Search This Blog

Wednesday, November 17, 2010

Iedul Adha Pertama di Batavia

Yup amica, bolehlah saya katakan bahwa Iedul Adha tahun ini merupakan Iedul Adha pertama bagi saya di Batavia. Saya tidak pulang kampung. Yup, hal ini dikarenakan waktunya yang tidak strategis alias nanggung di hari Rabu. Jadinya tidak bisa pulang kampung.
Bagiku sebenarnya tidak masalah apakah bisa pulang kampung atau tidak? Tokh saya jarang pulang kampung. Habisnya jaraknya yang nanggung. Ciamis itu sebenarnya masih dekatlah dari Batavia wong masih dalam satu pulau. Tetapi karena memang jarak, waktu dan kendaraanlah yang menjadi perhatian kita untuk berpikir dua kali kalau mau pulang kampung.
Dikarenakan tidak pulang itu saya sholat Ied di Masjid dekat kosan namanya Masjid Kramat Pela bareng dengan Mbak Wahyu. Duh, kalau tidak ada mbak Wahyu pastinya sepi. Si mbak kosan kayaknya pulang kampung begitu juga dengan anak-anak kosan lainnya. Untunglah mbak Wahyu tidak pulang jadi saya ada teman.


Mbak Wahyu @ Mesjid Kramat Pela
 Nah, pagi-pagi ini saya pergi ke masjid untuk solat ied. Solatnya sendiri dimulai sekitar pukul 7.00 Wib. Dipimpin seorang imam dan khatib. Wah, rupa-rupanya saya sangat takjub dengan sang Khatib dikarenakan suranya yang bagus melantunkan ayat-ayat suci Alquran.
Dan, setelah sholat Ied kemudian dilanjutkan dengan khutbah. Seperti biasa dikarenakan ini konteksnya Iedul Adha, maka topik ceramah kali ini pun seputar sejarah Kurban dan Nabi Ibrahim. Ya, harus kita akui repetisi itu penting untuk mengingatkan kita terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan menambah keimanan kita kepadaNYA.
Di sini saya ingin menggarisbawahi atau menyoroti tentang rumah tangganya Nabi Ibrahim seperti yang diceritakan dalam khutbah tadi. Dikatakan bahwa isteri pertama Nabi Ibrahim, Siti Sarah tidak kunjung memberikan keturunan kepada Nabi Ibrahim. Oleh karena itu, Siti Sarah meminta suaminya untuk menikahi perempuan lain agar mendapatkan keturunan. Nabi Ibrahim pada mulanya menolak saran dari Siti Sarah karena Nabi Ibrahim sangat mencintainya. Akan tetapi akhirnya, Nabi Ibrahim pun luluh dan menikah lagi dengan Siti Hajar. Kemudian dari pernikahannya itu lahirlah Ismail. Allah SWT ternyata mengabulkan doa Nabi Ibrahim untuk mendapatkan keturunan yang saleh.
Siti Sarah pun sebagai seorang perempuan menjadi iri terhadap Siti Hajar yang bisa memberikan keturunan kepada Nabi Ibrahim dalam waktu yang singkat. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan maka Nabi Ibrahim menjauhkan Siti Hajar dan Ismail dari Siti Sarah.
Dikarenakan keimanannya kepada Allah SWT, Siti Sarah yang mandul dan sudah tua pun bisa hamil dan memberikan keturunan kepada Nabi Ibrahim seorang putera yang bernama Ishaq. Yang kelak Ismail dan Ishaq ini menjadi Nabi Juga.
Nah, dari kisah tentang Nabi Ibrahim ini memang kita sebagai perempuan dituntut untuk bisa berpikir jernih dan tidak egois. Walaupun yang namanya dimadu atau dipoligami itu menyakitkan. Tapi kalau alasannya karena kita tidak bisa memberikan keturunan kepada suami ya itu patut untuk dicontoh. Akan tetapi bagaimana ya kalau si laki-lakinya yang tidak bisa memberikan keturunan? Akankah dia ikhlas melepaskan perempuan itu kepada orangtuanya kembali atau dengan kata lain menceraikannya?
Ya Allah, saya sebagai seorang perempuan menginginkan menjadi seorang perempuan seutuhnya yang bisa memberikan keturunan kepada suami saya.
Baiklah, itu tadi mengenai khutbah Iedul Adha. Sekarang saya ingin sharing apa yang saya lakukan setelah sholat Ied.
Yup, setelah saya solat Ied, saya diajak mbak Wahyu beli makan sate di dekat salah satu apotek di jalan Pangpol. Lucu juga yah yang lain itu berkorban atau memotong sapi dan kambing kita malah beli sate ayam hahhaaha. Tidak apa -apa namanya juga anak kosan. Kita akhirnya makan sate dan lontong di tempat yang jualan seharga Rp. 16000 ribu.


Sate

Tapi sayang tidak ada tisu dan air minum. Akhirnya kami baru minum di kosan. Tapi sebelum ke kosan kami membeli makan dulu di salah satu mini market.
Lalu, cerita berikutnya adalah ketika saya mau mengecek nasi goreng yang di depan kosan di waktu maghrib saya melihat mbak Wahyu lagi packing. Waktu saya tanya katanya mau pindah kerjanya ke Surabaya karena suami dan anaknya di sana. Betapa sedihnya saya. Ternyata moment kebersamaan kita tadi akan menjadi yang terakhir :(
Saya mengerti akan hal ini. Apalagi kalau sudah menikah banyak hal yang harus dipikirkan dan kita tidak bisa selalu berjalan beriringan karena Tuhan telah menetapkan garis hidup seseorang yang tentunya akan berbeda dari satu yang lainnya.
Membicarakan masalah keluarga, terbesit di hati saya kapan ya saya berkeluarga dan memiliki anak? Kemudian saya harus hidup mengabdi kepada suami? Mengikuti kemana suami dinas? Ah rupanya itu akan menjadi sesuatu yang magic dan rahasia tuhan. Saya hanya bisa mengupayakan semoga saya cepat mendapat Jodoh ya Tuhan. Amien :)

No comments:

Post a Comment