Search This Blog

Thursday, November 15, 2012

Menikmati Makassar

Yeah akhirnya bisa berkeliling Indonesia lagi. Kalau dihitung mundur sejak bulan Juli lalu belum ke luar kota lagi dan baru awal minggu November ini saya pun ke Makassar (6 s/d 7-11-2012). Memang dalam rangka tugas sih. Tapi  kesempatan ini saya pakai juga untuk menikmati kota Makassar di sela-sela acara. Karena sesuatu alasan, saya baru posting sekarang.

Apa sih yang dapat kita nikmati di Makassar?

Pantai Losari 
Hari pertama, acara yang kita ikuti selesai sekitar jam 4 sore. Jadi, masih bisa melihat sunset di Pantai Losari. Saya khan berangkat ke Makassar dengan Kasubag, waktu saya ajak Ibu untuk melihat sunset, Ia masih kelelahan. Alhasil pergilah sendiri, seperti biasa. Berbekal Informasi dari teman yang memang pernah berkunjung ke Makassar, tidak sulit untuk mengelilingi kota Makassar. Karena memang tempat wisata yang utama masih dalam satu lokasi dan tidak terlalu jauh ya. Selain itu, sebelum berangkat ke Makassar, tak lupa googling untuk mendapatkan informasi lain, seperti misalnya apa sih oleh-oleh khasnya Makassar. 

Lanjut ceritanya, dari hotel tempat menginap, saya diantar becak ke Pantai Losari. Dan seperti inilah keadaan Sunset di sana. 


Pantai Losari

Nah, saya lihat apa sih yang menarik dari Pantai Losari ini? karena kalau kita googling atau pun dengar cerita dari yang lain, selalu dan selalu Pantai Losari menjadi salah satu bagian cerita. Padahal pas saya lihat aslinya, Pantai Losari tidak ubahnya dengan pantai sejenisnya. Lalu apanya yang istimewa? Setelah kupikir memang itu  lho, rangkaian huruf "PANTAI LOSARI", yang menjadikannya Istimewa. Itu adalah sebuah bukti bahwa kita memang sudah pernah berkunjung ke sana. Itu adalah brandnya :)

Foto tersebut saya tidak ambil secara utuh. Hanya tulisan Pantai saja. Karena suasana di sana sedang ramai.  Ada yang lagi pasang panggung. Sepertinya mau ada acara. Nah, kalau saya ambil seluruh huruf, jadinya akan terlihat ramai. 

Dan ini bagian lain dari Sunset di Pantai Losari.

Sunsetnya

Itulah Pantai Losari yang saya kunjungi beberapa waktu lalu. 
Next .... Saya berkunjung ke Benteng Roterdam dan Museum La Galigo. 

Benteng Roterdam dan Museum La Galigo
Nah, Pada hari kedua, pagi-pagi sekali mungkin ada sekitar jam 7 saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke Benteng Roterdam. 

Fort Rotterdam, Di depan Gerbang Masuk Utama

 Yup, kita juga bisa melihat batu prasastinya. 
Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang
 

Pintu Masuk Utama.

Gerbang Masuk
Bagaimana sejarahnya Benteng Fort Rotterdam ini?
Yup, berdasarkan informasi dari sebuah buku yang saya beli di Musem La Galigo, dikatakan bahwa sebelum berubah nama menjadi Benteng Fort Rotterdam, semula namanya adalah Benteng Ujung Pandang.

Benteng Ujung Pandang  menjadi lambang kemegahan dan kejayaan Kerajaan Gowa di masa lampau atau tepatnya pada abad ke -16 dan 17. Benteng Ujung Pandang dirintis pembuatannya oleh Raja Gowa IX, Tumaparisi Kallona, kemudian diselesaikan oleh Raja Gowa X, Tunipallangga Ulaweng pada tahun 1545.

Pada masa jayanya Kerajaan Gowa mempunyai 14 (empat belas) buah benteng yang berfungsi sebagai benteng pengawal dari  Benteng Somba Opu yang merupakan pusat Pemerintahan Kerajaan Gowa. Empat belas benteng itu tersebar mulai dari daerah Takalar di Selatan dan Tallo di Utara. Adapun ke14 Benteng itu adalah :

  1. Benteng Tallo
  2. Benteng Anak Tallo
  3. Benteng Ujung Tanah
  4. Benteng Pattunuang
  5. Benteng Ujung Pandang
  6. Benteng Mariso
  7. Benteng Bontorannu
  8. Benteng Barobosa
  9. Benteng Kalegowa
  10. Benteng Anak Gowa
  11. Benteng Panakkukang
  12. Benteng Galesong
  13. Benteng Barombong
  14. Benteng Sanrobone   
Apa yang terjadi dengan Benteng-benteng tersebut?
Setelah Kerajaan Gowa kalah perang dari Belanda dan adanya penandatanganan Perjanjian Bongaya oleh Sultan Hasanudidn pada tahun 1667, benteng-benteng tersebut dihancurkan kecuali Benteng Somba Opu dan Benteng Ujung Pandang. Setahun kemudian, Benteng Somba Opu pun dihancurkan Belanda karena Pemberontakan oleh Sultan Hasanuddin.

Lalu, mengapa Benteng Ujung Pandang berubah menjadi Fort Rotterdam?
Berdasarkan perjanjian Bongaya, yang ditandatangani pada tanggal 18 November tahun  1667, salah satu isinya mengharuskan Kerajaan Gowa menyerahkan Benteng Ujung Pandang kepada Belanda. Setelah benteng Ujung Pandang jatuh ketangan Belanda, Cornelis Speelman merubah namanya menjadi Fort Rotterdam. Nama tersebut sebagai tanda kenangan Cornelis Speelman terhadap kota kelahirannya di negeri Belanda yaitu kota Rotterdam. 

Pertanyaannya sekarang adalah, mengapa Sultan Hasanuddin menandatangani perjanjian Bongaya?
Informasi yang saya peroleh mengatakan bahwa Sultan Hasanuddin menandatangani perjanjian Bongaya dalam keadaan terpaksa dengan maksud untuk menghindari korban yang lebih besar serta untuk meredakan pertentangan keluarga yang sangat berbahaya bagi masa depan Sulawesi.  Tindakan Sultan Hasanuddin ini banyak ditentang oleh para pembesar dan sekutu Kerajaan Gowa serta keluarga terdekat dari Sultan Hasanuddin sendiri. Namun pada akhirnya, Sultan Hasanuddin pun tidak mematuhi perjanjian Bongaya karena Cornelis Speelman tidak jujur dalam menepati janji serta kurang adil.

Apa yang dilakukan Belanda terhadap Fort Rotterdam?
Setelah jatuhnya kerajaan Gowa pada tahun 1669, Benteng Ujung Pandang yang telah berubah namanya menjadi Fort Rotterdam menjadi penting bagi Kompeni Belanda. Fort Rotterdam dijadikan Pusat Pertahanan, Pusat Pemerintahan serta Pusat Kegiatan Perdagangan Kompeni Belanda.

Bangunan-bangunan yang ada dalam benteng dirombak sesuai dengan selera dan keperluan kompeni Belanda. Hampir semua sisi bagian dalam benteng diisi dengan bangunan Arsitektur Eropa dengan gaya gotik. Di tengah Benteng didirikan bangunan bertingkat yang diperuntukkan sebagai Gereja.
Gereja

Menurut Bapak Sofyan, yang bertugas di Museum La Galigo, Bangunan Gereja atau yang diberi Huruf P ini, merupakan bangunan pertama yang dibangun Belanda. "Bangunan yang pertama kali dibangun Belanda itu adalah gereja yang letaknya ada ditengah-tengah itu", ujarnya.

Balik ke cerita Cornelis Speelman. Sejak Benteng Ujung Pandang beralih dalam tangan Kompeni Belanda maka sejak saat itu  Cornelis Speelman yang dianggap sangat berjasa dalam menanamkan kekuasaan Kompeni Belanda di Sulawesi diangkat sebagai Gubernur oleh pimpinan Kompeni Belanda di Batavia (Jakarta). Cornelis merupakan Gubernur Hindia Belanda ke-14 yang pernah memerintah di Indonesia di bawah VOC.

Ingat ya, Indonesia itu dijajah ada pada masa VOC, Pemerintah Belanda, Inggris dan Jepang. VOC (Vereenidge Oostindische Compagnie) atau Perserikatan Perusahaan Hindia Timur adalah perusahaan Belanda yang memiliki hak monopoli untuk aktivitas perdagangan di Asia.

Meskipun sebenarnya VOC merupakan sebuah badan dagang saja, tetapi badan dagang ini istimewa karena didukung oleh negara dan diberi fasilitas-fasilitas sendiri yang istimewa. Misalkan VOC boleh memiliki tentara dan boleh bernegosiasi dengan negara-negara lain. Bisa dikatakan VOC adalah negara dalam negara. Itu berdasarkan sumber dari Wikipedia ya.

 Bangunan yang berada di dalam Fort Rotterdam itu berjumlah keseluruhannya ada 15 buah. Semua bangunan diberi Huruf ya. Sepertinya untuk memudahkan saja dalam pencarian atau pemberian keterangan. Nah yang saya lihat Hurufnya itu sampai huruf P.  Namun, saya tidak melihat Huruf A. Jadi, benar kalau mulai dari Huruf B sampai Huruf P semuanya ada 15 bangunan. Dari 15 bangunan ini, 14 diantaranya peninggalan Belanda dan bertingkat. Sementara satu bangunan lagi merupakan peninggalan Jepang dan tidak bertingkat.

Salah satu contoh bangunan yang diberi Huruf ya.

Bangunan O
Di awal sudah disinggung soal Museum La Galigo ya. Museum ini letaknya berada di dalam Fort Rotterdam dan merupakan bagian dari ke-15 Bangunan yang disebutkan tadi.

Museum Di Bangunan D
 Yup, Museum La Galigo di Bangunan D ini, dulu didirikan sebagai tempat tinggal Cornelis Speelman pada tahun 1686 dan bagian belakangnya sebagai ruang penyimpanan senjata, ruang mandor kepala serta kediaman ahli bedah menghadap ke selatan, membujur dari Barat ke Timur dengan luas bangunan 189, 65 meter persegi. Bangunan ini terdiri dari tiga lantai. Jumlah ruangan lantai dasar ada 10 buah dan lantai tiga hanya ada satu ruangan.

Selain masuk ke Bangunan D saya juga masuk ke Museum La Galigo di Bangunan M. Di sini saya bertemu dengan Bapak Sofyan yang memberikan Buku tentang Museum La Galigo gratis pada saya. "Boleh diambil buat mbak, saya lihat Mbaknya antusias",  katanya. Terima Kasih ya Bapak :)

Ini bukunya:
Dari Bapak Sofyan

 Tapi sayang ketika masuk ke Museum La Galigo di Bangunan M, Shutter kameranya Mati. Maklum Kamera kantor sudah tua. Jadinya gak ada fotonya. Bangunan M khan peninggalan Belanda, jadi bertingkat. Itu seperti Museum Fatahilah. Seperti itulah kira-kira gambarannya. Bertingkat maksudnya.


Dibalik nama Museum La Galigo ini ada sejarahnya lho. Kata Mbak Adri, yang juga pegawai di sana, La Galigo itu sebuah Epos. "Itu merupakan sebah epos atau cerita rakyat. La Galigo adalah orang pertama di dunia dan melakukan perjalanan keliling dunia. Dia anaknya Sawerigading", katanya. 

Kalau berdasarkan buku yang saya terima itu sejarah di balik nama La Galigo itu dikatakan bahwa Pasca Kemerdekaan Republik Indonesia, terjadi dialektika mengenai penamaan Celebes Museum apakah masih relevan atau tidak dengan situasi yang baru, dimana Indonesia sudah merdeka. Hal itu mendorong para tokoh untuk merumuskan ulang nama yang tepat bagi Celebes Museum, dan memunculkan nama La Galigo.


Kenapa La Galigo yang terpilih?
Penamaan La Galigo terhadap Museum itu atas saran para cendekiawan dan budayawan dengan pertimbangan bahwa La Galigo adalah sebuah karya sastra klasik dunia yang besar dan terkenal, serta bernilai kenyataan kultural dalam bentuk naskah terulis berbahasa Bugis yang disebut Sure 'Galigo.

Sure' ini mengandung nilai-nilai luhur, pedoman ideal bagi tata kelakuan dan dalam kehidupan nyata yang dipandang luhur dan suci, merupakan tuntunan hidup dalam masyarakat Sulawesi Selatan pada masa dahulu seperti dalam sistem religi, ajaran kosmos, adat istiadat, bentuk dan tatanan persekutuan hidup kemasyarakatan/pemerintahan tradisional, pertumbuhan kerajaan, sistem ekonomi/perdagangan, keadaan geografis/wilayah, dan peristiwa penting yang pernah terjadi dalam kehidupan manusia.

Selain daripada itu, dahulu naskah atau Sure' yang dipandang suci ini disakralkan dan hanya dibaca pada waktu-waktu tertentu sambil dilagukan.
Berdasarkan hasil kajian beberapa tokoh seperti: Stamford Raffless, B.F Matthes, R.A. Kern dan A. Zainal Abidin Farid, dapat diperoleh kesimpulan bahwa Sure' La Galigo adalah:

  1. Sebagai sastra suci menceritakan tentang cikal bakal Orang Bugis yang sakti dan dimuliakan, oleh sebab itu naskah La Galigo dapat berfungsi sebagai penawar keresahan menghadapi ancaman penyakit, bencana alam, dan kematian.
  2. Sebagai Sastra Normatif berisi petunjuk tentang apa yang pantas dan tidak pantas dilakukan, sebagai tata kehidupan sehari-hari, mulai dari peristiwa melahirkan, pijak tanah, perkawinan, hingga urusan kematian dan adat beraja-raja. Dengan demikian naskah La Galigo dapat dipandang sebagai pendorong terciptanya integritas sosial dengan keluarga raja sebagai intinya, dan pendorong terciptanya stabilitas sosial, serta kelestarian pranata sosial budaya.
  3. Sebagai Sastra indah bersisi cerita petualangan, percintaan dan peperangan, yang memikat dan menegangkan dalam irama dan gaya bahasa yang menawan sehingga dapat sebagai penghibur, penggugah emosi dan imaji pengikat, pembina kompetensi dan apresiasi sastra di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan.
Seperti itulah cerita tentang Fort Rotterdam  dan La Galigo. Oh ya, tak lupa saya juga tanya pegawai Museum La Galigo apakah ada buku cerita La Galigo. Pas Bapaknya memperlihatkan bukunya, wow tebal banget.... Sekitar seribuan halaman ya itu.Gak jadi deh belinya. Berat bawanya. Harga sih bisa nego.

Oleh-Oleh dan Kuliner

Okey, Sekarang kita lihat oleh-oleh atau kuliner apa yang dapat kita nikmati di Makassar:

Sutra 
Ya, sutra Makassar.

Ragam Sutra Makassar

Untuk Sutra Makassar ini saya diberitahu oleh Penjualnya ada dua jenis, sutra Sengkang dan sutra Mandar. Kalau ditanya mana Sutra Sengkang dan Mandar, tentu saya lupa :). Harganya berapa? Nah, untuk jenis sarung sutra dijual Rp. 250.000,- itu sudah diberi potongan ya. Sebelumnya mahal. Diberi diskon karena waktu itu kita diantar oleh saudaranya Ibu yang juga langganan Toko itu.  Kalap saya jadinya kalau ketemu dengan barang-barang khas suatu daerah.

Otak-Otak Makassar

Selain Sutra, kita bisa beli otak-otak Makassar untuk oleh-oleh.

Otak-Otak

Pisang Epe

Pisang Epe
Pisang Epe ini terbuat dari Pisang Gepok yang dibakar. Ada tiga rasa. Rasa durian, cokelat dan keju.

 Mie Titi
Mie Titi

 Mie Titi ini terbuat dari Mie kering yang sudah digoreng lalu diberikan kuah dan sayuran.


Es Palu Butung 
Es Palu Butung

 ... dan masih banyak lagi kuliner yang lainnnya. Intinya, Kuliner Makassar itu enak-ennak lho, masih Pas di lidah saya juga.

No comments:

Post a Comment