Search This Blog

Saturday, March 23, 2013

Jelajah Situs Trowulan bersama KJB




Tim KJB di depan Candi Brahu foto dari Pak Hardi Kwik

Untuk mendapatkan pengetahuan yang banyak tentang sejarah bangsa, maka      salah satunya bisa dilakukan dengan Jelajah Budaya. Itulah yang saya lakukan bersama dengan Komunitas Jelajah Budaya (KJB), menjelajahi situs Trowulan pada tanggal 15 – 17 Februari 2013. Perjalanan dari Jakarta  menuju Jombang ditempuh dengan Kereta Api. Ada banyak jadwal keberangkatan sebenarnya, tetapi saya sendiri memilih jadwal sore jam, 16:05 WIB dengan kereta Eksekutif Bangun Karta. Sementara rombongan pertama sudah berangkat jam 12 siang dan ada juga yang pakai pesawat. 

Pada hari Jumat, 15 Februari 2013, Kereta Api Bangun Karta, berangkat dari Stasiun Senen menuju Jombang tepat waktu. Tidak ada jadwal keterlambatan hanya jalannya saja menuju Stasiun macet ada demo di depan BEJ. Tapi karena kelihaian dari supir Taxi, saya tidak terlambat dan akhirnya bertemu dengan teman-teman yang lainnya, ada Hardi, Denis, Nani, dan Ida.  

Dalam perjalanan menuju Stasiun Jombang, Kereta Api Bangun Karta berhenti di beberapa stasiun yaitu: Jatinegara, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Paron, Madiun, Nganjuk, Kertosono dan stasiun terakhir Jombang. 

Tanggal 16 Februari, sekitar jam 4:30 Kereta sudah sampai di Jombang. Di sana kami sudah dijemput Pimpinan KJB, Kartum Setiawan. Kami pun langsung menuju penginapan. Penginapan yang dimaksud di sini bukanlah sebuah hotel tapi katanya suka dipakai untuk kegiatan seminar. Kamarnya besar dengan empat buah kasur yang didempetkan sehingga satu kamar memuat empat  orang. Untuk  penginapan ini peserta dicharge sebesar Rp. 50.000, plus bayar guide dan materi, bis serta makan, total semuanya Rp. 435.000, di luar dari ongkos Kereta. 

Setelah berisirahat sebentar dan mandi, Jam 7.15, kami menuju Rumahnya Mas Kartum Setiawan, untuk sarapan Pagi di sana. Kami pun dijamu dengan Rawon, Perkedel, Ayam, Gepuk, dan  cemilan yang lain. Seru deh jadinya, makan di desa rame-rame, teringat kampung halaman dan terasa keakrabannya.

Sesi makan di rumahnya Mas Kartum

Tak jauh dari rumahnya leader kami itu, terletak sungai Berantas. Kita pun ke sana. 

Berdasarkan dari keteranghan Kartum Setiawan didapat Informasi kalau Sungai Brantas ini dahulu dipakai sebagai jalulr transportasi perdagangan bahkan ada masyarakat yang suka menggali pasir di Sungai ini. Pada waktu kami berkunjung ke sana airnya terlihat kotor berwarna kecokelatan dan ada seorang bapak yang sedang asyik mencari ikan di tepi sungai.

Sungai Brantas ini merupakan sungai terpanjang yang berada Jawa Timur atau sungai terpanjang kedua setelah sungai Bengawan Solo.


Sungai Brantas

Pukul 9:00 WIB kami menuju Museum Majapahit. Di sepanjang perjalanan ke Museum dapat dilihat pemandangan Sawah yang menghijau di sisi kiri dan Kanan.  Mengenai persawahan ini, Kartum memberikan informasi. 

“Sawah-sawah ini kalau pada musim kemarau beralih fungsi menjadi kebun, semangka, melon atau tebu dan menjadi salah satu komiditi”, ujar Kartum. 

Dari cerita mengenai sawah, Kartum beralih ke fokus utama jelajah yaitu, situs Trowulan. Dia mengatakan yang disebut dengan situs Trowulan itu sama dengan situs Majapahit. 

Kebesaran Majapahit tercantum dalam kitab Pararaton dan Negara Kertagama karangan Mpu Prapanca. Menurut Kartum Kitab itu ditemukan secara tidak sengaja. Di Puri Lombok dan Bali ditemukan dalam daun lontar. Pada kitab tersebut disebutkan raja Singosari dan Majapahit. Hubungan kedua kerajaan ini sangat dekat. Kerajaan Singosari yang terletak di kediri banyak melakukan ekspedisi penaklukan mulai dari Melayu, Kalimantan, Banjar (terus mana lagi). China belum pernah ditaklukan. Kubilai Khan pernah mengutus tentaranya menaklukan Singosari pada masa Raja Kertanegara. Tapi utusan tersebut dapat dikalahkan. Akibatnya ia dipotong telinganya. 

Nah, akibat penghinaan yang diterima oleh utusannya itu Kubilai Khan mengadakan balasan, tapi ketika terjadi serangan balasan, di Singosari, terjadi pergantian tampuk pimpinan akibat pemberontakan Jayakatwang. Raja Kertanegara digantikan oleh Jayakatwang. Kertanegara dalam pemberontakan tersebut meninggal. 

Setelah Kertanegara meninggal, Raden Wijaya yang merupakan menantu Kertanegara menyatakan tunduk kepada Jayakatwang. Raden wijaya diberi tanah tarik dan hal ini menjadi cikal bakal dari berdirinya Kerajaan Majapahit. 

Raden Wijaya kemudian memanfaatkan serangan dari Mongol (Kubilai Khan) untuk menyerang balik Jayakatwang, sehingga Singosari dapat dihancurkan. 

Setelah kerajaan Singosari runtuh, Kerajaan Majapahit kemudian berkembang dan mengalami kejayaan pada masa Raja Hayam Wuruk dengan patihnya yang terkenal yaitu Gajah mada. Ia terkenal dengan sumpahnya, Sumpah Palapa,  yaitu ingin menaklukan nusantara. Dalam masa kejayaannya, Kerajaan Majapahit dapat menaklukan kerajaan-kerajaan nusantara kecuali Satu yang belum ditaklukan yaitu, Kerajaan Padjadjaran. Hal ini erat kaitannya dengan kisah asmara antara Dyah Pitaloka dari Kerajaan Pajdjadjaran dan Hayam wuruk dari Majapahit. 

Ketika Prabulingga akan mengantarkan putrinya, Dyah Pitaloka untuk dinikahkan dengan Hayam Wuruk terjadi perang di daerah bubat, yang kemudian dikenal dengan perang Bubat. Perang Bubat tersebut terjadi antara pasukan Gajah Mada dengan Pasukan Prabulingga yang menyebabkan Dyah Pitaloka meninggal dalam perang tersebut. Hal ini membuat Hayam Wuruk marah kepada Gajah Mada. Setelah itu, Gajah mada mengasingkan diri. 

Pernikahan antara Dyah Pitaloka dengan hayam Wuruk tidak terjadi karena, Ibu Hayam Wuruk, Tri Bhuwana Tungga Dewi, kurang menyutujuinya seperti yang dijelaskan Pak Rojak. 

Oh ya,  ada cerita nih, katanya karena peristiwa Bubat atau perang antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Padjadjaran itu maka di Jawa Barat itu, tidak ada nama Jl. Hayam Wuruk. Hoh, memang sih jarang juga saya menemukannya.  Lagipula setiap daerah punya nama pahlawannya sendiri. 

Mari kita rinci satu persatu Jelajah Budaya Ini ...

HARI PERTAMA (16 Februari 2013)

Museum Majapahit
Sekitar jam 9.30 WIB, kami tiba di Museum Majapahit.

Narsis dulu ya
Gambar di atas diambil di bagian depan museum. Kebetulan di depan  museum itu ada patung. Oke, kita lanjut ceritanya. Rombongan KJB, ketika datang diterima dan disambut oleh Guidenya Museum itu sendiri yang bernama Pak Rojak. Kita pun langsung masuk ke dalam koleksi penyimpanan yang ada di museum.


Museum Trowulan - Majapahit

Setelah kita masuk ke dalamnya, sangat luaslah Museum ini ternyata sampai halaman belakang. Sebelum kita lihat halaman belakang, kita lihat dulu bagian dalam (depan) museumnya ya. Di penyimpanan bagian depan itu ada bekas tempayan, yang merupakan hasil rekonstruksi ada juga arca-arca, lingga, yoni dan celengan babi yang terbuat dari tanah liat. 

Tempayan
Beranjak ke ruangan lain, kita bisa melihat adanya Sumur Kuno. 

 
Sumur Kuno
Sumur Kuno yang ditemukan di situs Trowulan ini terbuat dari bahan bata dan gerabah. Sumur dari bahan bata bentuknya ada yang persegi dan bundar. Jenis batanya pun berbeda. Sumur bata yang berbentuk persegi, menggunakan bata berbentuk persegi. Sedangkan sumur bundar menggunakan bata lengkung. 

Sumur yang terbuat dari gerabah disebut sumur Jebeng. Jenis sumur yang banyak ditemukan di Trowulan adalah sumur Bundar dan jenis Jebeng.
 
Keluar dari dalam museum, kita menuju bagian belakang dan itu merupakan ruangan terbuka  yang cukup besar.
Di bagian belakang ini terdapat sejumlah peninggalan sejarah berupa arca, relief dan lainnya. 


Bagian Belakang Museum




Nah, di bagian belakang museum ada sebuah pohon Maja lho. Buahnya inilah yang merupakan asal mula dari nama Kerajaan Majapahit. Pada waktu itu, pohon maja ini sedang berbuah ya. Tapi disetiap buahnya itu ada ukiran nama orang. Biasalah kreativitas dari pengunjung yang seharusnya tidak disalurkan pada buah Maja itu hehehehe. Ini buahnya.

Pohon dan Buah Maja


Masih dalam satu area dengan Museum, ada beberapa lokasi ekskavasi atau bekas penggalian dari situs pemukiman masyarakat pada zaman Majapahit.


Situs Permukiman pada Zaman Majapahit


Dilihat dari foto di atas terlihat ada bata-bata dan tembikar dari tanah liat. Nah, Situs ini lantainya segi empat artinya ini kastanya termasuk ke dalam tingkatan yang rendah. 

Sementara ada situs yang lantainya atau ubinnya itu berbentuk segi enam. Kata Guide kita, Bapak, kalau ubin segi enam ini berarti kastanya sudah tinggi atau kasta bangsawan. Coba lihat Situs berikut ini. 

Situs dengn ubin segi enam


Ubin bersegi enam ini juga terdapat di Situs Candi Kedaton. 

Situs Candi Kedaton

Situs ini luas sekali. Terdapat sebuah Candi di sini yang disebut dengan Candi Kedaton. Nah, kita khan tidak tahu persis dimana letak Ibu Kota dari Kerajaan Majapahit, Trowulan. Karena tidak adanya bekas daripada Ibu Kota ini. Tapi Situs Kedaton ini merupakan situs yang bisa dipastikan kastanya paling tingggi diantara situs yang ada di Trowulan.


Situs Kedaton



Dan berikut ini Candi Kedaton yang menambah Situs Kedaton ini istimewa. 

Candi kedaton
Di situs Candi Kedaton ini sebenarnya terdapat empat buah bangunan utama yang terdiri dari Candi dengan sumur Upas, Makam Islam, Mulut gua dan lorong rahasia. Sampai sekarang, para arkeolog belum menemukan format dari Situs Kedaton. Tetapi kalau dilihat dari temuan bentuk struktur, diperkirakan Candi Kedaton ini merupakan kompleks bangunan atau tempat tinggal.

Kurang lebih 200 meter dari Situs Candi Kedaton terdapat Umpak. Seperti inilah bentuknya

Umpak Sentonorejo

Umpak Sentonorejo


Umpak ini berbentuk persegi delapan dan sudah terbungkus plastik sebelumnya tidak dibungkus kata Mas Kartum. Biasanya khan kita temukan di sebuah pendopo atau tempat pertemuan. Umpak ini ada berjumlah 14 buah, ditengahnya bolong atau ada rongganya. Ini biasanya dipakai untuk memasukan tiang atau soko guru. Jadi, jelaslah dengan adanya Ubin segi enam, candi dan Umpak ini menandakan bahwa Situs Kedaton ini istimewa. 

Selesai keliling Situs Kedaton, kita kemudian lanjut berkunjung ke Pendopo Agung.
Pendopo Agung

Pendopo Agung



Coba lihat Umpak pada gambar kedua (bagian bawah). Na, Umpak Sentonorejo, kalau dipasang dengan tiang jadinya seperti itu. Oh ya, dibelakang Pendopo ini ada sebuah tempat yang dijaga juru kunci. Kita bisa melihat dari jauh tidak boleh mendekat. Tempat ini sakral sekali karena di sinilah tempat bertapanya Raja Majapahit yang pertama, Raden Wijaya dan juga tempat diucapkannya sumpah Palapa oleh Mahapatih Gajahmada.



Tempat Pertapaan dan Pengucapan Sumpah

Habis dari Pendopo Agung kita melanjutkan kunjungan ke Candi Tikus. 
Candi Tikus

Candi Tikus
Kenapa diberi nama Candi tikus? 
Ini dikarenakan pada waktu terjadi wabah tikus yang merajalela dan terjadi pemburuan, tikus-tikus itu berlari ke dalam lobang dalam sebuah gundukan. Akhirnya, setelah dibongkar, di dalam gundukan atau dibawah sarang tikus terdapat bangunan yang terbuat dari batu bata.  Itulah asal mula kenapa diberi nama Candi Tikus. 

Candi Tikus merupakan replika atau konsep Mahameru sebagai pusat makro kosmos. Selain itu, di tengah candi tikus terdapat miniatur empat buah candi kecil yang dianggap melambangkan Gunung Mahameru.

Dari Candi Tikus kita berlanjut ke Candi Bajang Ratu. 
Candi Bajang Ratu 
Candi Bajang Ratu
Candi Bajang Ratu ini dibangun pada tahun 1328 M oleh Tri Bhuwana Tungga Dewi untuk Jayanegara.  Begini ceritanya, Kerajaan Majapahit ini Raja Pertamanya Raden Wijaya. Setelah meninggal, Raden Wijaya digantikan anaknya yang bernama Jayanegara. Ketika ditunjuk menjadi Raja, Jayanegara masih kecil (bajang = kecil/ cacat) dan pada masa pemerintahannya terjadi pemberontakan tapi pemberontakannya itu bisa dipatahkan Gajah Mada. 

Jayanegara sendiri meninggal karena dibunuh oleh tabibnya. Selanjutnya tabib yang membunuh Jayanegara berhasil disingkirkan oleh gajah mada. Tapi ada yang mengatakan bahwa dibalik pembunuhan itu, Dalangnya adalah Gajah Mada, karena dia adalah penasehat setia dan terpercaya dari Tribhuwana Tungga Dewi atau Ibunya Hayam Wuruk. 

Apa hubungan Jayanegara dan Tribhuwana Tungga Dewi? 
Mereka adalah adik-kakak yang berbeda Ibu.  
Nah, Candi Bajang Ratu ini merupakan bentuk Candi Dharma. Maksudnya candi yang dibangun untuk penyucian atau merupakan pintu yang menuju bangunan Suci tempat perabuan Jayanegara. 

Wow, sekarang kita jadi tahu Siapa Tribhuwana Tungga Dewi itu. Ratu yang berkuasa ketiga di Kerajaan Majapahit dan merupakan Ibu dari Hayam Wuruk. 



Dari Candi Bajang Ratu kita lanjut ke Kolam Segaran. 
Kolam Segaran
Kolam Segaran
Kolam segaran ini ditemukan kembali pada tahun 1926 oleh Ir. Henri Maclaine Pront, arsitek berkebangsaan Belanda yang mendirikan museum trowulan lama dan memiliki perhatian besar terhadap penelitian bekas kota Majapahit. Segaran itu sendiri berasal adari "Segara" yang artinya laut dan akhiran "An" yang artinya buatan. 

Katanya kolam ini, menampung sumber mata air dari empat gunung yang bermuara di kali Brantas.

Kata Pak Rojak, Kolam segaran dahulu ketika masa kerajaan Majapahit dipakai untuk menjamu tamu dari China. Biasanya barang-barang yang dipakai untuk jamuan seperti piring, gelas dan lainnya yang terbuat dari emas, sesudah dipakai dibuang ke Kolam ini. Maksudnya unjuk kekayaan. Tapi, setelah para tamu raja itu pulang, barang-barang yang sudah dibuang itu diambil kembali. Unik ya, heheheheheee...

Kolam ini pernah mengalami pemugaran dan ketika dilakukan penggalian kepurbakalaan tidak ditemukan benda-benda yang berarti kecuali sebuah mata kail emas, kepingan tulang-tulang, sebuah pegangan dari tanah liat dan sebuah lumpang batu kecil.



Kunjungan berlanjut pada hari kedua. 

HARI KEDUA (17 Februari 2013)
Gapura Wringin Lawang

Gapura Wringin Lawang
Pada hari kedua, Kunjungan dilanjutkan ke Gapura Wringin Lawang. Nama dari gapura ini ada sejarahnya. Ketika ditemukannya ada 7(tujuh) beringin yang menyerupai pintu. Berdasarkan hal itulah Gapura ini diberi nama "Wringin Lawang". 

Atap gapura ini berbentuk bentar. Fungsinya sebagai pintu masuk ke Kota Raja atau Pintu masuk ke Majapahit. Sebenarnya kata Pak Rojak, Sang Guide, Pintu masuk ke Majapahit ini ada 4 (empat). Wringin Lawang ini ada di sebelah Utara,  tapi katanya yang sebenarnya menghadap ke Barat Daya. Hal ini berbeda dengan catatan Wagenar kata Pak Rojak. Saya tidak mengerti siapa itu Wagenar.

Gapura ini terbuat dari bata merah dan sudah pernah dipugar. Ketika ditemukan sudah tinggal setengah. Kemudian dilakukan rekonstruksi. Meskipun dilakukan rekonstruksi tapi tidak mengurangi nilai arkeologi dan  arsitektur.

Sebuah Gapura memiliki ciri khas yaitu, yaitu memiliki trap atau undakan dan jumlahnya ganjil. Maksud dibangunnya sebuah Gapura itu, logikanya, kalau orang mau masuk ke suatu tempat harus salam atau permisi dulu. Begitu ...


Patung Budha Mahavihara

Lalu kita pun  berkunjung ke Patung Budha Mahavihara atau yang dikenal juga dengan Sleeping Budha. Yup, dikarenakan Indonesia juga Punya Sleeping Budha, jadi tak perlu ke Thailand.  Letaknya ada dibagian belakang dari Maha Vihara Mojopahit.

Sleeping Budha
 Perhatikan, bibirnya seksi ya.... 

Maha Vihara Majapahit ini didirikan oleh Bikhu Wriyanadi. Konsep pembangunan dari vihara dengan Sleeping Budhanya ini adalah terkait dengan Keyakinan Hindu Budha. Sehingga ia ingin mengangkat kembali kebesaran Majapahit yang dulu pernah berjaya, "Gaung Bumi Sakala Majapahit" artinya Majapahit pernah bergaung dan berjasa.

With My Friends
Saya sempat tanya sama Pak Rojak tentang sikap masyarakat ketika dibangunnya Vihara ini. Menurut keterangannya, Kelebihan Vikhu, sebelum mendirikan Vihara ini, dia bisa masuk melalui pendekatan kepada masyarakat. Pertama dia beli tanah yang ditanami jati, kemudian pelan-pelan dibuatlah tempat seperti yang sekarang ini kita lihat. Ternyata di sini ada tempat penginapan juga untuk para mahasiswa, komunitas atau tamu lainnya.
Selanjutnya kita berkunjung ke pusat kerajinan Bejijong. 


Pusat Kerajinan Bejijong
 
Perajin di Bejijong
Di pusat kerajinan Bejijong ini, kita bisa melihat langsung proses pembuatan kerajinan yang terbuat dari logam perunggu, perak maupun tembaga. Saya pun beli, ada kerajinan gajah, topeng dan kura-kura. Harganya mulai dari Rp. 15.000 an...

Kunjungan kita terakhir ke Candi Brahu .. 
Candi Brahu

Candi Brahu
Menurut keterangan Bapak Rojak, Candi Brahu ini fungsinya untuk perabuan. Tapi tidak ditemukan abu. Berfungsi juga untuk upacara karena ada altarnya. Meski tidak ditemukan abu tapi ditemukan arang pada abad 16. Candi Brahu condong untuk Pendharmaan. Tingginya 27 (dua puluh tujuhI meter). Merupakan Candi Hindu Budha. Dikatakan ke dalam Candi Hindu karena ditemukan Lingga Yoni dan bentuknya Hindu dan dikatakan Candi Budha karena bentuknya menggemuk. Candi Brahu ini menghadap ke  Barat.

Oh ya, ada juga yang mengatakan bahwa Candi Brahu merupakan Candi Budha. Hal ini saya dengar ketika ada serombongan anak-anak Sekolah Dasar berkunjung ke sini dan saya menguping perkataan Guidenya. Selain itu, lihatlah pada gambar kedua, ada miniatur candi budha yang terbuat dari tanaman :) 


Seperti itu kira-kira cerita Jelajah Situs Trowulan bersama KJB. Maaf kalau ada informasi yang kurang tepat dan terima kasih sudah membacanya.

 





No comments:

Post a Comment