Search This Blog

Friday, March 15, 2013

Setelah Membaca Habibie & Ainun


Buku Sangat Menginspirasi
Akhirnya tamat juga membaca Buku "Habibie & Ainun". Bisa jadi saya adalah orang yang paling telat membaca buku ini, tapi sangat bersyukur bahwa dalam ketelatan ini masih ingat untuk membeli bukunya, membacanya dan menamatkannya. 

Adakah teman-teman menangis sewaktu membaca buku ini? 
Saya menangis khusus pada bagian akhir. Ketika BJ Habibie berusaha dengan sepenuh hati menyelamatkan Ainun dari penyakit kankernya. Sampai mengijinkan dokter mengoperasi Ainun sebanyak 12 (dua belas kali). Baru untuk ketiga belas kalinya, Habibie berpikir tentang kemungkinan untuk sembuh, dan ketika dokter mengatakan sangat kecil kemungkinan untuk sembuh maka diputuskan untuk tidak melanjutkan operasi ketiga belas. Habibie Pasrah dan menyerahkan semuanya kepada Allah SWT. 

Pada bagian ketika Habibie menunggu detik-detik akhir Ainun, Ia membacakan sahadat, sungguh membuat terharu dan sayapun cengeng jadinya. Lantas hal ini membuat saya berpikir. Bisakah saya seperti mereka. Ketika menghadapi kematian itu ada suami di sisi saya dan membacakan Sahadat ditelinga. Kalau pun tidak seperti itu, maka ijinklah apabila menghadapi Sakaratul Maut itu, masih bisa mengingatmu ya Allah. Membaca sahadat. Benar-benar cinta mereka itu Murni, Suci, Sejati, Sempurna dan Abadi.

 Di buku memang tidak diceritakan apakah mereka itu cinta pertama. Tapi saya berkesimpulan ya.  Itu adalah cinta pertama mereka. Karena jikalau Ainun sudah punya pacar tidak  mungkin dia menerima lamaran Habibie. Lagipula mereka sudah tahu sejak SMP, saling memperhatikan sejak SMA dan setelah 7 tahun berpisah karena Habibie harus kuliah di luar mereka kemudian dipertemukan kembali. Luar biasanya keluarga mereka sudah akrab. Ini adalah point plus.

Saya suka jealous kepada mereka yang sangat cepat menemukan cinta sejatinya. Sementara di sini saya menunggu yang tidak jelas. Tapi sekaligus terharu dengan kisah kasih mereka yang langgeng.

Kepada Pak Habibie, dengan hormat saya sampaikan bahwa saya belum menonton Filmnya. Tapi setelah membaca bukunya langsung, saya berkesimpulan tidak perlu menonton Filmnya. Karena cinta Sejati Bapak tidak akan dapat ditangkap baik dalam film itu. Itu hanya untuk Bapak dan Ibu. Saya mendapatkan feel dari bukunya langsung Pak.  

Saya puji sikap kesatria Bapak yang telah berani secara langsung menanyakan isi hati seorang perempuan. Dikarenakan itu sudah kodratnya laki-laki. Tapi jangan heran, bahwa laki-laki pun tidak semuanya punya sikap kesatria. Akibatnya mereka hanya menafsirkan menurut pandangan mereka sendiri.

NB: Apakah memang kalau seorang perempuan itu Ovariumnya diangkat tapi akarnya tidak, dia bisa kemungkinan besar kena kanker ovarium? 

2 comments:

  1. sama teh, aku juga baca novelnya nangis, nonton filmnya nangis juga..hehehe..kisah cinta yg sejati sekali...

    ReplyDelete
  2. Ya, benar-benar Cinta Sejati ya... Ngiri jadina :)

    ReplyDelete