Search This Blog

Monday, May 23, 2011

Ekspedisi Pulau Onrust Bersama Abah Alwi dan Republika

Hari Minggu 22 Mei 2011, sungguh merupakan pengalaman yang tidak akan terlupakan. Saya mengikuti Ekspedisi Pulau Onrust bersama Abah Alwi yang diselenggarakan oleh harian Nasional Republika.
Darimana saya tahu akan ada ekspedisi ini?
Ya, saya mendapatkan informasinya pertama kali dari Iklan yang tentu saja terdapat di Harian Republika Itu sendiri. Begitu mendapatkan no Contact Personnya  saya langsung menghubungi orang yang bersangkutan. Di telepon orang itu mengatakan cara pembayarannya dengan transfer ke salah satu bank dan setelah transfer kemudian mengirim buktinya lewat fax...


Iklan Pertama yang saya lihat di harian republika

Saya pun mengikuti prosedur pembayarannya. Yaitu dengan mentransfer uang sejumlah Rp. 400.000,-  Dan cara penukaran bukti transfer dengan souvenir pun dilakukan pada hari H menjelang keberangkatan.

Menjelang hari H, saya menyiapkan bekal yang akan saya bawa. Salah satu benda wajib yang harus saya bawa adalah kamera. Oleh sebab itu sebelum keberangkatan saya merecharge dulu baterainya sampai penuh. Kamera ini sangat penting untuk mengabadikan kenangan. Saya tidak mau melewatkan begitu saja.
Setelah kamera dipastikan siap saya lalu menyiapkan mukena dan bekal seadanya. Karena untuk makan siang sudah disediakan oleh panitia. Bahkan panitia memberikan snack.

Hari Minggu, 22 Mei, merupakan hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Begitu semangatnya saya pada hari Minggu itu. Saya bangun jam 4 pagi.. Tapi sebenarnya saya dari jam 12 Malam sudah bangun, lalu tidur kemudian bangun kembali seperti itulah. Sampai pukul 4 pagi barulah saya bangun.   Hal yang pertama saya lakukan adalah mencuci dahulu. Saya lupa bahwa saya ada PR yang belum terselesaikan. Setelah rapih dengan urusan cuci mencuci baru saya masak. Saya masak nasi dan juga menggoreng nuget untuk sarapan. oh ya saya juga menumis kangkung sedikit tapinya. Ceritanya ingin dimasak malam sebelumnya tapi saya malas dan malah tidur malam itu. Jadi baru paginya saya sempat memasak.
Setelah sarapan siap saya lalu mandi, solat subuh, ganti baju dan tentu saja sarapan.

Rapih dengan ritual pagi, sekitar pukul 0.6.00 WIB saya lalu menunggu Kopaja 614 menuju ke arah kantor Republika karena start keberangkatan dari sini.   Saya Cukup menunggu 614 dari depan kosan. Lumayan lama menunggu 614. Setelah ada saya langsung naik 614, tapi baru saja duduk mungkin ada  kurang lebih 3 menit, saya turun lagi. Rupa-rupanya salah jurusan teman. Harusnya saya naik 614 yang arah pasar minggu bukan Cipulir. Ya, bersyukur belum jauh. Lalu saya putuskan untuk naik taksi saja. Taksi putih pun lewat , saya menyetopnya. Lalu saya naik. Saya bilang ke supirnya untuk diantar menuju Jl, Buncit Kantor Republika. Tapi sayang teman, supirnya tidak tahu alamat tersebut. Sepertinya baru.  Pada supir itu saya bilang, kalau tidak tahu saya turun lagi. Dan memang akhirnya saya turun lagi. Saya putuskan untuk mencoba 614 lagi. Tapi kali ini dengan arah yang benar.

Saya katakan pada kondektur 614 itu hendak ke Kantor Republika, Jl. Buncit atau dekat dengan Pejaten Mall. Sesuai dengan pengharapan saya, akhirnya kondekurnya langsung connect alias ia tahu destinasi yang saya maksud. Hoh Syukurlah lega rasanya. Tepat di depan Pejaten Village, Kondektur memberitahu saya untuk berhenti. Saya turun dari 614, lihat kiri kanan tapi tidak nampak sama  Kantor Republiknya. Lalu saya tanya orang disekitar. Disuruhnya saya untuk jalan ke gedung sebelah kiri. Akhirnya saya lihat Tulisan Republika. Dari luar dapat saya lihat panitia telah menyiapkan kursi bagi peserta. Telah hadir beberapa orang di sana.

Setelah masuk kantor Republika, saya langsung registrasi dan diberinya saya kaos dan tas jalan. Lalu, saya pun ganti baju...dan jadinya seperti ini:

Kaos Seragam Melancong Bareng Abah Alwi ke -4 

Setelah ganti pakaian saya duduk di kursi tunggu menantikan tiba waktunya berangkat dan terkumpulnya para peserta yang lain. Peserta yang ikut Ekspedisi Onrust ini totalnya 143 orang. Terbagi ke dalam 3 bus. Saya ada di Bus 3 bersama dengan teman saya Awe. Tak berapa lama teman saya Awe pun datang.  Dan sebelum menuju Pulau tujuan ekspedisi kita berfoto dulu....lumayan selagi wajahnya masih segar dan belum bermandikan peluh hehehhe....

Saya dan Awe dan tas putih yang dipegang awe itu dari panitia

Semakin siang peserta semakin banyak dan Abah Alwi pun datang. Ternyata ketika saya melihat sosok Abah Alwi langsung orangnya sudah sepuh tapi yang saya takjub adalah beliau masih segar,  Ia memakai bawahan celana Jeans... Saya perhatikan wajahnya Abah Alwi ini ternyata ada darah arabnya dan dari biodata yang saya dapatkan Abah Alwi itu  lahir di Jakarta, 31 Agustus 1936, telah menjalani profesi sebagai wartawan selama lebih dari 40 tahun. Karirnya dimulai tahun 1960 sebagai wartawan, kantor Berita Arabian Press Broad di Jakarta.

Sejak Agustus 1963 ia bekerja di Kantor Berita Antara. Berbagai jenis liputan digelutinya saat di Antara, mulai dari reporter kota, kepolisian parlemen, sampai bidang ekonomi. Selama Sembilan tahun  (1969 - 1978), anak betawi kelahiran kwitang, Jakpus ini menjadi wartawan Istana. Pensiun dari Antara tahun 1993, ia bergabung dengan HU Republika. Demkian selintas mengenai Abah Alwi.

Setelah para peserta terkumpul semua, kita bersiap-siap menuju pantai Marina Ancol untuk menyeberang ke Kepulauan Seribu. Sebelum berangkat panitia memberikan pengarahan dahulu kepada peserta. Panitia penanggung jawab meminta peserta untuk tidak membuang sampah sembarangan di tempat tujuan melainkan sampah-sampah kita dimasukkan kedalam tas kain yang diberikan oleh panita, tidak membawa benda apapun dari tempat wisata sekaligus dilarang memindahkan barang-barang yang ada di sana. Panitia pun meminta peserta untuk care terhadap sesama anggota rombongannya. Tak lupa Abah Alwi pun memberikan gambaran mengenai Sejarah Pulau Onrust....

Setelah pengarahan dan doa bersama para peserta lalu masuk menuju bis sesuai dengan kelompoknya yang telah diberikan oleh panitia. Saya dan teman saya Menuju Bus ketiga. Selama perjalanan menuju dermaga Pantai Marina itu, ketua yang ada di bus kami meminta peserta untuk memperkenalkan diri.  Perkenalan dimulai dari jok depan bis.  Di depan kami duduk sepasang lansia. Sang suami mengatakan sebelum menikahi istrinya dia telah berpacaran selama kurang lebih 7 tahun. Lalu tiba giliran saya. Saya perkenalkan nama saya, tempat tinggal dan keseharian saya sebagai Pegawai Negeri Sipil. Lalu, tiba teman saya  awe memperkenalkan diri.

"Sri, ketika Sri ajak Awe pergi ke Kepulauan Seribu posisi awe itu antara sangat ingin pergi dan tidak, takutnya awe ada tugas, tapi alhamdulillah tidak ada tugas ", tukas awe...

Sebenarnya, selain Awe, saya juga mengajak rekan kantor. Saya daftarkan 5 orang. Tapi dari ke5 orang itu, yang merespon positif Hanya Awe. Yang lain ada kesibukan sendiri atau memang karena sudah pernah pegi ke Pulau Bidadari.

Perkenalan di dalam bus itu juga dilanjutkan kembali. Ada peserta yang memiliki usaha keluarga sebagai EO wedding  dan ada juga yang bekerja dipercetakan, di perusahaan konsultan, Bank dan juga wartawan. Ketua rombongn kami lalu katakan kalau kelompok kami lebih kepada "wedding tour" karena semuanya lengkap ada.
"Siapa yang mau menikah boleh menghubungi saya nanti ada diskon", guyonnya ketua rombongan yang juga karyawan dari Republika.
Ada yang membuat saya takjub dan terharu lagi teman-teman. Ini diawali dari perkenalan seorang bapak pensiunan. "Saya ke sini dengan mantan pacar saya, kami telah berpacaran sejak SMP", ujar Bapak yang saya lupa namanya.

Sungguh indah ya hidup ini teman-teman...terrnyata  pada kehidupan yang lain ada orang yang dapat bertahan sejauh itu.  Sedangkan di sisi lain seperti saya dan teman-teman saya yang lain masih menunggu.

Setelah kurang lebih 30 menit akhirnya kita sampai di Pantai Marina Ancol untuk selanjutnya menyebarang dengan menggunakan speedboat ke Pulau Onrust.
Kami Masuk melalui Dermaga 17.
Seperti inilah gambaran Dermaga 17 Marina.

Dermaga 17 Pantai Marina Ancol


Saya dan teman masuk di Speedboat tiga sesuai dengan kelompok rombongannya.  Speedboat yang kami tumpangi terdiri dari 2 baris, kiri dan kanan dan setiap barisnya ada 3 kursi duduk. Oh ya ekspedisi kami juga selain didampingi oleh guide ada juga petugas keamanan dari kopasus.

Di tengah perjalanan menuju ke Pulau Onrust tiba-tiba saja Speedboat yang kami tumpangi berhenti.. Saya kaget dengan kejadian ini. Tiba-tiba saja salah seorang peserta mengatakan baling-baling speadboatnya kena sampah makanya tidak jalan. Ada mungkin sekitar  3 menit speedboat kami berhenti. Alhamdulilah akhirnya tidak terjadi masalah yang kronis. Kami pun dapat melanjutkan perjalanan.
Nah menjelang sampai di Pulau Onrust saya lihat ada semacam budidaya kerang seperti ini:

Ada Budidaya kerang tuh yang kayu putih-putih

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit dari Dermaga 17 Pantai Marina Ancol akhirnya kami pun sampai di Pulau Onrust. 

Selamat datang di Pulau Onrust ...


Menginjakkan kaki di Pulau Onrust saya lihat suasananya sepi tidak begitu ramai. Tapi bukan berati tidak ada orang ya.. Saya perhatikan sekelilling ada warung dan ada juga satu-dua orang yang sedang memancing.
"Kalau Jumat malam suka ramai, Penduduk Jakarta suka memancing ke sini", ujar Guide kami yang bernama Bapak Kartum Dari Komunitas Jelajah Budaya yang memang diminta oleh Panitia untuk mengguide kami.

Sebelum berkeliling-keliling, kami pun diberikan penjelasan oleh Abah Alwi.

Abah Alwi yang ditengah berkacamata tidak pakai topi ya (peserta diberikan penjelasan mengenai pulau Onrust)
Abah Alwi menjelaskan kepada kami bahwa Belanda menyerang Batavia dulu dari Pulau Onrust. Selain itu,  sebagai tempat membuang penjahat kelas kakap. Pulau Onrust juga digunakan sebagai tempat karantina jemaah haji.

"Dulu ceritanya ada sekitar 3000 jemaah haji yang dikarantina sebelum pulang kampung, karena ditakuti mereka menularkan penyakit pes. Berama lama tinggal di barak itu tergantung dari jenis penyakitnya. Kalau yang tidak sakit mereka harus menunggu yang sakit untuk kemudian dapat pulang kampung. Jemaah yang sakit dibawa ke Pulau Cipir atau pulau kayangan. Dan sayangnya jemaah yang meninggal tidak dikuburkan menghadap kiblat", tutur Abah Alwi.

Kemudian, abah Alwi juga mengtakan bahwa penyakit yang diderita oleh jemaah haji itu  berasal dari Beras Myanmar...

Menurut keterangan dari Bu Nellyta, dari UPT Pengelola Taman Arkeologi Onrust,  Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, DKI  yang juga mengguide kami, mengatakan bahwa luas Pulau Onrust ini sekarang bekurang salah satunya diakibatkan oleh adanya abrasi.

"Luas pulau Onrust awalnya 12 Ha, tapi sekarang luasnya menjadi 7,5 ha", ujar Bu Nellyta. 

Selanjutnya berdasarkan keterangan dari Abah Alwi, di Pulau Onrust ini., tepatnya tokoh DI/TII Kartosuwiryo di hukum mati.

"Kartosuwiryo ditangkap di Garut dan dibuang ke Pulau Onrust. Letjend. S. Parman meminta Presiden Soekarno untuk menandatangani keputusan hukuman mati bagi Kartosuwiryo tapi Soekarno tidak segera menandatangani. Baru setelah solat maghrib,Presiden Soekarno menandatangani dan Kartosuwiryo dihukum mati", ujar Abah Alwi.

Dan ini makam yang diyakini sebagai makam Kartosuwiryo:

Makam yang diyakini sebagai Makam Kartosuwiryo

 Yup, seperti bisa kita lihat makam itu ada dua buah. Menurut keterangan Abah Alwi itu sengaja dibuat seperti itu. Kalau menurut bahasanya saya adalah untuk menyamarkan.

"Pihak UPT tidak berani memastikan makam ini adalah makamnya Kartosuwiryo", jelas Abah Alwi...

Lebih lanjut, Bu Nellyta mengatakan yang membangun makam Kattosuwiryo adalah berasal dari sumbangan masyarakat. "Masyarakat banyak yang menyumbang", tukasnya.

Ditanyakan perihal perawatan Pulau Onrust ini Bu Nellyta menjawab seperti ini:

"Sebenarnya retribusi yang diperoleh masuk ke Pemda, tahun ini retribusi yang diperoleh dari Pulau Onrust sebesar Rp. 25 juta melebihi target 20 juta", kata Bu Nellyta..

Bu Nellyta juga mengatakan akan ada masterplan untuk merekonstruksi hal -hal yang terkait dengan Pulau Onrust....tapi kapan waktunya, yang jelas tidak dalam waktu dekat ini,, oh ya Bu Nellyta juga mengatakan kepada saya bahwa salah satu cara untuk mempromosikan Pulau Onrust  ke masyarakat adalah  dengan cara penyuluhan dan edukasi ke sekolah. "kami juga mengadakan perlombaan tulisan atau karya tulis tentang Onrust", ujar Bu Nellyta....

Saya perhatikan mengenai kebersihan di pulau Onrust, ternyata  masih ada sampah ,  katanya sampah kiriman dari Jakarta.
Hm..........Ini adalah tugas kita semua, khususnya pemda untuk menjaga dan merawat pulau Onrust beserta lingkungannya. Selain itu masalah abrasi. Ya, luas pulau onrust menciut karena salah satunya disebabkan oleh abrasi dan untuk mengantisipasi abrasi ini maka dibangun pemecah ombak atau tanggul seperti ini:

Pemecah Ombak atau Tanggul

Memang disayangkan sekali sekitar pesisir pantai ini tidak ada tumbuhan, seperti pohon bakau untuk menahan abrasi.

Dan sekarang saya akan memperlihatkan kepada teman-teman peninggalan Zaman penjajahan dan juga peninggalan masa karantina haji masih di Pulau Onrust.

Dermaga Onrust

Dermaga di Pulau Onrust 

Dermaga Pulau Onrust dibangun VOC pada abad 17 sebagai tempat bersandarnya kapal, ataupun sebagai tempat perbaikan kapal.

MENARA KEKER 


Menara Keker letaknya dekat dengan dermaga ya..

Menara Keker atau pos jaga  untuk mengawal kapal yang datang dibangun pada awal abad ke-20.

Museum Plaza Eks Rumah Dokter

Bekas Rumah Dokter yang dijadikan Museum
Dibangun pada awal abad ke-20 (1939). Ketika itu di Pulau  Onrust difungsikan sebagai tempat barak orang sakit. Sebelum menjadi museum, bangunan ini pernah digunakan untuk rumah tinggal dokter yang memeriksa jemaah haji karantina Pulau Onrust (1911 - 1933).

Rumah Sakit


Bekas rumah sakit ketika masa karantina haji

Toilet


Toilet waktu masa karantina haji

Toilet dibangun pada masa karantina Haji, 1911 - 1933.....

Struktur Bangunan yang dijadikan tempat tidur atau balai 

yup struktur ini bekas balai alias tempat tidur ;p

Keterangan dari papan di atas adalah : tonggak - tonggak ini adalah sisa dari bale (tempat tidur) dalam sebuah barak haji yang dibangun pemerintah Belanda 1911 - 1933. 

Komplek Makam Pribumi


Maka pribumi

Keterangan Papan: Di komplek makam pribumi ini terdapat beberapa korban dari pemberontakan kapal Zeven Povincien pada 1933.

Barak Haji

Bekas barak haji
Kerterangan di papan : sisa reruntuhan ini merupakan barak karantina haji yang dibangun tahun 1911. Jumlah barak 35 unit. Tiap barak menampung 100 jemaah haji. Pada tahun 1933, kegiatan karantina haji dipindahkan ke Pelabuhan Tanjung Priuk.

Makam Belanda 


Makam belanda, di kuburan pertama dari kanan yang ada papan merah merupakan kuburan penguasa P. Onrust namanya Corneliss W. vogel meninggal pada tahun 1738
Menara Martello

Menara Martello  P. Onrust
Pondasi di atas  adalah sisa reruntuhan benteng Martello (Benteng bundar) dibangun 1850 guna memperkuat pertahanan P. Onrust. Tahun 1883 porakporanda setelah diterjang gelombang tydal dari letusan gunung Krakatau. 

Menurut keterangan guide kami, Benteng Martello ini ada 4. Masing-masing dibangun di P. Onrust, P kelor, P Cipir, dan P. Bidadari....

Penjara

Penjara
Penjara ini pernah dimanfaatkan oleh tentara Jepang 1942 sebagai tempat mengadu kekuatan para tahanan. 

Bastion Utama


Bastion
Keterangan Gambar tersebut mengatakan : sisa reruntuhan Bastion utama (Bagian menjorok pada sudut benteng)  dibangun pada 1672. Berfungsi sebagai pos pengintai dan tempat penyimpanan mesiu. Bastion ini hancur lebur setelah 3 kali digempur Inggris pada  tahun 1800, 1806, dan 1810. 


Batu Prasasti 


Batu Prasasti yang memuat informasi tentang P. Onrust
Berikut saya salin kembali apa yang terukir dibatu tersebut...
  1. Pada tahun 1615 Belanda membangun Dermaga dan galangan kapal untuk memperbanyak kapal-kapal VOC. 
  2. Pada tahun 1658 dibangun sebuah benteng kecil yang kemudian tahun 1671 diperluas menjadi benteng segilima selanjutnya tahun 1671 dibangun gudang, dok dan kincir angin.
  3. Antara tahun 1800 - 1810 diserang dan dihancurkan armada Inggris namun Belanda membangunnya kembali.
  4. Pada tahun 1911 peranannya beralih menjadi karantina haji.
  5. Pada tahun 1972 berdasarkan Sk KDKI Jakarta No. CB 11/2/16/72 ditetapkan sebagai suaka purbakala.
Setelah mengelilingi, P. Onrust, peserta pun beristirahat sejenak untuk kemudian melanjutkan ekspedisi ke P. Bidadari. Oh ya  kami pun sejenak berfoto bersama sebelum meninggalkan P. Onrust.

Foto Bersama sebelum meninggalkan P. Onrust ;))

Wah, terharu saya melihat foto bersama ini. Dalam kebersamaan ini kita pastinya bahagia. Hanya untuk hari itu saja kita dapat bersama-sama. Sedangkan untuk hari esok kita tidak tahu apa yang terjadi....terima kasih untuk Republika, saya senang ....

Setelah foto bersama ini, kita melanjutkan ekspedisi ke Pulau Bidadari..
Jarak dari P. Onrust ke Bidadari ada sekitar 10-15 menit ...
Menuju P. Bidadari kita melewati Pulalu Kelor. Sayangnya kita tidak bisa singgah disana karena tidak ada dermaga dan airnya dangkal kalau pakai kapal kayu nelayan yang biasa itu memungkinkan.
Tapi dari speedboat yang kami tumpangi bisa terlihat Benteng Martello (seperti yang telah dikatakan sebelumnya ada 4 benteng Martello salah satunya di P. Kelor) 

Seperti inilah benteng Martello yang terdapat di P. Kelor


Benteng Martello di P. Kelor
Yup, gambar Benteng Martello diatas kurang jelas karena diambil dari Speedboat. Sayangnya posisi duduk saya tidak dekat jendela. Saya duduk di sebelah kiri, sedangkan benteng Martello ada di sebelah Kanan.  Katanya P. Kelor ini sangat landai. Mungkin tidak berapa lama akan tenggelam. Ohya, berdasarkan keterangan pemandu kami, Pak Kartum, mengatakan bahwa diantara ke 4 Benteng Martello yang pernah dibuat, Martello yang berada di P. Kelorlah yang masih "utuh". 

Setelah 10-15 menit kita tiba di P. Bidadari

Dermaga dan tanda P. Bidadari

Ketika sampai di P. Bidadari ternyata lebih ramai daripada P. Onrust. Karena dikelola oleh Swasta dan saya menjumpai wisatawan dari luar, sepertinya dari Korea dari "timur tengah" juga ada.
Coba perhatikan  fasilitas yang ditawarkan pengelola P. Bidadari

Maaf seperti ini gambarnya, Blogspotnya tidak mau  ikuti apa yang saya mau hehehe.....

Nah, didepan dermaga P. Bidadari saya melihat ada patung rusa/kijang beserta puisi :

Gmbar ini juga seperti ini maaf ya,  tapi tidak apa-apa lah ya...

Puisinya berbunyi seperti ini:
Singa Meraung di Hutan - hutan
Hiu Berteriak
Aku Raja Di Lautan
Dan Rajawali bebas
Tebang Tinggi di awan

Di sini sang tanduk tujuh belas
Akrab berbisik
kepada para wistawan
Saya hanyalah penjaga kepulauan

Cinta persahabatan
Cinta perdamaian ketenangan
dan Cinta Keindahan

Jakarta, 28 Oktober 1991 ..............

Yang membuat saya tertarik dengan puisi itu adalah semata-mata karena tanggal dan bulannya hehehe..tidak tahu siapa penulisnya.... tidak disebutkan.. tapi itu puisi tahun 1991.

Nah, setelah solat barulah saya dan awe mendapatkan makan siang.. Seperti inilah suasana santap siang.

suasana santap siang
Nah, menu makan siangnya ada ayam, soup ikan, dan tumis kangkung. Hm,...tumis kangkung, padahal saya sarapan sudah dengan hal serupa..jadi saya eliminir kangkungnya..takut semakin ngantuk jadinya...Oh ya kita waktu santap siang kehabisan kursi duduk, jadinya kita makan di panggung.

Sehabis makan kita melanjutkan ekspedisi  melihat benteng Martello yang berada di P. Bidadari.
 
Benteng Martello di P. Bidadari

Nah, untuk benteng Martello yang ada di P. Bidadari ini dibangun pada abad ke 18 atau tepatnya tahun 1850.  Hancur akibat terjangan Gelombang Tidal letusan gunung krakatau 1883.
Dan kita  biisa melihat ke dalam bangunan ini, karena ada tangga turun kebawah. Salah satu bagian bawah digunakan sebagai tempat untuk menyimpan mesiu.

Setelah selesai melihat - lihat sekeliling benteng, peserta memiliki waktu bebas sebelum berkumpul dan kembali pulang. Dan berikut yang saya dapati di Pulau Bidadari :

Pantai di P. Bidadari...terlihat seorang anak dan Ayahnya yang tengah asyik bermain pasir

Yup, terlihat khan cucanya cerah. Tidak hujan.. menurut teman saya yang lain, katanya ketika saya sedang berada di kepulauan seribu ini turun hujan yang cukup besar. Tapi alhamdulilah di Tempat tujuan ekspedisi saya malah panas tidak turun hujan.

cottage

Ada juga cottage di atas laut

toko cenderamata

sedang foto Preweding...
Terrnyata di P. Bidadari ini saya mendapati beberapa orang pasangan sedang melakukan foto preweding. Seorang rekan saya mengatakan kepada saya seperti ini:

"banyak yang sedang foto preweding khan di Bidadari, terus untuk apa ke Onrust di sana khan tidak ada apa-apa", katanya. 

"Justru di P. Onrust itulah yang ada apa-apanya, kalau di Bidadari iya ada yang sedang foto prewedding", jawab saya....

Nah, Rangkaian ekspedisi ke P. Onrust dan Bidadari hampir selesai... setelah solat ashar kita pulang. Dan kembali lagi ketika akan pulang itu, speedboat yang kami tumpangi mendadak berhenti karena tersangkut sampah.....tapi semuanya dapat diatasi...
Sangat disayangkan kalau keadaan ini dibiarkan saja. mudah-mudahan kedepan tidak akan ada lagi yang membuang sampah ke Laut akan sangat berbahaya jadinya .........

Seiring dengan hari yang semakin gelap kami pun tiba di Kantor Republika dan semua peserta pulang ke rumahnya masing-masing dengan membawa pengalaman baru. Malam itu pun hujan turun dengan lumayan deras.. Alhamdulillah kami sudah sampai dengan selamat saya pun sudah tiba kembali di kosan .... Terima kasih untuk semua Team Ekspedisi Pulau Onrust. 

2 comments:

  1. Halo! Salam kenal, namaku Ivan, aku juga kemarin ikut yang ke pulau Seribu, tadi aku iseng2 search di web ttg kunjungan di web kemarin dan ketemu link ini. A very nice detailed recap of the journey :D Aku juga ada album foto dari kunjungan kemarin di http://www.facebook.com/media/set/?set=a.10150650466390078.698986.713715077&l=109befebe9

    ReplyDelete
  2. ya, terima kasih sudah saya lihat fotonya, sudah saya add juga FBnya....sebenarnya republika juga buat liputannya di rubrik Teraju, tapi memang lebih duluan saya buat recap perjalanan ekspedisi ke Onrust di Blog ini ....hehehehe ........dan berarti memang tidak banyak ya yang memposting di blog hasil ekspedisi onrust ini.....

    ReplyDelete