemuannya itu terhitung baru ya. Padahal katanya  setelah diteliti, Candi yang ada di Kabupaten Karawang itu termasuk Candi yang paling tua usianya. Bahkan lebih tua dari Candi Borobudur itu sendiri.

Sebenarnya ada dua buah candi yang kita lihat pada tanggal 1 Juli 2012 lalu, yaitu Candi Jiwa dan Candi Blandongan yang keduanya masuk dalam Situs Candi Batujaya.Tapi sebelumnya saya informasikan dulu, bahwa keberangkatan ke Karawang itu bersama dengan Komunitas Jelajah Budaya (KJB), biasa pimpinan Mas Kartum dan Narasumbernya sendiri adalah Bapak Hasan Djafar yang merupakan penulis buku "Kompleks Percandian Batujaya". Hebat ya KJB bisa menghadirkan langsung penulis sekaligus peneliti Situs Candi Batujaya. 

Lanjut ceritanya ya... Sebelum melihat candi, Pak Hasan Djafar menerangkan terlebih dulu tentang Situs Candi Batujaya. 

Menurutnya, Kompleks Percandian Batujaya itu merupakan peninggalan dari zaman Prasejarah atau tepatnya peninggalan kerajaan Tarumanegara. Situs Candi Batujaya berada di lahan seluas 5 km persegi diareal persawahan dan perkampungan.

 "Di dalam kawasan 5 km persegi ini telah ditemukan sisa-sisa atau  reruntuhan candi yang jumlahnya lebih  dari 30 buah. Dan merupakan kompleks percandian. Penemuan  pertama kali wilayah percandian ini tahun 1984. Waktu itu kebetulan kami dari Jurusan Arkeologi,  Fakultas sastra UI sedang mengadakan penelitian di Cibuaya, daerah sebelah timur Batujaya, karena di sana diketahui ada penemuan-penemuan peninggalan dari zaman Tarumanegara berupa arca-arca, yaitu arca wisnu yang terbuat dari batu", tutur Hasan Djafar. 

Lebih lanjut Hasan Djafar mengatakan dari penelitian yang sedang dilakukannya diketahui ada penemuan kompleks percandian  yang terbuat dari Bata tapi kondisinya sudah sangat hancur.  Tidak diketahui lagi bentuknya dan yang masih nampak  di permukaan tanah hanya dua dari sekian banyaknya.
 

 "Pada tahun  1984 ketika kami mengadakan penelitian dengan mahasiswa, mendapat informasi  dari penduduk setempat, bahwa runtuhan-runtuhan yang seperti bata itu banyak, di Batujaya. Pada waktu itu kami survey ke Batujaya untuk konfirmasi dan ternyata di sana ditemukan bukan berupa candi tapi gundukan-gundukan tanah yang oleh masyarakat disebut unur," ujar Hasan Djafar. 

Gundukan-gundukan tanah atau Unur-Unur itu  oleh masyarakat diberi nama lokal atau sesuai dengan nama desanya. Kebetulan Unur itu ada  di wilayah kecamatan Batujaya, atau tepatnya ada di dua desa, yaitu Telagajaya dan Segaran. 

Next, setelah dilakukan Ekskavasi atau penggalian pada tahun 1985 dan pemugaran oleh Direktorat Purbakala di kompleks percandian, maka hasil akhirnya dapat kita lihat dibawah ini.


Candi  Jiwa atau Candi Segaran


 
Candi  sebagaimana nampak di atas adalah Candi Jiwa atau Candi Segaran karena terletak di Desa Segaran. Bata pada Candi Jiwa di atas tentu bukan asli, karena seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, memang keadaannya waktu ditemukan sangat hancur.  Jadi, itu adalah bentuk setelah dilakukan pemugaran.

Batanya lebih banyak yang hasil rekonstruksi
Beberapa meter dari Candi Jiwa kita menuju ke Candi Blandongan. Dua-duanya masih di Desa Segaran ya.
Inilah Candi Blandongan. Di sini kita bisa naik ke atas candi. Awalnya tidak boleh. Berhubung Pak Hasan Djafar ingin menjelaskan sambil memperlihatkan objeknya maka kita pun dipersilahkan naik Candi. Seperti inilah keadaan Candi Blandongan.

Candi Blandongan
Sekarang kita lanjut lagi ya cerita dari Pak Hasan Djafar tentang Candi di Kecamatan Batujaya ini. 

Seperti telah diulas di awal Candi di Batujaya, sangat menarik karena dibuat dari bata merah bukan batu. 

"Candi-candi yang dibuat dari Bata itu seperti berasal dari akhir Majapahit kebelakang. Ternyata dari hasil pertanggalan candinya sendiri, C14, umurnya sangat tua.  Sekitar 200 tahun Sebelum candi Borobudur ditemukan," ujar Hasan Djafar. 

Darimana kita dapat mengetahui bahwa Kompleks Percandian di Batujaya itu lebih tua dari Borobudur?

Menurut Hasan Djafar hal itu bisa diketahui dari Prasasti seperti Prasasti Ciaruten. Jelaslah bahwa Candi itu peninggalan zaman Kerajaan Tarumanegara. Ciri agamanya bukan hindu tapi Budha.

"Ini yang sangat menarik sekali. Merupakan satu-satunya kompleks percandian agama Budha di Jawa bagian  Barat," ujar Hasan Djafar.


Selanjutnya keterangan bahwa Candi di Batujaya itu termasuk Candi Budha dapat diketahui bukan saja dari konstruksi bangunannya saja tapi juga ditemukan benda-benda lain yaitu, terakota, atau anah liat bakar berukuran 6 cm, ada gambar-gambar atau relief patung Budha dan sejumlah prasasti yang digoreskan dengan huruf  palawa dan bahasa sansekerta pada lempengan emas dan tanah liat bakar. Disamping adanya arca-arca yang memperlihatkan sosok Budha.

Ada hal yang sangat menarik lainnya bahwa candi ini meskipun terbuat dari bata ternyata dilapisi dengan plester semen kapur. 

"Mengherankan lagi sudah mengenal beton. Jadi beton yang terbuat dari semen kapur itu dicampur dengan kerikil-kerikil batu untuk melapisi lantainya," ujar Hasan Djafar. 


Masyarakat waktu itu sudah mempunyai kemampuan teknlogi sangat tinggi. Setelah ditelusuri semennya darimana, ternyata batu kapurnya terdapat di sebelah selatan Karawang. Lalu, mengapa candi itu terbuat dari bata? 

"Karena di sini tidak ada gunung, ini adalah daerah pantai, daerah aluvial, daerah tidak berbatu," terang Hasan Djafar

Masyarakat juga sudah punya kemapuan mengolah tanah liat untuk dibuat bata karena masyarakat di sini, dipantai Utara Jawa barat sudah ada hunian. Dari masa ke masa bercocok tanam, sudah mengenal pembuatan gerabah. "Jadi rupanya kemampuan mengolah tanaj liat itu sudah lama," tutur Hasan Djafar. 

Terkait dengan pembuatan bata ada hal yang menarik bahwa bata ini dibuat dengan campuran antara tanah liat dan kulit padi atau sekam. Jadi ketika dibakar  bata menjadi merah dan di dalam juga terjadi proses pembakaran.


Jadi itulah teknologi, kemampuan-kemampuan lokal yang sudah dimiliki oleh masyarakat setempat. Ketika orang India datang ke sini, sebetulnya mereka masih hidup pada zaman prasejarah.  

"Ternyata di bawah lapisan candi itu ada lapisan budaya zaman prasejarah, dimana ditemukan puluhan kuburan prasejarah. Lengkap dengan kerangka dan lengkap bekal kubur, gerabah, alat-alat senjata,  parang, alat-lat besi, disamping perhiasan dari batu-batu, sudah ada  manik-manik yang terbuat dari emas, ada gelang, emas," terang Hasan Djafar.


Diantara benda-benda yang ditemukan di lapisan bawah itu ada benda dari India, berupa piring tanah liat, tepatnya dari pelabuhan India Selatan yang disebut daerah Arikamedu. Dari sana diproduksi jenis gerabah tanah liat, berupa piring besar bergaris tengah 30 cm, tapi mempunyai hiasan bagian atasnya berupa hiasan melingkar ini yang disebut hiasan rolet. Gerabah-gerabah ini di India Selatan dibuat pada abad ke 2-4. Benda-benda ini ditemukan didalam unur-unur prasejarah.

"Jadi dapat disimpulkan zaman prasejarah itu dari  tahun 1000 SM sampai awal masehi, mereka sudah kontak budaya dengan orang India. Rupanya pada awal abad masehi ini terjadi kontak budaya dengan India dan terjadilah  penyerapan unsur –unusr budaya India, diantaranya sistem kemasyarakatan, budaya dan agama," terang hasan Djafar.


Tapi ini prosesnya barangkali memanjang, sebab pertanggalan yang diperolah dari C14, kerangka-kerangka itu dibuat dari abad 2-4. Sedangkan candinya 500 (Lima ratusan).  Ada waktu sekitar 2 (dua) abad terjadinya akulturasi, proses penyerapan unsur budaya masyarakat setempat. Pada akhirnya terbentuklah suatu corak  tatanan kehidupan masyarakat dengan corak budaya India sampai kerjaaan Tarumanegara.  Jadi ketika itulah maka agama Budha selain Hindu berkembang.

Hal lain yang menarik adalah berdasarkan sumber-sumber Tionghoa dari abad ke-4 disebutkan bahwa ada pelabuhan namanya koying. Koying ini menurut para peneliti berdasarkan naskah-naskah Tionghoa,  Koying secara ilmu bahasa bisa berubah jadi Koiwa, Kaiwang. Ada seorang Ahli yang menghipotesakan bahwa bahwa Koying itu semestinya terletak di muara Citarum dan Karawang. Menurut perkiraan Sarjana, Koying ini pelabuhan kuno. Maka tidak heran kalau banyak pedagang India yang bermukim dipelabuhan itu hingga terjadinya  perkembangan budaya dengan masyarakat setempat. 

Ini ada Videonya Candi Jiwa, silahkand dinikmati ya ... 

Dan Inilah buku Karya Bapak Hasan Djafar.. kita beli lho dengan harga Rp. 50.000,- dan dapat tanda tangannya langsung.. 
Masterpiece dari Bapak Hasan Djafar
So, kalau mau lengkap, teman-teman silahkan saja beli bukunya.. Tapi ada beberapa revisian ya... 
Oh ya  pada dasarnya belajar sejarah itu sangat menarik sekali. Apalagi tentang sebuah penemuan dari peninggalan Zaman dahulu. Karena latar belakang kita yang bukan dari bidang arkeologi misalnya, kita cenderung untuk menerima apa saja yang dibilang oleh sang Narasumber, ini dikarenakan pengetahuan kita tentang sejarah itu minim. Ibaratnya kita itu didoktrin kalau belajar sejarah tanpa dasar yang kuat.  
Memang meskipun Kompleks Percandian Batujaya dikatakan lebih tua umurnya dari Candi Borobudur, tapi tetap saja Candi Borobudur itu sampai saat ini belum ada yang mengalahkan.
 

Monday, July 2, 2012

Cara Menikmati Pameran Filateli Dunia

Selamat sore, pembaca blog setiaku .... adakah rasa kangen untuk postinganku? Ya, baiklah untuk postingan kali ini, saya mau sharing tentang Filateli...
Nah ada yang punya hobi Filateli gak?

Saya sebenarnya bukan seorang Filatelis, tapi dunia perangko itu menarik. Yup, Baru-baru ini telah diselenggarakan pameran Filateli Dunia dari tanggal 18-24 Juni 2012 di JCC.  Ada yang pergi ke sana gak? Kalau tidak sempat mengungjungi pameran, saya katakan sayang sekali, karena eventnya sendiri tidak setiap tahun diselenggarakan di Indonesia.. Tahun depan giliran di negara peserta... ingat, pameran Filateli ini adalah pameran yang diikuti negara-negara luar.

Sekarang Langsung saja ya ke postingan...

Acaranya seminggu
ya, acaranya memang diselenggarakan seminggu dan saya hanya dua kali bisa berkunjung ke pameran itu. Pertama, hari Jumat, habis office hour atau pulang kantor... dan waktu ke sana itu standnya pada tutup, tapi kita masih bisa menikmati area pameran. Seperti ambil foto-foto di depan koleksi perangko atau mobil kuno dsb.  Kedua, saya kembali lagi hari Minggu, pada hari terakhir pameran. Dan sangat menikmatinya. Karena baru pada hari Minggu itulah, saya tahu, bahwa banyak hal yang dapat kita lakukan di Pameran Filateli, apalagi kelas Dunia.
Apa saja yang dapat kita lakukan ketika ada Pameran Filateli:

Membuat Perangko Prisma 

Teman-teman pasti ada yang sudah tahu apa itu Perangko Prisma. Perangko Prisma itu sendiri singkatan dari Perangko Identitas Milik Anda.  Kita bisa membuat Perangko Prisma dengan memampang foto kita  dan dapat digunakan untuk berkirim surat ya. Saya pun buat waktu pameran kemarin. Harganya Rp. 27.000,-  seperti ini bentuknya 

Perangko Prisma Fotonya Aku Sendiri

Perangko prisma ini cepat kok proses pembuatannya. Pertama kita difoto dulu, terserah mau backgroundnya dimana, tapi waktu itu, memang saya pilih yang ada sepedanya. Setelah itu, fotonya ditransfer dan dimasukan ke dalam bingkai yang sudah disediakan, kemudian diprint. Jadilah perangko prisma... Perangko Prismaku itu dapat dipotong-potong dan jumlah totalnya ada 12 buah ya.

Minta Free POSTCARD

Yup, jangan lupa untuk minta Postcard gratis utamanya pada Stand-stand yang ada. PT. Pos Indonesia menyediakan juga.  Nih Postcardnya..

Free Postcard dari PT. Pos Indonesia
Waktu itu, kehabisan Postcard. Ketika minta ke Standnya PT. Pos Indonesia, petugasnya bilang sudah habis. Alhasil minta-mintalah aku. Dan alhamdulilah berkat kebaikan dua Bapak Ini aku dapat juga Postcardnya. Ini dia Bapak-Bapak yang baik hati..

Bapak Eko
 Dari Bapak Eko ini saya dapat dua buah Postcard. Dan ...

Bapak baik hati
Dari Bapak yang baik hati ini saya dapat satu set hehehehe... waktu kutanya namanya dia gak mau kasih nama, katanya "Bapak yang baik hati saja" .... baiklah Pak, terima kasih ya untuk postcardnya.

Lalu,  apa yang kita lakukan dengan Postcard-postcard tersebut?
Jawabannya adalah minta Cap "perangko" pertama yang dikeluarkan di Indonesia dan minta juga cap pameran... seperti ini:

Perangko Pertama Indonesia
Nah, dibalik postcard ataupun dimuka postcard itu bisa minta untuk dicap perangko pertama Indonesia. Perangko itu dicap dengan  menggunakan alat.  Tidak cepat kering tintanya dan butuh waktu lama.  Tapi untuk mensiasatinya kita bisa menutupnya dengan tissu agar tintanya tidak beleberan kemana-mana.

Perangko yang berwarna merah itu ditaksir seharga Rp. 2 Milyar ada yang menyebutkan Rp. 20 Milyar... Itu merupakan Perangko Pertama Indonesia yang dikeluarkan pada tahun 1864. Bergambar wajah Raja Belanda, Willem III.  Diperangko itu ada kata-kata Nederlands Indie artinya Indonesia, sementara dibawahnya ada kata-kata   Postzegel artinya perangko.

Inilah Proses pencetakan Perangkonya


Selain minta cap perangko pertama, kita juga bisa minta cap pameran. Sebagaimana nampak pada gambar di atas.
Seruu bukan?

Minta Buku Philatelic Passport
Buku untuk Mengumpulkan Perangko dan Cap
Waktu pameran Filateli kemarin itu, disediakan buku gratis yang diberi nama Philatelic Passport. Kita bisa mendapatkannya dibagian Informasi atau disetiap stand pameran yang ada. Apa yang dapat kita lakukan dengan Buku itu?
Jawabnya adalah minta cap ke setiap stand pameran yang ada. Akan lebih menarik kalau diberi perangko. Tapi perangko itu harus beli ya, tentunya beli disetiap stand dan diberi cap.
Seperti ini ...

Isi Buku Philatelic  Passport
Nah, ini dia isi dari buku Philatelic Passpot. Seperti yang dapat kita lihat, di dalam buku ini sudah ada nama-nama negara peserta pameran, dan nomor boothnya. Kita bisa membeli perangko dan meminta cap sesuai dengan booth yang ada.
Sayangnya, buku saya ini tidak semuanya penuh karena hanya satu hari. Dan standnya ada yang buru-buru tutup.  Seharusnya ketika hari pertama kita sudah berkeliling-keliling meminta cap dan membeli perangko itu. Oh ya, perangko itu dijual Rp. 10.000,- Rp. 20.000,- intinya antara booth yang satu dengan yang lain berbeda. Tapi rata-rata dijual seharga Rp. 10.000,- yang unik, waktu itu ada yang me-lem perangko tidak menggunakan lem sebagaimana lazimnya, tapi menggunakan ludah hehehehee..... aya-aya wae si Bapak.


Membeli Seri Perangko 

Seri Perangko Wayang di Pameran Filateli
Seri Perangko Batik
Ada juga seri yang seperti ini, 

Perangko Badak
Perangko Wayang Golek
Perangko Tari Saman
Perangko keris
Perangko Anggrek
Perangko Komodo
Perangko Seri Angklung
Perangko-Perangko di atas itu merupakan seri khusus Pameran saat itu. Namun kita juga bisa membeli seri  atau edisi lama. Seperti dibawah ini:
Seri Perangko Batik 

Seri Flora dan Fauna dalam bentuk Booklet
Perangko seri Zodiak

Seperti itulah kira-kira ...

Membeli Album Perangko
Album Perangko
Susah sekali mencari Album Perangko ini, kecuali di Pameran Filateli.  Perangko Filateli yang kubeli ini berharga Rp. 100.000,-

Selain album perangko dijual pula album uang kertas dan uang koin, seperti ini bentuknya:

Album Uang Koin

Album Uang Kertas ...
Kalau teman-teman lihat uang kertas pada Album itu, memang saya beli di pameran itu. Dikarenakan selain Perangko, ada juga yang menjual produk lainnya. Nah kalau Album uang kertas dan uang koin ini seharga  Rp. 80 ribu sama Rp. 70 ribu rupiah ya..

Menikmati atau Partisipasi dalam Kegiatan Lainnya

Di pameran Filateli itu, ternyata ada perlombaan, Entah itu lomba filateli atau lomba melukis dan lainnya...

Karya Anak SD
Karya Anak SD
Wow amazing ya... ada gambar yang komposisi warnanya bagus.. Kalau aku disuruh gambar sudah bisa dipastikan  tidak lebih baik dari mereka... Masalahnya dari dulu tidak terbiasa dengan menggambar ...

Demikianlah kira-kira gambaran bagaimana cara kita menikmati sebuah Pameran. Barangkali antara satu pameran dengan pameran lainnya tidak sama, at least dengan adanya postingan ini semoga dapat bermanfaat ya untuk kita... siapa tahu nanti di Indonesia, entah tahun berapa akan ada lagi Filateli Dunia.

NB: Aku sudah kirim Poscard pada temanku tentunya dengan menggunakan Perangko Prisma. Tapi Dia bilang postcardnya belum sampai. Ya maklumlah perangkonya sendiri senilai Rp,. 1500,-  Tolong ya Pak kurir yang datang ke kantor tempo itu, mohon dengan sangat Postcardnya diproses. Soalnya, aku tidak pernah berkirim postcard.... Heheheheee... Thanks.