Search This Blog

Wednesday, October 3, 2012

Melihat Peninggalan di Pulau Edam

Yup, akhirnya hari Minggu kemarin, 30 September  berkesempatan untuk ikut jelajah kembali bersama Komunitas Jelajah Budaya (KJB). Aku berusaha untuk selalu mengikuti kalau ada event yang mereka buat. Tujuan utamanya tentu untuk refreshing karena kalau hari Sabtu dan Minggu diam di kosan itu mumet.  Semoga saja selalu bisa menyisihkan untuk event-event leisure ini.

Berangkat dari Muara Kamal. 

Pelabuhan Muara Kamal
Minggu pagi itu dari kosan berangkat menuju Muara Kamal dengan taxi sesuai dengan petunjuk dari Mas Kartum. Tetapi pas di  jalan, sewaktu saya bilang  ke Pramudi taxinya untuk diantarkan ke Muara Kamal, sang Pramudi tidak kenal dengan nama Muara Kamal. Dia keukeuh tidak ada namanya Muara Kamal, yang ada menurut persepsinya adalah Muara Karang. Saya yang buta jalan dan tidak pernah ke sana sebelumnya mengikuti apa yang dia bilang. Bahkan sepanjang perjalanan pun saya koordinasi sama mas Kartum soal arah jalan. Mas Kartum bilang keluar dari tol Cengkareng ringroad. Tetap saya si Pramudi taxi bilang gak ada itu yang namanya Muara Kamal.

Lalu, apa yang terjadi?
Akhirnya saya sampai di Muara Angke. Si Supir pun kebingungan sendiri gak menemukan nama Muara Karang yang dia bilang apalagi kapal nelayan. Saya pun kesel. Pas nanya orang di Muara Angke mereka ada yang tidak tahu. Tapi untunglah ada orang Tangerang yang kenal betul wilayahnya. Dan dia katakan ada Muara Kamal. Legalah saya. Akhirnya saya bayar itu Taxi, 50.000,- IDR. Tadinya mau saya lanjutkan sampai ke Muara Kamal, tapi berhubung dia tidak tahu jalan ke Muara Kamal dan kayaknya belum pernah ke sana ya saya putuskan jasanya. Dari Muara Angke saya diantar ke tukang ojeg oleh seorang bapak naik sepeda. Bapaknya bilang tukang ojeg tahu kok jalan menuju Muara Kamal. Jasa tukang ojeg ke Muara Kamal itu 30.000,- IDR dengan waktu tempuh kira-kira 30 menit. Pas sampai di Muara Kamal tepatnya di Tempat Pelelangan Ikan , saya lihat rombongan sedang bersiap-siap masuk ke dalam perahu untuk berangkat. Ya, bersyukurlah tidak telat.

Keberangkatan
Seru perjalanannya dengan menaiki kapal nelayan, tapi sedikit pusing ya ombaknya itu terasa. Kalau pakai Speedboat lebih nyamanlah tentunya. Saya tidak memperhatikan berapa lama perjalanan menyebrangi laut itu, yang ada saya terlelap dalam kapal itu.

Mercusuar Edam 
Mercusuar Edam

Yup, Mercusuar Edam itu akhirnya terlihat dari dermaga. Dan inilah memang tujuan kita berkunjung ke Pulau Edam untuk melihat Mercusuar itu.
Mercusuar itu sekarang berada di bawah pengawasan Kementerian Perhubungan ya.

Dibawah Kemenhub


Sebelum kita membahas tentang Mercusuar Edam mari kita dengarkan Penjelasan dari Mas Kartum tentang nama Edam. Pada kesempatan diskusi itu, seorang rombongan bertanya apa arti Edam.
"Edam merupakan nama dari salah satu kota yang ada di Belanda dan nama Edam sendiri artinya Keju", ujar Mas Kartum.

Pulau Edam ini dulu disebut juga dengan nama pulau Monyet. Tapi sekarang monyetnya sudah tidak ada lagi. Kata Mas Kartum sih ditangkepin.

Okey, sekarang mari kita melihat sejarah Pulau Edam.
Edam mulai dikenal secara luas pada masa pemerintahan VOC Gubernur Jenderal Camphuijs (1684-1691). Pada tahun 1685 Camphuijs menjadikan pulau Edam sebagai taman Jepang nan Indah dengan rumah peristirahatan bertingkat dua. Dari Balkon rumah inilah Camphuijs dapat melihat hamparan pasir putih dan laut biru yang indah. Bahkan, pelukis Jerman di Batavian kala itu, Johannes Rach pernah mengabadikannya dalam bentuk sketsa.

Taman dengan gaya Jepang ini dapat dilihat dari jenis pohon yang ditanamnya, misalnya pohon bonsai diantara batu-batu karang, memasang jembatan-jembatan kecil, dan air terjun yang disinari oleh lampion batu gaya Jepang. Selain itu, dalam jamuan makanan disajikan dengan ala dapur Jepang dan makan dengan sumpit. Oleh  karenanya, orang pernah berpandangan bahwa pulau Edam sebagai salah satu tempat paling menyenangkan di dunia (1682). Padahal sebelumnya, pulau Edam sering dipergunakan para bajak laut sebagai tempat persembunyian.

Itu tadi sekilas Sejarah tentang pulau Edam. Dan peninggalan Kolonial di Pulau Edam ini yang dapat kita lihat itulah Mercusuar Edam. Tapi sudah mengalami renovasi ya. Tinggi Mercusuar Edam ini kurang lebih 65 meter. Mulai dibangun pada tahun 1879 atas ijin Raja Z.M Willem II. Sesuai Fungsinya Mercusuar ini akan menyala di malam hari sebagai penanda bago nakhoda kapal untuk berhati-hati. Bahkan sebelum Bandara Udara Soekarno Hatta pindah dari Kemayoran, mercusuar ini dimanfaatkan untuk sebagai stasiun radar untuk memandu pesawat.

Ohya, sewaktu rombongan KJB datang ke sana, kita masih bisa menaiki Mercusuar ini lho. Masuk ke dalam Mercusuar ini ada 16 tangga... dan seperti inilah keadaam di dalam Mercusuar.

Tangga di dalam Mercusuar

 Nah, di Puncak Mercusuar ini kita bisa memotret pemandangan laut. Lumayan indah sih viewnya, karena khan air lautnya juga bersih.  Seperti inilah pemandangan yang dapat kita nikmati.

View yang diambil dari Puncak Mercusuar Edam
Bagaimana indah bukan gambarnya?
Ini dia angle lain pengambilan gambar Mercusuar. 
Mercusuar
Hal lain yang saya nikmati di Edam adalah sebuah Makam. Berdasarkan keterangan dari Mas Kartum itu adalah makamnya Ratu Fatimah.

Makam Ratu Fatimah

Makam Ratu Fatimah

Makam itu tepatnya adalah makam Ratu Fatimah Syarifah dari Banten yang letaknya di tengah-tengah pulau. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan, katanya sewaktu masa hidupnya Ratu Fatimah tidak disukai masyarakatnya  karena terlalu dekat dengan VOC yang saat itu dipimpin oleh Gubernur Jenderal Baron can Imhoff. Setelah terjadi pemberontakan, akhirnya Ratu Fatimah dapat dikalahkan dan dibuang ke Pulau Edam hingga meninggal 1751. Tapi sayangnya, di kuburan tersebut tidak ada batu nisannya ya... Oh ya di makam tersebut ada sesajen. Ini berarti memang orang-orang masih ada yang melakukan  pemujaan-pemujaan.

Ada Sesajen

Kalau lihat sesajen itu, inginnya sih kuambil itu telurnya. Sepertinya sih telur ayam kampung. hehehehe ...

Bunker
Selain itu, di Pulau Edam juga ternyata ada Bunker nih...

Bunker di Pulau Edam.
Tapi sayang, kita tidak bisa masuk ke dalam ya.. dari Bunker ini langsung menuju ke pinggir laut.

Makan Jambu
Nah, diawal sudah disinggung kalau Pulau Edam dulu disebut juga Pulau Monyet. Itu Tak mengherankan, banyak buah-buahan di sini. Maksudnya sih buah jambu. Jambunya meskipun masih mentah atau warnanya hijau tapi lumayan manis dan kalau yang agak matang rasanya manis. Mungkin ini karena faktor bebas polusi sepertinya ya.




Panitia memetik Jambu



Dan ini ada sebuah pohon Jambu yang sangat berkesan untukku. 


Pohon jambu pendek

Pohon Jambu di atas itu terlihat pendek ya tapi sangat berkesan. Mau tau kenapa? Ya, karena meskipun pohonnya pendek tapi buahnya manis sekali dan aku menikmati ketika memetiknya. Gak susah, gak harus naik hehehe.. cukup meraih ranting yang pendek lalu petik jambunya. 

Jambunya nih

Intinya sangat kenyang makan jambu di Pulau Edam itu ...
Ini dia Foto Bersama
Demikian cerita singkat tentang kunjungan saya dan KJB ke Pulau Edam. Bagaimana dengan teman-teman, apakah ada keinginan untuk berkunjung ke sana?

No comments:

Post a Comment