Search This Blog

Tuesday, April 8, 2014

TMII Sarana Berwisata, Belajar dan Berkompetisi

Selamat Ulang Tahun Kami Ucapkan,
Selamat Panjang Umur Kita Kan Doakan,
Selamat Sejahtera Sehat Sentosa,
Selamat Panjang Umur dan Bahagia ....

Panjang Umurnya
Panjang Umurnya
Panjang Umurnya Serta Mulia
Serta Mulia ... Serta Mulia

 ..........................

Kapan kita terakhir kalinya menyanyikan lagu ulang tahun itu?
Wah, sudah lama ya, sejak beranjak dari anak - anak menjadi pegawai kantoran seperti saat ini dan sejak teman - teman sebaya sudah pada menikah dan menjadi Ibu, lagu itu hampir tidak pernah lagi dinyanyikan.

Tapi sekarang ini saya tidak sedang ingin membahas tentang masa kanak - kanak. Lagu Ulang Tahun itu saya persembahkan dalam rangka menyambut Ulang Tahun Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang ke-39 dan juga dalam rangka mengikuti Kompetisi Blog yang diadakan oleh pihak TMII.

Tema yang akan saya usung dalam rangka menyambut HUT TMII ke-39 adalah TMII Sarana Berwisata, Belajar dan Berkompetisi.

TMII Sebagai Sarana Berwisata
TMII pada awal pembangunannya menghadapi pro dan kontra. Tapi lihatlah apa yang terjadi saat ini. Seluruh masyarakat merasakan manfaatnya. Masyarakat yang manakah itu?
Jawabannya tentu seluruh lapisan masyarakat dan tidak terbatas pada kelas sosial ekonomi tertentu.

Kehadiran TMII telah memberikan warna pilihan kepada masyarakat untuk dapat berkumpul dan lebih mengakrabkan ikatan keluarga. Berwisata ke TMII merupakan wisata murah semua orang dapat menjangkaunya.

Selain memberikan keuntungan bagi pengunjungnya sendiri, berwisata ke TMII juga dapat membantu perekonomian masyarakat yang bekerja di sana. Seperti misalnya membeli souvenir yang dijual di sana begitu pula dengan memberikan tips. Sektor pariwisata ini lebih jauh lagi dapat mendatangkan Devisa bagi negara dengan kunjungan wisatawan asing. Saya perhatikan sewaktu berkunjung ke TMII beberapa waktu lalu ada satu keluarga asing beserta anak-anaknya datang berkunjung. Hal itu perlu kita dorong lagi agar kunjungan wisatawan mancanegara maupun domestik dapat meningkat dari tahun ke tahun.

Foto dibawah ini adalah kenangan ketika ke TMII pertama kali bersama dengan Adik saya, Tissa.
Berfoto sama Badut TMII.
Aku bersama Adekku 
Oh ya, ada satu cerita yang ingin saya share di sini ketika waktu itu (tahun 2010) berkunjung ke TMII. Saya dan adik berkunjung ke salah satu anjungan yang ada sebuah ukiran Gurindam Dua Belas Karya Ali Haji. Masih lekat di ingatan, saya pun membaca baris demi baris Gurindam tersebut sampai tamat.
Gurindam Dua Belas di salah satu anjungan TMII
Selanjutnya Tahun 2013 lalu saya diajak teman untuk ikut kumpul Blogger yang diselenggarakan oleh salah satu produen rokok terbesar. Dalam temu blogger tersebut, kita memperebutkan sebuah doorprize dengan syarat dapat menjawab pertanyaan narasumber.

Narasumber waktu itu bertanya tentang Pulau Penyengat?
Saya tidak mengangkat tangan karena memang tidak tahu apa - apa. Peserta yang mengacungkan tangannya mulai menjawab tentang Sastra Melayu dan Raja Ali Haji beserta Gurindam dua belasnya.
Saya langsung tertohok. Di dalam hati saya menjawab bahwa saya tahu Gurindam dua belas itu tapi saya tidak tahu bahwa sang pujangga Raja Ali Haji terlahir dari Pulau Penyengat, Kepulauan Riau.

Itu salah satu hikmah yang saya pelajari dari peristiwa itu, bahwa kalau kita mengenal seseorang dan karyanya harus secara menyeluruh. Akhirnya doorprize itu jatuh pada orang yang bisa menjawab dengan benar.

Tapi terima kasih kepada TMII untuk semuanya. Karena dari sini awal semuanya.

Selanjutnya, kita juga bisa menikmati keheningan dengan duduk dibangku tepi danau.
Santai di Tepi Danau
Kalau ingin menikmati Peta Indonesia buatan dari atas kita bisa mencoba SkyLift.
Naik Sky Lift
Bagi yang takut ketinggian diharapkan berhati - hati  kalau ingin mencoba Skylift (kereta gantung). Lebih baik ada yang menemani.  Nah dari atas kereta gantung ini selain dapat melihat gambar peta Indonesia buatan di atas danau, kita juga bisa melihat setiap anjungan yang ada di TMII dari atas.



TMII Sarana Belajar 

TMII juga dapat dijadakan sarana untuk mengenal dan belajar berbagai macam seni dan budaya yang ada di tanah air. Berbagai macam anjungan, arena dan museum yang ada di TMII itulah tititk pangkalnya.

Ada satu cerita yang ingin saya share di sini, terkait dengan TMII sebagai sarana untuk mengenal dan belajar mencintai seni dan budaya tanah air. Cerita ini bermula dari ajakan salah seorang teman, bernama Dani untuk pergi melihat acara Gelar Budaya Nusantara yang diadakan pada tanggal 23 - 24 November 2013 di TMII. Tema yang diusung pada acara tersebut adalah "Ritus- Ritus Pangan Nusantara".

Saya langsung tertarik pada acara tersebut, terlebih ketika mendapatkan informasi lebih detail, katanya akan ada pertunjukan ritus pangan dari Suku Dayak Kalimantan. Wah, sebuah keinginan lama terpendam yang belum terlaksana akan segera terwujud, saya bisa melihat penampilan Suku Dayak langsung di Jakarta dan itu tempatnya di TMII. Jadi, tidak perlu jauh-jauh terbang ke Kalimantan.

Semua pertunjukan Gelar Budaya Nusantara berlokasi di Taman Persahabatan Negara Non Blok, TMII.


Tugu Taman Persahabatan Negara Non Blok

 Seperti inilah pertunjukan Ritus Pangan dari Suku Dayak Kanaytn, Kalimantan Barat. Disebut dengan Bauma Batahun (Berladang).

Tarian dari Suku Dayak Kanaytn dalam Ritus Pangan
Perempuanya menari dengan membawa padi.

Perempuan Dayak menari membawa padi

Menyaksikan penampilan dari berbagai suku bangsa tentang ritus pangan sungguh luar biasa. Malahan hal ini menambah kecintaan saya terhadap Kebudayaan Bangsa yang berbhineka tunggal ika. Lalu, apa sih sebenarnya yang dimaksud dengan ritus pangan itu?

Ritus pangan adalah suatu ritual atau upacara misalnya untuk memulai kegiatan bercocok tanam, menyambut panen padi, menanam padi dan sebagainya. Ritus Pangan ini akan berbeda dari satu suku ke suku yang lainnya.

Berikut ini penampilan lain dari acara Gelar Budaya Nusantara yang tampil.

Tari Topeng Losari
Tari Topeng Losari merupakan pertunjukkan yang tidak ada kaitannya dengan ritus pangan. Tapi ini merupakan pertunjukan tambahan yang perlu kita ketahui dan terus lestarikan. Konon katanya tari topeng ini diciptakan pertama kali oleh salah seorang Wali Songo. Pada awalnya sebagai media komunikasi dalam penyebaran agama islam. Kemudian berkembang menjadi seni pertunjukan yang biasa digelar pada acara hajatan seperti pernikahan atau Sunatan.

Ada juga Ritus Budaya Pangan Sadulur Sikep di Pati, Jawa Tengah.
Ritus Budaya Pangan dari Pati
Masyarakat Pati pada dasarnya melakukan tradisi lamporan, yaitu tradisi yang dilakukan dengan cara  berkeliling desa dan areal persawahan dengan menggunakan obor bambu dan menyanyikan parikan (pantun).

Selanjutnya ada Tari Kendi dari Jawa Barat. Sama halnya dengan Tari Topeng Losari, Tari Kendi juga merupakan salah satu pertunjukan Seni kreatif.

Tari Kendi dari Jawa Barat


 Kemudian ada Ritus Budaya Pangan Seren Taun dari Kuningan

Seren Taun
Upacara Seren taun merupakan Upacara Penyerahan hasil panen yang diterima pada tahun yang akan berlalu serta memohon berkah dan perlindunganNya untuk tahun yang akan datang.

Seperti itulah kira - kira gambaran Gelar Budaya Nusantara terkait dengan Ritus Pangan. Jadi jelaslah di sini TMII bisa dijadikan sarana untuk mengenal dan belajar mencintai budaya nusantara.

Di sini ada bonus Video langsung pertunjukan Tari Kendi yang berhasil saya rekam dan upload melalui account Youtube saya. Silahkan Menikmatinya. 



TMII Sarana Berkompetisi 

Hal luar biasa lain yang dapat kita nikmati dari kehadiran TMII adalah sebagai sarana berkompetisi.  Pernahkah teman - teman menjadi bagian dari ajang kompetisi yang diselanggarakan di TMII? Saya Pernah. Itu terjadi pada tahun 2012 lalu, sewaktu mengikuti ajang Canon Photo Marathon. Cerita lengkapnya ada  di sini. 

Canon Photo Marathon 2012
Kenapa TMII dapat dijadikan sarana berkompetisi?
Ya, TMII sejauh pandangan saya, dibangun dengan konsep yang matang. Lihatlah apa yang ada di TMII dapat dijadikan sebagai tempat dan objek kompetisi. Ada Plasa Arsipel yang terletak dipinggir danau buatan dengan pemandangan Pulau Nusantara dibagian tengahnya dapat dijadikan tempat berkumpul para peserta. Sementara beberapa anjungan dan koleksi dari TMII dapat dijadikan objek kompetisi.

Segala yang ada di TMII dapat memberikan inspirasi dan mendatangkan ide yang luar biasa. Para peserta tidak akan kehabisan ide. Hal yang diperlukan adalah bagaimana dengan jeli menterjemahkan suatu ajang kompetisi sehingga bisa menghasilkan karya dan penghargaan yang luar biasa.

Selain hal-hal yang telah saya sebutkan di atas, masih banyak lagi manfaat dari keberadaan TMII yang belum diterangkan di sini, yang saya ulas hanya sebagian saja. Teman-teman bisa mengeksplornya lebih luas.

Rasanya tulisan ini kurang lengkap apabila belum mencantumkan bagaimana caranya pergi ke TMII.
  1. Untuk langkah termudah, khususnya bagi warga Ibu Kota, bisa pakai Taxi langsung menuju TMII.
  2. Dengan Busway, kalau dari Blok M menuju Halte Harmoni  dan lanjut dengan Busway menuju PGC. Dari PGC kita bisa naik angkot ke TMII.

Sebelum menutup tulisan ini saya ingin mengajak seluruh pembaca blog setia saya, marilah kita terus menghidupkan TMII, menjaga, merawatnya, mempelajarinya, menyebarkan yang positif dan kepada pihak terkait yang memegang otoritas agar terus memberikan warna kepada TMII. Seperti misalnya tetap mengadakan berbagai macam festival atau gelar budaya nusantara dan ajang kompetisi lainnya.

Akhirnya, mari kita berterima kasih kepada Ibu Tien atas Idenya sehingga lahir TMII dan sebagai kata penutup sekali lagi saya ucapkan Selamat Ulang Tahun yang ke-39 untuk Taman Mini Indonesia Indah.






Friday, April 4, 2014

Balasan dari SD Inpres Onatali

Saya sudah berjanji kepada diri sendiri akan bercerita mengenai kelanjutan dari kegiatan Volunteer yang diikuti pada bulan Oktober tahun lalu dalam rangka Gerakan Festival Indonesia Mengajar.
Nah, salah satu kegiatan yang saya ikuti adalah membuat surat semangat untuk SD Inpres Onatali, Kecamatan Rote Tengah - Kabupaten Rote Ndao, Provinsi NTT.

Saya tidak menyangka surat semangat yang ditulis dan diperuntukan bagi Anak-anak SD dan juga guru di sana mendapat balasan. Ketika salah seorang petugas pengadministrasian persuratan di kantor mengatakan ada surat untuk  saya, dibuatnya saya terkejut dan ketika membaca peruntukan dan sang pengirim surat, luar biasa bahagianya. Selasa, 25 Februari 2014, hari ketika saya menerima surat.

Itu rupanya surat balasan dari  mereka di seberang sana.
Seperti inilah surat yang saya terima.

Bagian Muka Surat
Saat pandangan mata tertuju pada muka depan sampul surat, barulah saya sadar penempelan perangkonya terbalik. Tapi hal itu tiada jadi masalah dan tidak mengurangi kebahagiaan saya sedikitpun.

Ketika dibalik pada bagian muka belakang, terbacalah siapa yang mengirimnya.

Bagian Belakang

Dan ketika dibuka, seperti inilah bagian dalam suratnya.

Surat pertama yang saya baca.
Surat pertama halaman depan

Surat ini berasal dari Siswa SD bernama, Duta Aprendi Pellondou (maaf ya dek kalau salah mengetik namanya), tertanggal 20 Januari 2014. Saya Salinkan kembali apa yang ditulis Duta di bawah ini.

Salam Hangat, 
Untuk Segenap PNS dan Kakak - kakak di Jakarta melalui surat ini saya ingin bercerita dan  membuat pantun. 

Sumpit Burung Di Gunung Bugis
Darah Tertumpah ke Daun Pisang
Sakit Ibu Mengajar Saya
Membalas Apa Kepada Ibu

Bagaimana teman - teman suka tidak dengan pantunnya?
Menyentuh sekali ya, tapi sayang Duta lupa sepertinya mencantumkan ada di kelas berapa ia sekarang.

Dan ini adalah halaman kedua surat.

Halaman kedua

Seperti inilah kata - kata dari halaman kedua.

Untuk kakak di Jakarta, saya bercita - cita ingin menjadi atlit Bela Diri dan Tentara. 
Saya di SD Inpres Onatali baik - baik saja. Kalau kakak bagaimana. 
Sampai di sini dulu ya kak cerita aku. 
Saya minta maaf ya kak kalau ada yang salah.

SEMANGAT YA JADI PNS 

Selanjutnya ini adalah Surat Kedua dari Dewinda, murid kelas tiga SD.
Surat dari Dewinda
Surat dari Dewinda ini tertanggal 18 Januari 2014. Saya sangat mengapresiasi tempat surat yang dibuat olehnya. Teman - teman tentunya dapat melihatnya bukan? itu tukh dipojok kanan yang ada tutupnya :)
Seperti inilah isi surat yang dibuat oleh Dewinda. 

Seorang Ibu saya sangat menyayangi saya.
Karena cita - cita saya tercapai. Karena saya cerdas. 
Saya suka banget karena Ibu saya menyayangi saya dan adik saya dan orang tuaku bernama Vemi dan Yopi. Bapak saya pekerjaannya petani. Ibu saya pekerjaannya Ibu rumah tangga. Adik bernama Putra. Adik saya belum sekolah karena dia baru berumur 5 tahun. Kalau nama saya Dewinda panggilannya Winda. Saya sudah berumur 10 tahun. Saya sudah kelas tiga SD Inpres Onatali. Saya suka makan bakso, karena hobi saya itu saya suka banget karena saya dari kecil sampai dewasa. Kalau adik saya suka makan kue solo karena dia dari kecil hingga sampai sekarang saya menyayangi dia karena dia adik saya. Saya berterima kasih karena kakak sudah mengirim surat untuk teman - teman saya. Dari saya doa untuk Kakak Sri.  


 Terima kasih adek ceritanya. Kakak Sri menyalin ulang kembali ceritanya. Maaf ya kalau ada yang salah juga. 

Oh ya, Adek kita yang bernama Dewinda ini lupa membubuhkan titik dan koma. Jadi saya tambahkan saja titik dan koma dalam salinannya. 
Tapi Saya apresiasi. Cerita dan tulisan dari Anak kelas tiga SD itu sungguh luar biasa. Semoga kelak Winda dapat menjadi penulis cerita yang hebat ya. 

Terima kasih untuk doanya... 
Dan untuk Bella Moulina, terima kasih telah membantu Duta dan Dewinda mengirim surat balasan kepada saya. 

Semoga Bella bisa menjadi pengajar yang hebat juga dan tetap mengabdi untuk kepentingan bangsa. Selamat Berjuang. Darimulah lahir generasi penerus yang berkualitas. 

SEMANGAT !!!!!

NB: Maaf belum sempat membalas kembali suratnya. 


Thursday, March 13, 2014

Indahnya Pulau Maratua

Akhirnya, satu lagi kesempatan yang saya dapatkan ketika ikut Kunjungan Kerja bersama Komisi V DPR RI dan para Mitra Kerja ke Kabupaten Berau, Kalimantan Timur yaitu melihat indahnya Pulau Maratua. Kunjungan Kerja (Kunker) tersebut dilaksanakan pada tanggal 26 - 28 Februari 2014 kemarin.  Banyak lokasi yang menjadi tujuan kunjungan, tapi tujuan ke Pulau Maratua adalah peninjauan pembangunan bandara Maratua oleh Kementerian Perhubungan. Jadi, kalau bandara ini sudah rampung, kita tidak perlu dua kali naik Pesawat.

Seperti inilah Pulau Maratua.


Menepi di sebelah sini
Kapal yang membawa rombongan Kunker berhernti tepat di Samping Maratua Paradise Resort. Tempat ini menyediakan beberapa buah kamar dengan tarif per malam sekitar Rp. 750.000,-

Jernih

Ketika Jakarta cuacanya mendung, saya menikmati indahnya Maratua.
What a beautiful day

Di Maratua Paradise Resort

At Maratua Paradise Resort

Menikmati Pemandangan sambil duduk dikursi istimewa
Duduk dan Nikmati Indahnya Maratua


Putihnya Pasir Pantai Maratua



Putihnya Pasir Maratua

Beberapa Kamar di Maratua Paradise Resort
Vila-vila di Maratua
Nyiur Melambai
Nyiur Melambai di Maratua
 Gerbang Mengarah ke Kampung
Mengarah Ke Kampung

Kalau sudah sampai ke Maratua, seharusnya dilanjut ke Pulau Derawan, Pulau Kakaban, Sangalaki sampai Labuan Cermin. Sebenarnya lokasi pulau tersebut dekat. Seperti kalau ke Derawan dari Pulau Maratua hanya membutuhkan waktu sekitar 45 menit. Tapi sayang karena waktunya kurang kita tidak jadi menyeberang ke sana.

Oh ya sebagai tambahan Informasi, kata teman saya dari Pemda Berau, di Pulau Kakaban kita bisa berenang bareng ubur-ubur. Katanya di Dunia ini hanya ada dua danau yang isinya ubur-ubur yang jinak.  Negara itu adalah Indonesia di Kakaban dan Negara Palau.

Sebenarnya saya sudah tahu ketika Mbak itu menceritakannya. Dari buku Trinity "Naked Traveler" lah saya mendapatkan informasi hal tersebut. Duh, jadi ingin berenang bareng ubur-ubur jinak.

Bagaimana Caranya Ke Pulau Maratua ?
  1. Ambil penerbangan dari Jakarta ke Berau Via Balikpapan. Sewaktu saya ke sana, naik Garuda dan dari Balikpapan pindah pesawat (masih Garuda) tapi kapasitasnya kecil. 
  2. Balikpapan (Bandara Sepinggan) - Berau (Bandara Tanjung Redeb) ditempuh dalam waktu kurang lebih 45 menit. 
  3. Di Berau sebaiknya kita menginap dulu, Hotelnya ada Hotel Bumi Segah dan Hotel Derawan Indah. Hotel yang paling bagus di Berau adalah Hotel Bumi Segah. Pemandangannya mengarah ke Sungai Segah.  Kalau senja, pemandangannya indah sekali.
  4. Baru pada hari berikutnya kita menyeberang ke Pulau Maratua pakai kapal. Sekirar 3 jam perjalanan. Sewaktu sama rombongan, kami langsung menepi di Maratua Paradise Resort.
 Pemandangan Senja dari Hotel Bumi Segah
Senja dari Jendela Hotel Bumi Segah menghadap ke Sungai Segah

Itulah keindahan Pulau Maratua, tapi sayang katanya Pulau ini dimiliki oleh orang Malaysia bukan kita.

NB: Kalau teman-teman masih punya waktu di Berau cobalah untuk mengunjungi Bangunan bekas Istana Sambaliung di sana dan sebagainya.

Monday, March 3, 2014

Kurang Kenyang Dengan Singapore Air Show 2014

Yup, hari Sabtu yang lalu tepatnya tanggal 15 - 16 Februari 2014, saya bareng teman, Dani pergi ke Singapura. Tujuan ke sana untuk lihat Singapore Air Show 2014 (SAS). Info SAS didapatkan dari Majalah NGI Traveler.

Menuju Arena SAS

Awalnya saya ajak teman Backpackeran sewaktu ke acara Thaipusam Malaysia tahun lalu, waktu itu ada Akanta sama Rose. Satu per satu saya hubungi mereka tapi masing-masing sudah punya acara. Akanta tidak bisa ikut karena dia awal tahun ini mau pergi ke Australia lanjut sekolah. Sementara Rose jadwalnya padat, maklumlah sekarang Rose yang tinggal di Negeri Jiran sudah jadi Fotograper Profesional. Jadi, banyak kliennya. Tinggalah saya sama Dani berdua yang jadi lihat pertunjukan SAS.

Semua tiket dan penginapan yang booking Dani. Memang saya sengaja mengajak dan meminta bantuan sama dia, karena dia sudah beberapa kali ke Singapura, sudah tahulah rute jalan disana, nginep dimana, harus naik apa. Beres dia atur.

Sekarang saya mau cerita kronologis perjalanan ke Singapura.

Berangkat Pakai Damri jam 3 Pagi ke Soetta
Hahaha, ini khan acaranya backpackeran, jadi gak bisa seenak seperti Dinas Luar (DL) yang ada uang transport sendiri. Kalau mau pergi dan tidak mau ribet tinggal nunggu Taxi. Kalau Backpackeran khan pakai uang sendiri. Berhubung tahun ini lagi sepi dan memang uangnya dipakai investasi lain, maka sedari awal keberangkatan harus dihemat benar pengeluarannya. Jadi, saya putuskan hari Sabtu pagi itu naik Damri menuju Bandara Soekarno Hatta.

Hal yang dilakukan  sebelum pergi adalah tanya jam keberangkatan paling awal Bus Damri ke Bandara.  Hari Jumat malam setelah ke Money Changer di Blok M Plaza, saya ke pangkalan Bus Damri dan tanya langsung ke petugasnya. Petugas itu bilang Damri paling awal berangkatnya jam 3 pagi. 

Hari Sabtu jam setengah tiga pagi saya keluar dari kosan jalan kaki menuju Terminal Blok M. Karena sepagi itu belum ada Metromini. Sebelum sampai ke tempat tujuan saya sudah benar-benar jadi Backpaker sejati nih heheehee ....

Sewaktu sampai pangkalan Damri, belum ada penumpang yang lain, ini berarti saya yang pertama datang. Tapi setelah menunggu sampai jam tiga, dua orang penumpang lain datang juga. Akhirnya Bus berangkat ke Bandara, itu pun setelah Seorang petugas membangunkan sang supir yang sedang tidur lelap di dalam bus untuk segera berangkat mengingat sudah ada  penumpang.

Melihat kondisi sang supir yang terlihat masih ngantuk, saya jadi takut, tapi pas masuk jalan Sudirman, dia digantikan oleh temannya  nyetir.

Nah, pas di dalam bus itu khan saya sangat terang dan jelas bilang sama kondekturnya untuk menurunkan saya di gate penerbangan internasional, maskapai Air Asia dan tujuan Singapura.
Namun apa yang terjadi kemudian adalah, saya tidak diturunkan di terminal tiga. Jadinya saya naik taxi lagi ke Terminal Tiga. Huh, beruntung jaraknya dekat ya.

Okey itu tadi kejadian sebelum berangkat.

Tiba di Bandara Changi, Singapura
Sesuai dengan jadwal penerbangan Air Asia, kita berangkat jam 5:40 WIB dan sampai jam 8:30 AM. Setibanya di Bandara Changi kami menuju visa arrival untuk dicap paspor oleh imigrasi Singapura setelah itu pakai MRT dan Bus menuju arena Singpore Air Show 2014.  


Singapore Air Show 2014
Hm, boleh dikatakan ketika sampai arena Singapore Air Show itu kita tidak dapat posisi yang bagus. Dikarenakan arena sudah penuh dengan penonton malahan pertunjukan sudah dimulai. Jadi, tidak dapat memilih posisi yang enak.

Seperti inilah pertunjukan Singapore Air Show 2014.
Empat kapal beraksi

Seperti kita ketahui bersama, terkait dengan pertunjukan SAS ini ada sedikit masalah yang terjadi antara Indonesia dan Singapura terkait penamaan kapal perang (laut) Indonesia yaitu Usman Harun. Sempat dikabarkan karena adanya masalah ini, Team Indonesia TNI-AU  JAT (Jupiter Aerobatic Team) batal tampil di SAS. Apa yang terjadi kemudian adalah JAT jadi tampil.

Saya begitu bangga dan  terharu ketika JAT tampil di SAS. Bayangkan saja Bangsa sendiri tampil di negara orang dan saya ada di sana sungguh mengharukan. Terlebih ketika mereka tampil dibarengi dengan backsound dari penyanyi Indonesia seperti band Cokelat dsb. Jadi sepanjang lagu - lagu dari artis tanah air belum berakhir diputar itu tandanya masih JAT yang tampil.
Seperti inilah penampilan JAT.

JAT Indonesia Tampil
Team JAT Membentuk LOVE ... tapi sayang asapnya tidak cukup jadi yang terlihat seperti ini:
LOVE from JAT

Sebenarnya pertunjukan ini berlangsung sampai sore. Tapi kita hanya menyaksikan show bagian pertama saja. Ini dikarenakan ribet bawa tas backpack karena belum ke hostel dulu dan waktu itu cuacanya tidak menentu antara panas dan mendung.

Mengenai akrobatik yang dilakukan oleh Tim dari masing-masing negara, pada umumnya mereka menampilkan gaya yang sama. Seperti, terbang vertikal, lalu saling berpapasan, memencar dan kembali beregu lalu membentuk simbol hati. Bangga pokoknya saya kepada TNI-AU JAT (Jupiter Aerobatic Team).  Congrat  untuk mereka atas performancenya yang luar biasa.

Selepas memotret pertunjukan SAS, kita menuju arena Exhibition. Yang dilakukan di arena ini tentu memotret beberapa pesawat dan juga narsis.
Mencoba Pesawat
Narsis di depan Apache ..
Narsis di depan Apache
Dan ini Narsis di depan US AIR FORCE
Boleh Khan Narsis itu
Secara keseluruhan SAS 2014 itu menurut saya kurang mengenyangkan, saya masih ingin lebih menikmatinya .. mungkin karena waktu shownya dibagi dua pagi dan siang dan pesertanya pun sedikit hanya Singapura, Australia, Amerika,  Indonesia dan Korea Selatan. Tapi kalau exhibitionnya lumayan banyak pesertanya.

Saya juga merasa tidak puas dengan hasil jepretan sendiri mengingat lensanya bukan lensa tele hanya lensa kit dan settingannya pun tidak pas. Untuk penggunaan kamera, model M (Manual) lebih saya kuasai daripada model lainnya.

Menginap Di Hostel 5foot Way Inn

Balik dari arena  SAS, kita langsung ke Hostel. Saya pesan kamar/dorm yang khusus perempuan, sementara Dani, dia pilih kamar yang campur. Hostel ini menurut saya cukup bersih ya. Tapi halangannya yaitu ruangannya sempit, untungnya saya lagi tidak sholat jadi tidak terganggu harus mencari ruangan yang cukup luas untuk sholat. Hal yang tidak disukai adalah, terpisahnya toilet mandi dan toilet untuk BAB.  Untuk Toilet BAB merupakan tipe toilet kering.
Kalau untuk fasilitas sarapan sih, lumayan enak banyak pilihannya ya.

Hostel
Hostel ini letaknya di China Town. Persis di depan dan di pinggir hostel ini adalah toko-toko barang souvenir. Pokoknya ramai  di sini tapi tidak mengganggu sampai ke dalam penginapan. Jadi, kita bisa tenang untuk istirahat.  Peraturan yang diterapkan di Hostel ini adalah, kita boleh bawa minuman ke kamar tapi tidak boleh makan di dalam kamar. Kalau mau makan harus di ruang makan. Oh ya, satu hal lagi, akses masuk ke China Town itu dari stasiun MRT bawah tanah (subway) naik ke atas melalui lift dan sewaktu sampai atas kita disambut sebuah gerbang seperti ini:
Gate masuk ke China Town
 Inilah suasana di Chona Town.
Kiri dan Kanan Toko Souvenir
Di Hostel kita hanya singgah sebentar, selanjutnya kita cari makan di Food Court yang ada di sebuah Mall. Ternyata eh ternyata makan di Singapura itu mahal sekali. Satu kali makan dengan menu nasi Padang, saya habis SGD 5 (sekitar 50.000 kurang). Tapi lebih mahal minuman botol mineral. Satu botol Aqua yang diimpor oleh Singapura dari Indonesia harganya mencapai SGD 7. Makanya Dani sempat mengingatkan saya sebelum pergi untuk bawa botol minum supaya bisa diisi ulang. Tapi, saya tidak melakukannya. Di Singapura, saya beli satu botol Aqua dan bekasnya tidak dibuang melainkan dipakai isi ulang. Setiap mau ke luar Hostel saya isi botol Aqua itu dari air minum hostel. Jadi kalau makan tidak perlu beli air minum. Anehnya, minuman seperti Soft drink di sana murah.

Jadi, ini merupakan suatu catatan bagi saya, yaitu mengenal negara dimana harga mineral waternya mahal sekali.

Pakai EZ Link untuk Naik MRT
Habis makan kita langsung menuju ke Universal Studio tentu dengan pakai MRT (Mass Rapid Transit). Oh ya sebagai informasi, untuk menggunakan fasilitas MRT harus pakai kartu. Pilihannya bisa pakai kartu reguler atau EZ Link. Saya beli Ez Link.

Ez Link ini harganya SGD 12 dan berlaku selama 5 tahun. Tapi tentu kalau sudah habis harus diisi ulang. Harga SGD 12 itu terdiri dari dua komponen, SGD 5 untuk biaya kartunya dan SGD 7 untuk ongkos MRTnya. Intinya saya selama dua hari perjalanan ke Singapura menghabiskan sekitar SGD 22. Karena batas minimum untuk isi ulang kartu ini sebesar SGD 10. Saya kira cukup SGD 7 ternyata tidak cukup.

Keuntungan lain pakai kartu EZ Link tentu, kita tidak perlu mengantri kalau mau pakai MRT. Tinggal di Tap di pintu masuk/keluar.


EZ Link
Salah satu hal yang membuat saya terkesan dengan jalan-jalan ke luar negeri itu adalah alat transportasi umumnya. MRT di Singapura ini membuat penumpang tertib dan disiplin. Di dalam MRT maupun di area platformnya kita tidak boleh sama sekali makan dan minum. Selain itu, penumpang yang ke luar dan  masuk sangat rapi. Hal itu, setelah saya perhatikan memang ada garis yang membedakan untuk penumpang masuk dan keluar. Penumpang yang akan masuk MRT harus berdiri di garis merah yang terletak di sisi kiri dan kanan. Sementara garis hijau letaknya di tengah pintu dan digunakan sebagai jalan keluar bagi penumpang MRT.

Selain garis merah dan hijau itu, ternyata yang membuat  tertib dan disiplin adalah pintunya sendiri lebar. Jadi tidak berdesakan. Dengan kata lain memang diberikan space yang cukup untuk keluar masuk penumpang.

Line untuk antri masuk dan keluar


Universal Studio 
Kita mengunjungi Universal Studio itu sebenarnya hanya sebagai syarat saja. Di sini saya narsis di depan Ikon yang terkenal dan tentunya menonton satu pertunjukan saja yaitu "The Song Of The Sea".


I have been here finally
Setelah narsis di depan Universal Studio lanjutlah nonton The Song Of The Sea. Kata Dani pertunjukan ini sebenarnya permainan laser dan air. Tapi pas lihat latar pementasannya mereka buat seperti perkampungan suku Bajo Indonesia.


Latar Song of The Sea

Kalau untuk suku Bajo sendiri saya pernah mengunjungi sebuah kampung di Maumere, NTT, namanya Kampung Wuring.  Di kampung Wuring ini tinggal dua suku, yaitu bugis dan bajo. Perkampungannya sendiri seperti latar pertunjukan Song Of The Sea. Ya, mereka membangun rumah di atas laut. Jadi rumahnya tidak permanen, sewaktu-waktu bisa ditinggalkan. Cerita mengenai Kampung Wuring ini sudah saya publish di dalam postingan ke Flores. Intinya dari cerita ini adalah Indonesia memang kaya inspirasi, sampai tetangga kita pun mengakui hal itu.

Apa saja yang saya nikmati di Universal Studio selain Song Of The Sea?
Jawabannya tentu narsis lagi. Kali ini Narsis di depan Patung Merlion yang ada di Sentosa.

Merlion Sentosa

Selain itu baca ramalan yang ada di papan.
Shio Babi

Entah kenapa membaca ramalan atau shio ini menyenangkan ya. Meskipun kata orang jangan mempercayai hal yang seperti itu. Tapi bagi saya membacanya merupakan iseng belaka. Apa yang dikatakan oleh papan Shio Babi itu memang tidak jauh dari keadaan saya saat ini. Mengenai Love life katanya masih suram, kondisi keuangan yang tidak baik dan katanya saya harus mengurangi traveling dan kegiatan-kegiatan yang bersifat Volunteer.

Malamnya kita menikmati permainan lampu laser di Marina Bay.
Night View
Sayang gak bawa Tripod. Tadinya dari jauh hari sudah diniatkan untuk bawa, tapi biasa penyakit pelupa manusia.

Marlion di Marina Bay
Itu tadi kegiatan di malam hari, kita enjoy the view dan sesudah kenyang kita balik ke Hostel.

Hari kedua
Sebenarnya acara Singapore Air Show masih ada di hari Minggu. Tapi kita tidak balik lagi ke sana. Hari kedua ini kita balik lagi ke Marina Bay, lihat patung Marlion dan jelajah daerah di belakang China Town.

Foto bersama saudagar Alexander Johnson

 Foto-foto di Jembatan Cavenagh
Jembatan Cavenagh
 
 Memotret Bangunan 

Entah apa nama sungainya ini
 

Foto Patung First Generation
Patung itu bisa tahan dalam posisi seperti itu sampai kapan ya

Berfoto di Merlion Park
Kesilauan
Setelah kenyang berfoto-foto di Marlion Park, kita balik lagi ke Hostel untuk check out dan bawa barang. Setelah itu kita mencari makan di belakang China Town. Tapi sebelum sampai ke Maxwell Food centre yang dituju kita singgah dulu di Sri Mariamman Temple melihat orang keturunan India beribadat.

Masuk ke dalam Sri Mariamman Temple ini kita harus lepas sepatu dan kalau bawa kamera digital harus bayar. Makanya selama masuk kuil ini saya tidak mengeluarkan kamera lagipula ribet sama barang bawaan. Kalau Dani, dia diam-diam motret. Kalau ketahuan saya perhatikan yang Dani lakukan adalah pura-pura tidak lihat ke orangnya dan menjauhkan kamera digitalnya dari posisi membidik.

Sri Mariamman Temple


Foto Budha Temple
Budha Temple
Makan di Maxwell Food Centre
Pusat Makanan
Foto Di Ion
Di Ion
 Foto di Ion ini memang suatu keharusan. Dikarenakan kalau belum ke Ion atau Jl. Orchad ini berarti belum sepenuhnya kita ke Singapura. Foto di Ion merupakan aktivitas terakhir kami berkunjung ke Negeri Singa itu.

Seperti itulah cerita jalan - jalannya. Terima kasih untuk teman saya Dani yang sudah menjadi Guide sehingga kita tidak tersesat dan bisa kembali lagi ke Jakarta dengan selamat.

NB: Karena kita pakai MRT dan MRT satu ke MRT yang lainnya harus jalan begitu pula ke lokasi tujuan, maka harus dipersiapkan kondisi fisiknya.