Search This Blog

Saturday, December 25, 2010

Hati-Hati Penipuan

Siang ini saya baru sampai di kediaman Nenekku tercinta tepatnya di Cipedes Tasikmalaya. Tidak akan saya punya rencana untuk datang ke Tasik kalau memang tidak ada cuti bersama dan mendapatkan rezeki akhir tahun hehehehe. Ya, sekalian pulang kampung sekalian berbagi intinya.
Tadinya saya meminta Ibu saya untuk datang ke Bandung dan bertemu di Kosan Adek saya. Akan tetapi berhubung My Mom merasa kejauhan dan capek akhirnya diambil jalan tengah yaitu bertemu di rumah nenek saja di Tasikmalaya. Saya pun berangkat dari kosan adek saya sekitar pukul 7.00 WIB. Kita sarapan nasi kuning dulu di depan Dinas Peternakan Dago terus melanjutkan perjalanan ke Cicaheum. Sampai Terminal Cicaheum sekitar setengah delapan kurang. Kita berangkat ke Tasikmalaya seperti biasa naik Bis Budiman Ac dengan ongkos Rp. 25.000, dan tiba di rumah nenek sekitar pukul setengah dua belasan.
Pertama kali datang ke rumah nenek saya dia saya dapati sedang duduk nonton tv. Saya langsung menyalaminya. Nenek saya tiba-tiba saja terisak-isak sambil menceritakan tentang paman saya. Dia katakan pada saya bahwa ada orang yang meneloppnnya dan mengaku dari Kepolisian mengabarkan bahwa paman saya mengalami kecelakaan, kepalanya pecah dan meninggal si yang nelpon lantas menyuruh nenek saya untuk transfer sejumlah uang. Nenek saya percaya saja dengan apayang dikatakan oleh si penelepon itu karena ngakunya dari kepolisian. Yang mana paman saya adalah seorang polisi juga. Nah, mendengar kabar itu nenek saya panik. Lalu menghubungi tetangga minta di teleponin paman saya yang katanya mengalami kecelakaan itu. Tapi, ketika ditelepon paman saya tidak mengangkatnya, nenek saya tambah panik. Dan nenek saya akhirnya menelepon paman saya yang lain. Beberapa lama kemudian paman saya yang terakhir dihubungi mengabari bahwa paman saya masih selamat tidak terjadi apa-apa dengannya.
Nah, dari peristiwa ini kita bisa menyimpulkan bahwa yang menelepon nenek saya itu adalah seorang penipu. Yup, itu adalah sebuah modus penipuan.






Ketika nenek saya mengatakan hal ini kepada Bibi saya, dia katakan kalau ada yang menelepon dan dia tidak kasih nama langsung tutup saja. Jangan dipercaya. Bibi saya juga katakan kalau di kompleks perumahannya kalau ada orang yang tidak dikenal datang dan menawarkan barang atau apapun itu yang intinya dia tidak dikenal, Bibi saya langsung masuk rumah dan tidak membukakan pintu. Dengan alasan sekrang ini banyak sekali penipuan. Bahkan suaminya bibi saya secara berani langsung bilang kepada orang yang datang kerumah bahwa sekarang ini banyak penipuan dan dengan tegasnya paman saya itu katakan kalau dirinya menolak si tamu tak diundang itu dan dia tidak suka dipaksa untuk menerima tamu tersebut. Bibi saya menambahkan, di kompleksnya kalaupun sedang berkumpul ramai-ramai dengan para Ibu-Ibu kalau melihat ada orang asing yang datang langsung pada masuk ke dalam rumahnya masing-masing. Bahkan suka saling kasih info lewat telepon kalau ada orang asing yang datang.
Saya jadi ingat dulu waktu saya masih kuliah dan ngekos bersama dengan sepupu saya kalau ada yang ngamen dan kalau posisinya kita pada waktu itu sedang nonton TV, sontak kita langsung matiin Tv dan langsung lari ke kamar untuk bersembunyi. Kita tidak membuka pintu untuk pengamen itu. Sebenarnya alasan kita melakukan hal itu karena parno saja. Karena waktu itu ada sebuah kejadian kalau HP saya yang saya simpan di depan TV raib diambil orang. Saya waktu itu lupa untuk membawabya ke kamar pas mau tidur Alhasil waktu pagi harinya saya mendapati Nako kosan yang berupa paviliun kami sudah terbuka. Waktu itu saya tidak ngeh ada barang yang hilang saya hanya ingat TV dan Komputer. Alhamdulilah waktu saya tengok dua-duanya masih ada di tempat. Setelah lama saya pikir-pikir baru saya ngeh kalau Hp sayalah yang raib. Duh, padahal sebelum kejadian itu saya sudah ada feeling tapi saya abaikan feeling saya itu.
Nah, setelah kejadin itu, saya rada sedikit parno. Takut kalau kita diawasi. Makanya kalau ada pengamen kita tidak membukakan pintu. Dan sebagai cara untuk menghindari diri dari pencurian lagi kita menemukan suatu siasat yaitu dengan menempelkan kaleng bekas di nako atau dipintu. Jadi kalau ada tangan yang jahil kaleng-kaleng bekas itu akan mengeluarkan bunyi. Kita sebut itu adalah sebuah trap atau jebakan untuk si tangan panjang. Saya sebenarnya mengadopsi cara ini dari nenek saya. Yang ceritanya melakukan hal tersebut dilatarbelakangi oleh sebuah percobaan perampokan atau kemalingan di rumahnya. Akan tetapi alhamdulilah semuanya bisa digagalkan.

Inti dari cerita diatas adalah kita harus hati-hati terhadap orang yang baru kita kenal. Dan pastikan kalau ada yang menelepon kita itu nama dan institusinua jelas. Begitu pula kalau ada tamu yang datang kita jangan terima tau sembarangan. Jangan dipersilahkan dulu tamu untuk masuk ke rumah sebelum identitasnya ketahuan. Dan jangan mudah percaya sama orang asing pastikan untuk mengcrosscek terlebih dulu.

Tuesday, December 21, 2010

Hati-hati ,Tetap Waspada dan Beranilah Di Ibu Kota

Living in the city memang harus  berhati-hati, ah sebenaranya tidak hanya di Megapolitan seperti kota Jakarta saja tapi di semua tempat juga kita harus waspada atau berhati-hati. Pasalnya kalau kita tidak ada keberanian dan tidak tahu arah sama sekali bisa jadi tersesat bahkan bisa menjadi korban kriminalitas. Jadi kalau ingin pergi ke Ibu Kota seperti Jakarta ini modal yang harus kita miliki adalah nekat dan berani. "Jangan menunjukkan wajah yang bingung dan tidak tahu apa-apa, kita harus menunjukkan layaknya kita sudah mengenal jakarta" begitulah nasihat dari teman saya Nia, diawal-awal perjuangan saya ke Batavia untuk menjadi seorang PNS. Saya ingat terus pesannya dia.


Nah, pada suatu hari ketika saya turun dari Kereta distasiun Gambir, saya pun langsung berjalan keluar menuju busway shelter. Tiba-tiba saja  saya di rongrong oleh para tukang ojeg yang menawarakan jasa boncengan. Tapi saya katakan dengan menggunakan body language dan verbal bahwa saya tidak membutuhkan jasa layanan mereka. Tiba-tiba saja salah seorang tukang ojek itu ada yang mengatakan seperti ini "dia sudah tahu ( jalan-red)" kepqda treman-temannya.  Ingin rasanya saya tertawa terbahak-bahak mendengar pengakuan tukang ohjek yang sok tahu itu. Padahal dalam hati saya deg-degan. Tapi alhamdulilah itu merupakan kali kedua saya turun di Gambir. Jadi, saya tahu dimana letak dari busway shelter hehehe. Saya tidak perlu bengong  dan bertanya-tanya dimana letak busway shelter.


Kurang lebih setahun dari perjuangan saya, akhirnya saya pun menetap di Batavia a.k.a Jakarta dan tiap hari mau tidak mau berhubungan dengan yang namanya angkutan umum,  Metromini. Sebenarnya untuk angkutan umum yang pernah saya gunakan, sebutlah ada Kopaja, Busway, Bajaj, Ojek dan taksi (kalau pulangnya late at night dari kantor). Tapi yang paling sering adalah naik Metro Mini.


Metro Mini

Pengalaman petama-pertama naik angkutan umum terutama Metro mini tidak ada keluhan sama sekali. Aman rasanya. Akan tetapi lama-kelamaan akhirnya saya ada pengalaman yang buruk tapi sekaligus menambah lesson untuk saya. Pengalamannya adalah  tiga kali percobaan pencopetan. Rupa-rupanya si pencopet itu beraksi di akhir yaitu ketika metromini mau sampai Blok M dan waktu itu penumpangnya tinggal saya sendiri.  nah, pas saya beranjak dari tempat duduk berdiri mau turun tiba-tiba saja ada tangan seorang laki-laki yang memegang tas saya. karena saya rasakan itu saya langsung berteriak. Tapi laki-laki itu punya alibi. dia katakan hanya memegang bagian bottom. Hah! darimana dia memegang bottom, sudah jelas-jelas dia pegang tas saya dari belakang, dan saku kecil  tas saya yang dibelakang pun terbuka. Alhamdulilah waktu itu saya tidak menaruh HP dibagian itu, saya taruh HP di bagian paling dalam tas saya. jadi gak susah untuk diraih para copet. Duh penciopet memang lihai. Padahal jenis tas yang saya pakai adalah jenis tas selendang bukan tas gendong.

Itu merupakan percobaan pencopetan yang tertangkap basah. Kalau percobaan yang lainnya adalah, sebenarnya bukan percobaan tapi lebih kepada firasat saya bahwa  ada oknum pencopet jadi saya perhatikan terus dia. So, dia terganjal untuk melancarkan aksinya karena saya terus awasi dia. Itu sebenarnya kecurigaan yang tidak berdasar tapi saya menuruti feeling saya saja.


Lalu, cerita berikutnya dari  pengalaman di Ibu Kota adalah. Cerita dari teman saya yang hampir jadi korban penjambretan. Ceritanya dia habis pulang dari kantor tetapi di jalan dia kena apes  ada orang besepeda motor mencoba menjambret tasnya tapi rupa-rupanya dia bisa mengelak. Jadi selamatlah dia. Teman saya itu katakan kepada saya bahwa susah sekali untuk mengenali oknum itu apalagi penjambret itu naik sepeda motor. Jadi, jangan harap  dia juga bisa mengenali No. Plat motor tersebut dalam situasi yang genting seperti itu. Tapi saya senang akhirnya dia lolos dari penjambretan.

Cerita beriktunya adalah pengalaman dari teman saya yang lain.  Dia terbilang baru baru ini menjadi warga kota Jakarta, tadinya tinggal di Jawa Barat tapi berhubung suaminya kerja di Jakarta jadi dia juga mau tidak mau ikut suaminya. Dia menceritakan pengalamannya di note FB bahwa dia bertemu dengan preman di Kopaja. Menurut ceritanya tiba-tiba saja ada seroang yang memakai topeng dan mendorong kondektur sampai masuk ke dalam kopaja alasannya karena Kopaja yang dia tumpangi menyerempet itu sepeda motor. tapi teman saya keheranan mengapa bukan pakai masker tetapipakai topeng, akhirnya teman saya pun mengira bahwa orang bertopeng itu adalah perampok yang aksinya terhalang oleh kopaja yang berhenti di depan motornya tersebut.


Saya merespon ceritanya dengan mengatakan bahwa saya pun pernah mengalami hal yang sejenis yaitu ada seorang preman yang tiba-tiba saja menonjok sang supir, saya tidak tahu persis alasannya apa. Tapi saya takut setengah mati waktu itu saya inginnya keluar saja dari kopaja tersebut tapi tidak jadi. Saya dengar alasannya karena berebut penumpang.  Ya, waktu kejadian itu saya habis pulang dari DPR menghadiri rapat bersama boss saya, Bu T. Hari itu memang sedang hujan, jadi jalanan macet dan susah sekali angkutan umum. Taksi tidak ada yang mau narik. Jadi kami jalan kaki menuju ke arah jalan yang tidak begitu macet. Daripada kami kemalaman akhirnya kami naik kopaja. Dan lanjut pakai bajaj sampai ke kosan.

Dan cerita yang terakhir adalah cerita dari teman dari kosan saya yang lama. Begini ceritanya, dia telepon saya mau ke Jakarta ada tes CPNS. Dia minta izin pada saya untuk menginap di kosan. Tentu saya membolehkannya. Dan datanglah teman saya itu pada hari Jumat. Saya menjemputnya. Di travel. Oh ya pada waktu itu ada teman saya satu lagi yang ikut nginap jadi kami bertiga. Hari sabtu datang kami bertiga berangkat dari kosan. Teman saya yang satu kebetulan ada wawancara di kantor tempat saya bekerja jadi kami bisa pergi bersama. Nah kalau teman yang satu lagi saya titipkan ke sebuah ojek yang selalu saya lewati kalau mau ke kantor. Saya titip agar teman saya diantar sampai masuk ke dalam dan ketemu tempat tesnya. Nah saya pas hari itu ada tugas ke Banten jadi tidak bisa antar dia. Saya khawatir sebenarnya sama dia, karena itu pertama kalinya dia datang ke Jakarta untuk ikutan tes. Tapi diawal saya sudah bilang sama dia, kalau pergi ke Jakarta harus nekat, berani dan tanya sama petugas.

Pada hari Sabtu itu saya pulang larut malam karena ke rumah teman saya yang habis nikahan dulu. Saya dan dua kolega saya menghabiskan waktu sampai jam 10 an di rumah pengantin baru. Nah teman-teman saya yang sedang ikutan test cpns dan wawancara tentunya sudah pulang ke kosan terlebih dulu. Saya malam itu tiba di kosan tengah malam. Lalu keesokan harinya, hari minggu teman saya yang tes cpns katakan bahwa dia sampai kekosan saya malam hari juga sebelum saya. Jadi ceritanya, sehabis ujian tulis itu dia ketemu sama seorang teman yang baru yang kebetulan juga peserta tes dan kebetulan juga kuliahnya di salemba dekat UI. Nah mendengar hal itu teman saya lalu meminta orang yang baru dikenalnya untuk mengantarnya ke Salemba UI karena ternyata dia juga punya teman di p*sca sarjana UI. Untunglah orang itu mau antar teman saya. Alhasil teman saya itu pulang ke kosan saya diantar oleh temannya yang sedang kuliah di Pasca Sarjana UI. Duh, padahal saya sudah memetakan jalan pulan dengan busway hehhehe.

Nah teman saya yang wawancara hari itu Minggu pulang. Sedangkan teman saya yang satu lagi tidak. Karena hari senin dia mau mewawancarai calon pekerja di salah satu BUMN. Tapi masalahnya kembali lagi dia butuh teman untuk pergi kesana. Saya tidak bisa antar karena hari senin saya harus kerja. Jadi, dia pun berinisiatif untuk meminta kembali bantuan temannya yang pasca sarjana itu. Namun dia merasa kagok karena temannya itu seorang Ikhwan. Tapi saya sarankan untuk menelopnnya saja, setelah smsnya dia tidak dibalas-balas temannya. Dia waktu itu tidak mau dengan alasan dia seorang perempuan. Tapi saya tawarkan bantuan biar saya yang ngomong saja. Dan ketika saya menelepon beberapa kali tidak diangkatnya. Saya memberikan alternatif lain sama teman saya itu untuk naik taksi dari kosan saya ke tempat wawancara.karena kalau harus mendatangkan temannya yang dari Salemba kasihan jauh, khan lebih dekat langsung saja dari kosan saya pakai taksi. Teman saya itu sebenarnya takut naik taksi sendirian di Jakarta. Tapi mau bagaimana lagi akhirnya dia memberanikan diri untuk pergi dengan taksi itu pun saya titip ke mbak kosan untuk mengantar teman saya menyetop taksi. Dan teman saya itu membatalkan sms yang dikirimnya ke teman salembanya, supaya tidak usah mengantar dia ke tempat wawancara setelah teleponnya tidak diangkat-angkat.

Ketika saya pulang kantor hari senin itu, saya tanya dia bagaimana tadi? Dia katakan bahwa dia akhirnya pergi dengan meminta pertolongan kembali temannya yang di pasca sarjana. Dan dia juga bilang ternyata mengapa teleponnya waktu itu tidak dibalas karena yang bersangkutan sedang pergi ke luar dan tidak bawa HP. Tapi dia dengan bangga menceritakan kepada saya bahwa dia pulangnya sendiri naik Busway. Dia ingat kepada pesan saya diawal bahwa datang ke Jakarta itu harua nekat berani dan tanya. Ya, bagaimana saya patut mengacungkan jempol atas usahanya itu. Semoga nanti bisa lebih berani ya.
Itulah cerita dari pengalaman teman-teman saya di Ibu Kota. Jadi kita harus nekat, berani dan tanyalah kepada petugas hati-hati, waspada dan yang terpenting lagi berdoa untuk keselamatan kita.

Terompet Tahun Baru

Kiranya kita tinggal menghitung hari saja. Bahwa sebentar lagi kita akan menutup tahun 2010 dan menyambut tahun baru 2011. Suasana pergantian tahun baru ini sudah terasa ketika  saya melihat sudah ada beberapa pedagang yang menjajakan terompet yang berwarna warni di sepanjang jalan Barito pada hari Minggu (19/12).

Eye catching khan warnanya


Wah ada Terompet dalam bentuk Gitar dan Saxophone ya


Ada Terompet bentuk Naga ya


Terompet yang kecilnya juga ada

"warung"nya masih tutup



Yup, jadi kalau anda ingin memeriahkan tahun baru dengan meniup terompet jangan lupa untuk membeli terompetnya ya. Nah harganya sendiri, terjangkau kok. Ketika saya tanya kepada penjual terompet itu yang kebetulan penjualnya seorang tua yang sudah lanjut harganya itu ada yang Rp. 50.000; untuk ukuran yang besar, ada yang Rp. 35.000; ada yang Rp. 25.000; ada yang Rp. 15.00; ada yang Rp. 10.000 sampai harga yang terendah Rp. 5000;
Untuk terompet yang berbentuk naga harganya Rp. 35.000; tapi saya kurang tahu ditempat lain berapa harganya. Bahannya sendiri berasal dari kardus bekas yang diberi cover warna warni. Pedagangnya sendiri ternyata berasal dari luar Jakarta. Yaitu ada yang berasal dari Bekasi. Mereka tidur di warung itu. Menjaganya selama 24 Jam. kebayang ya kalau hujan turun bagaimana. Tapi memang akhir-akhir cuacanya baguslah. Tidak turun hujan yang besar. Itulah gambaran perjuangan orang untuk survive. Dan saya salut tehadap perajin terompet itu. Mereka terampil menyulap  kardus bekas menjadi barang yang berguna dan berharga.

Dan pertanyaan saya adalah: Akan membeli terompetkah anda untuk menyemarakan pergantian tahun?

Kalau saya sendiri yang jelas belum terpikir. Masih ada dua mingguan lagi untuk membeli terompet. Satu hal yang jelas, saya ingin merenung atas pencapaian sepanjang tahun 2010 ini. Tapi bukan berarti tidak merayakan ya. Merayakan pastilah. Kalau meniup terompet bisa, bisa dilakukan setelah melakukan renungan kepada Tuhan Yang Maha Esa atau pun sebelumnya. Intinya pergantian tahun baru ini jangan diisi huar-hura semata. Sempatkanlah diri kita untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dengan puji-pujian....


Akhirnya saya ucapkan selamat menyambut Tahun Baru 2011 untuk semuanya.

Wednesday, December 15, 2010

Oleh-Oleh dari Surabaya

Baiklah, pada kesempatan ini saya mau sharing atas perjalanan atau tugas yang saya lakukan di Kota Pahlawan a.k.a Surabaya.
Saya berangkat ke Surabaya tanggal 12 Desember 2010

 Dan Kembali Pulang Ke Jakarta tanggal 14 Desember 2010 dengan menggunakan pesawat garuda yang delay penerbangannya.

Pertama kali mendarat di Surabaya menuju lokasi acara saya merasaada ssesuatu yang berbeda dengan kota ini terlihat rapi dan bersih. Menurut pak wall, dulu di sepanjang jalan di Surabaya banyak Pelacurnya yang selalu berjejer setelah maghrib tidak ada pohon hijau. Tapi sekarang  lihatlah kota Surabaya situasinya menjadi berbeda rapi dan bersih. Mungkin ini dipengaruhi  oleh gaya pemimpinnya.
Nah, setelah mendarat di Bandara Juanda Surabaya, saya, rekan saya, seorang wartawan dan supir dari mitra kerja kami, membawa kami ke Soto wawan dulu. Konon soto ini terkenal di Surabaya. Kami ke sana karena arahan dari rekan kerja saya Mr A. Yang sepertinya mengenal banyak kota Surabaya.


 Kami makan berempat, hanya menghabiskan sekitar Rp. 96500... itu pun plus minuman dan dua kerupuk kulit.
Nah, pada malam harinya semua panitia makan di Layar.  Sebuah Tempat makan seafood sama seperti D'Cost lah.


Nah, tidak lupa pas senin malam nih, sebelum esoknya kita pulang kembali ke Jakarta, saya dan beberapa panitia membeli oleh-oleh di toko Bhek, Jl. Genteng Besar No. 68 Surabaya.


Sebenarnya tokonya sudah mau tutup, tapi karena kami memaksa akhirnya mereka mengijinkan kami untuk berbelanja. Mbak D yang ikut  rombongan bilang "mereka rugi lho kalau tetap tutup"..yup karena kita calon pembelinya banyak....jadi bisa dihitung berapa jumlah uang yang bisa keluar dari kantong kami untuk pedagang.
Nah saya tanya mbak D, apasih oleh-oleh khas Surabaya, mbak D bilang, coba deh, sambal khas Bu Ruddy. jadi saya pun membeli salah satunya sambal ini.



Saya  sudah mencobanya enak kok. Resepnya seperti membuat sambal tomat tanpa pakai terasi, bahannya ada  cabek dan bawang serta minyak goreng....nah waktu saya tanya ke rekan kerja, oleh-oleh khas dari surabaya itu adalah bandeng panggang. hohoho, entahlah pada waktu itu saya kurang begitu memperhatikan bandung itu adanya. Pokoknya, banyak sekali pilihan oleh-oleh ya, disesuaikan saja dengan kantong kita ya.
Nah, kalau sewaktu-waktu pergi ke Surabaya cobalah mampir ke tempat yang saya sebutkan ya..selamat berkunjung  : D


Friday, December 3, 2010

Tentang Jabatan

Sebenarnya mata sudah ngantuk tapi apa kata hati ingin melakukan curhatan. Yup, ini didasari atas peristiwa yang terjadi pagi tadi. Sebenarnya pagi tadi ada pelantikan jabatan untuk eselon 1 dan 11. Saya dan beberapa orang teman bertugas pada upacara pelantikan tersebut. Saya bertugas kebagian membawa naskah sumpah jabatan dan naskah pelantikan. Jadi saya berdiri di belakang big boss dari awal acara sampai selesai. Tentu dengan pakaian yang rapi, yang merupakan seragam wajib kami sebagai petugas humas dan protokol. Potongan rambut saya pun dikuncir. Sebenarnya kolega saya meminta saya untuk mencepol rambut. Tapi memang saya tidak berniat dicepol jadi saya hanya menguncir dengan menggunakan ikat rambut warna merah yang saya bajak dari adik saya hehehe....lumayan ikatannya masih kuat memang jarang saya pakai dan saya pun menyukai warnanya, Merah which is my favourite colour :D

Baiklah kita kembali ke topik awal tentang Jabatan. Yup, bekerja di sebuah institusi pemerintah memang terdapat apa yang namanya politis dalam segala pembuatan keputusan. Terlebih ketika Big Boss lah yang memiliki hak perogatif dalam mengambil keputusan. Apalagi posisi Big Boss itu merupakan Jabatan Politis.
Nah, apa yang terjadi di kantor saya adalah adanya perubahan struktur organisasi, karena ada sebagian pegawainya yang sudah pensiun jadi otomatis ada penggantian dan serah terima jabatan dari pejabat lama ke pejabat yang baru. Ada juga yang naik jabatan bahkan apa ya namanya yang tepat sedikit penurunan wewenang. Misalnya dari tadinya posisi yang memiliki kewenangan besar ke posisi yang tidak begitu memiliki wewenang yang besar tapi dilihat dari jabatan sama tetap eselon 1.

Bayangkan ini map sumpah jabatan dan pelantikan :D

Nah, saya terkejut ketika tahu ada posisi dari seseorang yang berubah walaupun masih dalam level yang sama yaitu eselon satu tapi ruang geraknya menurut saya tidak sama. Apa yang membuat saya terkejut adalah orang yang digantikan tersebut sedang dalam high performance apalagi dia sedang gencar-gencarnya melakukan sosialisasi kebijakan yang baru. Duh, hati siapa tidak akan bersedih. Jadi wajar apabila di acara pelantikan tersebut pejabat tersebut tidak datang. Hal ini sudah urusannya dengan dignity.
Andaikan saya adalah dia, apa yang akan saya lakukan ya? Barangkali saya akan melakukan hal yang sama tidak datang ke acara pelantikan. Datang berarti kita menerima keputusan itu. Jadi, apakah kita harus resign? Pensiun dini maksudnya? Aduh sayang memang dikala usia kita masih muda haruskah kita berhenti? Sedangkan kita masih banyak hal yang bisa kita lakukan. Salah satunya mungkin kita bisa memilih untuk pensiun dini tapi jangan total berhenti. Kita harus punya cadangan pilihan. Misalnya jadi widya iswara atau dosen di sebuah perguruan tinggi?

Hmm, dapat saya bayangkan dan ini memang tragis, pejabata yang tadinya setiap hari datang ke kantor pulang malam untuk konsentrasi menyelesaikan kebijakan baru akan tetapi setelah ada keputusan baru dari big boss dan "membuat" pejabat tersebut "terpaksa berhenti" berkantor, pasti ada rasa kehilangan yang sangat dan juga kerinduan akan pekerjaan yang menyita waktunya. Dan bayangkan oleh kita semua, pejabat tersebut sekarang diam dirumah tidak berkantor tidak pula meneken atau tugas ke luar atau memimpin rapat. Duh, tuhan Tragis sekali. Memang disinilah kita mengerti bahwa jabatan adalah titipan Tuhan.
Nah, jadi dari peristiwa ini, saya paham bahwa jabatan itu tidak kekal. Artinya, kita tidak tahu apa yang akan terjadi dengan posisi kita. Kita harus siap dengan segala kemungkinan dan juga risiko yang harus kita hadapi. Yang bisa kita lakukan adalah bekerja dengan sungguh-sungguh untuk pertanggungjawban bukan hanya kepada rakyat dan bangsa tetapi juga pada Tuhan yang telah mengamanatkan jabatan tersebut pada kita. Dan saya rasa tidak perlulah kita mengemis-ngemis jabatan. Biarkanah jabatan itu datang kepada kita karena kita layak dan memiliki kompetensi untuk mendudukinya.

Peristiwa tersebut mendorong saya untuk menambah ilmu seluas-luasnya. Sekolah itu investasi dan pengalaman itu adalah kemenangan yang hakiki. Mudah-mudahan saya bisa lanjut kuliah sampai jenjang yang lebih tinggi dan saya ketika kerja tidak ngoyo saya bisa menikmati hidup dengan cara saya sendiri dan saya bisa memili kekuatan yang tak pernah pupus tapi dengan kekuatan tersebut saya bisa survive.

Tuesday, November 30, 2010

Koneksi Internet Mati, Aku Mati Gaya

Hahhaa ingin tertawa jadinya. Sebab hari ini koneksi internetnya mati di kantor. Dari jam berapa? Hm, sepertinya mati dari semenjak saya habis googling mencari artikel untuk kliping. Duh, inginnya sih setelah tugas saya selesai saya bisa ngenet, spesifiknya ngeBlog tapi malah mati gaya. Ya koordinasi atau meminta rundown acara untuk Sabtu ke Surabaya sudah. Membuat konsep surat sudah. Setelah semuanya beres tinggal revisi, malah mati gaya.
Apa yang terjadi dengan koneksi internet ya? Tidak mengerti. Padahal hari ini pekerjaannya agak nyantai. Boss sedang tugas ke luar kota. Akh, sudahlah. Menikmati hari ini dengan mati gaya. Ketika saya menulis ini saya lihat jam menunjukkan pukul 16.30 tapi internetnya belum connect.
Memang internet di kantor kami untuk beberapa situs seperti FB, Twitter, FS, Youtube diblockir selama jam kerja, bagiku itu tidak masalah. Tapi yang terpenting adalah koneksi internetnya jangan mati. Jadi, kita masih bisa beremail dan googling ya. Saya menulis ini dari BB.

Sunday, November 21, 2010

Tentang rasa "kesepian"

Okey di blog ini saya ingin membahas rasa kesepian atau loneliness. Saya rasa setiap orang pasti merasakannya entah itu sifatnya temporer atau mungkin dalam jangka waktu yang lama. Di sini saya ingin membagi rasa kesepian itu untuk dua jenis orang.
Pertama orang yang kesepian karena belum mendapatkan cinta tapi dia sudah punya pekerjaan tetap. Yang kedua adalah orang yang kesepian karena belum kunjung dapat pekerjaan tapi dia sudah punya kekasih. Aku rasa jenis kesepian yang berlaku untuk kedua jenis orang ini berbeda-beda kadarnya. Pastinya kita menginginkan kondisi yang seutuhnya misalnya, ya punya kerja ya punya pacar. Tapi kalau saya di suruh pilih salah satu dari kedua pilihan diatas saya lebih baik pilih punya pekerjaan tetap tapi belum mendapatkan kekasih. Mengapa saya pilih itu? Karena being wanita karir itu lebih independen dan kita bisa menghandle yang namanya rasa kesepian. Trust me. Karena saya yang merasakannya sendiri. Jadi, hati-hati kalau mengatakan kata-kata kesepian untuk orang yang sudah punya pekerjaan. Karena dia bisa membunuh rasa sepi itu, misalnya dengan memanjakan dirinya sendiri, semisal beli sesuatu dari uang hasil jerih payahnya sendiri. Atau mungkin melakukan aktivitas yang free tanpa mengeluarkan sepeser pun uang dari dompet kita. Hal itu tentu akan berbeda dengan yang belum memiliki pekerjaan. Jadi, saya berpendapat rasa kesepian untuk orang yang sudah bekerja tidak sebegitu parahnya. Karena dia bisa tenggelam dalam kesibukannya bekerja.
Sedangkan untuk orang yang sedang berpacaran dan belum bekerja beban anda bisa double. Apalagi menghadapi kemungkinan break up. Oh ya satu hal lagi. Untuk orang yang sudah bekerja hari senin sampai hari jumat dia kerja tetap ada kemungkinan hanya sabtu dan minggu dia kesepian tapi itu bisa diatasi. Bagaimana dengan anda yang belum kerja? Hari senin sampai jumat, bukannya andA juga menginginkan untuk bekerja pada hari-hari tersebut. Jadi hati-hati mengatakan kesepian terlebih kepada mereka yang sudah punya pekerjaan tetap apalagi dalam memberikan saran atau menuntut untuk begini begitu terhadap seseorang. Dikarenakan, percayalah orang bisa cope with theirown problem. Sebenarnya tidak masalah dengan memberikan saran tapi jangan terkesan menuntut seperti anda yang benar.
Jadi, sebelum mengontrol orang kontrol saja diri kita sendiri apa kita sudah bisa mengendalikan emosi kita sendiri atau belum???
Dan aku paling tidak suka kalau ada orang yang mengatakan aku tidak tahu cara menikmati hidup. Aku fasih betul dengan hidupku. Aku melakukannya dengan caraku sendiri. Kalau orang itu katakan seperti itu akanku berarti dia tidak mengerti aku seutuhnya.